
“Roti isi daging, kue kacang dan susu sirup maple, take away. Tuan Arion.” Seorang perempuan penjaga toko roti cepat saji menyerukan nama dan pesananku, itu tanda kalau pesananku sudah siap.
Aku beranjak dari kursi tunggu dan mengambil pesanan di meja saji, setelah itu aku segera keluar dan kembali mencari barang lain yang kubutuhkan. Pembayaran dilakukan di awal, jadi tenang saja, aku tidak mencuri.
Roti isi daging di toko barusan benar-benar enak, tidak seperti roti isi daging yang biasa kutemui di kotaku yang menggunakan daging utuh yang dimasak perlahan sampai empuk atau daging yang dicincang dan dipanggang. Daging isian roti ini memiliki tekstur yang mirip kapas. Kering, tapi tidak sulit digigit. Rasanya pun unik, manis dan sedikit ada rasa pedas.
Susu dengan sirup maple, jujur aku tidak tahu apa itu sirup maple, aku memesannya karena tertarik saja. Tapi rasanya benar-benar lebih enak dari dugaanku, seandainya aku meminum susu ini bersamaan dengan kue kacang ... Ah ... Aku tidak tahu lagi harus berkata apa.
Makanan tadi sudah cukup untuk sarapan, tapi masih belum cukup memuaskan. Biarlah, aku akan mencari makanan lain untuk nanti.
Aku berjalan menyusuri pusat perbelanjaan yang terletak tidak jauh dari tempat pelelangan, Ego menyuruhku untuk membeli perlengkapan untuk memulai perjalanan. Dia bilang aku perlu membeli tas, senjata, baju pelindung ringan, jaket tebal, mantel tahan air, sepatu dengan yang kuat di segala medan.
Tidak perlu menyiapkan bahan makanan karena itu merepotkan, kami bisa berburu untuk memenuhi kebutuhan pangan di perjalanan.
Petugas penginapan memberiku daftar rekomendasi toko yang menjual peralatan semacam itu, aku memilih toko yang berada di daftar teratas. Toko yang baru-baru ini mendapatkan popularitas, karena mereka tidak hanya menjual, tapi merekalah yang memproduksi barang-barang yang mereka jual. Tentunya dengan kualitas tinggi.
Toko itu sekarang berada di hadapanku, bangunan empat lantai dengan arsitektur khas Demago. Ini sedikit tidak biasa, karena biasanya toko senjata dan peralatan berpetualang seperti ini dikelola oleh orang-orang Troumb.
Biarlah.
Aku membuka pintu toko itu dan melangkah masuk, seorang pegawai menyambutku dan bertanya apa yang aku butuhkan. Aku menyebut satu persatu barang yang aku butuhkan dan tentu saja aku meminta barang dengan kualitas tinggi.
Pegawai itu mengangguk dan mempersilakanku naik ke lantai empat, beberapa Tentara yang kira-kira seusiaku menatapku dengan berbagai macam tatapan.
Ada yang terlihat sinis, mungkin dia mengira kalau aku anak bangsawan yang sedang ingin mencoba berburu rusa di hutan pribadi. Padahal aku ini hanya anak yatim piatu yang kesepian dan sedang trauma. Ada yang iri juga, pokoknya tatapan mereka bermacam-macam.
Sesampainya di lantai empat, pegawai tadi berbicara dengan pegawai lain yang mengawasi lantai itu dan barang-barang yang kubutuhkan segera sampai di hadapanku, bahkan aku diberi beberapa pilihan berbeda untuk setiap jenis barang.
“Kita mulai dari tas. Yang satu ini terbuat dari kulit Sapi Gunung, selain warna hitamnya yang mengesankan, daya tahan dari materialnya sangat bagus. Bahkan mungkin ketika Anda sudah memasuki usia tua, cucu anda masih bisa memakai barang ini.”
Wow ... Benar-benar lidah yang lihai, orang ini mungkin saja setara dengan pembawa acara di pelelangan dalam hal memprovokasi calon pembeli.
“Kekurangan tas ini adalah bobotnya sedikit berat, tapi tas dengan tipe ini merupakan yang paling laris di kalangan Tentara.”
“Yang kedua, terbuat dari bahan sintetis yang baru baru ini dikembangkan, bobotnya ringan dan kapasitasnya cukup besar. Tapi ketahanannya masih sedikit kurang jika dibandingkan tas sebelumnya, namun tas ini bisa digunakan sebagai tenda tunggal.”
Pegawai itu membuka resleting tas yang sedikit terlalu banyak untuk sebuah tas, lalu benda yang tadinya berupa tas, sekarang menjadi kain lebar yang bisa difungsikan sebagai tenda tunggal ataupun alas tidur.
__ADS_1
“Kekurangan tas ini terdapat pada ketahanannya, seperti yang saya jelaskan. Namun jika Anda hanya melakukan perjalanan ringan seperti mendaki atau menjelajah hutan, tas ini bisa menjadi pilihan bagus."
“Yang terakhir. Tas ini tidak hanya berfungsi sebagai penyimpanan, tetapi Anda bisa menggunakannya sebagai pelindung.”
Pegawai itu memperagakan pengoperasian tas itu, dia menarik tali penahan pada bagian bawah tas. Salah satu bagian tas itu terlepas, lalu tali yang tersambung dengan bagian tas yang terlepas itu dikaitkan ke strap utama. pelindung balistik portable pun jadi.
“Kekurangan dari tas ini adalah kapasitasnya yang relatif erbatas, tapi sangat disarankan jika Anda merupakan Pedagang atau Pengelana yang tidak perlu zirah tempur."
“Seberapa kuat perlindungan yang diberikan tas ini?” Aku menunjuk tas ketiga.
“Cukup untuk menahan beberapa tusukan tombak, tebasan pedang dan bahkan tembakan proyektil berbasis mesiu dengan kaliber sedang. Tidak disarankan untuk menghadapi tembakan dari Proyektil Mesiu berkaliber besar, Proyektil Sihir atau Proyektil Kinetik karena sudah pasti pelindung ini tidak bisa menahannya."
Itu cukup kuat mengingat tas ini adalah tas portable, tapi aku masih berencana membeli zirah, karena sepertinya aku akan sering terlibat pertarungan yang cukup serius nantinya.
Ngomong-ngomong, Ego bilang dia yang akan mencarikan zirah untukku
“Kalau begitu, aku memilih yang satu ini.” Aku menunjuk tas pertama, pegawai itu mengangguk, dia memberi isyarat kepada rekannya yang langsung mengemasi tas itu dan membawa tas lainnya pergi.
“Selanjutnya adalah senjata. Sama seperti sebelumnya, kami memiliki tiga pilihan.”
“Yang pertama. Senjata ini merupakan senjata wajib, pedang dengan berbagai ukuran, aku menyarankan pedang berukuran sedang karena sangat disarankan untuk orang seusia Anda."
“Yang kedua. Senjata ini cukup fungsional, sangat efektif untuk pertarungan karena penggunaannya yang mudah."
Aku tidak begitu suka memakai tombak, karena membawa tombak kemana mana itu membuatku tidak nyaman. Walaupun tombak portable yang lebih ringkas, tapi aku meragukan ketahanannya
“Yang ketiga. senjata jarak jauh, aku sarankan jangan membeli busur jika Anda tidak memiliki pengalaman dengan busur. Sebaiknya ambil Crossbow atau Senapan."
Dari sekian banyak jenis Senapan, sebenarnya aku ingin membeli Handgun yang berjenis Revolver. Tapi sepertinya Senapan itu terlalu mencolok karena harganya yang tinggi kerap mengundang masalah bagi penggunanya, sepertinya lebih baik membeli Senapan yang lebih klasik.
Akhirnya aku memutuskan membeli sebilah Machete dan dua Handgun double barrel
Selanjutnya mereka membawa beberapa pilihan pakaian, aku membeli tiga set sekaligus dengan jaket dan mantelnya. Seorang pegawai mengukur tubuhku dan mengemasi barang pilihanku.
Selanjutnya sepatu, aku memilih sepatu yang terlihat kokoh.
Mereka mengukur kakiku dan membawakan ukuran yang cocok. Lalu mengemas semua barang yang aku beli dan bersiap mengirimnya.
__ADS_1
Setelah itu aku memberikan alamat penginapan dan meminta mereka untuk menerima pembayaran di penginapan itu, Karena Ego bilang dia tidak akan kemana-mana hari ini dan dia membawa uangku selain yang aku bawa untuk keperluan sehari-hari. Siapa juga yang menenteng pelat Rhodium kemana-mana.
Mereka bertanya apakah aku ingin membeli barang lain. Aku pun akhirnya menambahkan belati, sarung tangan, pelindung tangan, dan masker.
Kemudian aku keluar dari bangunan itu dan kembali berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu, mungkin kali ini aku akan mencoba beberapa makanan ringan yang berjejeran di sepanjang jalanan protokol kota ini.
Ada beberapa makanan yang menarik perhatianku, tapi ada satu yang membuatku tertarik. Sebuah toko roti kecil yang ramai oleh Prajurit muda dan beberapa Tentara Bayaran, mereka semua berbincang santai satu sama lain sambil menikmati roti yang terlihat masih hangat.
Sebagai penyuka segala jenis roti, aku harus mencoba yang satu ini.
Aroma roti yang baru dipanggang seketika memenuhi indra penciumanku, aku menghirup udara dalam dalam. Ah... Surga dunia.
"Selamat datang." Seorang gadis yang terlihat seumuranku keluar dari sebuah pintu sambil mendorong troli berisi roti roti yang baru dipanggang.
"Apa kamu menunggu lama?" Tanya gadis itu sambil memindahkan loyang dari troli ke meja.
"Tidak juga, aku baru saja masuk. Roti apa yang kamu rekomendasikan untuk hari ini?"
"Hari ini ada Croissant, Ciabatta, Pane Casareccio, dan Shokupan. Kami sudah kehabisan bahan baku hari ini, andai saja kamu datang lebih awal."
"Tidak masalah, aku ingin lima buah Croissant, dan dua buah Ciabatta, sekalian dipotong."
"Ciabattanya mau diisi apa?"
"Ah, aku mau selai beri. Tambahkan juga satu buah Shokupan."
"Baiklah, kamu mau shokupannya utuh atau dipotong?"
"Dipotong sekalian tolong."
Gadis itu dengan cepat membungkus semua pesananku tadi dengan bungkus kertas, lalu memasukkannya ke dalam kantong kertas.
"Kamu beli banyak sekali." Ucapnya saat memberikan bungkusan dan kertas tagihan kepadaku.
"Aku memang suka roti." jawabku sambil membayar dengan uang pas, lalu beranjak keluar dari toko.
"Terimakasih, datang lagi." Gadis itu melambaikan tangannya.
__ADS_1
Setelah membuka pintu toko roti, para Prajurit dan Tentara Bayaran yang sejak tadi diluar menatapku dengan tatapan sinis. Tapi aku tidak merasa mereka berniat cari masalah, jadi aku lanjut jalan saja.
Roti roti buatan toko tadi sangat enak, harganya juga sangat murah. Hari ini aku benar-benar merasa diberkati, mungkin besok besok aku harus kembali ke toko roti itu dan membeli banyak-banyak untuk bekal perjalanan.