
Arion jatuh terduduk, tubuhnya dipenuhi debu dan keringat, kedua tangannya yang berlumuran darah terlihat luka parah ... Atau mungkin lebih tepat kalau dikatakan hancur.
Dihadapan Arion, terdapat sebuah batu besar dengan bekas darah dimana-mana, terlihat juga sedikit gompal di batu besar itu, benar-benar sedikit sakali.
Nafas Arion terengah-engah, matanya terlihat seperti orang sekarat karena dia berkali-kali mengalami rasa sakit yang luar biasa.
"Lakukan lagi." Ego yang duduk tidak jauh dari Arion berseru, dia menjentikkan jarinya, seketika tangan Arion yang hancur itu kembali pulih. Arion menghela nafas berat karena frustasi.
"Sudah kali ke lima puluh sialan, apa kau berniat membuatku mati karena frustasi?" Arion dengan berat kembali bangkit dan kembali melayangkan pukulan ke batu besar di hadapannya, mungkin fisiknya terlihat kembali seperti sedia kala, tapi tidak dengan mental dan energi Bara nya.
"Kalau Bara mu hanya segitu, mustahil kau bisa menjadi sekuat aku, mending jadi porter saja," celoteh Ego, Arion menggeram, pukulannya ke batu itu semakin keras karena provokasi Ego tanpa dia sadari. Tapi tangannya jadi lebih hancur dari sebelumnya.
Setelah tangannya tidak sanggup mengepal lagi, dia kembali terduduk di hadapan batu besar itu. Darah menetes dari tangannya yang hancur, mentalnya juga cukup rusak karena dia terjebak dalam siklus rasa sakit yang berulang-ulang.
Terdengar suara jentikan Ego, seketika itu juga, tangan Arion kembali pulih. "Cukup untuk hari ini," kata Ego, Arion akhirnya menghela nafas lega dan membaringkan tubuhnya yang berlumuran darah bercampur keringat dan debu di rerumputan.
Arion menatap Ego yang sedang memeriksa scimitarnya, "Sebenarnya, apa tujuan latihan neraka ini?" Keluh Arion kepada Ego.
"Tentu saja untuk memperkuat tubuhmu, kau tahu kan, kalau senjata terkuat adalah tubuh? Selain itu kau juga harus terbiasa dengan rasa sakit, jadi, ketika suatu saat kau tiba-tiba terluka di tengah pertarungan, kau tidak akan kehilangan ketenangan." Ego menjawab panjang lebar.
Arion berdiri dengan wajah lelah, dia mendekati tumpukan peralatannya dan mengambil handuk, kebetulan di dekat lokasi ini ada sebuah sungai, jadi dia bisa sekalian membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, Arion dan Ego menaiki kuda dan kembali melanjutkan perjalanan, sembari mengendarai kuda, Arion memakan sisa roti yang dia beli dari kota sebelumnya. Roti yang dia beli semuanya roti dengan kadar air sedikit, jadi rotinya tidak mudah berjamur selama disimpan dengan baik.
Sepanjang jalur perjalanan, mereka berdua berpapasan dengan beberapa orang yang tampak seperti tentara bayaran, Ego bertukar informasi dengan pemimpin mereka. Sementara itu, Arion yang sedang diam diatas kudanya dihampiri oleh seorang tentara bayaran dari kelompok mereka.
"Kalian hanya berdua?" orang itu bertanya pada Arion, mereka terlihat seumuran, Arion mengangguk, "Namaku Tristan, usiaku 21 tahun, senang bertemu denganmu." Orang bernama Tristan itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Arion menyambutnya.
"Kelihatannya kita seumuran kan?" Tristan kembali melontarkan pertanyaan, lagi-lagi Arion hanya mengangguk sambil memakan roti, "Mau bertarung? Aku jarang sekali berjumpa dengan tentara bayaran seusiaku, jadi aku lumayan penasaran sekuat apa aku ini."
__ADS_1
"Tapi kelihatannya bos ku sedang buru-buru deh." Arion mencoba mengelak, dia sedang tidak mood melakukan pertarungan persahabatan atau apapun itu, sudah cukup rasa sakit yang dia rasakan hari ini.
Ego yang mendengar percakapan Arion dan Tristan berkata kepada pemimpin kelompok Tristan, "Menonton pertarungan mereka kedengaran sangat menyenangkan bukan?" Pemimpin kelompok Tristan tertawa kecil, "Bocah Tristan itu selalu bersemangat kalau bertemu dengan tentara bayaran atau prajurit yang terlihat seumuran, selalu saja mengajak mereka bertarung. Yah, kurasa menarik kalau mereka berdua bertarung."
Tristan yang mendengar hal itu langsung menganggapnya sebagai persetujuan, dia turun dari kudanya, Arion menatap Ego dengan kesal, Ego hanya tertawa kecil
Seorang rekan Tristan segera membuka lapak taruhan, yang lain segera berkerumun dan memasang taruhan masing-masing.
"Aku bertaruh ke orang itu!" Seru salah seorang rekan Tristan, dia bertaruh dengan beberapa pelat perak. "Aku bertaruh ke Tristan!" yang lain ikutan, suasana jadi makin gaduh di tengah padang rumput itu.
Arion menyerah, sudah tidak ada lagi jalan keluar, dia turun dari kudanya dan segera berhadapan dengan Tristan, "Adu panco saja tidak bisa?" Arion mencoba negoisasi, tapi Tristan malah menodongkan pedangnya yang masih tertutup sarung, "Ayolah, kita sudah sama-sama turun dari kuda, jangan buat mereka kecewa." Tristan menunjuk ke rekan-rekannya yang sudah terlihat antusias, bahkan Ego dan pemimpin kelompok Tristan ikut pasang taruhan.
Entah kenapa hal itu membuat Arion merasa kesal, dia merasa kalau dia dimanfaatkan oleh Ego.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Arion juga mengambil machetenya, tentu saja dengan sarung yang tetap terpasang. Dirasa kedua petarung sudah bersiap, salah seorang rekan Tristan menghitung mundur.
Tristan langsung menerjang kearah Arion dan menusukkan pedangnya, Arion mundur selangkah untuk menghindari tusukannya, tapi Tristan kembali maju sambil berputar 360 derajat, lalu menebaskan pedangnya dengan kuat dari atas.
Arion mengangkat machetenya, sarung pedang mereka saling berbenturan, menghasilkan suara yang cukup keras. Semua orang yang menonton berseru, antusiasme mereka meningkat.
Tristan mundur dua langkah, dia sedikit tertegun, padahal dia menyerang Arion dengan kekuatan penuh, tapi dia merasakan kalau tangkisan Arion begitu kokoh.
Mereka berdua saling beradu tatapan, Tristan mulai menyadari kalau lawannya ini bukan orang sembarangan, tapi hal itu malah membuatnya semakin bersemangat.
Sekali lagi Tristan menyerang, dia melancarkan tebasan ke Arion dengan sekuat tenaga, tapi lagi-lagi Arion melompat mundur untuk menghindar, Tristan sekali lagi menutup jarak dan kembali menebas Arion.
Arion menangkis serangan itu dan melayangkan tendangannya ke tulang rusuk Tristan yang terbuka. Telak. Tristan segera melompat mundur sambil memegangi rusuknya dengan ekspresi kesakitan, dia sampai saat ini tidak menyadari kalau lawannya itu seorang Arakaza dengan kemampuan Bara.
Kali ini Arion maju, dia menebaskan machetenya dengan kuat, Tristan dengan susah payah mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan Arion, tapi itu hanyalah serangan pengalihan. Saat Tristan menangkis serangan itu, Arion meluncurkan serangan menggunakan lututnya ke perut Tristan. Saat Tristan masih shock karena serangan yang telak mengenai perutnya, Arion melayangkan tinjunya ke rahang Tristan, membuatnya terkapar seketika.
__ADS_1
Semua orang terdiam, mereka menatap Tristan yang tergeletak. Setelah beberapa saat, Tristan juga tidak kunjung bergerak.
"UWOOOHHHHH! AKU MENANG TARUHAN!"
"AARRGHHH! SIALAAN!"
Seruan-seruan senang dan kecewa yang sahut menyahut memenuhi padang rumput itu, beberapa orang segera mengerumuni Tristan yang tak sadarkan diri dan mencoba membangunkannya.
Tristan terbangun tidak lama setelah itu, dia masih terlihat sedikit lemas, mungkin efek serangan kuat yang mendarat telak di perut dan rahangnya.
"Temanmu itu benar-benar kuat, padahal kelihatannya dia menjadi tentara bayaran baru-baru ini." Pemimpin mereka memuji Arion, Ego hanya tersenyum, "Dari awal dia memang cukup berbakat sih, tapi dia kurang kemauan," si pemimpin tertawa, "Orang berbakat memang seperti itu."
Setelah semua keributan mereda, semua orang kembali bersiap melanjutkan perjalanan, Ego bersalaman dengan pemimpin kelompok.
Ego dan Arion memutuskan untuk lebih dulu melanjutkan perjalanan, saat Arion baru saja mau memacu kudanya, Tristan tiba-tiba memegang tali kekang kuda Arion.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Tristan bertanya kepada Arion.
Arion terdiam sejenak, dia berpikir kalau dia menggunakan nama aslinya, kemungkinan akan menyebabkan masalah di masa depan, karena pada dasarnya, nama Arion Druceus sudah dinyatakan tewas oleh catatan sipil Arakaza beberapa hari lalu.
"Brutall Killerz." Jawab Arion.
Ego menatap Arion jijik, Tristan pun terlihat sedikit kebingungan, ekspresinya terlihat sedikit jijik juga.
"Bercanda. Namaku Adam Frost, panggil saja Adam."
Ego menghela nafas lega, Tristan pun kembali tersenyum bersahabat, "Baiklah, Adam. Semoga kita kembali bertemu di lain waktu, kupastikan saat itu aku akan mengalahkanmu." Tristan mengepalkan tinjunya ke Arion, sebagai tanda sportifitas dan persahabatan, Arion membalas kepalan Tristan dengan senyum tipis.
"Kalau kau merasa mampu sih, tidak masalah."
__ADS_1