Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 8 : Pelelangan, Pangeran dan Orang Misterius


__ADS_3

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Perkenalkan, saya adalah Finn Drioni, pembawa acara di sesi lelang kali ini. Hari ini, kami memiliki barang spesial yang sangat berharga, entah berapa nyawa yang dikorbankan untuk mendapatkan barang ini dengan kondisi yang sangat baik.”


Seorang pembawa acara yang memegang alat pengeras suara berdiri di panggung dan sesumbar soal pelelangan seperti yang seharusnya dilakukan oleh pembawa acara. Tapi entah kenapa, kalimat terakhirnya terasa sedikit berlebihan.


Ngomong-ngomong, aku dan Ego berada di sebuah balkon di dalam aula lelang yang diperuntukkan bagi tamu spesial, meskipun aku bertindak seperti pelayan pribadi. Tapi menurutku tidak buruk juga, selain diberi baju baru khas pelayan laki-laki, aku mendapatkan kursi duduk di sebelah sofa Ego, sambil mengipasi pria aneh yang sedang memakan anggur itu.


“Kau mau?” Ego menyodorkan setangkai anggur kepadaku, aku menerimanya dan langsung melahapnya.


“Sepertinya kita akan jadi kaya begitu keluar dari tempat ini.” Ujarku.


“Itu hanya berlaku kalau pelelangan ini berjalan dengan normal hingga akhir.” Timpal Ego.


“Apa maksudmu?”


“Nanti kau akan tahu maksudku, sebaiknya nikmati dulu pengalaman mendebarkan ini.” Ego tertawa kecil.


Di bawah tempat kami duduk, terdapat tamu-tamu dengan kelas bisnis, sedangkan di bagian belakang aula terdapat jajaran kursi untuk tamu kelas ekonomi.


Barang lelang pertama dibawa ke panggung. Pembawa acara mulai mengompori para hadirin dengan lidahnya yang sangat lentur, atmosfer di aula ini mulai sedikit memanas berkat omongan si pembawa acara.


Tabir penutup di angkat, sebuah kalung dengan permata berwarna kuning yang disematkan di rantai berbahan perak kualitas tinggi kini mendapatkan perhatian semua orang. Kalung itu dinamai ‘Langit Senja’


“Dibuat oleh pengrajin di daerah pedalaman Kerajaan Troumb, kalung ini diyakini sebagai karya terakhirnya sebelum dia menutup usia dikarenakan penyakit misterius.”


Pembawa acara kemudian menjelaskan sejarah dari kalung itu secara panjang lebar, semua orang yang berada di kelas ekonomi terlihat sangat bersemangat, yang berada di kelas bisnis mulai menimbang-nimbang. Sedangkan di jajaran eksekutif, mereka tidak bergeming sama sekali.


“Hanya orang bodoh atau pemula yang memberi item di awal pelelangan, kalung itu entah apa gunanya, nama pengrajinnya pun tidak disebutkan. Toh, tidak ada orang yang mengenalnya.” Ego memberi komentar.


Masuk akal, aku pun juga berpikir kalau item yang dilelang di awal hanyalah item yang tidak begitu bernilai, meskipun bagi orang yang berstatus rendah, item-item itu tentu saja sudah sangat mewah. Tapi kita sedang berada di lingkungan yang dipenuhi orang-orang kalangan atas.


“Pembukaan harga untuk item kalung ini, 100 pelat emas!” pembawa acara itu berseru, membuat semua orang merasa terprovokasi.


“120 pelat emas!”


“125!”


“140!”


“200!”


“Apakah sampai disini? Baiklah! Kalung ‘Langit senja’ terjual kepada Tuan yang disana!” pembawa acara menunjuk salah satu tamu di jajaran kursi kelas ekonomi, tamu itu mengepalkan tangannya dengan puas.


“Dia pasti orang kaya baru.” Ego berkomentar meremehkan, seolah dia ini bangsawan kelas atas.


“Benar tuan.” Aku demi sopan santun menanggapi pernyataan Ego, karena ada pelayan yang mengantar minuman.


Aku segera beranjak dari kursi dan menuangkan sampanye ke gelas Ego sambil berpose sesopan mungkin.


“Ah, ambilkan minuman yang cocok untuk anak seusianya.” Ego berkata sambil menunjukku. Pelayan itu menatapku sejenak, kemudian dia membungkuk dan berlalu.


“Kau cukup tanggap.” Ucap Ego setelah pelayan itu pergi.


“Tentu saja, aku tidak sebodoh itu.”

__ADS_1


Item berikutnya sudah juga sudah berada di tengah panggung, dua wanita yang mendampingi pembawa acara membuka tabir penutup. Sebuah belati melengkung khas Demago dengan hiasan permata terpampang di depan semua hadirin.


“Terbuat dari baja Illinium, dengan gagang yang diambil dari taring Singa Putih. Permata yang menghiasi gagangnya membuat belati ini berkilau begitu indah di bawah pancaran sinar bulan purnama. Karena itulah ‘Kilauan Bulan Sabit’ menjadi nama yang cocok untuk belati ini.”


“Selain keindahannya yang tak ternilai, belati ini juga bisa dijadikan sebagai senjata yang mematikan. Material terbaik di kelasnya di olah dengan teliti oleh penempa di Kerajaan Demago yang telah berpengalaman puluhan tahun, memiliki item ini seperti melempar dua burung dengan satu batu. Anda bisa memanjakan mata dengan keindahannya dan sekaligus bisa menjadikannya alat pertahanan di saat yang mendesak.” Pembawa acara berdehem “Atau jika mau, Anda bisa menggunakannya untuk mengoleskan mentega pada roti untuk sarapan.”


Semua hadirin tertawa, seruan-seruan ribut mulai terdengar di barisan kelas ekonomi dan kelas bisnis. Katakanlah benda ini tidak begitu bernilai, tapi siapa yang tidak tertarik menggunakan belati yang dibuat dengan material kelas tinggi untuk mengoleskan mentega ke roti untuk sarapan?


“Harga permulaan untuk belati indah ini adalah 400 pelat emas!”


“500!”


“530!”


“550!”


“600!”


“650!”


Perang harga terhenti di angka itu, orang yang menawarnya berada di jajaran kelas bisnis. Pembawa acara mengedarkan pandangannya ke penjuru aula, memastikan jika ada yang mengajukan harga lebih tinggi.


“1000.” Suara itu berasal dari pengeras suara di jajaran eksekutif, orang yang menawar dengan harga itu tepat berada di balkon di hadapan kami, seseorang berusia sekitar 30 tahunan yang sedang duduk di sofa panjang dengan dua wanita di kanan kirinya.


“Ah! Tuan Haidan memberi penawaran tertinggi! Apakah ini penawaran terakhir?!” pembawa suara berseru mengompori seluruh tamu, tapi tidak ada yang angkat suara. Orang-orang di kelas bisnis dan ekonomi tidak bisa menawar dengan harga lebih tinggi.


“Terjual!” seru si pembawa acara. Orang yang bernama Haidan itu terlihat tidak peduli sama sekali.


Para tamu kelas bisnis dan ekonomi ribut karena item yang mereka incar justru diambil oleh seseorang dari kelas eksekutif. Yah, tidak ada yang menyangka hal ini.


“Untuk lelang kali ini, kami memiliki beberapa item yang tentunya sangat berharga, bahkan kami memiliki beberapa budak cantik yang dapat tuan-tuan atau nyonya-nyonya sekalian gunakan sesuai keinginan Anda.” Si pembawa acara mengatakannya dengan nada mesum, tamu di jajaran eksekutif bergumam dan tertawa kecil. Bahkan Ego ikut-ikutan.


“Item selanjutnya! Budak dari ras Demago!” Cahaya sorot yang menyorot pembawa acara, kini beralih ke sosok perempuan dengan gaun yang berwarna putih yang sedikit terbuka. Yang benar saja, cewek ini masih seusia Ariel. Bagaimana mereka bisa dapat barang seperti ini?


“Tidak perlu saya jelaskan terlalu panjang lebar, karena saya bisa melihat ketidaksabaran di wajah Anda sekalian.” Ucapnya sembari mengedarkan pandangan ke arah jajaran tamu eksekutif.


“Harga pembuka untuk item ini, 2.000 pelat emas!”


“3.000” Pria bernama Haidan itu langsung menawar.


“3.500”


“4.500”


“1 pelat rhodium.” Semua orang terdiam.


Hei hei, yang benar saja. 1 Pelat rhodium itu setara 100.000 pelat emas. Aku menoleh kesana-kemari untuk mencari sumber suara itu.


Sampai akhirnya, aku melihat bahwa orang yang menawar dengan harga ini adalah seseoorang yang duduk di balkon yang lebih tinggi dari tempatku dan Ego.


Dari tampangnya, dia memang terlihat seperti seseorang yang sangat beruang. Bahkan seluruh ornamen di pakaiannya terbuat dari sulaman benang kristal. Di atas semua itu, dia terlihat masih sangat muda, apa dia sedang menghabiskan uang orang tuanya atau bagaimana?


“Ah! Astaga! Rupanya kita memiliki tamu spesial kali ini! Beliau adalah Pangeran dari Kerajaan Manusia! Yang Mulia Dietrich Savien Vauteron Ivorius!”

__ADS_1


Hah? Sedang apa seorang Pangeran berada di pelelangan seperti ini? Kerajaan Manusia pula. Bukannya pelelangan di Kerajaan mereka jauh lebih bagus daripada pelelangan di Negara manapun?


Para tamu rusuh dan mulai mendongak menatap Pangeran yang berada di balkon teratas. Mereka menunjuk-nunjuk ke atas dan membuat seisi aula berdengung karena suara mereka.


Pembawa acara mengetuk pengeras suara beberapa kali untuk menenangkan orang-orang.


“Apakah ada yang menawar dengan harga dengan tinggi?!” Pembawa acara berseru ke seluruh penjuru ruangan.


“3 pelat rhodium.” Lagi-lagi suara dari pengeras suara yang menggetarkan nurani terdengar dari balkon yang lebih tinggi dariku.


“Ah ... Bodoh sekali diriku tidak bisa mengenali seorang Tuan Muda yang sanggup menantang seorang Pangeran. Apakah Anda keberatan jika saya bertanya nama Anda?”


Setelah ku perhatikan lagi, orang ini tidak duduk di singgasana ataupun sofa panjang seperti tamu eksekutif lain. Tapi dia justru duduk di atas semacam kursi roda dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya, wajahnya ditutupi masker dengan selang yang tersambung pada sebuah tabung perak, tapi aku bisa melihat wajah pucat dibalik masker itu. Dari posturnya, dia terlihat lebih muda dariku.


“Kau tidak perlu tahu.” Jawabnya.


Apa sih yang sebenarnya terjadi di tempat ini? Pertanyaan ku soal bagaimana seseorang sekaliber Pangeran bisa berada di sini belum terjawab. Sekarang muncul orang yang menantang Pangeran, dan dia terlihat masih sangat muda. Auranya juga terasa misterius, apa dia semacam CEO Mafia dengan IQ tinggi dan sifat dingin yang sedang menyamar?


Canda.


“5 pelat rhodium.” Sang Pangeran kembali memasang tawaran.


Kali ini si bocah CEO misterius itu hanya tertawa kecil, dia tidak mengajukan harga lagi.


“Sesuai dugaanku, aku memang tidak bisa dibandingkan dengan seorang Pangeran.” Ucapnya.


“Jangan terlalu merendah, aku tahu siapa dirimu”. Jawab sang Pangeran dengan nada tenang dan berwibawa.


“Aku merasa terhormat karena seorang Pangeran ternyata mengenaliku.”


“Tentu saja, sebaiknya jangan meremehkan jaringan informan ku. Tapi aku sebetulnya cukup terkejut melihatmu masih hidup".


“Benar sekali Yang Mulia, bahkan Anda rupanya mengetahui soal itu. Seperti yang diharapkan dari seorang Pangeran.”


"Bukankah itu justru sesuatu yang diketahui semua orang?"


Percakapan antara mereka menggema ke penjuru aula dengan pengeras suara, tidak ada yang berani menyela mereka.


Para tamu kini lebih tertarik dengan bocah laki-laki yang duduk di kursi roda dengan banyak selang aneh di sana sini.


Mereka berdua pun terlihat saling mengenal. Apa mungkin dia adalah anggota bangsawan tingkat atas si Kerajaan Manusia?


“Terjual kepada Yang Mulia Dietrich!” Pembawa acara yang terlihat berkeringat memecah keheningan.


“Bocah dengan alat bantu di sekujur tubuhnya itu bukan tidak bisa menaikkan tawarannya, tapi dia sengaja melakukannya untuk mengejek si pangeran.” Ucap Ego


“Tersisa lima item bukan? Dan diantaranya, ada item milik kita. Lalu apakah kira-kira dia mengincar kulit beruang?” Aku bertanya kepada Ego sambil menuangkan sampanye.


“Tidak. Kita punya dua item yang akan dijual di tempat ini.” Jawab Ego.


“Hah? Kenapa aku tidak tahu kalau ada satu item lagi?”


“Kau pikir orang penting sepertu pangeran bisa berada di pelelangan kota ini hanya karena satu lembar kulit Beruang Belang? Meskipun kulit itu memang langka, tapi yang jelas bukan karena itu".

__ADS_1


Item apa yang kira-kira dijual Ego? Mungkinkah dia menjual gulungan berisi formula mantra yang aneh? Atau dia juga akan menjual budak seperti budak Demago tadi? Yah. Bagaimanapun juga, aku akan segera tahu.


“Item selanjutnya!”


__ADS_2