Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 5 : Pria Aneh Itu Berbahaya


__ADS_3

Pagi ini aku berlatih teknik bertarung di sekitar bongkahan batu, sebenarnya aku berpikiran untuk mencari hewan buruan untuk dimakan. Tapi sepertinya lebih baik aku menunggu pria aneh bernama Ego itu kembali terlebih dahulu.


Rasanya sudah seperti lama sekali sejak terakhir kali aku bergerak, secara teknis, aku memang sudah tidur selama sepuluh hari. Jadi wajar saja kalau tubuhku terasa sangat lemas dan kaku.


Aku memasang kuda-kuda bertarung, mengingat teknik-teknik yang pernah diajarkan ayah sampai beberapa hari yang lalu.


Rangkaian pertama kuselesaikan dengan mudah, rangkaian ini berfokus pada gerakan ofensif yang menitik beratkan pukulan. Aku menambahkan Bara pada gerakanku, ayah pernah bilang, semakin aku berlatih menggunakan Bara, maka Bara milikku akan semakin kuat.


Rangkaian kedua berfokus pada serangan menggunakan kaki. Dampak yang diberikan oleh serangan ini lebih besar daripada gerakan di rangkaian pertama, tergantung pada keseimbangan kuda-kudanya.


Aku selalu melewati rangkaian ketiga karena hanya berfokus pada pertahanan, berlatih tanpa partner tidak akan efektif sama sekali.


Tubuhku terasa panas, Bara di tubuhku sudah cukup mengembalikan energinya yang memudar. Bagi Arakaza, Bara adalah energi yang akan menguat seiring latihan yang dijalankan. Sebaliknya, kalau Bara terlalu lama dibiarkan terbengkalai, kemungkinan besar energinya bisa melemah, atau bahkan padam sepenuhnya. Biasanya hal itu terjadi karena orang itu terlalu fokus berlatih Sihir, atau memang pemalas.


Sekali energi ini padam, maka akan sangat sulit untuk ‘menyalakan’ energi itu seperti semula. Karena itulah, aku pagi ini berlatih sambil mengaktifkan Bara untuk memulihkannya setelah sepuluh hari aku tidak sadarkan diri.


Rangkaian keempat merupakan kombinasi antara serangan tangan dan kaki, dan mulai dari rangkaian kelima sampai seterusnya, teknik yang dilatih adalah teknik bersenjata.


Kurasa aku akan berhenti cukup sampai disini, yang terpenting saat ini adalah aku sudah kembali menstabilkan Bara tubuhku.


Ngomong-ngomong, pria aneh itu belum kembali sama sekali, aku tidak percaya dia bisa melakukan banyak hal gila seperti itu. Terlebih lagi, dia tidak menyusun formula apa pun saat melakukan teleportasi. Tiba-tiba langsung menghilang begitu saja.


Kemampuan penyembuhnya juga tidak bisa dianggap remeh. Bukan, aku yakin tidak ada seorang pun di dunia yang bisa menyembuhkan luka separah itu hanya dalam waktu kurang dari satu hari.


Bahkan Sihir Penyembuh ras Grandis dan teknologi medis milik ras Manusia sekalipun baru bisa menyambung bagian tubuh yang terputus setelah proses penyembuhan selama beberapa pekan.


Orang ini bukan hanya menyambung, tapi dia menyusun ulang tubuhku setelah mengalami kerusakan. Dari yang kurasakan saat itu, sepertinya seluruh tulang di tubuhku remuk. Otomatis hampir seluruh dagingku juga hancur, tidak menutup kemungkinan ada anggota tubuhku yang tercecer.


Contohnya mataku. Kemungkinan, alasan kenapa aku tidak bisa melihat apapun pada saat itu adalah karena mataku terlepas dari kepalaku.


Dia menyembuhkan semua kerusakan itu seperti bukan apa-apa, padahal setahuku, Sihir Penyembuh merupakan Sihir paling rumit dan hanya bisa dilakukan dengan alat tertentu.


Mungkin dia tidak menggunakan Sihir? Bisa jadi dia memberiku kacang ajaib yang bisa memulihkan kondisi seseorang.


Hanya saja, setelah melihat dia menggunakan teleportasi semudah melompat, aku sedikit percaya dengan semua omong kosong yang dia katakan. Dia tidak bergerak dengan sangat cepat sampai tidak bisa diikuti dengan mata, tapi dia benar-benar menghilang begitu saja.


Memangnya ada seseorang yang bisa melakukan hal-hal seperti itu? Aku bahkan ragu kalau Cel Batran mampu melakukan Sihir rumit seperti yang dilakukan Ego.


Aku pernah mendengar cara ini sangat berbahaya, kemungkinan terburuknya, sebagian tubuhmu akan tertinggal pada saat teleportasi. Yah, walaupun itu masih sekedar teori, tapi jika benar-benar terjadi pasti sama sekali tidak lucu kan.


“Kau terlihat seperti sedang berpikir keras.” Sebuah suara mengejutkanku. Saat menoleh ke arah suara itu, aku melihat Ego menenteng seekor beruang yang sudah mati.


“Jadi kau kembali, apa kau juga muncul dengan menggunakan teleportasi?”


“Benar.” Jawabnya singkat.


“Apa yang kau bawa?”


“Ah, ini? Aku memburu beruang untuk sarapan kita pagi ini. Ngomong-ngomong, apa kau suka beruang?”

__ADS_1


“Memang sejak kapan ada orang makan beruang?"


“Memang sejak kapan beruang tidak dimakan?"


....


“Aku akan memanggangnya nanti. Bisakah kau menggali lubang di sana? Buatlah kedalamannya dua kali lipat ukuran hewan ini, aku akan menyiapkan dagingnya.” Dia langsung pergi begitu saja setelah selesai memberi perintahnya sambil menunjuk ke sebuah pohon.


Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Ego dan melihat sekop kecil tergeletak di sana, langsung saja aku mengambilnya dan mulai menggali di tempat yang tadi ditunjuk oleh Ego.


Penggalian selesai dengan cepat, terima kasih atas sekop yang dibawa Ego. Kalau saja dia tidak memberiku alat untuk menggali, aku bersumpah akan meninggalkan dia saat itu juga.


Ego kembali beberapa saat setelah aku selesai menggali, dia membawa bungkusan daun berukuran besar, daun yang sama seperti yang kemarin kugunakan untuk makan.


“Sudah selesai?” Tanya Ego sembari meletakkan bungkusan itu tidak jauh dari lubang yang aku gali. Aku mengangguk sebagai jawaban.


“Bagus, sekarang bantu aku mencari kayu bakar.” Dia lagi-lagi memberi perintahnya.


Apanya yang ‘bantu aku cari kayu bakar’. Dia menyuruhku untuk mencari kayu sendiri sementara dia duduk dengan santainya di sebelah lubang itu entah melakukan apa.


Aku berjalan keluar dari area hutan, semua kayu yang ada di tempat ini payah, tidak ada kayu kering sama sekali. Hutan ini terlalu lembap sampai-sampai ranting kecil saja terasa basah dan berjamur.


Sesampainya di padang rumput, aku berjalan di pinggiran hutan untuk mencari kayu bakar seperti yang di perintahkan Ego. Walaupun sedikit lembap, tapi kayu di sini masih lebih baik daripada yang ada di dalam hutan.


Setelah mengumpulkan cukup banyak kayu, aku mengikat tumpukan kayu itu dengan akar benalu.


Saat aku sedang mengikat kayu-kayu itu, aku mendengar suara ranting dan dedaunan yang terdengar seperti diinjak dari arah belakang.


Tapi yang menyahutku bukan suara Ego dengan nada santainya yang khas. Melainkan suara geraman hewan buas.


Aku refleks melompat dan berbalik menghadap ke arah suara itu sambil memasang posisi siap bertarung.


Di depanku, berdiri seekor Beruang Belang. Hewan yang dikategorikan sebagai Monster karena sangat buas dan kuat, aku menelan ludah. Dari semua jenis hewan buas, kenapa harus yang satu ini?


Kemungkinan terbaiknya adalah aku akan mendapatkan empat goresan indah sedalam dua ruas jari yang akan menjadi hiasan tubuhku sampai aku menjadi kakek tua nanti. Itu pun kalau aku masih hidup setelah mendapat goresan itu.


Sialan memang, saat ini aku tidak membawa senjata sama sekali, atau lebih tepatnya aku tidak punya. Hanya ada pakaian yang kupakai.


Kalau saja aku mempelajari Sihir lebih giat, mungkin saja aku bisa selamat dari situasi ini. Lupakan saja, pertama-tama, aku harus keluar dari situasi ini. Melarikan diri bukan pilihan bagus, pura-pura mati pun percuma. Beruang Belang bisa mendeteksi panas tubuh.


Beruang itu mengaum dan menerjang ke arahku. Aku berhasil menghindar, tadi itu hampir saja, aku tidak punya waktu untuk berpikir, pokoknya saat ini hadapi saja.


Aku mengaktifkan Bara, lalu Beruang itu menyerang sekali lagi. Serangan itu kembali kuhindari, aku mengambil batu seukuran genggaman tangan, lalu dengan kekuatanku yang meningkat karena Bara, aku melempar batu itu ke arak kepalanya.


Tepat sasaran, dan sekarang beruang itu tampak terhuyung. Apa ini bekerja?


Monster itu sekali lagi mengaum dengan keras, auman itu lebih keras dari yang pertama. Sepertinya tidak membunuh Beruang Belang dalam satu serangan bukan ide bagus.


Aku menghindari cakaran beruang itu dengan susah payah karena dia menyerangku dengan membabi buta. Situasi ini benar-benar merepotkan, sekali saja aku salah langkah, entah apa yang akan terjadi padaku.

__ADS_1


Beruang itu akhirnya menghentikan serangannya, sekarang dia menatapku dengan sorot mata penuh niat membunuh. Sepertinya lemparan batu tadi benar-benar membuatnya murka. Asal kau tahu, batu itu tidak akan mengenai kepalamu kalau kau tidak pernah datang kesini.


Aku menyusun formula Sihir Tembakan di tanganku, Sihir ini satu-satunya yang kukuasai.


Kami saling bertatapan dan berjalan mengitari satu sama lain, susunan Sihir di tanganku sudah siap. Beruang itu sekali lagi menerjangku dengan cepat, membuatku kesulitan menemukan momentum untuk melepas Sihir ini.


Bahkan serangan beruang itu bisa merobohkan pohon seukuran pelukan dua orang dewasa. Aku sama sekali tidak busa berbuat apa-apa, Sihirku mungkin tidak cukup untuk menembus kulitnya.


Tunggu dulu. Beruang ini sering kali mengaum saat menyerang, mulutnya terbuka lebar saat itu. Mungkin itulah kesempatanku untuk menyerangnya.


Aku melompat lebih jauh ke belakang, membuat sedikit ruang untuk melepaskan Sihir. Kini, aku berjarak tujuh langkah darinya. Sesuai dugaanku, beruang itu mengaum saat menyerangku.


Lima langkah.


Empat langkah.


Tiga langkah.


Sekarang!


Sebuah peluru energi berbentuk silinder berdiameter sekitar empat jari melesat dari tanganku dan tepat masuk ke dalam mulutnya yang terbuka lebar. Beruang itu kehilangan keseimbangan dan terlempar karena tersandung kakinya sendiri. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


Sekali lagi aku menyusun formula Sihir yang sama, dan menembakkannya ke arah beruang itu. Kali ini aku membidik lehernya. Dia mengaum dengan sangat keras, sampai-sampai darah menyembur dari mulutnya.


Beruang itu terus menggeliat kesakitan hingga beberapa saat, sebelum akhirnya berhenti bergerak sepenuhnya.


Sebaiknya aku segera pergi dari tempat ini sebelum beruang lainnya datang. Aku bergegas mengambil kayu bakar yang sudah ku ikat dan segera berlari ke arah shelter batu.


Tiba-tiba aku merasakan tanah yang kupijak bergetar. Jangan, tolong jangan seperti ini, aku menoleh ke belakang.


Benar saja, Beruang Belang itu belum mati, dia menungguku lengah supaya bisa melancarkan serangan mendadak.


Aku berlari secepat mungkin, berusaha menghindari kejaran beruang itu. Dia semakin dekat, aku seperti bisa merasakan nafasnya di tengkukku.


Disaat genting itulah Ego tiba-tiba muncul di hadapanku, aku melihat dia menjentikkan jarinya dan saat itu juga Beruang Belang yang mengejarku terkapar. Dia mati saat itu juga


Saat ini aku sedang melihat sesuatu yang sangat sulit dipercaya, entah apa yang dia lakukan.


"Pantas saja kau lama sekali, kukira kau mati lagi". Ego berjalan mendekati beruang itu.


Kali ini beruang itu benar-benar mati, Ego sendiri yang memastikannya dengan menendang-nendang kepalanya.


Orang ini sama sekali tidak bisa ku mengerti, apa memang ada orang sekuat ini? Mungkinkah dunia yang kulihat selama ini terlalu kecil?


Sepertinya aku harus belajar darinya, keinginanku untuk menjadi tentara bayaran kembali muncul. Jika aku sekuat dia, pasti aku tidak akan kehabisan uang sepanjang hidupku.


“Ah, benar juga. Aku hampir melupakan sesuatu". Ego mencabut belati dari ikat pinggangnya dan melemparkannya kearahku.


"Sana kuliti hewan itu, usahakan tidak merusak kulitnya". Setelah mengatakan itu dia pergi begitu saja, meninggalkanku sendirian dengan mayat beruang.

__ADS_1


Orang ini....


__ADS_2