Lidia

Lidia
Cinta Ayah


__ADS_3

Setelah sahabat nya pulang bunda dan Lidia bersiap membuat kue kukus dan bunda pagi ini sengaja pulang lebih awal karena ada yang order aneka kue buatan bunda. Namun seharusnya ayah juga sudah pulang tapi sampai jam 10.00wib belum juga nampak batang hidung nya, membuat Lidia resah dan terus bertanya pada bunda.


"Nda, ayah mana seh ? kenapa lama sekali." Mengaduk adonan hingga terdengar bergesek kencang antara baskom dan spatula.


"Sebentar lagi juga pulang,ada apa memang nya, sampai manyun begitu..?" Memasukan satu demi satu kue ke dalam kukusan sambil menjawab tenang pertanyaan Lidia.


"Ndaa..ini sudah lewat satu jam dari biasanya." Mengisi cetakan yang sudah di siapakan untuk di kukus namun wajah nya terus di tekuk.


"Kakak pergi jemput ayah ya nda." Muncul ide untuk menjemput ayah nya, karena motor di bawa pulang lebih dulu oleh bunda.


"Ayah pulang bareng sama pak Zul kak.." Menyentuh pundak putri nya agar tidak terlalu risau. Namun Lidia bergerak dari tempat duduk nya lalu berjalan keluar melihat apakah ayah nya sudah kembali.


Huh..ayah kemana saja seh, tidak biasanya selama ini.


Duduk di depan pintu rumah dan tak henti - henti menatap jalanan , menanti seorang ayah yang tidak biasa nya pulang terlambat sampai berjam - jam.


"Ayah..." Berlari menghampiri ayah yang baru turun dari motor pak Zul yang di tumpangi nya.


"A..yahh..kenapa tangan ayah?" Menarik pelan lengan ayah yang robek akibat sayatan pisau penoreh getah.


"Hanya tergores saja, tadi pak Zul sudah mengoleskan getah bunga vinisilin." Berjalan beriringan menuju rumah.


"Memang di kebun ada bunga vinisilin ?" Tidak percaya jawaban sang ayah.


"Bukan di kebun tapi di sepanjang jalan pak Zul berhenti mencari bunga vinisilin dan akhirnya menemukan nya , lalu mengoleskan nya hingga darah nya berhenti, percayalah ini akan segera sembuh."


Saat tiba di depan pintu rumahnya Lidia langsung berteriak memanggil bunda.


"Ndaa..ayah ndaa." Suaranya terdengar panik hingga membuat bunda bergegas meninggalkan dapur dan berlari menemui ayah.


"Ayah kenapa, Ya Allah...kenapa bisa begini yah?" Ikut panik lalu meraih tangan ayah yang terluka.


"Nda , cepat bawa ayah berobat." Menarik lengan bunda dan mengguncang - nguncangkan nya.

__ADS_1


Sesaat mendengar Lidia meminta bunda nya membawa ayah pergi berobat mereka saling pandang, dalam pikiran mereka saat ini adalah berjuang mengumpulkan uang untuk bekal Lidia tinggal di kota.


"Kak, ayah baik - baik saja,besok juga luka sobek nya akan menyatu jika ayah selalu mengoles nya dengan getah vinisilin,itu obat paling mujarab sedunia he he." Tertawa merayu anak nya untuk tidak memaksanya pergi berobat, karena bagi nya pergi berobat sama saja dengan menghamburkan uang.


"Ayah yakin, beneran ini akan cepat sembuh?" Meniup luka ayah perlahan - lahan sambil menangis sesugukan.


"Pok,eii dasar anak ayah sama cengeng nya." Memukul lengan anak gadis nya pelan saat mendengar nya tersedu - sedu.


"Biarin,kakak kan memang anak ayah." Memeluk ayah penuh haru.


***


Melli dan Reza menikmati perjalanan pulang mereka sambil mendengarkan radio, saat melintasi sebuah toko aneka kue ia meminta Reza untuk singgah.


"Kak, adek mau kue itu, boleh ya ?" Menunjuk toko kue yang ada di seberang jalan.


"Dirumah kan banyak kue." Menjawab singkat.


"Tapi yang ini beda kak, ayolah kak ini beneran enak tahu." Mulai mengeluarkan sisi manja nya hingga membuat Reza tak kuasa menolak permintaannya.


"Hai Za.. tumben kamu main kesini?" Menarik satu kursi lalu duduk di hadapan Reza.


"Adekku ingin membeli kue." Cuek tanpa ekspresi.


"Oya, aku kira kamu merindukan ku hee.." Tersenyum manis sambil menatap wajah tampan di hadapan nya.


"Ngak ada hubungan nya membeli kue dengan mu." Menjawab ketus tanpa memandangnya.


"Ada dunk, ini kan toko kue milik mami ku." Menjawab manja dan menyombongkan diri sambil mendekatkan wajahnya di hadapan Reza, berharap diperhatikan.


"Kak ayo pulang." Menarik lengan sang kakak dan tidak menghiraukan gadis cantik di hadapan kakak nya.


"Eits, tunggu dunk adik cantik, kenalin neh Berlian calon kakak ipar hee." Memberikan tangan nya untuk berjabat tangan sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Apa ? calon kakak ipar ha ha yang benar saja, kak Reza mah sudah punya pacar, pacar nya lebih cantik dari kak Berlian, huem." Tidak membalas salam tapi justru melototkan mata nya dan berbohong jika kakak nya sudah memiliki seorang pacar.


"Tidak mungkin, aku saja tidak pernah melihatnya di kampus, pasti kamu berbohong kan ? ho ho." Tertawa tapi terdengar kecewa akan penjelasan Melli.


"Sudahlah ayo kita pulang." Berlalu meninggalkan tempat duduk nya tanpa menyapa Berlian.


"Bye kak Berlian." Melambaikan tangan nya dan tersenyum licik.


"Bye Reza." Masih terus berharap perhatian dari Reza.


***


Bunda menyiapkan makan untuk ayah, setelah ayah selesai membersihkan diri dia melihat tumpukan kardus berisi sembako.


" Nda ini sembako dari mana? kenapa banyak sekali ?" Heran di dapur banyak bahan makanan padahal ayah tidak membeli nya.


"Mama nya Melli yang memberikan nya, tetapi nak Reza dan Melli yang menghantarkannya kemari, katanya tanda terimakasi karena Lidia suka membagi makanan sama Melli." Menjelaskan datang nya sembako yang ada di rumahnya.


"Ya Allah baik nya keluarga Melli padahal apa yang di berikan oleh Lidia tidaklah sebanding dengan semua ini, nda nanti bagilah dengan pak Zul rezeki yang kita dapat ini, supaya Allah selalu memberi kita rezeki meskipun lewat orang lain, ini semua berkat kebaikan Lidia yang bunda ajarkan padanya, ayah bangga memiliki kalian, maafkan ayah yang tidak mampu memberi rezeki yang berlimpah."


Duduk bersila di lantai menatap tumpukan bahan makan yang berlimpah menurut ayah, karena mereka tidak pernah mampu membeli bahan makanan sampai berlebih. Terkadang ayah belanja hanya sebungkus demi sebungkus, tidak ada istilah stock bulanan di rumah nya. Membuat dirinya merasa bersalah terhadap istri dan anak nya karena selama hidup bersamanya tak pernah memiliki harta yang berlimpah.


"Ayah, cinta dan perhatian dari ayah adalah harta yang sangat berlimpah, rezeki semua Tuhan yang mengaturnya jadi jangan pernah menyalahkan diri ayah , kami juga bahagia memiliki ayah, sudah sekarang makanlah, apa mau bunda suapin?"


Mendekatkan nasi yang sudah disiapkan dari tadi tapi tak kunjung dimakan, karena terharu.


"Mau banget di suapin biar di bilang romantika he he." Tertawa kecil.


"Romantis ayah bukan romantika huh belum tua sudah pelupa." Mengambil sesendok nasi dan sayur lalu menyuapkan nya penuh - penuh.


"Um.. kirain ayah sudah ganti namanya o.o.o.." Kesusahan bicara karena bunda sengaja menyuapi penuh dalam mulut ayah.


***

__ADS_1


Bantu Like, Vote dan Rate nya kakak biar makin semangat up nya. Di tunggu ya.


Makasii..🙏


__ADS_2