Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 13 : Situasi Genting


__ADS_3

"Syukurlah tidak ada hal buruk yang terjadi sepanjang perjalanan". Alean menyalami Ego dan Aku.


"Jujur saja, aku agak berharap kalau hal buruk itu terjadi, kan nanti ...." Ego nyengir sambil menggosok jari telunjuk dengan ibu jarinya. Duit lah, apa lagi.


Dahi Alean langsung berkeringat. "Hahaha ... Selera humor kita sepertinya sedikit berbeda". Gelap juga Ego ini. Tapi isi kepalaku dan Ego sepertinya tidak jauh berbeda.


"Apakah kalian masih satu arah dengan kami? Mungkin aku bisa membuat kontrak baru dengan kalian sampai kami tiba di kota tujuan". Alean menawarkan perpanjangan kontrak, walaupun perkataan Ego tadi cukup membuatnya ketar ketir, tapi sepertinya dia berpikir kalau Ego bisa dipercaya. Mungkin karena dia bisa menyadari sesuatu yang hanya bisa disadari oleh kapten pengawal.


Ego menggeleng. "Sejujurnya tawaranmu sangat menggiurkan, tapi masih ada sesuatu yang aku dan Arion harus diselesaikan". Kenapa dia bawa-bawa namaku?


Alean tersenyum meskipun dia terlihat agak sedikit kecewa. "Baiklah, itu artinya kita berpisah disini". Ujarnya.


Kapten pengawal turun dari kudanya dan menghampiri kami. "Sayang sekali, padahal ada banyak yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Ego". Dia menyalami Ego, Ego tersenyum dan menyambut uluran tangannya, tapi mereka hanya diam dan saling tatap saja selama beberapa saat. Kemudian Ego tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya.


Kapten pengawal menghela nafas. "Baiklah, semoga perjalanan kalian menyenangkan". Akhirnya kami betulan berpisah, Alean berterimakasih untuk yang terakhir kali sebelum dia masuk ke kereta staff.


Setelah itu, Alean dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan, para porter dan beberapa pengawal mengangguk ke arah kami sebagai salam perpisahan.


Karavan Alean terlihat semakin menjauh dari pandangan kami, Ego kemudian naik ke atas kudanya, aku juga menaiki kudaku.


"Masih ada sesuatu yang harus diurus, kau ikut aku kan?" Kuda Ego berjalan kembali ke arah hutan, tentu saja aku ikut, memang kalau tidak ada dia aku mau ngapain?


Aku mengikuti Ego yang sudah kembali masuk ke hutan. "Memang ada urusan apa?" Entah apa yang dia rencanakan, tapi intuisi ku mengatakan kalau ini ada hubungannya dengan para bandit tadi.


"Bandit-bandit sialan tadi sudah jelas berbohong, kau tahu itu kan?" Jelas aku tahu. "Bodoh sekali kalau ada orang yang percaya". Jawabku, Ego tersenyum.


"Kan terlalu sia-sia kalau uang Alean malah digunakan oleh para bandit itu, makanya kita akan meminta uang itu dari mereka". Jelasnya.


"Mana mungkin dikasih". Sahutku


"Ya tinggal diambil paksa saja".


"...."


Aku menghentikan kudaku, intuisi ku benar-benar benar, orang ini ... Sepertinya sekrup di kepalanya ada yang sudah mulai kendor. Ego hanya tertawa melihat reaksiku.


"Kan kau bisa sekalian praktek ilmu bertarung". Ucapnya enteng.


"Yang benar saja, bahkan aku belum tahu cara menggunakan Machete ini dengan benar". Keluhku. "Ya makanya belajar". Timpalnya.

__ADS_1


"Kau tahu? Ada orang yang bilang, 'kalau kau sekali bertarung dengan seseorang dan membunuhnya, maka kau akan lebih kuat dari dirimu sebelumnya, dan akan terus bertambah kuat seiring nyawa yang melayang karena kekuatanmu' ". Orang mana yang bilang seperti itu?


"Ngga masuk akal". Sahutku. "Kalau dengan membunuh orang saja bisa semakin kuat, mungkin pembunuh berantai bakal jadi orang paling kuat di dunia. Terus artinya para penguasa negara itu suka membunuh orang dong".


"Kau melewatkan poin paling penting, orang itu bilang 'bertarung melawan seseorang dan membunuhnya' bukan membunuh asal-asalan. Lalu yang dimaksud semakin kuat itu bukan kekuatan fisik, apalagi kekuatan dalam. Tapi kekuatan mental". Ego menunjuk dadaku.


"Banyak orang yang sudah melewati pelatihan fisik, mempelajari teori bertarung, mengetahui cara menghadapi lawan. Tapi justru mati ketika melawan orang yang lebih lemah darinya secara kekuatan". Ucap Ego panjang lebar.


"Kau tau kenapa?" Aku menggeleng.


"Karena mereka takut". Ego menatapku serius. "Saat bertarung menggunakan senjata asli alih-alih senjata replika, mereka sadar kalau sekali saja senjata itu mengenai mereka, maka berakhir sudah. Karena mereka sadar akan hal itu dan ketakutan mulai menguasai mereka, mereka tidak bisa bertindak sebagaimana yang seharusnya. Ketika melihat serangan lawan, mereka berfikir 'Ah, aku harus bagaimana? Apakah aku akan menangkisnya? Atau Menghindarinya? Atau melancarkan serangan balik? Aku harus bagaimana?' sebelum mereka selesai berfikir, kepala mereka sudah melayang".


Aku menelan ludah.


"Terkadang mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, tapi tubuh mereka tidak bisa bereaksi seperti apa yang ada di benak mereka". Ego mendekatiku dan hanya dengan satu kedipan mata, bilah Scimitarnya sudah menempel di batang leherku.


Ego menatapku yang membatu, kemudian kembali menyarungkan scimitarnya. "Intinya, ketakutan membuatmu lamban, lamban akan membuat lawanmu menemukan celah. Saat celah terbuka lebar, koek!" Ego menggoreskan telunjuknya ke leher.


"Cara paling ampuh untuk mengatasinya adalah bertarung tanpa banyak berfikir, tanamkan satu hal dalam dirimu. 'Aku harus membunuh sebelum dibunuh', paham?" Dia menyodok jidatku.


Dia kembali memacu kudanya berjalan memasuki hutan lebih dalam, aku mengikutinya dengan banyak pikiran di benakku. Apa yang Ego katakan tadi cukup masuk akal, aku tidak pernah terlalu berfikir kalau saat bertarung, maka salah satu akan mati, dan itu bisa jadi adalah aku.


...****************...


Sementara itu, kelompok dagang Alean.


"Bagaimana menurutmu, Yugo?" Alean yang berada di dalam kereta staff bertanya dari balik tirai kepada kapten pengawal yang rupanya bernama Yugo.


Yugo terdiam sejenak. "Pria bernama Ego itu ... Dia berbahaya, ketika aku bersalaman dengannya, kupikir dia setingkat denganku atau lebih rendah karena usianya yang masih muda. Tapi setelah aku mengalirkan energiku, seketika itu juga aku merasakan energi luar biasa dahsyat yang serasa menghancurkan tubuhku."


Alean dan staff lain yang mendengarkan itu menelan ludah. "Momen itu hanya terjadi sepersekian detik, kalau saja itu terus berlangsung selama lima ... Tidak, dua detik saja merasakan energi itu mungkin bisa membuatku tak sadarkan diri". Lanjutnya.


"Sekuat itu kah?" Salah seorang staff merenung, Yugo adalah orang terkuat yang dimiliki perusahaan dagang mereka, kekuatannya dikatakan setara dengan perwira militer berpangkat tinggi.


Dia adalah mantan tentara bayaran yang direkrut oleh perusahaan untuk mengawal pemimpin perusahaan, namun berhubung ekspedisi dagang kali ini menyertakan putri dari pemimpin perusahaan dagang itu, dia menugaskan Yugo dan beberapa pengawal elit untuk mengawal ekspedisi itu.


"Menurutmu, diantara petinggi militer atau tentara bayaran tingkat tinggi yang kau kenal. Pria bernama Ego itu sekuat siapa?" Salah seorang staff melontarkan pertanyaan, Yugo terdiam sejenak, dia menggali ingatan seluruh pertarungan yang pernah dia alami.


"Veteran tentara bayaran, mantan peringkat empat puluh sembilan dunia, atau peringkat tiga Orthras. Fergus Edain". Semua orang tersentak mendengar nama itu disebut.

__ADS_1


Fergus Edain adalah tentara bayaran yang memilih pensiun dini di usia tiga puluhan tahun, padahal dia digadang-gadang akan menjadi peringkat satu di Orthras. Namun kemudian terungkap alasan dia pensiun adalah karena dia mengidap penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan. Fergus Edain akhirnya pergi di usia empat puluh tahun.


"Dia sekuat itu?" Alean menganga tidak percaya, begitu pula seluruh staff. Tapi Yugo menggeleng, "Aku pernah bertarung melawan Fergus saat dia berada di peringkat yang lebih rendah. Meskipun pada akhirnya aku kalah, tapi aku bisa melawan balik dan bahkan memberinya luka. Orang bernama Ego ini, dari apa yang kurasakan, dia berkali-kali lipat lebih kuat dari Fergus".


Para staff saling tatap, apa yang mereka dengar dari Yugo itu sama sekali tidak masuk akal, tapi buat apa juga Yugo berbohong?


Yang sedikit mengganjal di benak Alean adalah orang dengan kualitas seperti itu terima dengan bayaran 10 pelat emas? Walaupun itu hanya kontrak untuk menjadi pengawal sementara, tapi tentara bayaran dengan peringkat lebih tinggi biasanya meminta bayaran setinggi langit. Juga, meski dia sekuat itu tapi tidak ada seorangpun yang pernah mendengar namanya.


Memang ada kalanya seorang tentara bayaran menggunakan nama samaran, tapi mereka tidak pernah mengganti nama di tengah karir, dikarenakan reputasi sebagai tentara bayaran akan dicatat bersamaan dengan nama yang mereka gunakan. Masa iya, orang yang sudah mencapai peringkat tinggi dalam jajaran tentara bayaran mengganti namanya dan mengulang karir dari awal?


"Siapa kalian!? Identifikasi diri kalian sekarang juga!" Mendadak terdengar suara Yugo yang berteriak kepada seseorang.


Para staff segera membuka tirai, memeriksa apa yang terjadi. Di depan karavan mereka, berdiri setidaknya lima belas orang dengan pakaian bandit, masing-masing dari mereka mengendarai seekor kuda dengan senjata terhunus.


Para bandit itu dipimpin oleh seseorang yang wajahnya penuh coretan berwarna hitam, membentuk pola tertentu. Orang itu terlihat menyeringai beringas kearah karavan dengan pedang di kedua tangannya.


"Yaaahh, kalau harus dikatakan. Kami ini orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan kalian di dalam hutan beberapa jam lalu". Ucap orang yang memimpin gerombolan itu.


"Apa mau kalian!? Bukankah kami sudah memberikan apa yang kalian minta!?" Alean berteriak protes.


Pemimpin gerombolan itu menggaruk telinganya. "Mmmm ... Mungkin karena ...." Dia pura-pura berfikir, kemudian kembali menyeringai. "Duitnya kurang kali?" Seluruh bandit tertawa terbahak-bahak.


Yugo dan semua pengawal lain sudah siap bertarung, bandit ini sama sekali tidak ada negosiasi. "Kau pemimpin mereka kan?" Yugo bertanya kepada pemimpin gerombolan sambil mengacungkan pedangnya.


Bandit itu tertawa. "Kekekek, bukannya sudah jelas? Kan aku yang berada di posisi paling depan".


"Maksudku. Kau itu pemimpin sebenarnya kan? Bandit Buraka tadi hanyalah bonekamu, bukan begitu?"


Seketika raut wajah bandit itu berubah, lalu dia tertawa cekikikan. "Kheehehehe ... Rupanya ada seseorang yang cukup merepotkan disini. Habisi mereka".


Segera saja terjadi bentrok antara pengawal dan bandit, jumlah mereka sedikit tidak seimbang, tapi Yugo dengan cepat menghabisi dua keroco dan segera berduel dengan pemimpin bandit.


Pedang mereka beradu, Yugo sedikit kewalahan karena bandit itu adalah pengguna dua pedang. "Heeee~ Orang sepertimu kenapa bergabung dengan kelompok kecil seperti mereka?" Bandit itu sempat-sempatnya mengobrol di tengah pertarungan.


"Apa lagi? Tentu saja karena bayarannya besar". Bandit itu tertawa mendengar jawaban Yugo.


Yugo menghindar dari tebasan ganda bandit itu dan segera memberi serangan balik yang kuat, membuat bandit itu sedikit mundur untuk menjaga jarak. Tapi Yugo tidak memberikan bandit itu kesempatan untuk bernafas, dia segera menerjang dan mengirimkan tebasan samping yang sangat kuat, bandit itu berusaha membelokkan arah serangan dengan salah satu pedangnya, tapi karena tebasan Yugo terlalu kuat, bandit itu tetap terluka pada akhirnya. Dia kembali membuat jarak dari Yugo yang terlihat sedikit goyah, darah mengucur dari pahanya.


"Heheheh ... Kau benar-benar lawan yang merepotkan". Bandit itu memamerkan darah di salah satu pedangnya ke Yugo, saat dia mengambil langkah mundur, dia juga menebaskan pedangnya ke paha Yugo yang tidak terlindungi.

__ADS_1


"Jangan ngelamun. Sekali fokusmu teralihkan, kepalamu itu akan lepas". Ancam bandit itu. Yugo menyeringai mendengarnya. "Baru saja aku mau bilang begitu".


__ADS_2