
Rombongan kami mulai memasuki jalur hutan, jalur ini cukup lebar dan bersih, menandakan kalau banyak orang yang menggunakan jalur ini.
Kami bergerak secara beriringan, kapten pasukan pengawal berada di posisi paling depan bersama dengan dua anak buahnya, disusul kereta staff, Ego dan satu pengawal lain ditugaskan untuk menjaga kereta itu
Dibelakang kereta staff, berjejer 13 kereta kargo yang membawa barang dagangan dengan penjagaan pengawal dan porter.
Aku sendiri mendapat tugas untuk mengawal kereta kargo yang berada tepat di belakang kereta staff. Beberapa porter dan pengawal terlihat sedang ngobrol satu sama lain, namun mereka tetap tidak mengendurkan kewaspadaan.
"Kamu terlihat masih muda, berapa usiamu?" Seorang porter yang terlihat seperti bapak-bapak bertanya kepadaku, membuka percakapan. "Usiaku 19". Jawabku singkat.
Bapak porter itu terlihat sedikit terkejut. "Ya ampun, kamu masih seusia anakku, tapi kamu sudah bekerja sebagai tentara bayaran". Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Berbeda dengan anakku, dia baru saja menginjak usia 20, tapi seperti tidak punya tujuan hidup, belum lagi dia terpaksa tidak melanjutkan pendidikan di akademi karena kondisi ekonomi keluarga".
Aku tidak bertanya sih, tapi yasudahlah.
"Terkadang aku merasa bersalah sebagai seorang ayah. Jika saja aku bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik, pasti anak-anakku bisa mendapat kehidupan yang lebih baik".
Raut wajahnya terlihat sedih, menjadi bapak-bapak tidaklah mudah. Bapak ini kelihatannya masih seusia ayah, tapi terlihat lebih tua.
Mungkin aku harus lebih memikirkan masa depanku.
"Hei, pak Aliv. Tidak ada gunanya kau menyesal seperti itu, kau sudah bekerja keras kok". Salah seorang porter yang mendengarkan obrolan kami- lebih tepatnya ocehan bapak porter ini menyahut.
"Kalau kau bingung dengan masa depan anakmu, kenapa tidak biarkan dia bekerja menjadi porter bersamamu? Siapa yang tahu barangkali dia memiliki potensi menjadi seorang pengawal". Seorang porter lain ikut-ikutan menanggapi
Bapak porter yang dipanggil Aliv menghela nafas. "Aku tidak ingin anakku menjalani pekerjaan yang beresiko seperti ini".
"Eh? Memang ada pekerjaan yang tidak ada resikonya pak?" Sahut seorang pengawal, dia mengatakan itu sambil cekikikan.
"Bisa jadi saat dia menjadi porter, ada sekawanan bandit menyerang ... Ah, membayangkannya saja aku tidak berani". Ujar pak Aliv dengan nada resah.
"Nyatanya aku masih hidup tuh". Celetuk seorang pengawal yang terlihat masih muda, seisi rombongan tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Tidak ada yang tahu pasti kapan kematian datang, jangan terlalu takut begitu pak Aliv". Ucap seorang porter yang terlihat lebih tua dibanding yang lain. "Kalau terlalu khawatir bisa-bisa malah betulan terjadi". Lanjutnya
"Bahkan seseorang yang sudah di ambang kematian pun bisa saja hidup kembali, aku pernah beberapa kali melihatnya secara langsung". Ego ikut nimbrung dalam percakapan.
"Benarkah? Sepertinya itu cerita yang menarik". Salah satu porter terlihat antusias.
"Tanya saja langsung ke orangnya kalau kalian penasaran". Ego menunjuk ke arahku dengan wajah sok simpati. Sialan.
"Memang bagaimana ceritanya?" Seorang pengawal yang terlihat penasaran bertanya kepadaku. Aku menghela nafas kesal.
"Aku sendiri tidak begitu ingat, pokoknya saat itu Ego datang ketika aku sudah sekarat. Sisanya tanya saja dia, karena dia yang merawatku sampai sembuh. Entah bagaimana caranya". Jawabku sambil nyengir ke arah ego, sekarang dia menekuk bibirnya kebawah sembari menatapku kesal.
"Tapi pengalaman seperti itu sebaiknya tidak perlu diingat kembali, bukan begitu?" Porter tua tadi berkomentar, membuat semua orang yang semula ingin bertanya menjadi urung.
Suasana kembali hening, hanya terdengar derit roda kereta dan tapak kaki banteng yang diiringi suara-suara khas hutan.
"Lalu bagaimana pendapat orang tuamu saat kau memutuskan menjadi tentara bayaran?". Tanya pak Aliv.
Aku terdiam sejenak, berfikir. "Entahlah, mereka sudah tidak lagi di dunia ini". Jawabanku membuat semua orang terhenyak, terlebih pak Alif yang melontarkan pertanyaan itu.
"Tidak masalah, toh itu sudah lama". Belum terlalu lama sih, tapi ya bilang saja begitu. "Mereka pun tidak keberatan dengan keinginanku sebelum itu terjadi". Lanjutku.
Entah kenapa semua orang menatapku dengan tatapan iba, itu membuatku tidak nyaman. Pembicaraan kami pun menjadi agak canggung karena hal itu.
Suasana sekali lagi menjadi hening, aku iseng mengepang surai kudaku untuk menghilangkan bosan. Tiba-tiba kapten pengawal yang memimpin konvoi berseru, "BERHENTI!"
Belum ada tanda-tanda kami mendekati ujung hutan, itu berarti hanya ada satu kemungkinan. Para pengawal bergegas menghunus pedang mereka dan segera memasang posisi siaga, sementara para porter juga siap bertarung dengan mencabut belati mereka.
"HAHAHAHA! Tidak perlu tegang begitu saudagar terhormat". Suara serak yang lantang terdengar dari balik pepohonan dan semak di depan kami.
Dari balik pepohonan itu keluar segerombolan bandit bersenjata lengkap, mereka dipimpin oleh seorang dari ras Buraka dengan postur besar khas mereka, dia mengenakan zirah ringan yang dihiasi bulu serigala.
"Kami tidak ada niat buruk sama sekali, tidak perlu terlalu waspada begitu". Suara lantang dan seraknya terdengar mengancam, tidak cocok dengan isi omongannya. Siapa pula yang percaya dengan omongan bandit?
__ADS_1
Alean turun dari kereta staff dan mendekati para bandit, diikuti oleh kapten pengawal dan beberapa pengawal lain. "Suasana hutan terasa menyenangkan hari ini, bukan begitu?" Alean menyapa para bandit.
"Dengan maksud apa kalian menghampiri kami dengan membawa persenjataan lengkap? Kami hanya sekelompok pedagang kecil yang hendak lewat". Ucap Alean
Kepala bandit tertawa kecil. "Yaah, ini tidak seperti yang kau pikirkan, tuan saudagar. Hewan buas akhir-akhir ini menyerang kamp kami, mengacaukan simpanan makanan dan membuat kami kerepotan". Kepala bandit menyilangkan tangannya dan menghela nafas berat, mengeluh tentang kondisi mereka.
"Bahkan untuk bepergian di sekitar hutan saja kami harus membawa senjata, jadi maaf saja kalau hal ini membuat kalian tidak nyaman". Ucapnya dengan seringai buas. "Karena itu, ketika melihat kalian yang membawa banyak muatan, kami jadi berpikiran untuk meminta sedikit bantuan dari kalian". Seringai yang menghiasi wajah si kepala bandit seolah mengatakan 'Kalau gak mau, kubantai'.
"Bagaimana tuan saudagar? Apakah kalian berkenan memberi sedikit bantuan untuk kami yang sedang kesusahan?" Ucap kepala bandit diiringi oleh tawa anak buahnya.
Alean dengan tenang merogoh saku jubahnya dan melemparkan seikat pelat emas yang langsung ditangkap oleh kepala bandit. "Aku harap seratus pelat emas sudah cukup untuk kembali mengisi persediaan logistik kalian". Ujar Alean.
Kepala bandit itu tertawa dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk memberi jalan, Alean mengangguk kepada kapten pengawal dan kembali masuk ke kereta staff. Kapten pengawal berseru ke rombongan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Kami kembali melanjutkan perjalanan tanpa menyarungkan senjata kami, yang sedang kami lewati ini gerombolan bandit, sangat bodoh kalau sampai lengah hanya karena mereka membiarkan kami lewat.
"Anak-anak! Kita kembali ke markas!" Seruan kepala bandit disambut oleh sorakan dari anak buahnya, "Kita pesta minum malam ini!" Serunya sekali lagi, membuat anak buahnya semakin heboh.
Ketika gerombolan bandit itu sudah menghilang di balik pepohonan, barulah kami bisa menurunkan kewaspadaan.
"Woah ... Aku sampai lupa bernafas". Seorang pengawal berkata dengan nada lega, dia segera menarik nafas dalam-dalam.
Anggota lain juga setuju, mereka semua merasakan ketegangan yang sama. Tapi aku tidak.
"Bandit Buraka tadi bukan pemimpinnya". Gumam Ego, tapi beberapa orang termasuk aku mendengarkan gumamannya.
"Eh? Maksudnya gimana bang? Padahal tadi dia bilang sendiri kalau dia kepala banditnya". Tanya seorang porter kebingungan.
"Tuan Ego juga menyadarinya?" Itu suara si kapten pengawal, aku tidak bisa melihatnya karena terhalang kereta staff, tapi suaranya cukup keras sampai bisa didengar beberapa orang. "Dia memang terlihat mengintimidasi, tapi dibandingkan dengan seseorang yang berdiri di barisan belakang bandit tadi, dia masih belum apa-apa". Lanjutnya.
Ego mengangguk "Itu benar, apa dia menggunakan bandit bongsor tadi sebagai pemimpin boneka?"
"Sepertinya begitu, kemungkinan pemimpin mereka yang sebenarnya itu adalah seorang kriminal kelas kakap yang sengaja menyembunyikan identitasnya". Si kapten berpendapat.
__ADS_1
Para pengawal dan porter saling tatap sambil berbisik-bisik. Kalau kepala bandit bohongannya saja terlihat sangat kuat, bagaimana dengan orang yang dianggap sebagai pemimpin sebenarnya oleh Ego dan kapten pengawal?
Yah, tapi setidaknya kami melewati hutan ini dengan aman, ujung hutan sudah terlihat di depan mata. Sepertinya kali ini aku dan Ego hanya mendapatkan 10 pelat emas -.-