Lidia

Lidia
Malam Tak Bertepi


__ADS_3

Lidia tersenyum malu saat tante Siska dengan santai nya menanyakan isi hati nya untuk putra sulungnya.


"Tante siska ada ada saja, Lidia kan mau sekolah bukan mau menikah.." Menatap kaki nya yang terus melangkah dengan harapan tante Siska tidak lagi membahas soal anak lelakinya itu.


"Sekolah boleh saja pacaran asal tau kewajiban masing masing dan harus pacaran sewajarnya untuk semangat belajar, begituu.." Masih memberi pengertian buat Lidia jika dirinya tidak melarang anak anak nya pacaran karena itu bisa menumbuhkan semangat saat belajar bukan pacaran yang justru menghancurkan.


"Baik tante, trimakasih untuk nasehat nya." Tersenyum puas karena tante Siska begitu mengerti dirinya dan membimbing ke jalan yang baik.


"Ayoo buruan mereka pasti sudah tidak sabar." Sedikit berlari ke arah parkir mobil suami dan anak anak nya.


Dan mereka pun beralih ke sebuah mall terbesar untuk mencari perlengkapan sekolah. Papa memarkirkan mobil di lantai dua supaya mereka tidak perlu berjalan jauh dari parkiran ke sebuah toko buku dan aksesoris.


"Yee..akhirnya aku bisa ngemall lagii.." Melli berlari lari kecil dan begitu gembira karena dia paling suka bila di ajak ke mall namun sudah lama tak pernah pergi karena jarak yang begitu jauh dari desa.


"Yahh kirain si udik cuma satu nambah lagi deh jadi si udik 2." Reza menyindir Melli yang begitu girang sampai berlari lari kecil tidak sabar ingin berbelanja.


"Biarinn wekk.." Menjulurkan lidah nya ke arah Reza dan tetap berjalan riang sambil menggandeng papanya.


Mereka memasuki toko demi toko aksesoris hingga tanpa sadar membeli barang diluar list lebih banyak dan sekaligus membeli bahan makanan untuk satu bulan kedepan agar saat mama pulang mereka tetap memiliki stock makanan sampai mama datang berkunjung lagi.


Setelah di rasa bawaan mereka sudah over, mama mengajak mereka pulang karena waktu juga sudah mulai sore dan mereka tak lupa sekalian mampir untuk makan malam lebih dulu baru benar benar pulang sampai di rumah saat malam tiba.


***


Bipp.. bipp.. satu pesan masuk di hape Nadira dan melihat satu foto dengan menampakan postur tubuh lelaki yang sangat dia kagumi bahkan hingga rela mengejar cinta nya.


Reza.. pasti ini keluarganya.

__ADS_1


"Percayakan sekarang kalau Reza ada yang nempelin, saingan beratt niee.." Terbakarr api cemburu ngak lu, makanya jangan sok memiliki, kesel kesel dehh lu,masakk aku ajaa yang kesell ha ha haa..


"Memang gua pikirin, Reza tetap akan memilih ku..!" Merasa percaya diri karena selama dia mendekati Reza tak pernah di tolak oleh nya, meskipun hanya di cuekin tapi setidaknya Reza tidak marah dan mengusirnya.


"Terserah lu dehh, jangan nangis yaa kalau patah hati, aku seh cuma kasian sama usaha lu yang mati matian ituu.." Cihh.. kasian ogah bangett, seneng banget ya ada kalau lu mundur teratur apa lagi sampai ngelabarakk tuh cewek trus di lihat Reza ha ha abiss ngak lu..


Menunggu jawaban dari Nadira, Berlian terus memandang layar hape nya namun tak kunjung ada balasan dari Nadira.


Ha ha ha.. nangis niee.. uhh uhhh uhhh.. sakit hatii yaa nadira yang garang sok berkuasa, Rasainn lu..


"Janji ya Nad, lu jangan frustasi, ingat masih banyak cowok yang lebih baik dari Reza, sabarr." Mengirim pesan perhatian untuk Nadira lagi namun di balik itu Berlian tak berhenti tertawa karena merasa puas membagi sakit hati nya dengan wanita yang juga sangat tergila gila dengan Reza.


Ha ha kan kalau begini ngak cuma aku yang sakit hati, rasain luh sok di pilih Reza, pede banget seh.


***


"Ok." Lidia menjawab singkat.


"Dihh.. belum siap neh kemas kemas nya.." Mama mengingatkan Melli jika masih banyak yang masih di kemas.


"Hoamm..ngantukk berat ma..." Sambil berjalan menuju kamar.


"Lidia pergi tidur juga sana, besok kalian harus berangkat lebih awal." Meminta Lidia untuk segera tidur mengingat besok hari pertama mereka mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa).


"Ngak apa apa tante, ini juga sudah mau selesai." Menolak halus karena memang mereka hampir selesai.


"Sudah.. pergi saja, besok aku ngak mau nunggu kalian terlalu lama, aku juga ngak ingin terlambat." Reza ikut mengomentari Lidia karena dia yang bertugas menghantar mereka ke sekolah.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, Lidia tidur duluan ya tante, om , kak Reza." Tidak ingin menyusahkan Reza akhirnya Lidia menuruti kemauan tante Siska dan Reza meskipun dirinya merasa segan.


Sebelum tidur Lidia mencuci muka dan menggosok gigi nya barulah merebahkan tubuh nya dan membalut nya dengan selimut. Mata nya ia katubkan rapat rapat namun pikiran nya justru membawa nya ke sekolah.


Betapa beruntungnya aku bisa masuk ke sekolah *favorite dan lebih beruntungnya aku mempunyai sahabat seperti Melli, kebaikan nya tak akan pernah aku lupakan, aku bisa di sini semua karena nya dan juga keluarga nya.


Ya Tuhan berilah kesehatan dan rezeki bagi mereka yang berhati baik. Amin*.


Lidia masih saja membolak balik kan tubuh nya karena pikiran nya masih belum mau beristirahat, hingga dia teringat akan kata kata tante Siska.


*Ha ha tante Siska kenapa pulak percaya sama Melli kalau aku dan kak Reza pacaran, malah pakai acara nawarin mau ngak jadi pacar kak Reza, anehh bangett. .


Oh iya yaa, kan Melli anak nya jelas saja tante percaya, dasar aku yang lemot apa Melli yang ember nehh ha ha ha..


Huhh.. kenapa susah banget tidur sehh, sampai kemana mana ini pikiran, dihh.. amit amit ihh pacaran sama kak Reza yang dingin banget gitu, tapi cool seh ha ha*..


Tok..tokk.. menjitak kepala nya sendiri saat pikiran nya malah memuji Reza yang terlihat cool dan membayangkan menjadi pacar nya sungguhan.


Malam tak bertepi apa ya.. perasaan dari tadi jam ngak bergeser ini detik nya, udah ahh tidurrr, bahaya kalau aku sampai kesiangan , kak Reza tinggalin ****** dehh, mana ngak tau lagi di mana sekolahan nya...


Meraih guling dan memeluk nya erat, memaksa mata dan pikiran nya untuk tidur terlelap hingga akhirnya benar benar tertidur dan pikiran nya bermain di alam mimpi.


"*Lidiaaaa... cepatttt. aku hitung sampai 5 kamu belum keluar aku tinggal neh." Suara Reza berteriak di depan pintu kamar Lidia.


"Ia kak , aku mohon jangan tinggalkan aku, aku juga mencintaimu." Lidia berlari mencari Reza.


"Cepat, kita bisa terlambat, cinta cinta, siapa yang bilang cintaa haa..?" Jari telunjuk nya menahan jidat Lidia yang berdiri tegak di depan pintu kamar nya*.

__ADS_1


__ADS_2