
Ahmed pun menemui Bos nya Maher, terlihat pria paru baya itu duduk bersila sambil memantau para pekerja yang sibuk memetik apel.
"Tuan Maher." Panggilnya.
"Ah, rupanya kau sudah datang Ahmed."
"Kemari, duduk lah dulu aku lihat kau sudah bekerja keras apalagi cuaca begitu panas dan terik." Sambungnya
" Terimakasih Tuan, sebenarnya tak perlu, saya bisa berdiri saja." Tolak halus Ahmed.
"Begini tuan, ada gerangan apa saya dipanggil ke sini?" Tanyanya dengan cemas.
"Apakah saya melakukan kesalahan Tuan??" Ahmed memberanikan diri bertanya dengan perasaan was-was.
"Rupanya kau berpikir begitu ya? Menurut mu bagaimana Ahmed??" Tanyanya.
"Saya tidak bisa berpikir apa-apa Tuan." Ucapnya.
"Hahahaha!" Terdengar gelak tawa Tuan Maher membuat Ahmed kebingungan.
"Ahmed.....Ahmed, aku tidak mungkin memecat mu kau tidak melakukan kesalahan atau sebagai nya." Mendengar jawaban tersebut ada kelegaan dihati Ahmed.
"Begini, aku memanggil mu kemari karena aku ingin kau pergi ke kota untuk mengawasi para pekerja mengantarkan hasil panen kita kesana." Ahmed menajamkan pendengarannya.
"A- pa? Maksudnya apa saya tidak salah dengar Tuan. Karena biasanya saya hanya memetik buah saja."Ucap Ahmed tergugu.
"Kau tidak salah dengar, aku sudah lama melihat kinerja mu, anggap saja ini sebagai hasil usaha mu bekerja denganku." Pak Hanaf terlihat diam sejenak sambil memerhatikan ekspresi Ahmed sekarang.
"Kau adalah orang yang cocok untuk hal ini, aku sudah lama mengamati nya dan kau adalah orang yang tepat memegang nya."
"Terimakasih banyak Tuan, saya akan menjaga kepercayaan Tuan dan tidak akan mengecewakan Tuan." Ucapnya senang
"Aku harap begitu, dan ya kau akan pergi lusa ke kota. Oleh karena itu bersiaplah!"
__ADS_1
"Baik tuan!"
Setelah itu, Ahmed kembali ke tempatnya semula dan kedatangannya menjadi sorotan pekerja lain.
"Apa yang terjadi?" Tanya salah satu temannya
"Aku ditugaskan ke kota oleh Tuan Maher." Ucapnya.
"Syukurlah, aku pikir terjadi hal buruk."
"Tadinya aku juga berpikir begitu, tetapi ternyata bukan."
"Kapan kau akan berangkat?" Tanyanya lagi
"Lusa." Jawabnya
" Tuan Maher tidak salah, kau memang orang yang tepat!" Ujar pria berkulit sawo matang itu.
"Terimakasih, sudah menganggap ku begitu, kau juga orang baik." Ucap Ahmed.
"Hahahaha" gelak tawa mereka.
Ditengah terik siang itu mereka kembali bekerja dan berbincang-bincang di perkebunan apel.
Sedangkan di toko bunga, Saras kewalahan karena begitu banyak wisatawan yang datang hari ini. Dia tidak menduga akan membludak seperti ini, di satu sisi ia lelah disisi lain dia merasa senang karena toko begitu ramai.
Bagaimana tidak, bunga nya banyak laris dan hanya tinggal beberapa saja. Hal itu membuat nya tersenyum sambil menghitung pemasukan.
"Wah, hari ini banyak sekali!" Ucapnya senang
Saat asik sedang istirahat sebentar, terdengar suara pintu yang didorong.
" Wow, lihat banyak sekali bunga yang sudah laku terjual!" Ujar Reni sambil menunjuk ke arah salah satu keranjang.
__ADS_1
"Dan juga sepertinya banyak yang menyukai rangkaian karangan bunga mu tadi Saras." Puji Reni.
"Aku rasa juga begitu Reni, aku bersyukur sekali banyak yang datang dan membeli tidak seperti hari biasanya."
" Ya, kedai ibuku juga begitu sampai- sampai kami kewalahan dibuat nya. Apalagi ayahku terpaksa mengeluarkan jurus ampuhnya saat memasak." Ucap Reni dengan memeragakan cara memasak ayahnya.
"Syukurlah, pasti sangat lucu saat Paman melakukan nya." Ucap Saras sambil tersenyum
"Itu benar sekali!"
"Ayo, ku bantu menutup toko. Setelah itu kita bisa pulang cepat hari ini dan kita juga bisa bersantai" Ajak Reni.
"Kau benar, tapi.....
"Tapi apa? Ayolah Saras tidak usah pikirkan Bibimu itu. Lagipula kita hanya keluar sebentar saja, dia tidak akan tau. Selama ini kau selalu saja memikirkan nya dan tidak memikirkan dirimu sendiri." Reni terlihat kesal mendengar jawaban temannya itu.
"Kau juga perlu bersantai Saras, jangan terlalu memikirkan orang lain. Aku tau maksud mu baik tetapi, tidak begitu juga Saras."
Mendengar celoteh Reni membuat Saras terdiam. Memang benar yang dikatakan sahabatnya itu, lagipula ia tidak pergi jauh bukan.
"Baiklah." Jawabnya
"Nah, begitu seharusnya, kalau Bibimu itu marah, biar aku yang hadapi. Dan kau tidak perlu khawatir Ayah ku akan mengatakan nanti pada Paman mu." Ujar Reni.
"Aku akan mengajak mu ke suatu tempat, kau pasti akan suka." Reni terus bicara sambil membereskan toko dan Saras mendengarkan dengan baik.
Saras tersenyum senang dan mengangguk mendengar ucapan Reni. Ia berpikir pasti itu tempat yang indah.
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
Jika kalian suka ceritanya, Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya serta favorit ya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️