
Ceklekk.. pintu depan di buka oleh Lidia dan betapa terkejutnya ternyata sekelompok ibu ibu yang tadi di sapa nya saat jogging datang menghampirinya.
"Halloo sudah cantik ternyata, ini ibu bawakan nasi lemak buat sarapan." Menyerahkan kantong plastik yang berisi streopom.
"Ini dari tante kue kue manis biar kamu makin manis hee." Memberikan sekantong aneka kue dari tangan nya.
"Kalau tante bawakan jus alpukat biar makin mulus kulitnya.." Tersenyum sambil memberikan jus dalam genggamannya.
"Ya ampun ibu ibu.." Setelah sempat melongo dan pasrah tangan nya di paksa menerima bawaan makanan dan minuman.
"Heistt..jangan panggil ibu dunk, tante aja kan lebih terdengar sama sama muda." Menoel lengan Lidia genit.
"Kalau saya mami dunk, siapa tau berjodoh dengan anak saya, ya ngak jeng hehee." Memandang kanan dan kira meminta persetujuan teman teman nya.
"Iya anak nya jeng Mela ganteng lohh" Menganggukan kepala. "Bay the way... si cantik ini siapa nama nya umm.." Mencubit kecil dagu Lidia.
"Saya Lidia tante, mami.." Saat hendak berjabat tangan dia binggung sambil menatap kedua tangan nya yang sudah penuh dengan bawaan.
"Ahh ngak usah sungkan." Langsung memeluk tubuh Lidia bahkan makanan nya terhimpit pelukan mereka berempat.
"Sudah sudah Lidia buruan di makan nanti keburu dingin loh.." Memegang tubuh mungil Lidia dan mendorong nya masuk ke dalam pintu.
"Tante dan mami mami ngak pada mau masuk neh?" Menoleh kebelakang menawarkan para ibu ibu untuk masuk.
"Lain kali saja, ngak enak bau asem ha haa hah.." Tertawa mencium ketek nya sendiri.
"Iya bener nanti Lidia ngak jadi makan karena bau." Menganggukan kepala nya ikut setuju dengan temannya.
"Ok bye Lidia besok kita jogging yaa.." Melambaikan tangan dan masih menoleh memandang Lidia sambil tetap berjalan pulang.
__ADS_1
"Ok bye.." Berdiri di depan pintu menatap para ibu ibu yang pergi meninggalkan rumah.
Menutup pintu dan masuk dengan membawa beberapa tentengan yang ada di kedua tangan nya.
"Apa itu Lidia, terdengar seru banget tadi ceritanya." Heran menyaksikan Lidia masuk membawa beberapa kantong.
"Ini ada beberapa kue tante, ayo kita makan." Berjalan ke arah meja makan dan meletakan semua di sana.
"Bagaimana bisa dapat begini banyak makanan, kamu order ya..?" Masih penasaran sambil membuka kantong plastik yang berisi beraneka macam kue.
"Bukan tante, tadi pagi waktu Lidia olah raga pagi ada ibu ibu yang lewat, Lidia hanya menyapa dan tersenyum tapi mereka datang bawain ini dehh." Membuka kantong yang berisi nasi lemak.
"Umm.. ini mah nama nya senyum membawa nasi lemak ha haha.." Mencium aroma nasi lemak.
"Senyum membawa berkah tante." Membenarkan kata kata tante Siska.
"Apa seh bahagia banget mama sama si combro." Berjalan mendekati mereka. "Wahh banyak sekali makanan, mama order online ya..?"Melahap satu kue dan masih mengamati kue mana lagi yang akan di lahap berikutnya.
"Emm..hebat juga ya daya tarik si combro wkwkw sering sering bilang sm si ibu." Tertawa namun tangan nya tidak lepas dari kue dan masih saja memasukan ke mulutnya sampai tersedak. "Hukk hukk.." Terbatuk batuk karena terlalu penuh dalam mulut nya di tambah makan sambil menertawakan Lidia.
"Tuh kualat kan sama aku, ehh.. ibu ibu..ha ha ha, minum nehh.." Tertawa namun sambil menuangkan air putih yang ada di atas meja.
Sementara Reza yang masih kesal hanya mendengarkan mereka sambil sibuk memainkan hape nya, namun semakin lama semakin penasaran mendengar suara Melli makan terdengar seperti sangat menikmati yang membuat naluri perut yang mulai keroncongan ikut berjalan membawa tubuh nya ke meja makan.
"Apaan seh bising banget." Mengamati kantong kantong yang ada di atas meja. "Wah. jus alpukat neh." Tangan nya menggapai gelas kemasan yang berisi jus alpukat.
"Eits.. itu punya Lidia." Menepuk tangan anak lelaki nya dan mengambil alih jus alpukat lalu menyerahkan pada Lidia.
"Ngak apa apa tante, neh buat kak Reza saja." Menyerahkan langsung ke tangan Reza secara paksa dengan meraih satu tangan Reza dan meletakan jus disana.
__ADS_1
Reza terkesima memandang Lidia hingga seperti terhipnotis menerima jus di tangan nya begitu saja padahal dia sangat gengsi menerima barang selain dari adik dan orang tua nya.
"Ayoo.. papa sudah siap.." Berjalan mendekat ke arah anak anak dan istri nya. "Loh sudah pada sarapan..?" Mendapati bungkus makanan yang sudah tak bersisa.
"Belum pa, ini mah cm kue doang." Berdiri meninggalkan meja makan dan menarik paksa papa nya.
"Belum apanya satu kantong abis gituu." Mama protes dengan jawaban putri nya. "Ayo Lidia.." Menggandeng Lidia karena sudah di tinggal Melli dan suaminya.
"Pa.. nebeng ya.." Lari keluar rumah mengejar mereka yang sudah ada di halaman.
"Ok, kunci pintunya dunk." Berdiri di samping mobil dan meminta untuk menutup pintu.
Jiahh..kenapa ngak pakai remot aja seh ini pintu, kan jadi balik lagi.
Reza putar balik lagi karena papa melihat dia tidak mengunci pintu hanya sekedar menutup nya, itu membuat nya merasa kesal.
Semua sudah bersiap di dalam mobil menunggu Reza yang sedang mengunci pintu dan sedang berjalan ke arah mereka.
"Ma.. mama di belakang aja lah, kan sama sama wanita." Berdiri di samping pintu depan.
"Ngak ahh, mama mau dekat papa aja, lagian kan duduk sama adik sendiri masa iya panas dingin." Mama tidak mau pindah justru meledek anak nyabyang sok jaim itu.
"Ha ha haa .. mungkin saja ma, jantung kak Reza dag dig dug karena deket sama calon pacar." Melli tertawa menanggapi kata kata mama nya.
"Plokk.." Lidia memukul tangan sahabatnya.
"Apaa seh, sakit tau combroo." Menggeser duduk nya menepi ke pintu. "Loh kakak ngapain, sana sana." Kaget saat pintu samping di buka oleh kakak nya namun tak habis akal, dia mendorong tubuh sang kakak dengan sekuat tenaga keluar dan buru buru menutup pintu lalu mengunci nya. Membuat Reza mau tidak mau duduk di samping Lidia.
"Sudah semua neh." Papa mengabsen sambil tersenyum bahagia melihat putra nya yang salah tingkah karena duduk begitu dekat dengan perempuan yang bukan sedarah.
__ADS_1
"Siapp paa.. gas pol paa..ha ha.." Tertawa terkekeh sambil melihat wajah sang kakak yang ada di samping Lidia.
"Jadi kita mau sarapan di mana neh ?" Mama membuka suara untuk menghentikan Melli yang sengaja menjahili Reza dan sahabatnya yang juga berubah menjadi diam seribu bahasa.