Lidia

Lidia
Orang Kota II


__ADS_3

Setelah memberikan hape lama milik nya kepada bunda, Lidia segera berpamitan karena Reza meminta nya untuk segera berangkat supaya tidak terkena macet yang akan mengakibatkan lama nya perjalanan.


"Nda, kakak pamit, semoga bunda selalu sehat." Memeluk bunda yang ada disamping nya seperti enggan melepaskan nya hingga ayah pura - pura batuk saat bunda juga merasa terhanyut dalam pelukan perpisahan dengan putri semata wayang nya.


"Ayah.." Lidia dan bunda melepaskan pelukan nya lalu bersama - sama saling memeluk.


"Ayah percaya kakak pandai menjaga diri, semangat belajar nya." Mengusap lembut kepala putri tersanyang.


Adengan perpisahan antara anak dan orang tua kali ini membuat Reza mendesah seperti menyaksikan drama kasih sayang kedua orang tua hingga serasa akan di tinggalkan anak nya pergi jauh.


Hah..padahalkan hanya pergi ke kota bukan keluar kota, kenapa dramatis sekali.


"Kak, ayo kita berangkat." Tersenyum melihat Reza yang sedang memperhatikan nya namun pandangan nya seperti sedang berlari mengejar khayalan nya.


"Ha.. berangkat ? oh iya, sudah siap ya?." Terkejut dan seakan gagap ketika Lidia mengajak nya berangkat. Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Lidia, Reza pun membantu membawa kardus milik lidia dan memasukan nya ke dalam bagasi.


Tut..tut.. Suara remote mobil Reza membuka pintu mobil nya dan menyuruh Lidia segera masuk.


"Masuklah." Memasuki mobil nya duduk di kemudi dan mengerutkan dahi nya setelah melihat Lidia yang duduk di kursi belakang. "Jadi kamu masih menganggap aku sopir sampai kamu tidak mau duduk di depan ? hiss.." Masih mengerutkan dahi nya dan berbalik menatap Lidia yang duduk manis di belakang.


"Bukan begitu kak, Maaf hanya.. um.." Berbicara sambil menundukan kepalanya dan kedua tangan nya memainkan tali tas selempang yang di pangku nya.


"Um.. um.. apa ?" Makin tegas berbicara.


"Em.. takut kakak." Makin kuat memegang tali tas nya.


"O.. takut ya sama sopir ? buhh.. pindah." Berbicara pelan , lembut namun langsung mengejutkan Lidia dengan menyuruh nya pindah.

__ADS_1


"Ii..iyaa kak." Menggendong tas nya lalu beranjak keluar pindah kedepan.


Ayah dan bunda terheran - heran saat mereka tidak melajukan mobil nya hingga terus melambaikan tangan nya, dan setelah Reza bersiap meninggalkan rumah dengan berjalan pelan dan membunyikan klakson nya baru lah ayah dan bunda masuk ke dalam rumah.


***


Berlian Kenedi adalah teman kampus Reza kusuma yang terkenal mempunyai kekayaan dan usaha orang tua nya yang tersebar di berbagai kota, membuat dirinya menjadi anak yang sombong dan selalu ingin memiliki apapun yang ia mau. Sikap royal nya membuat Nina dan Yola selalu senang di dekat nya meskipun harus meladeni sikap manja dan emosional Berlian.


"Ngeselin banget ngak seh gue udah baik - baikin si Reza tapi malah di cuekin." Menjatuhkan tubuh nya diatas teman - teman nya yang sedang berbaring di tempat tidurnya.


"A.. sakit tau Ber.." Merintih kesakitan saat punggung nya tertimpa badan sexsi Berlian.


"Iya neh kita pulak yang kena getah nya padahal kita ngak ikut makan.." Menggerutu kesal.


"Umm.. ngomel, ngak sukak .." Merentangkan tubuh nya bebas di atas kasur besar milik nya sambil mengancam teman - taman nya hanya lewat lirikan sinis ke dua matanya.


"Ninaaa.."Melempar boneka teddy bear sambil berteriak memanggil nama Nina bersamaan Berlian dan Yola.


Berlian semakin kesal karena teman nya tidak mengerti maksud hati nya, yang merasa cemburu karena ulah Melli yang sengaja mengatakan jika kakak nya sudah mempunyai pacar.


***


Dalam perjalanan menuju kota Melli menghabiskan waktu hanya dengan tidur dan berhenti di swalayan mall terbesar di kota untuk membeli stock makanan juga mencari pakean untuk nya dan tidak lupa membelikan Lidia beberapa kaos dan celana jeans. Setelah itu papa dan mama langsung menghantarnya menuju kontrakan.


Berbeda dengan Lidia yang sangat menikmati perjalanan , mata nya tak lepas dari pemandangan di tepi jalan menuju kota, saat matahari mulai terbenam mobil yang di kendarai Reza sudah memasuki kota, lampu warna - warni menghiasi jalanan kota yang melingkar di pepohonan membuat Lidia semakin kagum bahkan dia tidak memperdulikan Reza yang fokus mengendarai mobil nya.


"Apa kamu belum pernah ke kota ?" Bertanya lirih saat melihat Lidia nampak begitu terpesona melihat pemandangan malam hari di kota.

__ADS_1


Saking serius nya Lidia tidak mendengar pertanyaan dari Reza itu membuat nya merasa tidak di anggap, apa lagi setelah pertama bertemu hanya di anggap sebagai sopir pribadi adiknya.


Gilak ya, baru kali ini aku di kacangin sama perempuan.


"Lidia.." Memanggil ulang dengan menyebutkan nama sambil terus memperhatikan jalanan yang mulai malam.


"Ya kak, kakak memanggilku ?" Berbalik menatap Reza yang pura - pura tidak melihat nya demi rada gengsi nya.


" Ya, aku kira kamu tertidur, dari tadi menatap jendela, seperti tidak ada orang saja di sini." Bertahan tidak melihat lawan bicara nya namun kata - kata nya mengartikan jika dirinya merasa di acuhkan.


"Ma'af kak, aku binggung mau ngomong apa sama kakak." Memegang sabuk pengaman yang ada di depan dada nya, seakan butuh kekuatan untuk membantunya berbicara.


"Memang wajahku menakutkan ya ?" Mengusap wajah nya lalu melirik Lidia.


"Tidak, wajah kakak tampan, hanya tidak tahu mau tanya apa, kan kita tidak pernah bertemu ?" Menjawab polos dan tanpa sadar mengatakan Reza tampan hingga membuat Reza tersenyum puas.


"O .. sopir tampan ya ha ha." Antara senang dan menyindir Lidia, julukan sopir padanya tidak pernah bisa lupa begitu saja, hati nya sangat tidak terima jika ada perempuan yang baru saja bertemu tetapi tidak menganggap nya dan ini baru pertama kali dia mengalami salah penilaian dari seorang perempuan.


"Maaf soal itu." Menarik - narik sabuk pengaman yang dia gunakan hingga tidak sengaja dada nya terjepret oleh sabuk yang dia mainkan sendiri hingga membuat Reza khawatir dan menghentikan mobil nya di tepi jalan.


"Makanya jangan minta maaf melulu tapi hati tidak iklas, sakit ?perlu aku gosok ?" Khawatir namun tidak ingin terlihat di mata Lidia, hingga menawarkan akan menggosok dada Lidia.


"Eits.. awas ya kakak macam - macam." Mendorong tubuh Reza yang mendekat dan memperhatikan nya. "Dilarang pegang - pegang tau..!" Memalingkan wajah nya dan tubuh nya kembali menghadap pintu mobil.


"Huh..bukan itu maksudku, pikiran mu kotor banget, tadi ngak mandi ya." Membalas sewot karena kali ini justru dikira ingin berbuat mesu* "Aku hanya ingin membantu tapi salah ucap, mana mungkin aku macam - macam sama anak ingusan." Masih tidak terima dan terus membela diri hingga mengatai Lidia ingusan, sambil kembali melajukan mobil nya dan tidak lama berhenti di sebuah rumah.


"Apa ingusan, memang nya anak sd, terus kenapa kita berhenti di sini, kakak ngak macam - macam kan ?" Menutupi tubuh nya dengan memeluk tas selempang dan menatap Reza ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2