
Langit malam Benua Awal Mula dipenuhi dengan suara jerit kesakitan yang sangat menyayat hati ketika para prajurit Kerajaan Siluman diserang oleh Ratusan Siluman Komodo tanpa ampun.
Pangeran Siluman Ular tidak pernah berpikir bahwa pembataian yang sangat mengerikan ini akan terjadi tepat di depan matanya dan ia juga tidak dapat melakukan apapun untuk menolong mereka semua.
Kelima pengawal yang menjaga Pengeran Siluman Ular sama sekali tidak mengijinkan Sang Pengeran untuk kembali mendekati medan pertempuran. Mereka berlima mengelilingi Pangeran Siluman Ular dengan penuh kewaspadaan dan menghalau setiap serangan yang mengarah ke arahnya.
“Pangeran, lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini sejauh mungkin. Anda harus tetap hidup agar anda bisa membalaskan dendam Maharaja Jie dan seluruh penduduk Bangsa Siluman yang telah dibantai oleh para Siluman Komodo dan Penyihir Agung Reymond.”
“Mana mungkin aku akan melarikan diri ketika rakyatku berada dalam bahaya. Aku akan tetap berada di tempat ini sampai mendapatkan kejelasan tentang kondisi Ayahku.”
Pangeran Siluman Ular bersikeras untuk tetap tinggal di sekitar medan perang dan menolak permintaan dari para pengawal pribadinya itu. Sebab sebagai seorang Pangeran, ia tidak boleh memiliki sifat seorang pengecut yang hanya bisa melarikan diri di tengah peperangan.
Andai saja ia berhasil selamat dari peperangan ini dengan cara melarikan diri, ia pasti akan dicemooh oleh para siluman yang berhasil selamat. Jika hal seperti itu sampai terjadi, lalu bagaimana caranya ia akan mendapatkan kepercayaan dari Bangsa Siluman untuk menyusun strategi balas dendam.
“Haha … Menarik sekali. Kau memang pantas menjadi seorang Pangeran dari sekumpulan semut. Meskipun kekuatan yang kau milik jauh lebih lemah daripada Raja Siluman, tapi kau miliki tekad dan keberanian yang cukup kuat. Aku akan membunuhmu dengan satu serangan agar kau tidak perlu merasakan sakit.”
Penyihir Agung Reymond tiba-tiba keluar dari kabut asap tebal dan langsung berdiri di hadapan Pangeran Siluman Ular dengan jarak sekitar dua puluh meter.
Semua prajurit Kerajaan Siluman dan para Raja Siluman yang hadir di medan perang menjadi semakin khawatir dengan keadaan Maharaja Jie yang belum juga muncul dari balik kabut asap tebal itu.
Boom ...
Tanpa disadari para penjaga yang ada di sekitar Pangeran Siluman Ular, Penyihir Agung Reymond telah melemparkan sebuah sihir yang sangat mematikan dan membunuh kelima pengawal itu hanya dalam sekali serang saja.
Saat ini, nyawa Pangeran Siluman Ular benar-benar berada dalam bahaya karena para Raja Siluman yang lain juga sedang disibukkan oleh para Siluman Komodo.
“Berhenti!! Apakah kau pikir aku akan membiarkanmu membunuh satu-satunya putraku.”
Maharaja Jie akhirnya keluar dari kepulan asap tebal itu. Tubuhnya memang dipenuhi dengan luka yang cukup dalam, tapi aura yang memancar dari tumbuhnya masih terlihat cukup stabil.
“Maharaja ... Hidup Maharaja Jie.”
Semua prajurit Kerajaan Siluman tidak dapat menyembunyikan kebahagian mereka ketika melihat Maharaja Jie kembali dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya mereka masih memiliki harapan untuk memenangkan pertempuran ini.
Maharaja Jie mengarahkan pedang pusaka yang ada di tangan kanannya ke arah Penyihir Agung Reymond sambil memusatkan sisa-sisa Qi yang ada di dalam tubuhnya.
Whost ...
Kobaran api yang begitu panas seketika muncul pada bilah pedang pusaka yang ada di genggaman tangan Maharaja Jie.
Teknik pedang yang ia gunakan kali ini bukanlah teknik pedang terkuat yang ia miliki tapi hanya sebuah teknik pedang biasa yang telah ia sempurnakan hingga mencapai tingkat tertinggi. Sebab, Qi yang tersisa di dalam tubuhnya tidak cukup banyak.
“Ternyata kau masih memiliki jurus pedang yang cukup hebat. Aku jadi penasaran sampai sejauh mana kemampuan seni berpedang yang kau dapatkan dari Phoenix Guntur.”
__ADS_1
Boom ...
Penyihir Agung Reymond kembali melemparkan beberapa serangan sihir ke arah Maharaja Jie. Kali ini ia sengaja menyerang dengan teknik sihir elemen air karena Maharaja Jie menggunakan jurus pedang yang berelemen api.
Pertarungan sengit antara Maharaja Jie dan Penyihir Agung Reymond kembali terjadi. Hanya dalam waktu beberapa nafas saja,
area tempat mereka berdua bertarung telah berubah menjadi hamparan padang pasir yang sangat luar.
“Aku tidak pernah menyangka jika kekuatan pedangmu dapat menandingi kekuatan sihir yang aku miliki. Aku menjadi semakin tertarik untuk membunuhmu. Hehe ...” Penyihir Agung Reymond menyeringai sambil membaca mantera sihir baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Jangan banyak bicara! Jika kau memang mampu maka cepat bunuhlah aku sebelum pedang yang ada di tanganku ini berhasil mencabut nyawamu.”
Maharaja Jie sama sekali tidak gentar walaupun tubuhnya telah dipenuhi dengan luka dan cadangan Qi yang semakin menipis. Setiap ancaman yang keluar dari mulut Penyihir Agung Reymond akan ia balas dengan dingin.
Apalagi kondisi mental Maharaja Jie saat ini telah tenggelam dalam amarah yang memuncak setelah menyadari bahwa banyak sekali korban jiwa yang berjatuhan di pihaknya.
Hatinya saat ini telah dipenuhi dengan amarah dan dendam yang sangat dalam bak sebuah lubang tanpa dasar yang siap menghancurkan apapun yang masuk ke dalamnya. Ia bahkan sudah siap untuk mengorbankan nyawanya asalkan dia berhasil membalas dendam semua prajurit yang telah gugur.
...“Teknik Awal Mula.”...
Maharaja Jie tiba-tiba meledakkan semua energi murni yang ada di dalam tubuhnya dan kembali ke wujud aslinya yaitu siluman ular cobra raksasa yang memiliki sembilan kepala.
Sorot matanya juga berubah menjadi semakin tajam bagaikan seekor binatang buas yang sedang kelaparan.
“Tutup Mulutmu!!”
Maharaja Jie menjadi sangat marah ketika mendengar niat Penyihir Agung Reymond yang sebenarnya. Ternyata tujuan utama penyihir itu menyerang Kerajaan siluman hanyalah untuk memiliki mustika ular yang ia miliki.
Boom ...
Ledakan yang sangat keras disusul dengan gempa bumi yang cukup kuat langsung terjadi ketika Maharaja Jie mulai melakukan serangan dengan mengibaskan ekornya yang berukuran raksasa.
Penyihir Agung Reymond segera menghindari serangan itu dengan melompat mundur ke belakang sejauh sepuluh meter lalu kembali melesat ke depan dan menghantam ekor Maharaja Jie dengan kekuatan penuh.
Goresan yang cukup dalam tertinggal di muncul di ekor Maharaja Jie dan membuatnya sedikit menahan rasa sakit. Sebab, luka yang ia peroleh ketika berada dalam wujud aslinya juga akan langsung dirasakan oleh jiwanya.
Sementara itu, Penyihir Agung Reymond sama sekali tidak mendapatkan luka apapun sampai saat ini. Padahal mereka berdua telah menjalani pertarungan yang cukup sengit dalam kurun waktu yang cukup lama.
“Aku pasti akan membunuh siapapun yang berani mengusik kedamaian di wilayahku,” seru Maharaja Jie penuh tekad yang disaksikan oleh semua prajurit Kerajaan Siluman.
“Apa kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu? Humph! Dasar Bodoh! Saat ini yang berada dalam keadaan yang kurang menguntungkan adalah kau … Bukan aku!!” umat Penyihir Agung Reymond mendengus kesal.
Mereka berdua kembali bertarung dengan sangat sengit hingga membuat langit bergemuruh karena benturan kekuatan yang memancar dari tubuh mereka berdua. Tampaknya cadangan Qi yang mulai menipis di tubuh Maharaja Jie telah kembali sepenuhnya ketika ia kembali ke wujud aslinya.
__ADS_1
Selain itu, gerakan Maharaja Jie ketika melakukan serangan juga jauh lebih cepat dari sebelumnya. Seolah-olah ia memang terbiasa dengan wujud ular raksasa ketika sedang bertarung.
Penyihir Agung Reymond mulai merasa bahwa apa yang ia lakukan ini hanyalah mengulur-ulur waktu saja. Ia akhirnya menghentikan serangannya dan merubah rencananya karena tujuannya yang sebenarnya hanyalah untuk merebut mustika siluman ular.
Akan tetapi, kesempatan ini malah dimanfaatkan Maharaja Jie untuk melakukan serangan baik.
...“Semburan Racun Ular.”...
Maharaja Jie membuka semua mulutnya dan melepaskan Bisa ular yang sangat mematikan secara bersamaan.
Seketika, Tubuh Penyihir Agung Reymond dihujani oleh bisa ular yang sangat mematikan dan mulai mengikis permukaan kulitnya. Ia tak sempat membuat perlindungan karena kewaspadaannya sempat menurun ketika memikirkan sebuah rencana.
“Matilah kau Penyihir terkutuk! Ini adalah balasan yang cukup pantas bagi seorang penyihir kejam sepertimu.”
Kekuatan Maharaja Jie langsung terkuras habis karena bisa ular itu menyimpan sebagian besar Qi yang telah ia kumpulan selama berhari-hari. Saat ini, ia hanya bisa berdiri dengan diam di tempatnya sambil menyaksikan Bisa ular miliknya menyerang tubuh Penyihir Agung Reymond tanpa ampun.
Penyihir Agung Reymond segera menggerakkan kedua tangannya ke depan dan mulai membaca mantera di tengah serangan bisa ular yang sangat beracun.
Hanya dalam waktu beberapa detik saja, kedua tangan Penyihir Agung Reymond telah dipenuhi dengan luka yang sangat parah dan tidak akan mungkin bisa pulih dengan sempurna dalam waktu dekat.
Amarah Penyihir Agung Reymond menjadi semakin memuncak ketika melihat kedua tangannya yang seakan-akan tercelup dalam kobaran api abadi. Sebab, Bisa ular yang disemburkan oleh Maharaja Jie ternyata memiliki sensasi yang begitu panas.
"Kurang ajar!! Kau ternyata tidak pantas untuk dibiarkan hidup!”
Roar ...
Penyihir Agung Reymond akhirnya mengakhiri penyamarannya selama ini dan berubah wujud ke wujud aslinya yaitu seekor Naga Hitam berukuran raksasa.
Seketika, sekujur tubuh Penyihir Agung Reymond langsung tertutup oleh sisik naga berwarna hitam pekat yang sangat tebal dan lambung melemparkan semua bisa ular yang menempel di tubuhnya.
“Ternyata kau bukanlah seorang manusia. Pantas saja kau bisa menerobos masuk ke Benua Awal Mula ini tanpa diketahui.” Maharaja Jie mengerutkan kening setelah melihat wujud asli Penyihir Agung Reymond.
Ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika Penyihir Agung Reymond sebenarnya berasal dari Ras Naga.
“Kenapa? Apakah kau merasa ketakutan setelah melihat wujud asliku? Masih belum terlambat jika kau ingin menyerah! Cepat serahkan mustika ular itu padaku dan bersumpah setia maka aku akan membiarkanmu hidup. Selain itu aku juga akan segera meninggalkan Benua ini,” seru Penyihir Agung Reymond yang terdengar sangat mendominasi.
“Jangan bermimpi!! Mustika ular ini adalah warisan turun temurun dari leluhurku. Jika aku tidak mampu melindungi mustika ular ini maka tidak ada gunanya lagi aku hidup,” tolak Maharaja Jie tegas.
“Sepertinya kau memang tidak bisa diajak bicara. Terimalah kematianmu!!”
...“Semburan Api Kegelapan.”...
Api berwarna hitam pekat keluar dari mulut Penyihir Agung Reymond dan mengarah lurus ke arah Maharaja Jie. Semua benda yang dilewati api akan langsung berubah menjadi abu karena terkena hawa panas yang sangat tinggi.
__ADS_1
Maharaja Jie berusaha menghindari serangan semburan api itu kerana ia merasakan tekanan kekuatan yang begitu besar dari semburan api hitam berwarna hitam pekat itu.