
Hari ini hari libur, jadi praktis aku tidak masuk sekolah. Meskipun begitu, ibuku pergi ke sekolah karena ada rapat staff pengajar yang diadakan rutin beberapa pekan sekali, dan ayahku tidak berada di rumah beberapa hari ini karena dia sedang menyelesaikan misi bersama rekan-rekan Tentaranya.
Karena tidak ada kerjaan, aku hanya berdiam di kamar dan membaca Buku Dongeng Bergambar yang direkomendasikan oleh temanku, orang itu benar-benar maniak dalam mengoleksi buku seperti ini.
Setelah masuk tengah hari, aku mulai lapar dan bosan, ibu belum pulang dan dia tidak masak untuk makan siang, aku hanya diberi uang untuk beli makan siang di luar.
Baiklah, sebaiknya sekarang aku cari makanan dulu.
Hari ini kota ramai seperti biasa, prajurit berpatroli, para pedagang menawarkan dagangannya, pemilik toko melayani pembeli. Hari biasa yang menyenangkan.
Aku berjalan ke arah pusat kota, saat aku melewati Taman Hiburan, aku melihat seorang pengelana sedang membawakan kisah.
Dan disana ada seorang yang sangat aku kenal. Ya, siapa lagi kalau bukan Arion si maniak Buku Dongeng Bergambar, orang-orang selalu menjadikan dia sebagai tambang referensi Buku Dongeng Bergambar dari berbagai genre.
Dia begitu fokus mendengarkan kisah Pengelana itu sampai-sampai mulutnya sedikit terbuka. Benar-benar sudah tidak cocok untuk orang seusianya.
Hmm ... kurasa tempat makan siang hari ini sudah ditentukan, jadi aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di taman sambil mendengarkan kisah dari kejauhan. Karena aku ini Serigala, jadi aku masih bisa mendengarkan dari kejauhan dengan lumayan jelas meskipun jaraknya cukup jauh.
Si Pengelana pun sampai di penghujung ceritanya, kemudian dia berlalu pergi. Anak-anak mulai membubarkan diri, aku berjalan mendekati Arion yang hendak pergi dari tempat itu.
"Kau ini kekanakan sekali ya Arion, lihatlah disekelilingmu hanya ada anak-anak seusia adikmu, harusnya kau belajar arti kata malu.”
Aku menatap wajahnya yang terlihat sedikit kebingungan, ekspresi yang sama dengan ekspresi yang dia perlihatkan padaku bertahun-tahun lalu.
Saat aku berumur tujuh tahun, aku melihat seorang anak Manusia sedang dibully oleh beberapa anak lain di taman bermain. Anak itu sama sekali tidak melawan dan dia pun tidak menangis sama sekali.
Aku yang tidak tahan dengan pemandangan itu segera menghampiri gerombolan anak-anak nakal itu dan menghajar mereka tanpa ampun. Mereka segera lari terbirit-birit sambil menangis tanpa melihat ke belakang sama sekali.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanyaku pada anak Manusia itu, dia hanya menatapku dengan ekspresi kebingungan, seolah dia berkata ‘Buat apa kau menolongku?’. Ya, anak itu adalah Arion.
Setelah kejadian itu, aku mengikutinya pulang ke rumah karena khawatir kalau anak-anak nakal tadi akan kembali mengganggunya. Saat aku berjalan bersamanya, aku baru sadar, kalau bau anak ini sedikit berbeda dari manusia.
Aku diam-diam mengamati wajahnya, saat itu aku baru menyadari kalau dia memiliki mata berwarna oranye gelap. Aku sangat takjub pada saat itu, karena aku belum pernah melihat orang seperti dia sebelumnya.
Sesampainya kami dirumahnya, ibu anak itu berterima kasih padaku karena mau menemani anaknya bermain, aku menjelaskan kalau aku hanya membantunya ketika dia diganggu anak-anak lain.
Sejak saat itu aku sering berkunjung ke rumah anak setengah-manusia-setengah-arakaza bernama Arion.
Jadi kurang lebih kami ini teman masa kecil.
Kembali ke cerita di masa kini.
Aku berjalan bersama Arion sambil berbincang-bincang. Anak ini sangat tidak peduli dengan sekolahnya, dia justru lebih sibuk membaca Buku Dongeng Bergambar. Kalau aku mencoba mengingatkannya untuk lebih serius belajar, dia selalu mengalihkan pembicaraan dengan berbagai cara.
Tapi dia adalah anak yang cerdas. Ibuku bilang, kalau saja tidak malas-malasan, pasti dia bisa mendapat nilai akademik tertinggi dalam semua pelajaran, karena bahkan dengan sifat malas akutnya itu, dia selalu bisa masuk dalam daftar 30 siswa terbaik di akademi. Aku yang sangat giat belajar saja tidak pernah melihat namaku dalam daftar itu.
Saat kami sedang berjalan, kami berpapasan dengan anak-anak cowok dari sekolah yang sama dengan kami, mereka menggoda kami dengan bilang kalau kami sedang kencan, padahal aku hanya ingin numpang makan siang di rumah Arion.
Kemudian si Arion itu mengatakan hal yang membuatku kesal. Dia bilang aku Serigala tersesat? Aku tidak tahan untuk tidak menendang kakinya, dan anak-anak cowok itu malah tambah menggoda kami, aku sangat malu sampai aku tidak berani mengangkat wajahku, lalu anak-anak cowok itu pun berlalu sambil terus tertawa-tawa.
Arion meminta maaf karena ucapannya barusan. Lalu mengatakan sesuatu yang aku tunggu-tunggu. Ya, undangan makan siang, aku langsung saja mengangguk setuju karena memang itu tujuanku jalan bersama dia hari ini.
Aku sesekali mencuri pandang ke arahnya, aku sebenarnya sudah menyukai Arion sejak lama, dia itu sangat keren menurutku, di sekolah pun tidak sedikit anak-anak cewek yang membicarakan Arion.
Ada juga yang modus dengan mendekati Ariel dan bersikap baik kepadanya. Bahkan beberapa ada yang menitipkan hadiah yang diselipi surat kepada Ariel untuk diberikan kepada kakaknya.
Terkadang hal itu sedikit membuatku kesal, walaupun untuk memberinya hadiah, aku tidak perlu menitipkannya kepada Ariel. Aku bisa memberinya kapanpun aku mau.
Tapi aku merasa kalau ada sesuatu yang akan direbut dariku kalau aku membiarkan anak-anak cewek itu terus mendekati Arion
Aku juga dijauhi oleh cewek-cewek yang menyukai Arion, karena mereka benci fakta bahwa cowok idaman mereka adalah teman masa kecil dari cewek Serigala ini.
Dilihat bagaimana pun, Arion memang sangat keren, ekspresinya yang selalu terlihat tenang, rambut coklat tuanya terlihat sangat cocok dengan kulitnya yang cerah, dan tentu saja pesona utamanya ada pada mata oranye tua itu.
Biasanya jika kau melihat orang dengan warna mata seperti itu, maka kau akan melihat garis merah di sekitar mata mereka. Tapi dia tidak memilikinya, menurutku itu sangat cocok untuk Arion.
Sayangnya aku tidak tahu apa dia punya perasaan yang sama kepadaku, dia cukup populer dan ayahnya juga orang yang cukup terpandang. Ibunya pun merupakan putri dari keluarga bangsawan kelas tinggi di Kerajaan Manusia.
Jadi pasti banyak gadis yang mengincarnya dan tidak menutup kemungkinan Arion sudah dijodohkan dengan seseorang dari Kerajaan Manusia. Yah, sepertinya aku pun tidak bisa berharap terlalu banyak karena dia pun tidak terlihat seperti lelaki yang peka.
Sesampainya di rumah Arion, kami disambut oleh ibu Arion yang sedang memasak dibantu Ariel. Lihatlah, bahkan adiknya lebih pengertian dari dia, kenapa sih anak ini tidak bisa sedikit lebih dewasa?
Aku pun memutuskan untuk ikut membantu Bibi Elisa menyiapkan makan siang, karena Arion malah dengan santainya mencomot makanan satu persatu semaunya.
Ariel kemudian memukul kepala Arion dengan panci goreng. Nice job, Ariel!
Kami pun membicarakan banyak hal, dan kebanyakan topiknya adahal tentang Arion, aku benar-benar tidak paham apa yang sebenarnya dipikirkan Arion.
Dengan status ayahnya yang seorang peringgi militer, atau koneksi dari ibunya yang merupakan putri bangsawan, pastinya dia bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Tapi dia malah lebih memilih menjadi Tentara.
__ADS_1
Paman Zarakhel pulang di sela-sela obrolan kami, dan bersamaan dengan itu makan siang sudah siap.
Aku bergegas membantu bibi Elisa menyiapkan makan siang ke meja makan, dia memujiku dengan mengatakan kalau aku bisa menjadi pengantin yang baik, aku terkejut mendengarnya, apa maksudnya itu? Apa ini berarti kalau bibi ingin aku menjadi pengantinnya Arion? Aaah ... aku sangat malu.
Aku berusaha keras supaya bertingkah senormal mungkin selama di meja makan, dan itu sangat sulit karena aku selalu tergagap ketika bibi Eliza dan paman Zarakhel bertanya tentang sesuatu.
Setelah makan, aku juga dengan sigap membantu Bibi membereskan sisa-sisa makan siang, percakapan Arion dengan ayahnya semakin membuatku salah tingkah.
Walaupun mereka sudah berusaha menurunkan suara mereka ke batas minimum, tapi tetap saja aku ini serigala. Saking malunya, aku serasa ingin mencakar meja di depanku sekuat-kuatnya.
Tapi entah kenapa Arion terdengar tidak tertarik dengan topik itu, dia tidak salah tingkah ataupun gugup ketika ayahnya melontarkan pertanyaan seperti itu. Jujur saja, itu membuatku sedikit kecewa, aku berharap dia memperlihatkan sedikit reaksi yang bagus.
Tidak lama kemudian, ibuku datang untuk menjemputku, dan bibi Elisa memujiku di depan ibuku, apa lagi kalau bukan
"Viona sangat bagus dalam mengurus urusan rumah tangga.”
Dan ibuku malah menambahi, "Arion juga terlihat bisa diandalkan.”
Kemudian mereka menatapku dengan tatapan yang membuatku merinding sembari tertawa kecil, aku buru-buru menarik tangan ibuku dan menyuruhnya untuk segera pulang.
Di perjalanan pulang pun, dia masih saja menggodaku, sesampainya di rumah, ibu bilang kalau ayah akan pulang sebelum makan malam, ini sudah sepekan sejak dia pergi menyelesaikan misi dengan teman-temannya.
Ayah pulang saat kami sedang bersiap untuk makan malam.
“Ah, syukurlah aku tidak terlambat.” Ayah dengan nafas yang masih terengah-engah berkata dengan nada lega.
Ibu bergegas melepas mantel milik ayah dan memberikan handuk bersih. Ayah segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelah beberapa saat, keluarga kecil kami sudah berkumpul di ruang makan, ayah begitu semangat menyantap hidangan makan malam. Ibu menyuruhnya untuk berhati-hati.
“Jangan terlalu rakus menyantap yang ini. Sisakan tenagamu untuk menyantap menu nanti malam.” Ibu berkata sambil menatap ayah genit.
Ayah mendengus dan berkata. “Tenang saja, aku masih merasa bersemangat karena barusan pulang dari misi.”
Ugh ... Suasana disini mendadak berubah, jujur saja aku tidak terbiasa dengan obrolan mereka.
Apakah ketika dewasa aku juga akan mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan ibu kepada ayah?
“Sepertinya Eliza cukup tertarik dengan Viona.” Ibu tiba-tiba beralih topik.
“Begitukah? Zarakhel sepertinya tidak pernah membicarakan topik seperti itu.”
“Ya, bahkan tadi dia mengatakan kalau Viona bisa jadi istri yang dapat diandalkan.”
Terserah lah, aku ingin segera tidur, hari ini mendadak berubah menjadi sangat melelahkan.
°°°°°°°
Pagi ini aku bersiap untuk berangkat ke sekolah, setelah sesi latihan pagi bersama ayah, aku langsung mandi dengan cepat dan memakai seragam, aku siap dalam sekejap, beda dengan Ariel, dia perlu waktu setengah jam lebih untuk bersiap ke sekolah.
Ayah sarapan lebih cepat karena dia ditugaskan untuk mengawal Penguasa Wilayah di acara jamuan, jadi setelah melatihku dia langsung sarapan dan pergi, apa tadi dia benar-benar mandi? Jangan bilang dia hanya mencuci muka.
Setelah Ariel keluar dari kamar mandi, dia rusuh di kamarnya karena buku pelajarannya untuk hari ini tidak ada di lemari buku, aku dan ibu terpaksa membantu mencari buku yang dimaksud di seluruh penjuru rumah, Ariel tidak berhenti mengomel, entah siapa yang dia omeli, mungkin bukunya.
Ibu yang risih meneriaki Ariel dari lantai satu dan menyuruhnya bergegas karena sudah hampir masuk jam sekolah.
Hampir setengah jam kami bertiga rusuh mencari buku akhirnya aku menemukannya dibawah ranjang Ariel, saat kutempelkan buku itu ke wajahnya dia hanya nyengir dan dan berkata tanpa nada bersalah "Hehe ... aku lupa.” Kemudian sesi ceramah singkat dari ibu pun dimulai.
Setelah kuping kami kenyang dengan ceramah dari ibu, kami pun bergegas untuk sarapan dan giliran perut kami yang di kenyangkan, kami memakan menu sarapan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Sarapan kami selesai dengan cepat, aku dan Ariel bergegas pamit kepada ibu untuk berangkat ke sekolah, saat kubuka pintu rumah, di sekitar terlihat gelap, apakah sekarang mendung? Aku pun mendongak menatap langit.
.........
.........
Ini bercanda kan? Gumam Arion penuh keputusasaan.
Saat ini dia berharap kalau semua yang dialaminya hari ini hanyalah mimpi buruk dan dia akan segera terbangun.
Tapi percuma, ini jelas kenyataan. Dia tidak sedang bermimpi.
Bagaimana ini bisa terjadi? Langit di atas mereka seolah tersedot, kemudian memperlihatkan lubang gelap yang mencekam, angin yang berhembus menjadi lebih dingin dari hembusan angin musim salju.
Tubuh Arion mematung saat menatap lubang di langit, dia tidak bergerak sama sekali.
Ariel mencengkeram lengan Arion, "Arion? Kau belum berangkat? Ada a ... hah?".
Eliza yang muncul dari balik pintu langsung jatuh lemas ketika melihat langit di atas mereka, tidak bisa berkata-kata sedikitpun. Orang-orang di jalanan juga terpaku melihat ke arah lubang hitam di langit.
__ADS_1
Tanah tiba-tiba bergetar, retakan-retakan mulai menjalar di tanah dan bangunan-bangunan di sekitar kami, orang-orang seperti tersadar oleh sesuatu, mereka langsung lari berhamburan ke segala arah, berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
Tanah dan bangunan yang retak mulai pecah dan terangkat ke atas, bukan hanya itu, orang-orang pun mulai terangkat ke atas satu persatu kemudian mereka lenyap menjadi debu ketika mendekati lubang di langit, Arion sudah tidak bisa berpikir lagi.
Elisa dengan kaki gemetaran berusaha berdiri dan mendekati kedua anaknya yang masih mematung di halaman rumah.
"Ah ...?"
Dia kebingungan ketika tubuhnya mendadak terangkat. Dia terlihat ingin meneriakkan sesuatu, tapi satu puing bangunan yang ikut terangkat lebih dulu menghantam tubuhnya dengan keras hingga hilang kesadaran, dan akhirnya dia lenyap saat mendekati lubang langit.
Arion sangat terguncang hingga dia tidak bisa meneteskan satupun air mata, pikirannya kosong. Hahaha ... Berakhir sudah.
"Ka ... k ... kakak ..." Ariel mencengkeram lengannya lebih kuat, tubuhnya gemetar hebat, giginya gemerutukan.
Sayangnya kondisi Arion tidak lebih baik dari Ariel, kakinya seolah di cengkeram oleh bumi, bahkan menggeser kaki pun rasanya tidak sanggup.
"ARION!" sebuah suara memanggilnya, itu suara Viona, wajahnya terlihat frustrasi dan sangat kacau. Dia tidak bersama kedua orang tuanya
Dia berlari mendekat dan membentak Arion. "APA YANG KAU LAKUKAN?! CEPAT LARI!"
Lari? Buat apa? Pada akhirnya aku juga akan lenyap seperti itu? Upaya apa pun akan sia-sia.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Ayo lari dasar bodoh ..." Dengan suara lemah, dia menarik lengan Arion untuk berlari, tanah berguncang sekali lagi dan mereka semua terjatuh.
Ketika berusaha berdiri, Arion sadar kalau Ariel tidak lagi mencengkeram lengannya.
Saat menoleh ke belakang, dia melihat Ariel terangkat ke atas, wajahnya pucat, giginya semakin bergemeretukan dan Ariel pun lenyap menjadi debu.
Arion jatuh terduduk, ini sudah berakhir, "Ayo lari ..." Viona membisikkan kata-kata itu dengan penuh keputusasaan, akhirnya dia juga jatuh terduduk.
"Apa kita akan mati?" Viona menatap langit.
"Mungkin"
"Apa ini pertemuan terakhir?"
"Mungkin"
Kemudian dia memeluk Arion, tubuh mereka gemetar, tapi mereka segera merasa lebih tenang setelahnya.
Rasa hangat yang aneh.
Tubuh mereka terangkat bersama, Viona tidak melepaskan pelukannya dan kini Arion membalas pelukannya.
"Hey, Arion ... aku ... mencintaimu.”
Dia membisikkan itu di telinga Arion, suaranya tidak lagi gemetar. Mereka diselimuti hawa ketenangan.
Arion mempererat pelukannya.
"Kurasa ... aku juga." Arion menjawabnya.
Tetapi bersamaan dengan itu, tubuh Viona lenyap menjadi debu.
"Apa dia sempat mendengar jawabanku? Yah, semoga di kehidupan selanjutnya aku bisa bertemu lagi dengannya dan membalas pernyataannya dengan layak." Arion berbicara pada dirinya sendiri.
Saat Arion menatap ke atas, lubang hitam itu perlahan tertutup, tubuhnya seketika terjun bebas.
Dia tertawa getir.
"Kematianku menyakitkan sekali. Sialan, ini tidak adil."
Pandangan Arion mendadak gelap setelah tubuhnya jatuh dan menghantam reruntuhan, tapi dia belum mati.
Rasa sakit pun sudah tidak bisa dia rasakan lagi. Ditengah tetesan air hujan, dia samar-samar mendengarkan langkah kaki dan kecipak air.
"XXXX ... XXXX XXXX ..."
Arion tidak mengerti kata-kata orang itu, dia tidak bisa melihat apapun, pandangan matanya sudah gelap sepenuhnya.
"XXX XXXXX XXX XXXXX ... XXX XXXX."
Suara-suara di sekitarnya terdengar semakin samar.
“XXXX XXX XXXX.”
Apa sih yang dia katakan?
__ADS_1
"XXX ...?"
Kesadarannya pun lenyap.