Lidia

Lidia
Udik


__ADS_3

Ahh.. kayak nya lari pagi lebih baik dari pada bengong nungguin orang ngak bangun - bangun.


Kembali ke kamar untuk memakai sepatu sekolah lalu pergi keluar untuk lari pagi di sekitar halaman rumah. Tiga kali putaran tidak membuat nya lelah karena dia sudah terbisa pergi dengan berjalan kaki namun keringatnya terus mengucur di tubuhnya bahkan rambutnya sudah mulai membasahi kepalanya. Pagi mulai nampak cerah sehingga sudah banyak orang berlalu lalang.


"Pagi ibu, jalan pagi ya..?" Menyapa ramah ibu - ibu yang sedang jalan pagi bersama.


"Iya, ayo jalan pagi sama - sama, baru pindah ya mba ?" Membalas tersenyum dan bertanya balik.


"Iya baru semalam kami pindah buk, trimakasih saya sudah dari tadi pagi buk." Menundukan kepala nya menghormati yang lebih tua saat menolak tawarannya.


"Baiklah kalau begitu lain kali kita jalan pagi sama - sama ya, biar makin seru he he.." Para ibu berpamitan melanjutkan jalan pagi sementara Lidia menyudahi lari pagi nya karena sudah satu jaman dia berolah raga.


Lidia masuk sambil menenteng sepatu sekolah nya karena takut lantai keramik nya kotor karena terkena sepatu yang dia pakai untuk lari pagi. Sebelum mandi Lidia merasa haus dan pergi ke dapur hendak mengambil minum. Terlihat papa dan mama Melli sedang asyik menikmati teh buatan Lidia.


"Pagi om , tante.." Menyapa girang namun suaranya terdengar ngos - ngosan.


"Pagi Lidia.. kenapa wajahmu merah padam begitu, dan rambutmu basah semua? apa tidak menyalakan ac ?" Papa dan mama Melli menjawab bersamaan namun tante siska dibuat penasaran dengan raut wajah Lidia yang nampak lelah dan berkeringat.


"Nyalain kok tante, cumaa.. tadi pagi aku menggigil jadi aku matiin, tuz ngak bisa tidur lagi makanya aku lari pagi.. hee.." Menjelaskan semua yang telah terjadi pagi ini.


"Dasar udik.." Reza datang melintasi dapur hendak mengambil air minum dan mendengar penjelasan Lidia.


"Rezaa.." Papa menatap anak sulung nya geram. "Jaga bicaramu." Memarahi anak nya karena menghina orang lain.

__ADS_1


"Jangan dengarkan kak Reza dia hanya bercanda saja, bahkan sama orang lain dia lebih cuek, tidak pernah ikut bersuara, tapi dengan Lidia dia mau berbicara meskipun jahil he hee." Tersenyum menjelaskan kepribadian putra sulungnya.


"Lidia pergi mandi dulu ya, takut nya nanti om dan tante pingsan deh ngobrol lama - lama karena bau asem ha ha a a.." Tertawa polos meskipun Reza menghina nya tidak sekalipun dia simpan dalam hati nya.


" Ha ha haa.. iya sana gih mandi dulu biar seger, btw trimakasih teh nya yaa sayang." Tante Siska semakin dekat dan bangga dengan Lidia yang rajin dan tidak mudah tersinggung.


"Pagi ma pa.." Melli datang menyapa "Lidia belum bangun ma?" Celinggukan melihat meja makan dan ruang tengah yang ada hanya kak Reza, tidak nampak batang hidung Lidia.


"Dia bangun paling awal, sudah membuat teh untuk kita semua bahkan sudah olah raga pagi." Menjelaskan aktifitas Lidia pagi ini.


"Semoga anak kita ketularan ya ma .." Menyindir Melli namun hanya berbicara kepada mama sambil meminum teh nya.


"Ngak usah pakai nyindir kalii pa.." Ikut meminum teh yang sudah mama tuangkan dalam cangkir.


"Bagus dunk pa, berarti ini awal yang baik, mama percaya Lidia bisa menjadi contoh yang baik buat princess kita." Merangkul putri satu satunya yang duduk di sebelah nya. "


"Cepat mandi , cepat cari sarapan yuk, papa sudah sangat lapar." Berdiri hendak menuju kamar utama. Mama sengaja mengontrak rumah yang besar karena ingin sering menginap untuk mengunjungi anak gadisnya.


"Sekalian keluar belanja bulanan ya pa, katanya Lidia ingin masak sendiri." Ikut berdiri dan berjalan meninggalkan Melli yang masih ingin minum teh.


"Ok." menjawab singkat sambil terus berjalan.


Saat melintasi ruang tengah mama melihat Reza sedang tersenyum senyum namun mata nya terus memandangi atap rumah hingga tidak menghiraukan mama yang berhenti dan berdiri menatap nya.

__ADS_1


Humm..sepertinya Reza sedang jatuh cinta,hingga lamunanan nya jauh menggembara, puber kalii ya nama nya ha ha haa.. Aku kagetin dehh.


"Kecoak.. kecoakk..a.. a...." Melompat lompat gelii sambil terus menyimak wajah Reza karena tidak sabar melihat ekspresi kaget saat mendengar ada hewan yang paling menggelikan buat Reza.


"A... kecoakk.. mamaaa.. kecoakk ma.." Berdiri menaiki sofa yang tadi dia buat tiduran sambil menyandarkan tubuh nya, tanpa di sangka alam sadar nya begitu cepat merespon saat mama meneriakan nama kecoak di sampingnya hingga tubuh nya benar benar merasa geli dan masih berdiri di atas sofa.


"Ha haa haha." Begitu bahagia nya menyaksikan anak tertampan nya hingga pucat pasi mendengar kecoa karena pernah trauma saat ada kecoak terbang tanpa disangka jatuh di wajah nya. Sudah tidak memperdulikan rasa malu dan gengsi jika bertemu dengan makhluk paling menyeramkan baginya, sudah di pastikan dia akan menjerit dan melompat ke tempat yang lebih tinggi.


"Tantee.. kak Reza..? ada apa ini." Heran saat hendak keluar kamar ia mendengar s"uara tante Siska tertawa begitu dasyat dan nyaring, di tambah melihat Reza yang berdiri berjalan kesana kemari menatap setiap inci lantai.


"Heii udik, tolong usir kecoak ituu." Menutup mata namun masih sedikit mengintai hingga meminta Lidia untuk mengusir kecoak.


"Iyaa Lidia tolong usir kecoak ya, tante juga takut ehh bukan takut tapi gelii..hii.." Memainkan kelopak mata nya sebelah memberi tanda pada Lidia jika dia harus berpura pura mengusir kecoak yang berkeliaran di lantai seperti yang di takuti oleh Reza. Namun Lidia tidak mengerti maksud kedipan mata tante Siska.


"Ngak ada kecoak.. lagian mana mungkin kecoak mau masuk, tadi pagi aku sudah menyapu dan mengepel bolak balik tante." Baginya sangat mustahil jika kecoak muncul di tempat yang bersih hingga menjelaskan bahwa tadi pagi Lidia sudah membersihkannya.


"Mamaaa.." Melompat lalu mendudukan tubuh nya di sofa sambil menatap mama kesal.


"Lidia... kamu ini polos sekali seh.. padahal tante sudah kasih kode loh, tapi lucu yaa..? anak tante yang paling tampan ini sampai melompat ke atas sofa lohh, padahal tadi santai banget sambil senyum senyum sendiri.. ha ha haa.." Masih tidak bisa berhenti menertawakan putra nya sendiri yang sengaja di isengin bahkan sangat sukses.


" Ouw.. begitu ya tante. . jadi kak Reza takut neh sama kecoak ? padahal dia kan imut, kumis nya bisa panjang bangett loh seperti antena ha haha.." Tak bisa menahan tawa nya yang dari tadi berusaha ia kunci rapat rapat namun akhirnya terbobol juga saat melihat ekspresi kesal bercampur geli Reza.


Saat mereka asyik ngerjain Reza Kusuma terdengar pintu depan rumah mereka di ketuk beberapa kali. Lidia beranjak keluar untuk membuka kan pintu.

__ADS_1


__ADS_2