Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 14 : Penyergapan


__ADS_3

Sebilah kapak terbang ke arah Arion. "Woah!" Arion segera berguling ke samping menghindari kapak itu, lalu dengan cepat mencabut pistolnya dan membalas lemparan kapak itu dengan tembakan.


-DOR!-


Satu orang tumbang. Sekali lagi dia menembakkan sisa peluru di barrelnya, tapi tembakan itu meleset.


Arion mendecak kesal, dia mengangkat Machete nya untuk menangkis serangan bandit yang menerjang ke arahnya. Dia mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke arah bandit itu "Argh!" Saat bandit itu berusaha menepis tanah yang dilempar Arion, tebasan Arion telak mengenai dadanya, seketika bandit itu terkapar.


Nafasnya mulai terengah-engah engah, dia berhasil menjatuhkan beberapa bandit. Arion mengeluarkan cartridge yang sudah kosong dari barrel pistolnya, lalu berlarian mengelilingi kamp bandit untuk menghindari serangan dari para bandit sekaligus mengisi ulang peluru di barrel, beberapa kali dia nyaris terkena tembakan atau lemparan kapak dari bandit. Barrel pistol Arion sudah terisi, dia segera melepas dua tembakan.


-DOR! DOR!-


Dua orang tumbang, Arion mengangkat machetenya dan menebaskannya ke punggung bandit yang tidak menyadari keberadaan Arion di belakangnya.


"RRAAAAHHH!" Seorang bandit berteriak menerjang ke arah Arion dari samping, sebelum Arion memberikan serangan balik, sebuah kapal melayang dan menacap di kepala bandit itu.


Pelakunya adalah Ego yang kemudian muncul dengan pakaian berlumuran darah. "Kau bakal mati kalau melamun". Ucapnya sambil menangkis serangan seorang bandit dan langsung menusuk bandit itu dengan santainya.


"Padahal yang tadi itu korbanku". Arion mendecak kesal. "Iya deh". Ego mengiyakan saja.


"Situasinya agak gawat kan?" Ujar Ego yang berdiri di samping Arion. "Kan kau yang bikin semuanya kacau". Keluh Arion yang menghadap ke arah berlawanan dari Ego, dia memanfaatkan situasi itu untuk mengisi barrelnya kembali.


Setidaknya ada 30an bandit yang masih tersisa, rupanya yang mereka temui di jalur hutan itu hanya sebagian kecil dari mereka, itupun Ego belum melihat orang yang dia bilang sebagai pemimpin bandit yang sebenarnya.


"Tapi kelihatannya kau sudah sedikit terbiasa, walaupun kulihat kau nyaris mati beberapa kali". Ucap Ego, dia menangkap kapak yang dilemparkan kearahnya lalu balas melemparkan kapak itu.


"Jadi kau cuma mau menontonku yang sedang mempertaruhkan nyawa? Kejam sekali". Balas Arion yang masih berusaha mengatur nafasnya.


"Sebaliknya, mereka yang sedang mempertaruhkan nyawa". Ego secepat kilat menerjang bandit yang mengepung mereka berdua dan mengobrak-abrik barisan mereka.


"Ah anjir, belum sempat nafas juga". Keluh Arion yang kembali diserang oleh para bandit.


Pertarungan berlangsung sengit di sisi Arion, berkali-kali dia menghindar dan menangkis serangan yang datang ke arahnya. Walaupun dia berhasil menjatuhkan beberapa orang, tapi tetap saja dia menerima luka, ditambah staminanya sudah semakin terkuras.

__ADS_1


Sementara di sisi Ego, tidak ada pertarungan, yang ada hanya pembantaian sepihak, para bandit benar-benar tidak berkutik dihadapannya. Satu bandit menyerang dari depan, Ego dengan mudah menahan serangannya, lalu dari arah belakang, bandit kedua melempar kapaknya. Seolah memiliki mata di belakang kepala, Ego menghindari kapak itu, membuat bandit pertama terkena lemparan kapak rekannya sendiri.


Dalam waktu singkat, para bandit yang mengepung Ego sudah turu. Sedangkan di sisi lain, Arion semakin kewalahan, tubuhnya mulai lemas karena darah terus keluar dari tubuhnya, tangannya mulai mati rasa karena dipaksa terus menyerang dan bertahan, Machetenya pun mulai terlihat sedikit rusak karena berkali-kali digunakan untuk menangkis serangan.


Para bandit yang sudah memojokkan Arion tertawa ganas, mereka langsung menyerbu Arion yang nyaris tidak berdaya itu secara bersamaan. Tapi sebelum mereka mencapai Arion, kepala mereka sudah terpisah dari tubuh masing-masing sebelum mereka menyadarinya.


Ego mengibaskan Scimitarnya untuk menghilangkan darah yang menempel di bilahnya, lalu dia mendekati Arion yang sudah jatuh berlutut berlumuran darah.


"Masih hidup?"


"... Menurutmu?" Suara Arion terdengar parau dan gemetaran.


"Sudah, tidur sana" Ego menyodok dahi Arion dan langsung membuatnya terkapar.


"Nah, sekarang tinggal kau". Ego berbalik menatap pemimpin bandit palsu yang tergeletak kesakitan, Ego menebas kedua kaki dan tangannya, sehingga dia tidak bisa bergerak.


"APA SEBENARNYA YANG KAU INGINKAN!? APA KAU TIDAK TAHU SIAPA PEMIMPIN KAMI YANG SEBENARNYA!?" Bandit itu berteriak penuh perasaan marah, wajar saja, karena semua rekannya dibantai hanya oleh dua orang. Meskipun yang satu kelihatan sudah mati.


"Aku mau uang yang kau dapat dari karavan dagang tadi. Soal pemimpinmu, aku sama sekali nggak tertarik". Ego mengambil kantong uang yang disembunyikan dibalik pakaian si bandit, lalu tersenyum puas setelah melihat isinya.


"Nyeh nyeh nyeh". Ego memasukkan kantong uang penuh pelat emas itu ke saku jubahnya, lalu mengangkut tubuh Arion yang entah mati atau tidak sadarkan diri dan pergi dari hutan menggunakan kuda.


"Oh iya, aku lupa bertanya kemana perginya si pemimpin bandit yang asli. Ah, bodo amat lah". Dia memacu kudanya sampai tiba di pinggiran hutan, lalu dia melempar tubuh Arion yang bersimbah darah ke tanah.


"Mau sampai kapan pura-pura mati?" Tanya Ego. Arion yang terkapar di tanah perlahan mulai bergerak, lalu dia segera bangkit dan memuntahkan darah dari mulutnya, setelah terbatuk beberapa kali, Arion mulai terlihat sehat, walaupun pakaiannya basah oleh darah.


"Tidak masuk akal, bisa-bisanya kau menyembuhkan semua luka ku begitu saja". Arion ternganga setelah memeriksa seluruh tubuhnya, Ego hanya tertawa mendengar ucapan Arion.


"Mau bagaimana lagi, aku ini terlalu hebat".


"Iya deh". Arion berdiri lalu naik ke kudanya yang sejak tadi mengekor kuda Ego. "Lain kali jangan melempar tubuhku sembarangan, bisa mati dua kali aku". Keluh Arion. Tapi dia sedikit kebingungan, karena kudanya tidak mau bergerak sama sekali walaupun dia sudah berusaha memacunya. Dia kemudian melihat ke arah Ego yang terlihat menutupi hidungnya.


"Mandi dulu". Kata Ego.

__ADS_1


"...."


...****************...


"Kacau sekali disini".


Ego dan Arion sedang berdiri diatas tanah lapang, di tempat itu, terlihat beberapa tubuh bandit yang sudah tak bernyawa tergeletak di berbagai tempat. Burung gagak mulai hinggap di tubuh mereka.


"Jumlahnya ada enam belas". Arion menghitung jumlah mayat bandit.


Ego memeriksa satu persatu mayat bandit untuk mengambil benda berharga mereka. "Yang ini lumayan ... Dasar miskin ... Ini gelang buatan neneknya atau bagaimana ...? Ah, dia cukup kaya ... Buat apa dia bawa kue ....?"


Satu persatu mayat bandit malang itu digeledah dan dijarah oleh Ego, Arion hanya berlutut dan menangkupkan kedua tangannya, berharap tidak ada roh jahat yang menghantui mereka malam ini.


"Oh! Dia si pemimpin bandit". Seru Ego ketika melihat sesosok mayat, mayat itu dipenuhi tatto bahkan sampai ke wajah. "Jackpot!" Ego mengeluarkan sebuah kantong berisi beberapa ratus pelat emas dan satu kantong penuh berisi peluru, dia melemparkan kantong peluru itu ke Arion. "Kalibernya sama". Ujar Arion setelah memeriksa isi kantong itu.


"Sepertinya si kapten pengawal itu bukan orang ecek-ecek ya." Ego berkata setelah dia selesai menjarah mayat bandit." Jadi mereka menjarah karavan Alean setelah memasuki hutan?" Tanya Arion.


"Sudah biasa seperti itu, orang-orang memang selalu serakah". Timpal Ego yang sedang menghitung keuntungan dari penjarahan barusan.


"Seperti kau".


"Yabegitulah".


Arion sama sekali tidak melihat ada mayat dari pihak karavan dagang Alean, mungkin memang tidak ada korban jiwa di pihak mereka atau mungkin mayat mereka diangkut kedalam salah satu kereta muatan.


"Sudah selesai, kita dapat lumayan kali ini". Ego mengumpulkan semua uang yang dia dapat dalam satu kantong dan memasukkannya kedalam saku jubahnya.


"'Kita'? Kau saja, aku tidak mau makan dari uang orang mati". Sahut Arion yang merasa jijik dan ngeri.


Ego mengangkat bahu, "Terserah kau saja".


Mereka berdua menaiki muda masing-masing, kembali melanjutkan perjalanan. Sembari mengendarai kuda, Arion sedikit kembali mengingat sensasi saat dia membunuh seseorang, memang benar apa yang dikatakan Ego. Ketika kau sudah menguasai rasa takut dan memperkuat mental, maka kekuatan akan mengalir tanpa sadar saat bertarung dengan mempertaruhkan nyawa.

__ADS_1


Bahkan Arion beberapa kali mengingat kalau dia bisa merasakan seolah waktu berjalan sedikit lambat saat dia bertarung, karena itu dia bisa menangkis serangan lawan atau bahkan langsung memberikan serangan balik. Inderanya juga terasa semakin tajam, dia bisa merasakan dimana dia akan ditembak, sehingga dia bisa menghindar tepat sebelum pelatuk senapan ditembakkan. Lemparan kapak jelas bukan masalah baginya, meskipun dia belum bisa menangkap kapak seperti yang dilakukan Ego.


Arion menatap jaketnya yang compang-camping karena berbagai serangan yang dia terima, zirah nya pun terlihat sedikit penyok. Yang paling parah adalah machetenya, machete itu sudah rusak parah dengan retak dan penyok dimana-mana. "Sepertinya aku harus memperbaiki peralatanku di kota selanjutnya."


__ADS_2