Lidia

Lidia
Berasa Hari Raya


__ADS_3

Melli menunjukan Lidia kamar yang akan di tempati Lidia dan kamar milik nya, setelah itu tante Siska memberikan sedikit pakean yang sudah mereka beli untuk Lidia atas pilihan putri nya.


"Lidia ini tante belikan sedikit kaos dan celana untuk mu." Memberikan 3 kantong belanjaan yang berisi kaos dan celana jeans yang ada di kamar Melli.


"Tapi tante.. ini banyak sekali." Memandang kantong yang ada di tangannya.


"Banyakan aku kali Lid, makanya tadi aku lambat datang karena singgah ke mall dulu." Menunjukan beberapa kantong paper bag milik nya yang berisikan dress , gaun, kaos dan beraneka jeans.


"Bukannya lebaran masih lama ya..?" Bertanya penasaran saat melihat isi dalam kantong milik sahabat nya.


"Lahh bocah, kan lebaran sudah lewat, pakai lupa lagii." Mrmandang aneh kemudian meninggalkan mama dan Lidia di kamarnya untuk mengambil minuman di kulkas.


"Kan kita baru saja merayakan lebaran, masa kamu bertanya lebaran masih lama sayang, ya jelas masih lama, memang nya kenapa ?" Mendekat ke hadapan Lidia dan bertanya lembut. Namun justru membuat Lidia menangis tersedu - sedu dan memeluk tubuh mama Siska.


"Berasa hari raya tante, biasa ayah membelikan Lidia baju kalau mau lebaran, itupun hanya satu, tapi ini tante banyak sekali membeli kan untuk ku hu hu huu.." Menangis mengingat orang tua nya yang selalu membelikannya baju jika akan tiba hari raya saja.


"Hei - heii kenapa jadi nangis beginii, semua harus tetap di syukuri, mungkin ini rezeki yang Tuhan berikan untuk Lidia lewat tante, jangan pernah malu memiliki orang tua yang apa adanya, bagaimanapun mereka berusaha semampunya untuk yang terbaik." Membalas pelukan Lida sambil menggosok lembut punggung nya.


"Terimakasih banyak tante, saya kembali ke kamar dulu." Melepaskan pelukan.


"Baiklah, istirahatlah karena besok kita akan belanja bahan makanan yang akan kalian masak setiap hari." Mengizinkan Lidia pergi kekamarnya dan beristirahat karena besok akan pergi mencari bahan makanan karena memang Lidia ingin masak setiap hari seperti saat dia di rumah.


***


Berlian masih saja memikirkan kata - kata Melli jika kakak nya sudah memiliki pacar. Lalu dia menyusun rencana untuk menghancurkan hubungan Reza dan kekasih nya dengan meminta bantuan Nadira wanita yang selalu menjadi saingan nya karena lebih gila dan terang - terangan mengakui Reza sebagai kekasih nya dan selalu mengikuti kemana Reza pergi saat di kampus meskipun tidak pernah di tanggapi oleh Reza.

__ADS_1


tut..tut..tu.. terdengar nada panggilan tersambung ke no tujuan, Berlian menghentak hentakkan kaki nya sambil mondar mandir di kamarnya menunggu jawaban dari Nadira.


"Ada apa mencariku..?" Jawaban ketus dari balik telfon genggam edisi terbaru milik Berlian.


"Ngak baik tau marah pagi - pagi Nad." Berbicara lembut karena ada mau nya.


wee..wee..wee.. kalau ngak ada mau nya aku sory saja menelfonmu humm...


"Aku matikan neh..!" Mengancam Berlian.


"Baiklah kalau memaksa, tapi jangan terkejut ya, usahakan ada orang lain disampingmu, jadi kalau kamu pingsan ada yang menolongmu haha haha.." Tertawa membayangkan Nadira tiba - tiba pingsan.


Ngak sabar melihatmu menyerah dan siap - siap kecewa karena Reza sudah punya pacar, lumayan hilanga satu saingan aku ha haa..


"Heii kunti aku beneran matikan ya kalau hanya basa - basi, maaf kita ngak selevel." semakin ketus mendengar Berlian basa - basi menyindirnya.


"Kamu pikir aku percaya ? haa..?" Menjawab ketus namun terdengar khawatir.


"Yaa..terserah saja mau percaya atau tidak, tapi waktu kami berjumpa di kampung adek nya menceritakan semua padaku, ingatt kan kami tetanggaan, umm..ingat dunk.. oklah kalau begitu.. bye.." Berbicara lirih dan berpamitan namun sengaja tidak mematikan telfonnya karena dia yakin jika Nadira sudah terpancing akan rencananya.


"Waitt.. tunggu.. siapa wanita itu? berani sekali dia?" Bernada ketus namun penasaran dengan cerita Berlian.


"O...penasaran nehh.. kalau mau tahu kerumahku dehh, bye." Menutup telfon setelah memberi isyarat pada Nadira karena dia yakin kalau Nadira bakal melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta Reza termasuk bersaing dengan dirinya setiap berjumpa di kampus.


Rasain loh, kejang ngak luhh, kalau pacar Reza sudah disingkirkan Nadira setidaknya namaku bersih dan sudah di pastikan Reza akan memilihku dari pada si kuyuk yang sudah memisahkan nya dari kekasih nya.. ha haa haa keren juga ide ku..

__ADS_1


***


Seperti biasa pagi buta ayah dan bunda sudah bersiap berangkat ke kebun hendak menutup pintu namun suara hape nya berbunyi dan semakin lama semakin nyaring kringg..kringgg..kringg..


"Yah, hape nya bunyi coba ambil siapa tahu itu Lidia yang telfon." Bunda meminta ayah mengambil hape yang sengaja akan di tinggal di rumah saat mereka pergi menoreh.


"Iya ndaa, benar ini Lidia." Merasa sangat bahagia melihat nama Lidia ada di layar hape nya dan membawa nya kepada bunda.


"Angkat saja dulu yah, nanti kelamaan keburu mati, cepat yahh." Heboh saling berteriak, bunda takut jika kelamaan akan terputus panggilan dari Lidia. Ayah pun mengikuti saran bunda.


"Hallo kak, bagaimana semalam kakak bisa tidur ngak ?" Bertanya antusias malam pertama anak nya tidur di rumah kontrakan.


"Bisa dunk yah, kan pakai kasur empuk, ngak seperti punya kakak, disini juga pakai ac yah, tapi kakak kedinginan ha ha ha.." Bahagia berbagi cerita dengan ayah.


"Ha ha haa.. ngak papa kak nanti juga terbiasa." Ikut tertawa saat anak nya terkekeh menceritakan dirinya kedinginan, membuat bunda penasaran dan menarik paksa hape dari tangan ayah.


"Heii anak nakal ya, jadi tidak nyenyak tidur di kasur milikmu sendiri." Bunda hanya merasa rindu dan cemburu biasa nya jika ada Lidia di samping mereka sudah saling menepuk dan saling beradu namun bersama - sama tertawa.


"Bundaaa.. bukan begitu,kan kakak berbicara jujur, huuemm.." Merajuk mendengar bunda memarahinya.


"Hee..hee..bunda tau anak bunda selalu bersyukur, jangan sedih ya, bunda hanya merindukanmu, baiklah bunda dan ayah berangkat ke kebun, jangan lupa berdoa, salam buat Melli dan keluarga nya ya."


Mereka saling mengakhiri obrolannya di telfon dan seperti biasa Lidia tidak bisa tidur hingga akhirnya memilih merebus air dan membuat teh untuk semua yang ada di rumah.


A.. bikin teh sudah siap tapi masih jam 6 pagi dan belum ada satu orang pun yang bangun, ahh..

__ADS_1


Lidia merasa sudah menyelesaikan niat nya membuat teh untuk semua namun belum ada yang bangun meskipun jarum jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, tidak seperti di desa nya yang sudah ramai orang berlalu lalang hendak pergi ke kebun dan tercium berbagai aroma masakan para tetangga.


__ADS_2