Lentera Cinta Permata Desa

Lentera Cinta Permata Desa
Persiapan


__ADS_3

Setelah menikmati air terjun dan bermain air, mereka segera pulang saat sore hari.


Sepanjang perjalanan mereka bercerita berbagai macam hal.


"Saras bagaimana menurutmu jika ada seorang pangeran yang datang melamar mu?" tanya Reni


"Pangeran??" ucap Saras


"Iya, seorang pangeran tampan, baik hati datang dan melamar dirimu, lalu ia membawa mu pergi dari sini menuju istana nya yang megah".


"Entahlah, aku tidak tau. Aku belum memikirkan nya" Ucap Saras.


"Lagipula apakah mungkin ada seorang pangeran yang akan melamar ku, sedangkan kita ini dari desa kecil mana mungkin akan ada pangeran yang akan datang" Jelas Saras


"Siapa yang tau Saras, mungkin saja suatu hari nanti ia akan datang dan membawa kebahagiaan untukmu". Ucap Reni


"Iya kak, aku berharap begitu, kakak ku saja cantik seperti ini. Tidak mungkin tak ada pangeran yang menolaknya". Goda Lala


"Sudah hentikan! " Saras merasa tersipu ucapan adiknya itu


"Hahahaha, lihatlah wajah kakak merah" Goda Lala.


"Iya, wajahmu merah seperti tomat" balas Reni.


"Awas kalian ya! " balas Saras sambil menggelitik Lala dan Reni bergantian.


Sedangkan di rumah, tampak Randu membawakan air minum untuk suaminya.


"Apa aku tidak salah dengar, pak Maher meminta mu ke kota??" tanyanya

__ADS_1


"Iya Randu, aku pun terkejut mendengarnya. Tetapi ternyata itu memang benar". Jelas Ahmed


"Kalau begitu, baguslah berarti pak Maher percaya padamu untuk mengurusnya. Akhirnya setelah sekian lama jabatan mu naik"


"Aku tidak mempersalahkan jabatan Randu, bagiku sama saja tetapi, aku senang mendapat kepercayaan pak Maher"


Mendengar ucapan suaminya, Randu merasa jengkel. Dimana-mana semua orang ingin naik jabatan dan gajinya bertambah supaya kehidupan mereka menjadi lebih makmur. Tetapi suaminya ini tidak berpikir begitu.


"Ya sudah, terserah kau saja. Aku akan mempersiapkan keperluan mu untuk berangkat ke kota" Ucap Randu


Randu pun meninggalkan Ahmed di teras, untuk mengurus keperluan suaminya. Sedangkan Ahmed menikmati teh nya sambil ditemani sore yang tenang.


Tak berapa lama terlihat Saras dan Lala pulang sambil membawa rantang makanan tadi siang.


"Selamat sore Paman" Ucap Sathi


"Selamat sore Ayah" ucap Lala


"Apa hari ini ayah pulang cepat??" tanya Lala


" Iya, hari ini ayah cepat pulang karena ada kejutan"


"Maksud ayah Suprise?" balas Lala


"Iya, pokoknya seperti itu sayang" Kekeh Ahmed.


Lala yang tidak mendapat apa yang ia harapkan, memanyunkan bibirnya kesal. Hal itu membuatnya menjadi lucu dan imut.


"Bagaimana keadaan toko tadi Sathi?" tanya Ahmed sambil mengelus kepala Lala.

__ADS_1


" Alhamdulillah, semuanya lancar paman. Bahkan tadi bunga laku keras tadi" jawabnya


"Sungguh????" ucap Ahmed


"Iya Paman, tadi kedatangan wisatawan dalam jumlah besar, sepertinya karena sedang musim semi. Banyak wisatawan yang ingin melihat bunga yang bermekaran disini." Jelas Sathi sambil memberikan pendapatan toko hari ini


"Syukurlah, ini untukmu. Simpanlah, anggap ini bonus untukmu" pinta Ahmed pada keponakan nya.


"Tidak perlu paman, aku ambil seperti biasa saja" Tolaknya halus.


"Sarashawati!" Ucap Ahmed tegas


"Dengar, paman tidak menerima penolakan!" tegasnya


"Iya kakak, ambil saja, ayah benar". Jelas Lala


Mendengar ucapan Pamannya yang menyebutkan nama nya dengan lantang, membuat Sathi tak mungkin menolak lagi.


"Terimakasih paman" ucapnya


"Sekarang mandilah, sebentar lagi kita akan makan malam" perintah nya


"Baik Ayah" jawab Lala


Saat Sathi akan melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Pamannya menghentikan nya dengan tiba-tiba.


"Dengar Sathi, paman tau selama ini apa yang terjadi. Karena itu paman memintamu menerima uang itu. Itu untuk kebutuhan mu nak, kau mengerti?" terangnya


"Iya Paman" balas Sathi

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2