
Dalam rumah mungil inilah Lidia di besarkan oleh kedua orang tua nya meskipun hanya hidup seadanya namun Lidia tidak pernah mengeluh bahkan dia selalu membantu ayah dan bunda nya mengerjakan pekerjaaan rumah saat mereka sedang bekerja di kebun orang.
"Lidia.. bunda pulang sayang." Biasa kalau bunda dan ayah pulang dari kebun hari minggu Lidia sudah bangun tapi kali ini tidak terdengar suaranya.
Saat melewati meja di dapur menuju kamar mandi bunda mencium aroma masakan putri semata wayang nya. Lalu bunda bergegas membersihkan diri dan mencari Lidia di kamar nya.
"Lidia...kenapa tidur lagi sayang." Menempelkan telapak tangan pada jidat putri nya untuk mengecek kondisi badan Lidia.
"Bunda, Lidia pusing." Terbangun saat tangan dingin bunda sehabis mandi menempel pada jidat nya.
"Sayang, panas sekali, apa sudah minum obat?." mengusap pucuk kepala lalu berjalan menuju lemari plastik milik Lidia mencari sapu tangan dan mengambil air hangat yang ada di termos panas. Kemudian menggompres pucuk kepala dan jidat Lidia.
"Kenapa harus bangun dan memasak jika sedang sakit." Bunda sangat kagum namun bunda sedikit kesal karena Lidia tidak pernah mempedulikan diri nya sendiri, baginya tanggung jawab sangat lah penting tidak peduli dirinya sakit atau sehat.
"Bunda pergilah temani ayah makan, semoga bunda dan ayah sehat selalu ya." Meraih tangan bunda lalu mencium kedua telapak tangan milik bunda nya dan tersenyum manis melihat bunda yang mulai terlihat cemas.
"Ayah sedang pergi membeli obat di warung, bunda ambilkan makan lebih dulu buat kakak, supaya kakak bisa langsung minum obat saat ayah pulang." beranjak dari samping putri kesayangan nya namun Lidia menahan lengan bunda.
__ADS_1
"Mengapa membeli obat nda..? uang nya lebih baik untuk membeli beras, Lidia hanya demam nanti juga sembuh." Tidak ingin menghamburkan uang hanya untuk obat demam nya karena menurut nya membeli beras lebih penting, dia tidak ingin orang tua nya kelaparan saat pulang dari bekerja menoreh karet di kebun milik tetangga nya.
"Plak.. kakak sedang sakit harus minum obat bukan membeli beras." menepuk pelan tangan yang tadi sudah menahan tangan milik nya.
"A...sakit tahu ndaa.." Manyun bibirnya sengaja dibuatnya seperti mulut bebek namun sedikit tersenyum karena sesungguh nya pukulan bunda memanglah tidak terasa sakit.
Lalu bunda berjalan keluar dan sudah datang membawa sepiring makanan yang berisi nasi, sayur kacang panjang dan tempe goreng, kemudian menyuapi nya. Ayah pun datang membawa kan obat ke kamar sambil melihat kondisi Lidia.
"Minumlah sayang, supaya lekas sehat." Hanya obat warung yang mampu ayah beli tapi besar harapan untuk kesembuhan putri nya telah ia panjatkan pada Tuhan.
"Terimakasih ayah, maaf merepotkan ayah dan bunda, sampai harus menghamburkan uang." Tertunduk penuh haru hingga membuatnya harus meloloskan butiran air matanya yang telah memaksanya keluar. Dia sangat tahu bagaimana orang tua nya bekerja keras untuk mendapatkan upah demi membesarkan nya.
"Bunda selalu berdoa buat anak bunda yang paling cantik ini, semoga sehat selalu dan murah rezeki, teruslah berbuat baik sayang." Mengusap usap punggung Lidia.
"Iyalah Lidia paling cantik, kan anak bunda cuma Lidia ndaaa.." Tertawa sambil menggelitik bunda hingga mereka semua tertawa bersama.
Bunda dan ayah keluar dari kamar Lidia lalu menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh putri nya itu. Setelah makan ibu menyiapkan bahan - bahan membuat kue kukus yang selalu di titipkan ke warung di dekat rumah nya.
__ADS_1
Ayah berjalan melewati kamar Lidia yang tidak terkunci, ia melihat putri nya sedang melamun duduk di tepi tempat tidur nya.
"Mengapa melamun sayang, apakah kakak memikirkan sekolah? percayalah ayah akan mencarikan uang untuk membeli semua perlengkapan kakak, jangan terlalu memikirkan nya sampai jatuh sakit begini." Berbicara perlahan dan menyakinkan Lidia jika ia akan terus berusaha menggumpulkan uang untuk membeli seragam dan semua kebutuhan sekolah.
"Ayah, kakak tidak jadi ambil beasiswa itu, kakak sekolah di sini saja supaya tidak terlalu mahal , nanti siapa yang membantu bunda jika kakak sekolah di kota." Nampak bimbang hati nya seakan terbagi dua, satu sisi ingin meraih cita - citanya dengan melanjutakan sekolah ternama di kota tetapi satu sisi tidak ingin menyusahkan kedua orang tua nya, apalagi jika dia tidak ada siapa yang akan membantu bunda mengemas rumah.
"Sayang percayalah sebelum ada kakak, ayah selalu siap membantu bunda , sebenarnya dulu bunda tidak pandai masak atau mencuci pakean karena bunda..." Berbicara lirih menyemangati putri nya namun tiba - tiba terhenti saat mengingat bahwa bunda telah memaksa ayah untuk kabur dari rumah orang tua nya yang kaya raya karena akan di jodohkan pada anak rekan bisnis papa nya. Sedangkan ayah hanya seorang pelayan cafe di kota itu , namun sering menjadi idola kaum hawa karena paras ayah yang ganteng dan gagah.
"Bunda kenapa yah..?" Memperhatikan ayah nya yang justru berhenti berbicara dan tatapan nya jauh menerawang alam bebas. Lidia kembali bertanya pada ayah nya.
"Ayahhh...yahh.." Panggilan manja nya menyadarkan lamunan ayah nya yang telah jauh berkelana dalam alam pikirannya.
"Iyaa.. ha.. apa ?." Terkejut mendengar panggilan manja Lidia yang biasa di ucapkan untuk membujuk ayah nya saat Lidia ingin ikut ke kebun, bagi Lidia bermain di kebun mengumpul kan buah - buah yang berjatuhan dari pohon karet bersama anak - anak pekerja lainnya adalah hal yang menyenangkan tetapi ayah nya tidak selalu mengizinkan nya ikut karena mereka pergi bekerja pagi pagi buta dan disana banyak nyamuk.
"Bunda kenapa ayahhh...?." Mengulang pertanyaan nya kembali.
"Ohh.. itu bunda dulu anak yang manja, jadi tidak pandai memasak seperti anak ayah ini, jadi ayah yang selalu membantu nya. Makanya kakak tidak perlu khawatir jika nanti pergi sekolah.
__ADS_1
Merasa belum waktu nya untuk menceritakan kisah asal usul bunda nya, karena memang bunda sendiri yang berpesan pada ayah jika nanti waktu nya sudah pas , bunda sendirilah yang akan menceritakan siapa dan dari mana bunda nya berada. Sesungguhnya bunda ingin membawa Lidia ke kota bertemu dengan kakek , nenek dan tante nya namun bunda tidak punya ongkos, jarak desa ke kota di tempuh hampir 5 jam dan itu harus menggunakan bis kota yang satu orang saja di kenakan 100 ribu rupiah untuk berangkat saja, belum lagi dari rumah menuju terminal juga di kenakan ongkos 25 ribu.
Bagi mereka uang 100 ribu itu sangatlah banyak dan mereka harus menggumpulkan nya selama satu minggu dari hasil menoreh getah karet di kebun orang. Untuk memenuhi hidup saja mereka sangat berhemat itu pun terkadang selalu kurang hingga bunda harus membuat kue kukus untuk di jual ke warung terdekat.