Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 7 : Kota Pertama


__ADS_3

Sekali lagi aku memuntahkan isi perutku, aku berdiri dengan terhuyung-huyung, kakiku juga tidak bisa menopang tubuhku dengan benar.


Sial, teleportasi benar-benar sangat buruk, rasanya seluruh tubuhku seperti diaduk-aduk karena kecepatan yang sama sekali tidak bisa dibayangkan.


Seolah-olah ada bagian dari tubuhku yang tertinggal di tempat Ego mengaktifkan teleportasi.


“Bagaimana? Transportasi ini sangat mudah dan cepat bukan?”


“Harus aku akui memang begitu, tapi ini sangat tidak disarankan untuk ibu hamil.” Lagi-lagi aku muntah. “Kau seharusnya lebih memikirkan kondisi penumpang.”


“Di awal memang rasanya seperti ini, tapi setelah beberapa kali melakukannya kau akan terbiasa.”


“Memangnya kau berencana membuatku mengalami hal ini berapa kali?” Aku berusaha menahan muntahan kali ini.


“Selama kau bersamaku, kau akan menggunakan transportasi super cepat ini setiap kali kita akan menuju tempat baru. Tidak semua orang bisa merasakan hal ini dalam hidupnya loh.”


“Saran tuan. Sebaiknya sesekali kita menempuh perjalanan secara konvensional, atau kalau perlu jangan gunakan transportasi super cepat itu kecuali sangat mendesak.”


Lagi-lagi aku muntah, kali ini sangat banyak, rasanya semua isi perutku keluar karena ini.


Sekarang aku merasa agak baikan. Mungkin karena muntahan itu adalah muatan terakhir, tapi setiap kali aku mengingat momen teleportasi itu, rasanya aku seperti akan muntah lagi.


“Ah, boleh juga. Menikmati perjalanan itu juga merupakan salah satu bagian terpenting dari sebuah petualangan.” Timpalnya.


Aku mengangguk setuju, aku harus tetap menjaga akal sehatku karena emosiku tidak lagi berfungsi. Jika keduanya mati, entah akan jadi orang seperti apa diriku. Bersama dengan Ego sangat berbahaya untuk akal sehat seseorang.


Setelah istirahat selama beberapa saat, aku akhirnya pulih walaupun tidak sepenuhnya. Kami berdua lalu mulai berjalan mengikuti sebuah jalan setapak yang menurut Ego, jalan ini adalah rute menuju sebuah kota di salah satu wilayah Orthras.


Kulit beruang itu kami masukkan ke dalam sebuah gerobak yang dibuat Ego secara instan, dia memotong-motong pohon dengan belatinya seperti sedang memotong mentega. Lalu entah bagaimana, dia berhasil merakit sebuah gerobak kayu.


Gerobak ini sangat membantu, karena akan sangat melelahkan jika harus menenteng lembaran kulit Beruang Belang setinggi dua orang dewasa, selain itu perjalanan ini akan memakan waktu sangat lama karena aku harus selalu berhenti karena kelelahan.


Dari kejauhan, akhirnya aku melihat sebuah kota yang dikelilingi benteng. Kota ini benar-benar wilayah Orthras, karena sebuah spanduk raksasa terpasang di sisi gerbang kota itu dengan lambang Kerajaan Orthras.


Ditambah lagi, benteng itu terlihat lebih rapuh jika dibandingkan dengan tembok kota Iria, jadi sudah jelas kalau tembok itu tidak dibangun dengan standar Arakaza.


Di gerbang benteng tersebut terdaapt pos pemeriksaan yang dijaga puluhan Prajurit, bahkan aku melihat beberapa Kesatria Orthras di antara mereka, ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

__ADS_1


“Ah, benar juga. Arion, kau pakai ini di matamu.” Ego memberiku sebuah kotak kecil berisi dua benda berbentuk cekung didalamnya.


“Apa ini?”


“Alat untuk merubah warna mata, kau tidak punya garis di sekitar matamu, sedangkan matamu adalah mata ras Arakaza. Aku tidak mau menarik perhatian gara-gara itu.”


Orang ini ada benarnya, jujur saja, aku juga berpikir seperti itu. Tapi siapa sangka selain memiliki banyak kemampuan aneh, dia juga membawa barang-barang yang lebih aneh lagi.


“Bagaimana cara menggunakannya?”


“Mudah, tinggal masukkan saja ke matamu.”


Aku menurutinya dan memasukkan dua benda cekung itu ke dalam mataku, terasa sedikit perih pada awalnya, tapi itu tidak berlangsung lama.


“Bagaimana?” Aku menunjukkan mataku ke Ego.


“Sempurna, warna hijau lebih cocok untukmu.” Dia mengacungkan jempol.


Dengan begini, aku tidak perlu khawatir menarik perhatian banyak orang.


Kami sampai di gerbang kota dan segera ikut dalam antrian pemeriksaan, seorang Prajurit yang memeriksa antrian membuka penutup gerobak kami, dia terdiam sesaat lalu dengan panik berlari ke arah Kesatria yang berada di dalam pos.


“Selamat siang, kami ingin memastikan isi gerobak Anda, apakah tidak keberatan?” Salah satu Kesatria memberi salam.


“Silakan saja, tapi isi gerobak ini hanya selembar kulit Beruang Belang.” Timpal Ego dengan santai.


Para Kesatria dan Prajurit itu saling tatap, kemudian salah satu Kesatria mengambil kulit beruang dari gerobak dan menggelarnya di tanah.


Seruan-seruan tertahan terdengar dari barisan antrian, disusul suara bisik-bisik dengan nada sedikit panik dari mereka, para Kesatria dan Prajurit saling tatap.


“Apakah kalian berdua yang mendapatkan kulit ini?” Kesatria yang tadi menyapa kami memberi pertanyaan.


“Benar sekali pak, apa ada masalah?” Jawab Ego .


“Kalian tidak menemukannya dalam keadaan sudah mati?” Pertanyaan selanjutnya.


“Ya ampun, kenapa tidak kalian rasakan langsung saja betapa segarnya kulit itu.” Ego pura-pura terlihat protes. Akting yang bagus.

__ADS_1


Para petugas itu kembali bertatapan satu sama lain, kemudian tiga Kesatria itu saling berdiskusi sementara lima Prajurit berdiri mengawasi kami.


“Kalian diizinkan memasuki kota, dengan syarat, tiga orang Prajurit harus mengawal kalian.” Ucap salah satu Kesatria.


Seorang Prajurit mengambil kulit yang digelar di tanah dan menggulungnya seperti semula, kemudian dia memasukkannya ke dalam gerobak.


“Terserah, lagipula aku hanya ingin pergi ke pelelangan. Ayo pergi”. Ego melambaikan tangannya padaku.


Tiga orang Prajurit mengawal kami seperti yang dikatakan oleh Kesatria tadi, kami sangat menarik perhatian saat memasuki kota. Padahal Ego bilang kalau dia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu.


“Kenapa kau tidak melakukan sesuatu pada kulit itu tadi?” Tanyaku dengan bahasa Arakaza, para Prajurit Orthras ini tidak akan memahaminya.


“Maksudmu dengan menyembunyikannya lebih baik begitu?”


“Ya.”


“Tidak ada alasan tertentu sih, cuma aku sedang mau saja".


“Lalu, kenapa para petugas di gerbang itu mengizinkan orang mencurigakan sepertimu masuk kota? Bukankah dengan mengatakan kalau kau yang membunuh beruang itu berarti kau mengatakan kalau kau sangat kuat?”


“Entahlah". Jawabnya singkat


Kami akhirnya sampai di sebuah gedung yang terletak di pusat kota, salah satu Prajurit berbicara pada resepsionis sambil menunjuk gerobak yang aku tarik. Resepsionis itu tampak terkejut, kemudian dia mengarahkan kami untuk meletakkan gerobak itu di gudang sortir.


“Keamanan barang ini akan kami jamin sepenuhnya, kerusakan yang terjadi setelah pemeriksaan akan menjadi tanggung jawab penuh kami, jika barang ini hilang, maka kami akan menanggung biaya penuh.”


Seseorang yang sepertinya memiliki jabatan yang cukup tinggi di tempat ini mendatangi aku dan Ego di gudang sortir dan berkata begitu.


“Baiklah, kapan pelelangan akan dimulai?” tanya Ego.


“Anda berencana melelangnya segera?” orang yang terlihat seperti manajer itu bertanya balik.


“Ya, aku tidak berencana tinggal dalam waktu lama di kota ini.”


“Kami akan memeriksa barang ini sekarang juga, Anda bisa menggunakan ruangan yang kami sediakan untuk tamu. Anak ini bisa menunggu di sini.”


“Tidak, anak ini akan bersamaku sambil menunggu lelang yang akan datang". Ucap Ego

__ADS_1


Manajer itu pun tersenyum. “Jika demikian, maka nikmatilah waktu anda.”


__ADS_2