Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 6 : Petualangan Dimulai


__ADS_3

Darah mayat beruang itu terciprat ke wajahku, ini sudah yang ke sekian kalinya. Menguliti Monster berukuran besar ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan, karena kalau kau sampai meleset saat proses pengulitannya, maka bersiaplah disembur oleh darah. Seperti yang terjadi padaku.


Jujur, aku sedikit heran dengan mayat Monster ini, saat aku sedikit memukul tubuh monster ini, terasa seperti seluruh tulangnya sudah hancur. Entah apa yang dilakukan Ego untuk menghabisi monster ini.


Mungkinkah itu yang disebut dengan telekinesis seperti di Buku Dongeng Bergambar?


Entahlah, semakin kupikirkan soal pria aneh itu, kepalaku semakin terasa berat.


“Lama sekali.” Ego menatapku dengan tatapan mengejek.


“Lalu apa kau mau mengerjakan mengerjakannya?"


“Tidak deh, lagipula mau kondisinya bagaimanapun, kulit Monster ini akan tetap terjual mahal di pelelangan. Walaupun sudah pasti harganya bakal lebih mahal kalau aku yang mengulitinya".


Dia mengawasi pekerjaanku mirip seperti majikan yang mengawasi budaknya.


Aku tetap melanjutkan pekerjaanku dengan urakan, persetan lah dengan estetika dan kerapian segala macam. Aku mulai bosan dengan ini.


Setelah entah berapa lama aku berkutat dengan pekerjaan membosankan ini, akhirnya aku selesai. Hasilnya memang sama sekali tidak bisa dibilang mulus, tapi persetan lah.


Kemudian, Ego segera memasak daging hasil buruannya tadi pagi.


Sebenarnya aku sudah bersumpah tidak akan memakan makanan yang diberikan orang aneh. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan lain.


Dia membakar kayu dan memasukkannya ke dalam lubang galian, memasukkan beberapa batu seukuran kepalan tangan lalu disusul dengan memasukkan daging yang dibungkus daun kedalamnya.


"Sekarang tinggal menunggu dagingnya matang, kau tiduran saja atau bagaimana terserah".

__ADS_1


Setelah sekitar sejam, dia mengangkat bungkusan daun dari dalam galian dan membuka satu persatu lapisan bungkusan, sampai akhirnya lapisan terakhir dibuka.


Aroma sedap seketika menguar, aku menelan ludah, aroma daging itu lebih enak dari yang terakhir kali aku makan.


Kami akhirnya menikmati daging yang dimasak dengan metode aneh itu, daging ini benar-benar empuk, terlebih lagi bumbunya sangat meresap. Walaupun aku tidak tahu apa yang digunakan Ego untuk memasak daging ini, tapi rasanya lezat, rasanya aku sanggup memakan makanan seperti ini selamanya.


Daging itu akhirnya ludes, menyisakan saus berwarna kecokelatan di atas daun dan rasa penyesalan. Rasanya aku ingin memakan daging ini lagi meskipun perutku sudah terisi penuh.


“Bagaimana? Rasanya benar-benar enak ‘kan? Padahal tadi kau berpikir untuk tidak menyentuh masakanku sama sekali.” Ego berkata santai sambil membersihkan sela-sela giginya dengan ranting kecil.


“Kenapa kau bisa tahu?” tanyaku balik.


“Eh? Jadi kau benar-benar berpikir seperti itu? Padahal aku hanya menebak saja, mendengarkan hal itu membuatku merasa sedikit kecewa kau tahu.”


“Wajar saja kan berpikir seperti itu kalau ada orang aneh yang memasak daging dengan cara aneh".


“Aku juga berpikir begitu, walaupun aku tidak bisa percaya padamu, tapi setidaknya aku yakin kalau kau tidak berniat buruk padaku. Setidaknya tidak untuk saat ini kan.” Ujarku skeptis.


Lagi-lagi dia hanya merespons dengan tawa. Kami diam untuk beberapa saat, suara hewan-hewan hutan terdengar sahut-menyahut, sepertinya mereka takut untuk mendekat karena merasakan keberadaan yang lebih kuat daripada Beruang Belang sedang berada di tempat ini.


Aku menatap mayat Monster yang sekarang hanya tersisa daging yang lembek karena seluruh tulang dan organ dalam mereka sudah hancur, jalanku memang masih sangat panjang, mencapai tingkatan dimana aku bisa menghabisi Monster dengan tingkat ancaman tinggi dengan mudah mungkin perlu bertahun-tahun lagi bagiku.


“Benar juga, kulit beruang ini biasanya laku berapa?” Aku bertanya setelah kami saling diam beberapa saat.


“Tergantung kualitas, yang seperti milikmu itu tidak akan laku sebanyak itu.” Jawabnya. “Yah, meski begitu, harganya masih tetap bagus kok. Apalagi kalau kau menjualnya di pelelangan.”


“Lalu, kapan kau berencana menjual kulit ini?”

__ADS_1


“Rencanaku sih hari ini juga, karena orang-orang akan sangat suka dengan barang yang masih segar seperti ini.”


“Ada kota dekat sini?”


“Ada sih, sekitar dua hari dengan berjalan. Tapi kau tahu lah, aku bisa dengan mudah memotong jarak perjalanan itu.”


Benar juga, kami tidak perlu memikirkan biaya dan waktu perjalanan, karena ada seseorang yang cukup aneh di sini, sehingga teleportasi pun bukan masalah besar baginya.


“Jadi, bagaimana rencanamu kedepannya?” Tanya Ego. “Aku sudah memberimu waktu untuk membuat keputusan bukan?”


Aku terdiam sejenak, aku memang sedang memikirkan hal itu juga. “Mungkin sebaiknya aku berpetualang saja, menjadi tentara bayaran mungkin pilihan paling tepat bagiku saat ini". Kenapa juga dia peduli dengan kehidupanku.


“Sebaiknya begitu, kalau kau ikut bersamaku, aku akan mengajarimu banyak hal. Siapa yang tahu, mungkin kau bisa melakukan teleportasi suatu saat nanti.”


Tawaran yang memang sangat menggiurkan, tapi juga mengerikan di saat bersamaan, entah apa yang akan dia minta sebagai imbalan nantinya.


“Tenang saja, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi kukatakan kalau kau berpikir terlalu berlebihan.”


“Baiklah, aku ikut denganmu.”


“Jawaban yang bagus ... Siapa namamu?”


“Arion.”


“Ah. Jawaban yang bagus Arion.” Dia menyodorkan tinjunya, aku menatap wajahnya beberapa saat, dia hanya memasang senyumnya yang biasa.


Aku menyambut kepalan tangannya.

__ADS_1


“Kuharap kita bisa jadi rekan perjalanan yang akrab.” Ucapnya.


__ADS_2