Legenda Darah Phoenix

Legenda Darah Phoenix
Ch. 47 — Kabut Misterius


__ADS_3

Maharaja Jie lalu membaca sebuah mantera dalam bahasa Beast sambil mengerakkan kedua tangannya dalam pola tertentu.


Dan … Pintu gerbang raksasa itu langsung terbuka lebar setelah Maharaja Jie selesai membaca mantera.


Maharaja Jie lalu memimpin mereka berdua masuk ke dalam makam Phoenix Guntur. Selama perjalanan, mereka bertiga berjalan dengan sangat hati-hati karena makam ini menyimpan banyak sekali jebakan yang keberadaannya tidak dapat ditebak.


Hanya mereka yang ditakdirkan untuk menjadi penjaga makam ini saja yang mengetahui lokasi pasti dimana keberadaan jebakan-jebakan tersebut. Dan, Maharaja Jie kebetulan adalah Penjaga Makam Phoenix Guntur di generasi saat ini.


Jalan yang ada di dalam makam ini ternyata sangat rumit dan banyak sekali cabang yang berupa lorong-lorong kecil. Sekilas, lokasi makam kuno ini bagaikan sebuah sarang seekor semut yang terdapat puluhan lorong sebagai pengecoh untuk melindungi ruangan yang paling penting.

__ADS_1


“Sepertinya di dalam kepala anda terdapat peta dari Makam Phoenix Guntur ini,” puji Xing Wang saat melihat Maharaja Jie sangat mudah menentukan arah untuk menghindari semua jebakan yang ada di dalam makam ini.


“Di kepalaku memang ada peta dari makam Phoenix Guntur yang diwariskan secara turun-temurun dari setiap generasi. Namun, peta ini hanya bisa dibaca oleh garis keturunanku saja,” jawab Maharaja Jie sambil menunjuk ke arah kepalanya.


Mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan energi petir yang sangat kuat. Petir-petir itu terus menyambar tanpa henti dan meninggalkan suara ledakan yang terus bersenandung secara bersahut-sahutan.


“Ada yang aneh dengan ruangan ini. Energi petir yang ada di dalam ruangan ini terlalu kuat dan bisa dibandingkan dengan kekuatan petir surgawi. Jika kita sampai tersambar, kita pasti akan mengalami luka yang cukup serius,” ucap Xing Wang mengerutkan kening sambil menatap petir yang terus bergejolak di hadapannya.


Di sana Xing Wang dan Shen Yin Ye melihat sebuah kerangka burung phoenix berukuran raksasa yang tubuhnya diselimuti dengan aliran listrik.

__ADS_1


“Itu adalah tempat dimana Phoenix Guntur jatuh. Namun, tidak mudah untuk mendekati tempat ini bahkan aku sekalipun. Kalian berdua harus berusaha sendiri mulai dari sini jika ingin mendapatkan warisan dari Phoenix Guntur,” lanjut Maharaja Jie menjelaskan.


Xing Wang merasa tertantang dengan penjelasan Maharaja Jie. Ia pun memutuskan untuk mendekati tempat itu dan melihat sendiri rintangan seperti apa yang akan menghalangi jalannya.


Meskipun sedikit ragu, tapi Xing Wang tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena ia tak ingin terlihat begitu lemah di depan Shen Yin Ye.


Setelah melangkah sejauh beberapa meter, Xing Wang tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang aneh saat sebuah kabut tebal muncul secara misterius dan menutupi pandangannya.


Kabut itu seolah-olah membawanya ke suatu tempat yang berbeda karena tubuhnya bisa merasakan dengan jelas perbedaan suhu udara yang berubah secara drastis.

__ADS_1


Sebuah ruangan yang tadinya memiliki suhu udara yang panas dan sedikit pengap layaknya sebuah Goa, tiba-tiba berubah menjadi sejuk seperti berdiri di tengah taman bunga.


Xing Wang pun melanjutkan perjalanan dengan langkah yang ekstra hati-hati karena pandangannya masih tertutup dengan kabut tebal. Akan tetapi, perubahan yang terjadi di tempat ini membuat pikirannya terasa sedikit lebih rileks.


__ADS_2