
Setelah 20 menit perjalanan, Ahmed dan Saras sampai di toko bunga milik mereka. Toko ini terletak di tepi jalanan, jalan yang tak terlalu besar tetapi sering dilewati oleh pengendara karena kawasan desa mereka merupakan kawasan wisata.
Selain mobil pribadi yang melintas terlihat transportasi kereta api banyak digunakan disini juga. Karena di daerah mereka memang masih banyak menggunakan transportasi ini. Apalagi untuk wisatawan yang berkunjung, karena stasiun pemberhentian memang berada di sini.
Sehingga wisatawan yang sering berasal dari kota sering berkunjung untuk membeli bunga, makanan atau sovenir khas desa ini. Ada beberapa toko disini seperti toko bunga, toko sovenir dan beberapa toko makanan.
"Baiklah Sathi Paman berangkat dulu, jaga dirimu ya. Saat pulang nanti akan paman jemput." Ujar Ahmed.
"Tidak perlu paman, aku bisa pulang nanti dengan yang lain." tolaknya dengan halus.
"Lagipula, jarak antar perkebunan dengan toko lumayan jauh, nanti paman capek." Imbuhnya lagi.
"kalau begitu baiklah, hati-hati !" Ucap Ahmed yang diangguki Sathi.
" Iya, paman juga hati-hati dan semangat bekerja!" Sathi membalas dengan kepalan tangan.
Tak lama Ahmed pun menjalankan sepeda motornya dan menuju perkebunan tempatnya bekerja.
Saras pun segera memasuki toko dan menata bunga-bunga. Setelah selesai menatanya, ia juga merangkai beberapa bunga-bunga tersebut untuk dipajang di depan toko agar terlihat oleh wisatawan.
Toko-toko lain pun sudah mempersiapkan dan menata toko mereka secantik mungkin, apalagi toko makanan yang sedang menyiapkan makanan khas mereka, baunya pun menggoda selera.
Saat ia sedang sibuk, tiba-tiba saja terdengar bunyi lonceng menandakan kedatangan seseorang.
"Hai Saras." Terdengar suara cempreng.
"Oh, hai Reni." Ucap Saras.
__ADS_1
"Akhirnya kau ke toko juga aku sudah menunggumu berapa hari belakangan ini." celetuk Reni.
Ya, Gadis itu adalah Reni salah satu sahabat Saraswati. Reni merupakan anak dari pemilik toko makanan , ia sering menemaninya orang tuanya menjaga toko, dan hanya Reni yang teman Saras dikarenakan Saras seorang gadis pendiam dan kurang bersosialisasi.
Sehingga hanya Reni yang dekat dan mengerti dirinya karena sejak kecil mereka tumbuh bersama si desa ini. Reni yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengan Saras yaitu cerewet membuat persahabatan keduanya memiliki nilai sendiri.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Saras
"Oh, ayolah Saras, kabarku tentu saja baik apalagi, setelah bertemu denganmu. Ditambah saat bertemu denganmu kau membawa aura positif bersamaku." Ujar Reni sambil memegang setangkai bunga.
"Tidak seperti sebelumnya berhawa negatif!" Ucapnya lagi membuat Saras menatapnya.
Saras tentu saja tau apa yang dimaksud oleh Reni. Entah kenapa hubungan Reni dan Bibinya tak terlalu baik, membuat Saras bingung.
"Jangan bilang begitu Reni, bagaimanapun dia itu Bibiku, dia sebenarnya baik hanya saja terkadang memang begitu." Bela Saras membuat Reni memutar bola matanya.
"Sudahlah, kau selalu saja bilang begitu. Bibi ku baik dia begini dia begitu dia selalu sempurna di matamu." Ucap Reni kesal dan mencebikkan bibirnya.
"Kau tak membantu Ibumu?"
" Tidak, sebelum tangan ku menyentuh semuanya pasti sudah selesai, tangan ibuku kan ajaib." Ucapnya seraya memeragakan ibunya memasak.
"Ngomong-ngomong dimana nenek sihir itu?, eh maksudnya bibi Randu." Tanya Reni
"Bibi sedang di desa sebelah membantu acara disana. Karena itu aku yang menjaga toko sekarang." Jawab Saras.
"Pantas saja, kalau tidak mana mau dia membiarkanmu keluar dari dapur." Ucap Reni
Mereka pun berbincang sambil menata toko dan menunggu wisatawan berdatangan.
__ADS_1
Disisi lain di sebuah kebun apel, terlihat banyak pekerja yang tengah sibuk. Dikarenakan sekarang adalah musim panen dan peminat buah ini tentunya banyak.
Diantara pekerja itu, terlihat Ahmed dengan rekannya sedang memetik buah apel, saat sedangkan sibuk bekerja tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.
" Pak Ahmed!" Panggilnya
" Iya, ada apa?" Tanya Ahmed yang berhenti memetik buah.
"Bapak dipanggil sama tuan Maher." Ucapnya
Mendengar hal itu sontak membuat cemas dan berpikir yang tidak-tidak.
"Ada apa ini?, apa aku membuat kesalahan??"
batinnya.
"Semoga tidak ada masalah apalagi sampai dipecat, tenang Ahmed jangan berpikiran buruk" imbuhnya.
"Baiklah terimakasih." Ucapnya
"Sama-sama pak." Balasnya
Setelah itu, Ahmed pun bergegas menuju bosnya itu berharap tidak akan ada masalah.
Bersambung.......
Jangan lupa like, vote dan komen ya
__ADS_1
terimakasih sudah mampir
❤️