
Tok.. Tok.. Tok
"Iya bentar" Ucap Bintang dari dalam kamar
"Eh Kak Dimas. Ada apa Kak?"
"Gue mau nanya isi kado yang lo dapet tadi apaan."
"Kok Kakak tau kalau aku dapet kado?"
"Tadi gue nggak sengaja lihat pas ngambil barang diloker."
"Terus kenapa kok Kakak nanya isinya?"
"Karena tadi waktu lo ngambil kotak itu gue lihat lo bingung seakan akan lo nggak tau siapa yang naruh itu diloker lo."
"Emang sih Kak aku nggak tahu siapa yang taruh."
"Nah coba lo pikir yang punya kunci loker itu cuma orang yang punya loker itu tapi kenapa kok bisa ada kotak itu diloker lo sedangkan kotak itu bukan punya lo. Jadi ini nggak mungkin kerjaan orang iseng."
"Iya juga sih Kak. Kalau gitu yuk kita buka aja bareng bareng." Ucap Bintang sembari menarik Dimas masuk kedalam kamarnya.
"Kakak duduk dulu aku mau ngambil kotaknya."
Dimas pun duduk disofa sembari mrngamati suasana kamar Bintang. Tidak seperti gadis kebanyakan yang memilih warna merah muda sebagai tema kamarnya. Kamar Bintang seakan lebih cenderung kearah namanya. Bagaimana tidak? Kamar bercat Navy dengan langit langit diberi bintang bintang menggambarkan suasana ketika malam.
"Kamar aku aneh ya Kak?" Tanya Bintang yang membuat lamunan Dimas terbuyarkan.
"Eh enggak kok malah bagus baget."
"Ohhhh. Ini Kak kotaknya, Kakak aja ya yang buka aku takut." Ucap Bintang sambil menyodorkan kotak kearah Dimas yang langsung diterimanya.
"Yaudah duduk sini, kita buka bareng bareng."
Dimas pun membuka kotak itu dan begitu melihat isinya mereka berdua pun sontak terbelalak. Bagaimana tidak disana ada tikus yang berlumuran darah juga ada sebuah surat.
"Astaga Kak kok isinya gini?" Reflek Bintang.
"Nggak tau juga lebih baik kita baca suratnya aja dulu."
"JAUHIN LANGIT ATAU LO YANG BAKAL KAYAK TIKUS ITU!!" Baca Dimas.
"Maksudnya apa sih kak?"
"Lo harus jauhin Langit agar lo nggak celaka Bin"
"Tapi kenapa?"
"Gue tau lo suka Langitkan? Jadi jangan ambil resiko dengan deket deket dia"
"Kakak tau darimana?"
"Abang lo"
"Tapi Kak aku udah suka sama Kak Langit sejak lama terus aku harus lupain hanya karena teror ini?"
__ADS_1
"Lo nggak harus lupain Langit, karena gue ada rencana"
"Apaan kak?"
Dimas pun membisikkan sesuatu kepada Bintang.
"Gimana?"
"Oke deh Kak aku setuju" Setelahnya mereka hanya diam tak ada yang membuka pembicaraan. Hingga...
"Bin"
"Iya Kak?"
"Gue sebenernya kesini tadi mau bilang sesuatu."
"Bilang apa Kak? Bilang aja."
"Sebenernya gue suka lo dari lama, lo mau nggak jadi pacar gue?"
"Kakak seriusan?"
"Serius jadi lo mau nggak?"
"Emmm Kakak maunya apa?"
"Ya lo jawab iya"
"Kalau gitu iya aku mau." Jawab Bintang sambil menundukkan kepalanya malu.
"Yess!! Makasih ya udah mau nerima aku" Ucap Dimas sambil memeluk Bintang erat.
"Eh iya iya maaf aku terlalu seneng tadi." Dimas pun mengendurkan pelukannya.
"Udah Kak yuk kuta kebawah."
"Yaudah yuk Kakak mau pamer sama Satria."
"Dih apaan sih Kak." Ucap Bintang sambil mecubit Dimas.
"Eh eh ampun kamu mah suka banget nyubit aku."
"Iya iya maaf."
"Yaudah yuk turun, nanti bangkai itu dibuang kalau anak anak udah pulang."
"Oke"
☁☁☁
Mereka berdua pun turun kebawah bersama, dengan Dimas yang merangkul Bintang. Begitu mereka sampai dibawah Satria pun langsung memelototkan matanya.
"DIMASSSSSSS!!! lo ngapain peluk peluk Dedek Bibin gue!!!!"
"Serah gue dong orang pacar gue sendiri."
__ADS_1
Mendengar ucapan Dimas, Keenan yang sedang minum pun sontak menyemburkan minumnya.
"Yang bener Dek?"
"Emm.. Iya Bang"
"Huaaaaa lo jahat Dim gue yang deketin lo yang dapet. Emang temen suka gitu ya diem diem ngehanyutin kek air."
"Jahat lo Bang kan saingan gue si ******* doang eh lo malah udah nikung duluan." Gerutu Angga.
"Sebenarnya gue suka sama Bintang udah lama dan ternyata Bintang juga diem diem suka sama gue jadi kenapa nggak. Ya kan sayang?"
"Iya" Jawab Bintang dengan senyum manisnya.
"Yuk sayang kita duduk dulu."
Dimas dan Bintang pun duduk disebelah Langit, karena hanya disitu tempat yang kosong.
"Lo beneran jadian sama Dimas?" Tanya Langit pada Bintang.
"Iya Kak, emang kenapa?"
"Nggak papa, langgeng ya."
Langit memang mengucapkan itu tapi pikirannya masih berkecamuk. Apa benar Bintang berpacaran dengan Dimas, namun entah kenapa dia berpikir bahwa sebenarnya Bintang itu suka padanya.
Sedangkan yang lainnya sedang berdebat atas kenyataan yang terjadi dan yang pasti yang mengisi perdebatan ini adalah Satria dan Angga yang masih tidak terima.
☁☁☁
"Dek.." Panggil Keenan.
"Ya Bang?"
"Kamu beneran pacaran sama Dimas?"
"Iya Bang emang kenapa?"
"Bukannya kamu sukanya sama Langit ya?"
"Nggak kok Bang sebenarnya itu cuma alesan aku doang."
"Abang tau kamu lagi bohong"
"Beneran Bang, Bintang nggak bohong suerr."
"Yakin?" Ucap Keenan sambil memincingkan matanya kearah mata Bintang mencari kebohongan disana.
"Beneran yakin Bang terserah kalau Abang nggak percaya."
"Iya iya Abang percaya."
"Yaudah kalau gitu aku mau kekelas dulu ya Bang."
"Iya udah sampai nanti Dek." Ucap Keenan setelahnya mencium puncak kepala Bintang. Setelah itu Bintang pun berlalu kekelasnya.
__ADS_1
🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌌
TBC