
Setelah aku kembali ke penginapan sore itu, Ego mengatakan padaku kalau kami akan segera berangkat menuju kota selanjutnya, aku tidak begitu tahu itu kota apa, tapi dia bilang butuh waktu sekitar tiga hari untuk sampai kesana.
Jadi setelah bangun keesokan harinya, aku segera pergi ke toko roti yang aku datangi kemarin, membeli roti banyak-banyak sebagai bekal perjalanan. Ego sudah pasti akan berburu, tapi tidak ada salahnya kan membawa bekal roti?
Akhirnya, ketika jam matahari menunjuk angka delapan, aku dan Ego keluar dari kota itu. Ngomong-ngomong, Ego membeli dua ekor kuda sebagai tunggangan.
Sepanjang perjalanan, kebanyakan yang aku lihat hanya padang rumput dan hutan atau bukit berbatu. Meskipun Kerajaan Orthras tidak semaju Arakaza, tapi wilayah Orthras dikatakan sangat indah.
Aku memang belum pernah lihat seindah apa, tapi pemandangan yang kulihat sekarang ini memang luar biasa, aku bisa melihat danau dan sungai yang jernih di sepanjang perjalanan, bahkan ikan yang berenang di dasar sungai saja bisa terlihat.
Sebagian besar wilayah Orthras hanya memiliki dua musim, tapi kau bisa melihat gunung tinggi yang puncaknya tertutup salju. Jarak gunung itu memang sangat jauh dan sebagiannya tertutup awan, tapi karena awan yang menutupi gunung itu membuatnya terlihat sangat besar dan tinggi. Aku jadi penasaran apa aku akan mendaki gunung itu suatu saat nanti.
Setelah beberapa jam perjalanan, Ego memutuskan untuk berhenti, membiarkan kuda kami beristirahat di dekat sebuah danau. Ada beberapa rombongan lain yang lebih dulu beristirahat disini, kebanyakan dari mereka sepertinya pedagang.
Kami beristirahat di tepian danau setelah menambatkan kuda di pasak yang disediakan, sepertinya tempat ini memang sudah menjadi tempat istirahat.
Aku berbaring di rerumputan, meluruskan kakiku. Ahhh ... Enak sekali. Setelah beberapa saat, aku kembali duduk dan membuka tasku, mengambil dua potong roti dan memberikan satu kepada Ego.
"Kenapa repot-repot bawa bekal?" Tanya Ego sambil mengunyah rotinya.
"Ya kan ngga masalah". Jawabku singkat.
Kami masih beristirahat sampai beberapa menit kedepan. Kemudian, salah seorang anggota rombongan tadi menghampiri kami, dia memperkenalkan diri sebagai pemimpin ekspedisi perdagangan dari sebuah perusahaan dagang.
"Namaku Ego". Ego menyalami orang itu dan mempersilakan dia duduk, aku ikutan menyalaminya. "Aku Arion".
"Ah, senang bertemu dengan kalian, namaku Alean". Setelah itu dia dan Ego mengobrol tentang beberapa hal, Ego sepertinya bisa mengerti topik obrolan seputar dunia dagang, membuat orang itu semakin tertarik.
"Sebenarnya, aku mendengar rumor dari rombongan pedagang yang kami temui di jalan, dia bilang belakangan ini muncul gerombolan bandit yang menghadang pedagang di jalur hutan itu". Dia menunjuk hutan yang menjadi bagian dari rute perjalanan ini.
"Mereka menyarankanku untuk menyewa pengawal karena aku tidak membawa cukup orang untuk berhadapan dengan bandit, meski dia bilang kalau bandit itu hanya meminta pajak jalan, tapi aku masih merasa tidak aman tanpa pengawal tambahan". Orang itu menghela napas, kelihatan sedikit cemas. "Padahal rute ini biasanya bersih, entah apa yang dilakukan militer kerajaan".
Ego tersenyum, "Kalau begitu, bagaimana kalau kau menyewa kami? Kebetulan kami adalah tentara bayaran, kebetulan juga kami akan melewati rute yang sama dengan rombonganmu".
Orang itu memperhatikan kami berdua dengan seksama, penampilan Ego terlihat meyakinkan, jadi dia tidak terlihat keberatan.
"Baiklah, jadi benar kalau kalian ini Tentara Bayaran, apa kalian berafiliasi dengan sebuah biro?" Tanya Alean, Ego menggeleng. "Aku tidak berafiliasi dengan biro manapun, sejujurnya bahkan aku biasanya melakukan perjalanan seorang diri, baru kali ini aku membawa seorang rekan". Dia menunjukku.
Alean mengangguk. "Pantas saja, temanmu itu terlihat terlalu 'bersih' untuk seorang tentara bayaran, aku jadi sedikit ragu ketika ingin menyewa kalian".
"Tapi sekarang sudah jelas kan? Kalau begitu bagaimana dengan kontrak kerjanya?" Ego langsung menanyakan inti dari pembicaraan ini.
__ADS_1
Alean membuka tasnya dan mengeluarkan selembar kertas kemudian menulis sesuatu di kertas itu, lalu memberikannya kepada Ego.
"Durasi kontrak hanya sampai kami keluar dari jalur hutan. Jika tidak ada satupun bandit selama perjalanan, maka kami akan membayar kalian sebanyak sepuluh pelat emas, termasuk jika bandit muncul dan tidak terjadi pertarungan. Tapi jika terjadi pertarungan dan kalian berhasil membuat bandit itu mundur, maka bayarannya akan menjadi dua puluh lima pelat emas. Bagaimana menurutmu?"
Ego membaca isi kertas itu sambil mengelus-elus dagunya. "Jadikan tiga puluh kalau bertarung dengan bandit". Alean berpikir sejenak lalu mengangguk. "Baiklah". Lalu dia mengambil kertas itu dari Ego dan kembali menulis sesuatu.
"Dengan begini kita sepakat?" Alean menunjukkan kertas itu kepada Ego, dia mengangguk dan mereka berdua memberi cap ibu jari di kertas itu.
"Kalau begitu akan aku perkenalkan dengan kelompokku". Alean berdiri dan mengarahkan kami ke tempat peristirahatan kelompoknya, dia memperkenalkan anggotanya satu persatu.
Kelompok ekspedisi dagang Alen terdiri dari 30 porter, 14 pengawal, dan 4 staff kelompok dagang. Ditambah 10 kuda dan 13 kereta yang masing-masing nya ditarik oleh seekor banteng.
"Kami masih berencana untuk istirahat sedikit lebih lama, kalian tidak masalah kan?" Tanya Alean setelah selesai memperkenalkan anggotanya.
Ego mengangguk. "Tidak masalah".
Aku memutuskan untuk duduk santai di tepian danau, sedikit menjauh dari kelompok. Ego terlihat kembali mengobrol dengan Alean, salah seorang staff juga tampak mulai bergabung dengan obrolan mereka karena tertarik dengan pengetahuan Ego seputar topik perdagangan meskipun dia merupakan Tentara Bayaran.
Orang itu seperti bisa segalanya. Bertarung, memasak, berburu. Bahkan sekarang aku tahu kalau pengetahuannya luas, entah berapa topik yang dia kuasai, mungkin nanti kami akan bertemu bangsawan dan dia bisa membaur dengan mereka. Bisa jadi kan?
"Permisi, kamu sendirian aja?" Suara seorang wanita terdengar menyapaku, aku menoleh, dia adalah salah seorang staff yang tadi diperkenalkan oleh Alean. Siapa sih namanya? Lupa.
"Kau kan seorang staff, masa ngga paham topik pembicaraan mereka?" Tanyaku, "Ngga sih, aku kan baru kali ini ikut ekspedisi dagang, tujuanku ikut mereka kan juga supaya aku bisa belajar".
Aku ngga tanya tujuanmu sih, tapi yasudahlah.
"Ngomong-ngomong, sepertinya kamu menjadi tentara bayaran baru-baru ini ya? Kamu terlihat berbeda dari temanmu yang disana".
"Memang, baru saja kemarin". Jawabku.
"Eh, baru banget dong". Dia terlihat terkejut, aku mengangguk. "Memang orang tua kamu setuju kalau kamu jadi tentara bayaran?" Dia bertanya lagi, kalau soal orang tua, aku jadi bingung mau jawab bagaimana.
"Eh, maaf ya kalau aku terlalu penasaran, kalau kamu ngga nyaman gausah dijawab juga gapapa kok". Wajahnya terlihat canggung.
"Tidak masalah, aku cuma bingung mau jawab bagaimana". Ucapku, "lagipula orang tuaku juga sudah tidak ada". Sambungku.
"Ya ampun, aku minta maaf sudah bikin kamu ingat". Dia menunduk dan mengatupkan dua telapak tangannya, benar-benar cewek kikuk.
"Tidak masalah kok, lagian itu sudah lama". Bohong sih.
"Aku minta maaf banget, aku beneran ngga bermaksud apa-apa". Dia terus menerus menunduk minta maaf, itu malah membuatku merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Sudahlah, aku malah bakal emosi kalau kau terus-terusan seperti itu". Akhirnya dia diam.
....
Canggung sekali, dia tidak berani membuka obrolan lagi, mau pergi juga tidak bisa, serba salah pokoknya.
"Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu". Aku akhirnya membuka obrolan untuk menghilangkan kecanggungan
"Eh, padahal baru tadi loh aku dikenalkan sama paman Alean. Kamu ngga perhatiin ya". Berhasil deh, dia langsung kembali seperti semula.
"Ngga, aku agak sulit mengingat nama orang yang baru aku temui". Jawabku.
"Iya deh ... Namaku Brita, kamu Arion kan". Aku mengangguk.
"Oh iya, umur kamu berapa?". Dia bertanya. "Sembilan belas". Ekspresinya terlihat sedikit terkejut. "Aku kira kita seumuran, tapi kalau dilihat-lihat lagi, kamu memang terlihat muda sih. Umurku dua puluh lima". Aku ber-oh menanggapi.
"Kamu ngga tertarik sama pekerjaan lain?" Tanya dia lagi. "Sementara ini belum terlalu kepikiran sih". Jawabku singkat.
"Terus hubunganmu sama Ego itu apa? Eh, tidak apa-apa kan aku panggil dia begitu? Soalnya kami terlihat seumuran". Aku sendiri juga tidak tahu umur Ego, tidak pernah kepikiran bertanya umurnya, tapi aku iyakan saja. "Tidak masalah. Kalau ditanya hubunganku dengan Ego ... Mungkin dia itu seperti mentor?". Brita terlihat kebingungan mendengar jawabanku.
"Seperti?" Tanya nya kebingungan. "Pokoknya gitu deh, dia memungut aku dari jalanan, lalu mengajakku untuk ikut berpetualang bersamanya". Hampir mendekati kebohongan, tapi sedikit benar juga. Tapi aku memang dipungut Ego dari jalanan, walaupun jalanan nya tidak seperti yang dia pikirkan.
"Hmmm ... Ya memang lebih ke mentor sih, atau penyelamat ya?"
"Terserah kamu saja". Timpalku.
"Oh iya, tadi kamu bilang 'paman Alean', dia itu pamanmu?" Giliran aku yang bertanya.
"Bukan sih. Perusahaan dagang ini kan milik ayahku, kebetulan paman Alean itu sudah cukup lama bekerja dengan ayah, jadi karena sudah kenal sejak kecil, aku akhirnya memanggilnya paman".
Oalah anak sultan toh. Tapi kalau di Buku Dongeng Bergambar, biasanya ujung-ujungnya orang seperti Alean ini akan berkhianat di masa depan, dan tokoh utama akan ikut terlibat dalam konflik itu.
Semoga saja tidak.
Beberapa saat kemudian, terdengar seruan Alean yang mengatakan kalau perjalanan akan dilanjutkan dalam dua puluh menit, semua orang langsung berkemas dan membersihkan tempat yang digunakan untuk istirahat.
Brita berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya. "Kalau begitu aku duluan ya, terima kasih sudah mau ngobrol denganku". Dia berjalan kearah kereta staff dan memasukinya.
Aku juga berdiri dan berjalan kearah tambatan kudaku yang sudah puas makan rumput dan minum air. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, aku menaiki kuda dan bergabung dengan kelompok pengawal.
Ini akan jadi misi pertamaku sebagai tentara bayaran.
__ADS_1