LANGIT

LANGIT
Lima


__ADS_3

Sepulang sekolah Langit, Arsen, Dimas dan Satria segera menuju kerumah Keenan dan sekarangΒ  sedang berada di depan pintu rumah Keenan. Mereka datang untuk meminta maaf kepada Keenan dan juga Bintang.


"Lo aja yang ketuk pintu." Suruh Langit kepada Satria.


"Lo aja!" Jawab Satria menunjuk Arsen.


"Eh nggak ada ya lo aja yang ketuk." Cerocos Dimas sebelum Arsen membuka mulutnya.


"Nggak asik kalian kan yang mau minta maaf kita semua kok gue doang yang ketuk sih." Kesal Arsen.


"Udah ketuk aja." Ucap Langit.


Baru saja Arsen melayangkan tangannya untuk mengetuk pintu, namun tiba-tiba pintu terbuka.


"Eh ada kalian. Mau nyari Keenan ya?" Ucap Clara (Mama Keenan).


"Eh i..iya Tan." Jawab Arsen.


"Yaudah yuk masuk. Tante panggilin Keenan dulu." Ucap Clara.


"Eh tunggu Tan. Kalau bisa panggilin Bintang juga." Sela Langit sebelum Bintang pergi.


"Eh?.. Iya tante panggilin dulu ya." Ucap Clara agak bingung.


Setelah beberapa saat Clara pun datang kembali dengan membawa beberapa cemilan.


"Nih kalian makan ya. Tunggu sebentar abis ini mereka pasti turun." Ucap Clara.


"Makasih tante dan maaf ngerepotin." Ucap Langit tak enak.


"Nggak papa kayak sama siapa aja. Tante permisi dulu ya" Ucap Clara.


"Iya tante." Jawab keempatnya kompak.


Setelah menunggu agak lama akhirnya Keenan dan Bintang pun turun dari lantai atas.


"Ngapain kalian kesini?" Tanya Keenan dingin.


"Ih Abang ngggak boleh gitu sama temennya sendiri." Tegur Bintang.

__ADS_1


"Yaudah duduk dulu yuk Bang." Tambah Bintang.


Mereka berdua pun duduk ditempat yang tersisa.


"Kita disini mau minta maaf sama kalian berdua. Terutama gue, maaf banget ya Bintang karena gue udah nampar lo." Ucap Langit.


"Iya nggak papa kok kak. Aku udah maafin kakak kok." Jawab Bintang dengan senyum manisnya.


"Makasih ya. Gue minta maaf juga sama lo Ken." Ucap Langit.


"Maaf gue nggak bisa maafin orang yang nyakitin adik gue. Kan gue juga pernah bilang sama kalian semua jangan pernah ada yang nyakitin dia, tapi apa bahkan belum ada seminggu gue bilang kalian nyakitin dia bahkan di fisiknya." Ucap Keenan dengan dingin.


"Udah Bang nggak papa yang lalu biarlah berlalu, lagian aku nggak papa kok. Maafin mereka ya." Bujuk Bintang.


"Tuh dengerin cewek gue ngomong Ken maafin aja apa sih susahnya." Ucap Satria yang mendapatkan pelototan dari Keenan.


"Jangan ngada ngada *****." Ucap Keenan sembari menonyor kepala Satria.


"Hehehe piss. Tapi lo maafin kita kan?" Jawab Satria sambil cengar-cengir.


"Gue maafin kalian tapi jangan diulang lagi." Ucap Keenan yang langsung disambut pelukan dari keempat temannya.


Akhirnya mereka pun melepaskan pelukan mereka.


"Makasih ya Dedek Bibin udah bantuin kita." Ucap Satria yang membuat Bintang mengerutkan dahinya.


"Lo jangan mulai lagi ya." Ucap Arsen melototkan matanya.


"Biarin suka suka gue, orang Dedek Bibin nggak marah kok." Jawab Satria sembari menyebikkan mulutnya.


Semua teman temannya pun sontak tertawa terbahak bahak sehingga membuat Satria semakin merajuk.


Mereka pun melanjutkan pembicaraan hingga menjelang malam dan pulang kerumah masing-masing.


☁☁☁


Sekarang Bintang sedang berada di dalam kamarnya sembari menulis dibuku diarynya.


*πŸ“’Dear Langit

__ADS_1


Hari ini, hari dimana aku kecewa pertama kalinya. Dimana kau menamparku karena membela orang kau sayangi, entahlah aku semakin bingung harus melakukan apa. Melupakan atau mempertahankan?. Inginku melupakan namun tak bisa, ingin mempertahankan namun aku bukan siapa-siapa.


Ternyata begini rasanya menjadi pengagum rahasia ingin marah tetapi tak ada hak padanya. Kuhanya bisa berdoa agar kau bahagia walau aku terluka*.


Bintang pun meneteskan air matanya diakhir katanya dan beranjak tidur berharap kejadian tadi pagi hanyalah mimpi belaka yang tak pernah tercipta.


☁☁☁


Langit masih terjaga walaupun jam sudah tengah malam, dia terus saja kepikiran sikapnya tadi pagi walaupun sudah meminta maaf pada Bintang.


"Astaga Langit lo kenapa bodoh banget sih!!" Langit bermonolog sembari memukul kepalanya.


"Kenapa juga tadi gue nampar Bintang, mana dua kali lagi. Sumpah gue **** banget karena gegabah, gue yakin pasti Bintang nggak bakal bisa lupain kejadian tadi." Langit masih terus bermonolog hingga dia mendengar suara pintu dibuka dan menampilkan sosok Adam.


"Eh papa ngapain pa kesini?" Tanya Langit.


Adam pun menuju kearah langit dan duduk diatas ranjang.


"Nggak papa, cuma tadi Papa denger kamu ngomong sendiri jadi Papa masuk," Jawab Adam.


"Iya pa, emang tadi Langit ngomong sendiri," Ucap Langit.


"Emangnya kamu kenapa sih?" Tanya Adam.


Langit pun menceritakan apa yang terjadi pagi tadi dari awal hingga akhir secara rinci.


"Kenapa kamu bisa sampai nampar dia? Seharusnya semarah apapun kamu, kamu nggak boleh nyakitin perempuan Lang. Dan pantes aja Keenan hajar kamu sampek kayak gini," Ucap Adam.


"Iya pa Langit tau Langit salah. Cuma tadi itu Langit lagi kalut banget makanya sampek nampar Bintang," Ucap Langit.


"Udah nggak usah dipikirin lagi yang penting jangan diulang dan saran Papa lebih baik kamu putusin Angel, sepertinya dia bukan orang yang baik. Itu cuma saran sih kalau kamu mau ya lakuin kalau nggak ya udah, sekarang kamu tidur udah malem." Ucap Adam lalu keluar dari kamar Langit.


Sedangkan Langit pun masih terdiam mencoba merenungi apa yang dikatakan sang Papa. Apakah ia harus melepaskan orang yang dicintainya? Atau mempertahankan Angel walau dengan sifat buruknya?


"Dah lah mending gue tidur daripada mikirin urusan begituan." Gumam Langit dan kemudian memejamkan matanya.


🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌌


TBC

__ADS_1


__ADS_2