Lidia

Lidia
Kunjungan Melli


__ADS_3

Setelah bercerita dengan ayah Lidia merasa badan nya sudah membaik lalu pergi ke dapur membantu bunda mengukus kue.


"Sini kakak saja yang kukus kue nya nda.." menghampiri bunda yang sedang berdiri di depan kompor memasukan satu persatu kue yang sudah disiapkan.


"Memangnya kakak sudah baikan ?." Menatap ke arah Lidia yang ada disampingnya ikut berdiri di depan kompor.


"Sudah dunk, lihat saja kakak sudah cantik lagi." Mengibaskan rambut sebahu nya dengan kedua tangan nya, sambil mengangguk anggukan kepala, tersenyum menertawakan dirinya sendiri yang merasa cantik.


"Kalau cantik itu memang keturunan dari bunda, jadi bunda yang cantik lebih dulu baru kakak hehehe" Sengaja meledek anak termanis nya sehingga Lidia protes tidak mau kalah.


"Tapi bunda anak yang manja kan dulu beda sama kakak anak yang rajin jadi kakak pandai masak apa saja hahahaa." Ingat akan kata - kata ayah nya yang menceritakan sedikit masa lalu bunda untuk membalas kejahilan bundanya.


Namun bunda terdiam saat Lidia mengatakan bunda nya anak manja, jleb kata - kata manja itu menusuk relung hati bunda yang memang sejak kecil di lahirkan sebagai seorang princess, apa saja yang bunda ingin kan selalu tersedia, bahkan mainan terbaru selalu ia dapatkan, tapi semua itu dulu saat bunda masih tinggal bersama orang tua nya, setelah bunda memilih pergi jauh dari kota, menghindari perjodohan dan memilih ayah sebagai suami nya, kini semua sangatlah jauh berbeda. Bagai roda yang telah berputar dari atas ke bawah dan paling bawah.


"Bundaa.. bunda jangan marah, kakak hanya bercanda." Memeluk bunda yang terdiam mematung menatap bolu kukus di depan nya.


"A.. kakak kenapa seh meluk bunda tiba - tiba kalau kita jatuh bagaimana ?." Terkejut saat Lidia mendekap erat tubuh nya, sehingga membuat tubuh nya tidak seimbang.


"Bunda seh... marah gitu aja." Meluncurkan bibir bebek andalan nya untuk mendapatkan perhatian dari bunda.


"Umm.. Dari mana kakak tau kalau bunda dulu manja ?." Meraih kedua tangan anak nya lalu duduk di lantai bersila, karena memang tidak memiliki kursi, dapur yang hanya sepetak itu hanya ada meja kompor yang di rakit sendiri oleh ayah menggunakan kayu seadanya, begitu juga meja untuk meletakan makanan juga ayah yang membuat nya.

__ADS_1


"Tok.. tokk.. Assalamualaikum.. Lidia." mengetuk pintu yang sesungguh nya tidak terkunci hingga menampakan isi dalam rumah yang kosong tanpa vigura atau keramik seperti di rumah nya.


"Walaikumsalam..." Berjalan keluar menghampiri suara yang ada di depan rumah nya.


"Lidiaaa.."


"Melli..." Kedua nya saling terkejut sudah seminggu mereka libur sekolah karena memang sudah selesai tinggal menunggu waktu masuk SMA. Setelah puas saling berpelukan Melli mengenalkan mama nya pada Linda.


"Kenalin ini mamaku yang paling cantik Lid.. ma ini Lidia si bintang sekolahan." mempersilahan kedua nya saling berkenalan dengan gaya seperti pramusaji yang telah siap menyiapakan hidangan.


"Halo tante saya Lidia." memberikan tangan nya untuk berjabat tangan tapi mama nya Meli justru memeluk nya.


"Oh iya maaf tante, ayo silahkan masuk." Berjalan mendahului Meli dan tante Siska.


"Maaf ya tante, Mel, duduk nya hanya beralaskan tikar." Merasa tidak enak karena yang datang mengunjungi nya adalah orang kaya, sudah pasti tidak terbiasa duduk beralaskan tikar.


Mendengar suara yang ramai bunda ikut keluar melihat siapa yang datang berkunjung, tidak biasanya rumah mereka ada yang bertamu.


"Ada tamu rupanya, Linda kenapa tidak dibuatkan minum sayang." Melirik dan mengerutkan dahinya.


"Iya bunda tadi keasyikan ngobrol, kenalin ini Meli dan tante siska nda, baiklah Linda tinggal buat minum dulu ya Mel, tante." Berlalu menuju dapur membuat teh manis dan membawakan kue kukus buatan bunda.

__ADS_1


"Silahkan diminum dan di makan kue kukus buatan bunda yang fenomenal ini tante hehee." Menyanjung bunda nya yang selalu menyayangi nya.


"Wah bunda pandai sekali bikin kue tidak seperti mama xixixi." Tertawa tanpa dosa sambil makan kue buatan bunda .


"Haha bunda dulu juga tidak pandai bahkan ayah yang ngajarin xixixii." Kedua nya kompak menjatuhkan mama dan bunda sampai tidak bisa mengontrol tawa mereka, sedangkan yang di tertawakan hanya saling memandangi anak anak mereka seperti ingin mengelak tapi memang begitulah adanya.


"Umm.. puas ya ngatain mama, awas nanti tidak mama izinkan sekolah di kota." Sedikit mengancam namun hanya candaan buat mereka. Dan mengingatkan tujuan mama Siska datang jauh - jauh ke rumah Linda.


"O iya, maksud kedatangan kami kesini adalah mau minta tolong sama Linda, untuk menemani Meli sekolah di kota, saya sudah mendapatkan rumah kontrakan dan sudah saya bayar semua nya, jadi nanti tinggal masuk saja." Memberi penjelasan bahwa Linda tidak perlu lagi membayar, hanya ingin menjadi teman untuk Meli disana.


"Trimakasih banyak tante Siska, tapi maaf saya tidak jadi sekolah di kota." Bimbang karena memikirkan uang seragam dan buku yang nilai nya sampai berjuta juta, tidak ingin membuat bunda dan ayah nya harus berhutang untuk membayar nya. Bunda hanya pasrah dengan jawaban putri nya, karena memang belum sanggup mendapatkan uang sebanyak itu.


"Lidia bukankah kamu bilang sangat senang mendapat beasiswa di sana, kamu bilang ingin sekali sekolah di sana, kenapa sekarang kamu membatalkan nya ?." Emosinya Meli tidak terkontrol saat mendengar penolakan Lidia, sesungguhnya Meli mau sekolah di kota juga karena tahu Lidia mendapatkan beasiswa disana, bahkan saat itu Lidia mengatakan jika ingin bisa sekolah disana.


"Maaf Mel, tapi ayahku tidak akan sanggup membayar uang buku juga seragam sekolah, aku tidak ingin menyusahkan nya, meskipun dia sudah mengumpulkan uang hasil menoreh tapi itu tidak akan cukup untuk membayar sekalipun hanya setengah nya." Menjelaskan apa ada nya kondisi keuangan ayahnya yang tidak mampu untuk menebus semua keperluan sekolah nya, akhirnya Lidia memilih tidak mengambil beasiswa di sana.


Bunda memeluk sambil menangis tersedu - sedu mendengar alasan putri nya yang tidak ingin menyusahkan ayah nya, betapa beruntung nya mereka memilik seorang anak yang paham akan keaadan mereka, kasih sayang yang mereka berikan membuat nya tumbuh menjadi anak yang lebih menyayangi dan peduli akan orang tua nya.


"Begini bunda, Lidia, maaf bukan maksud apa - apa saya hanya ingin membantu, saya akan membayar dan memenuhi semua kebutuhan Lidia sampai kalian lulus sekolah, Meli hanya mau sekolah disana jika bersama Lidia, bahkan Lidia yang sudah banyak membantu Meli dalam belajar, jadi saya mohon diterima dan jangan salah paham."


Mama Siska sangat berharap bunda dan Lidia tidak tersinggung akan niat baik nya. Karena memang ia tulus ingin membantu.

__ADS_1


__ADS_2