Lidia

Lidia
Penasaran


__ADS_3

Melli pun mengikuti kakak nya masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangan pada sahabat nya. Lalu berteriak mengucapkan terimakasih.


Dasar anak mama kalau ngak teriak memang bukan Melli banget deh.


Lidia berbicara dan senyum - senyum sendiri hingga tanpa sadar terlihat aneh oleh bunda yang baru pulang dari kebun.


"Hayoo lagi jatuh cinta ya anak bunda , ciee senyum - senyum sendiri." Ngeledek penuh tanda tanya dan membuat penasaran apa yang ada dalam pikiran putri tunggal nya itu.


"He he .. nama nya juga sudah mau sma , ya ngak kak ?." Sambung ayah ikut ngeledek si kakak.


"Apaan seh nda, ayah.. orang lagi ngetawain si Melli, dia bela - belain datang kesini lagi cuma karena kakak telfon kalau ada combro." Menjelaskan isi dalam pikiran nya sehingga membuat nya tersenyum sendiri karena tidak ingin bunda dan ayah salah paham.


"Lahh..memang beneran ada combro ?." Bertanya sambil mencuci tangan dengan air yang ada di dalam ember depan rumah.


"Ada nda, tadi ubi yang di dapur kakak bikin combro, abis lama bunda ngak bikin seh." Mengeluarkan suara rengekan seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada ibu nya.


"Rencana bunda juga mau buat sore ini, tapi sudah keduluan kakak, rezeki bunda berarti hehe."


Lalu mereka masuk ke dalam rumah setelah ayah membuka kunci gembok. Rumah sudah mulai nampak gelap karena magrib sudah tiba. Lidia menyiapkan makan malam untuk ayah dan bunda lalu mereka makan malam bersama setelah nya mereka bercanda bersama di temani acara tv nya yang mungil.


"Kakak sudah menyiapkan pakean yang akan kakak bawa besok." Bunda bertanya tentang persiapan Lidia.


"Belum lah bun, kan masih lama, kalau di packing sekarang nanti kakak ngak punya baju dunk." Menjawab sekena nya sambil menyaksikan acara televisi. Namun jawaban itu membuat bunda nya merasa sedih.


"Benar juga, maaf ya kak, bunda tidak bisa membelikan pakean setiap bulan, sehingga baju kakak hanya sedikit." Meraih tubuh mungil Lidia dan memeluk nya.


"Yahhh.. baper deh bunda, siapa juga yang mau di belikan baju setiap bulan, semakin banyak baju semakin banyak cucian, dan ribet bawa nya nda." Tidak ingin melihat bunda nya bersedih akan maksud jawaban polos nya tadi maka Lidia menghibur bunda nya.


"Ya begitulah bunda ngak cuma baper tapi suka cemburuan kalau ayah dekat sama perempuan." Menggigit combro sambil tersenyum ke arah bunda yang juga menatap tajam ke arah ayah.

__ADS_1


"Hahaha ayah malah curhat,tapi bagus dunk kalau bunda cemburu itu artinya bunda sayang ayah, awas ya kalau ayah nyakitin hati bunda." Jadi merasa sewot ikut merasakan hati bunda dan mengancam ayah jika tidak boleh nyakitin hati bunda nya.


"Yahh.. kok jadi ayah yang kena marah, kan tadi maksud nya kalau bunda itu suka baperan dan ayah hanya menambahkan sedikit." Merasa di serang anak dan iatri nya.


"Iya kalau ayah berani nyakitin bunda, biar saja bunda nyusulin kakak ke kota." Bersikap seolah abg yang sedang merajuk pada kekasih nya, hingga di tertawakan oleh anak dan suami nya.


"Ha ha ha aa.. bunda kalau ngambek makin cantik ya yah." Menertawakan bunda dan mencari dukungan dari sang ayah.


"Makin cantik dan menggemaskan, comel seperti anak kucing." Bermaksud menghibur dan mencari perumpamaan namun salah di mata bunda.


"Jadi bunda mirip anak kucing ? tega banget ayah, awas ya jangan tidur sama bunda, titik." Merajuk dan pergi masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu.


"Lahh..salah lagi, kak bantuin ayah dunk, bunda jadi merajuk tuh." Menghibur tapi jadi nya salah tanggap dan membuat bunda merajuk, ayah pun mintak bantuan kakak untuk membujuk bunda.


***


Ku tak percaya kau ada disini..


Sungguh bahagia, kau ada disini..


Menghapus semua, sakit yang kurasa..


Mungkin kah kau merasakan, semua yang kurasakan.


Kenanglah kasih..


Melli mendengarkan lagu milik band viera di dalam mobil, sangat menikmati perjalanan yang tadi nya membuat nya capek tapi kali ini sangat bersemangat. Sedangkan Reza sibuk dengan pikiran nya sendiri menerka - nerka tentang Lidia, hingga akhirnya dia menuangkan rasa penasaran nya dengan bertanya pada adiknya.


"Yakin, temen adek itu pandai ?." bertanya lirih seperti engan tapi penasaran. " Nampak biasa saja." Masih tidak yakin.

__ADS_1


"O..kakak penasaran rupanya, ha ha.." Bukan menjawab melainkan meledek kakak nya sambil tertawa menatap wajah cool sang kakak.


"Ngak juga, cuma heran saja, kok bisa - bisa nya dapat beasiswa di sekolah berkwalitas." Menyangkal rasa penasaran nya.


"Nah itu tahu, mana ada sekolah berkwalitas mau memberi beasiswa jiwa tidak pandai humm, aneh kakak mah."


Tanpa mereka sadari sudah sampai di rumah nya, dan tentu saja Melli sangat heboh teriak mencari mama nya tak lain karena ingin pamer combro pemberian sahabat nya.


"Mbok nah mama dimana ?." Bertanya pada si mbok yang sedang menyiapkan makan malam di dapur.


"Nyonya ada di atas non." Menjawab singkat


"Kak, tolong panggil mama turun ya, sekalian he he." Meminta Reza untuk memanggilkan mama saat mengetahui kakak nya menaiki tangga. Namun Reza terus berjalan dan hanya menjawab singkat permintaan adek tersayang nya.


Mama pun segera turun dan menemui putri nya di meja makan yang terlihat sedang menikmati makanan.


"Maa..maa.. sini deh cepat..!" Selalu saja heboh dan tidak sabaran.


"Makan apa tuh dek ?" Berdiri di depan Melli dan penasaran apa yang di makan nya.


"Cobain deh ma, enak banget.. ini namanya combro." Menyodorkan kotak yang berisi combro di hadapan nya.


"Umm..enak, gurih dan pedas, beli di mana dek ?" Bertanya asal si combro karena mbok nah tadi bilang akan membuat perkedel , ayam goreng serta sayur sup makaroni kesukaan papa.


"Itu tuh ma, barang yang di bilang ketinggalan, ternyata cuma karena mau mintak combro." Menjawab mendahului Melli ketika dia sudah berada di bawah setelah tadi naik menganti celana jeans nya dengan celana pendek.


"Ya ampun dek, mereka saja kekurangan, kenapa adek mintak, harus nya adek yang memberi." Mama merasa malu saat mereka kekurangan tetapi anak nya justru meminta makanan dari mereka.


"Ma, Lidia yang telfon adek kalau dia membuat combro dan adek suka, karena saat sekolah bunda sering bawain juga buat Melli, mereka dapat ubi nya dari kebun jadi tidak beli." Tidak merasa bersalah karena memang biasa nya bunda selalu membawakan makanan lebih untuk nya juga.

__ADS_1


"Kenapa adek tidak bilang bila sering di kasih makanan dari bunda nya Lidia, adek tahu kan mereka menjual makanan itu sebagian ke warung, untuk mencari uang tambahan. Baikalah besok adek datang lagi mama akan belanja kan sembako untuk mereka." Mama memberi penjelasan panjang lebar pada anak gadis nya yang masih polos itu, yang Melli tahu hanya kebahagiaan, apa yang dia inginkan mudah saja dia dapatkan, berbeda dengan Lidia dan keluarga nya.


__ADS_2