
Setelah Lidia meminta bunda nya untuk kembali tidur karena masih subuh tetapi bunda justru duduk manis memaksa ingin menemani nya memasak dan berjanji hanya menemani.
"Bunda tidak akan menggangumu hanya ingin menemani, kan sebentar lagi kakak akan menjadi orang kota." Menyindir sambil terus menatap anak nya yang beranjak dewasa.
"Umm..benar juga ya, kakak akan menjadi orang kota wkwk wkwk." Rasa nya bahagia karena belum pernah sekalipun orang tua nya mengajak nya pergi ke kota, namun karena prestasi nya dia bisa pergi menimba ilmu di kota.
"Kakak jangan pernah pergi tanpa Melli, bagaimanapun dia yang lebih tau keadaan kota, ingat jangan percaya kepada orang yang baru kakak kenal, orang kota tidak sama dengan kita yang selalu ramah kepada siapa saja." Menasehati putri nya karena sesungguh nya ada kekhawatiran melepaskan putri nya tinggal di kota, dimana bunda sangat mengenal lingkungan kota tempat tinggal nya masa kecil hingga dewasa.
"Iya bunda, jangan terlalu khawatir, kakak pandai jaga diri dan selalu mengingat nasehat bunda." Memotong sayuran sambil menggoreng tempe dan tahu untuk lauk.
"Bunda percaya kakak pandai jaga diri." Meraih sayuran yang sudah terpotong dan mencuci hingga bersih.
"Katanya hanya menemani, bunda memang kebiasaan deh." Mengambil alih baskom sayur yang audah di cuci oleh bunda, karena Lidia ingin mempersembahkan masakan nya untuk hari perpisahan karena akan pergi jauh dari ayah bunda.
Semua sudah di selesaikan oleh Lidia, dari memasak sampai bersih - bersih. Mereka pun sarapan bersama menikmati hasil tangan terampil putri tercinta nya.
***
Setelah pagi menyapa Melli sekeluarga menikmati jamuan yang sudah mbok Nah siapkan, berbagai makanan kesukaan nya sengaja mama minta mbok Nah memasak nya, untuk anak tersayang yang akan pergi melanjutkan sekolah nya ke kota.
Setelah selesai makan bersama Melli hendak berangkat ke kota bersama papa dan mama, namun tak lupa mama mengingatkan Reza untuk menjemput Lidia.
"Kak, jangan lupa jemput Lidia dan antar sampai kontrakan ya, ingat jangan di cuekin , di jalan ajak ngobrol ya." Berpesan agar tidak lupa akan permintaan adek nya, karena Melli sengaja diam - diam akan menjodohkan kakak nya dengan sahabat nya saat tahu ada wanita yang mengincar kakak nya namun tidak sesuai dengan selera nya.
"Iya ma, iya iya.."Meyakinkan mama jika pesan nya akan ia laksanakan semua.
"Iya kak, awas kalau sampai di cuekin, besok kakak ngak boleh main ke kontrakan adek..!" Masuk dalam mobil sambil mengancam kakak nya namun hati nya tersenyum akan rencana nya.
"Iyaa bawel amat." Melambaikan tangan saat mama juga melambaikan tangan saat papa mulai menjalankan mobil nya.
Reza juga bergegas menyiapkan tas ransel nya karena dia juga akan kembali ke kota dan sekalian memenuhi perintah mama dan adek nya untuk menjemput sahabat adek nya.
Mengendarai mobil nya sendirian Reza memilih memutar lagu kesukaan ny bahkan Melli pun ikut menyukai saat sang kakak sering memutar nya.
Hamparan langit maha sempurna..
Bertahta bintang - bintang angksa..
__ADS_1
Namun satu bintang yang berpijar..
Teruntai turun..
Menyapa aku..
Ada tutur kata terucap..
Ada damai yang kurasakan..
Bila sinarnya sentuh wajahku..
Kepedihanpun terhapuskan..
la..la.. menikmati sambil jari nya mengetuk - ngetuk setir mobil nya..
umm.. Maha Dewi lantunan indah nan merdu dari Padi setia menghantar perjalanan Reza sampai di halaman rumah Lidia.
"Permisi.." Menunggu di depan pintu yang tidak tertutup .
"Kakak, nak Reza sudah datang." Berjalan masuk dalam kamar putrinya.
*Kenapa bukan Melli dan tante Siska yang menjemputku, padahalkan waktu itu Melli sendiri bilang akan menjemputku.
Ohh.. semoga aku baik - baik saja, kakak nya begitu menyeramkan arghh*..
"Bukannya keluar malah benggong." Bunda menepuk pundak Lidia yang duduk termenum memangku tas selempang nya.
"Apaan seh nda, ngagetin aja.." Terkejut saat memikirkan bahwa Reza yang menjemputnya dan bukanlah tante siska.
"Sudah buruan, bunda panggil ayah dulu di belakang, cepetan kasian nak Reza menunggu lama." Kembali menepuk pundak Lidia untuk segera menemui Reza.
Berjalan lewat belakang mencari ayah yang tadi bersih - bersih di kebun belakang rumah nya.
"Yah, Lidia sudah mau berangkat tuh." Berteriak dari depan pintu belakang memanggil ayah yang sedang bersih - bersih.
"Baiklah,ayah cuci tangan." Menghentikan aktifitasnya lalu membasuh diri.
__ADS_1
Lidia sudah ada di depan bersama Reza , sesaat mereka berdua hanya saling menundukan kepala hingga kedua nya berbicara bersamaan.
"Hei.."
"Ma.." Mereka saling gugup hingga tanpa di sadari bersama - sama membuka pembicaraan.
"Silahkan kamu duluan." Menatap Lidia sambil tangan nya memainkan hape yang masih dalam box.
"Hem, Melli nya mana kak..?" Menanyakan Melli yang tidak nampak ikut menjemput.
"Melli pergi lebih dulu bersama papa mama, karena ada yang ingin di beli nya jadi aku yang mama suruh untuk menjemputmu." Tidak ingin Lidia salah paham Reza menjelaskan amanat mama nya.
"Ow begitu, terimakasih kak, maaf merepotkan." Tersenyum simpul dan merasa malu.
"Ya, ini Melli dan mama menitipkan hape untukmu, supaya Melli mudah menghubungi mu." Menyerahkan box hape yang ada di tangan nya. "Bukalah semua sudah terisi, kamu tinggal memakai nya, Melli menunggu telfonmu." Menatap lembut wajah cantik berseri Lidia.
"Maaf kak, saya sudah punya hape, meskipun butut." Menunjukan hape yang ada dalam tas nya.
Kring.. kring.. kring.. hape dalam box berbunyi dan bergetar dari tangan Lidia hingga tanpa sengaja terjatuh karena Lidia terkejut.
"Bukalah, Melli yang menghubunggimu." Meminta Lidia untuk membuka nya.
Lidia membuka box itu lalu menampakan layar hape yang bertuliskan princess Melli memanggil, seketika Lidia tersenyum melihat nama itu sambil membayangkan wajah sang princess, membuat Reza terkesima memandang wajah nya.
"Kenapa ada telfon tidak di angkat, hape siapa yang berbunyi?" Ayah dan bunda masuk menemui mereka dan mendengar suara telfon.
"Ini Melli yang telfon yah." Menunjukan layar hape yang berbunyi. "Bagaimana ini kak cara nya, aku belum pernah memakai hape seperti ini." Menyerahkan hape nya kembali sampai suara yang berdering tifak terdengar lagi.
"Nanti aku akan mengajarimu, sebaiknya kita berangkat sekarang, takut terkena macet, bisa - bisa kita sampai malam." Menerima hape yang di berikan Lidia. "Sebaiknya hape milik mu ti ggalkan saja untuk tante, supaya mudah berkomunikasi, itu pesan mama." Menyampaikan pesan dari mama agar Lidia memakai hape milik Melli dan memberikan hape lamanya untuk bunda nya.
Ayah dan bunda hanya mendengarkan mereka berdua. Dan Lidia pun mengikuti pesan tante Siska lalu memberikan hape nya untuk bunda.
"Nda, ayah, ini aku tinggal supaya kita mudah berkomunikasi, biar ayah dan bunda tidak terlalu merindukan aku,terimakasih ya kak Reza." Memberikan hape milik nya pada bunda yang duduk di sebelah nya dan menatap Reza saat mengucapkan terimakasih.
***
Mohon dukungan like, komen, vote nya kakak. Terimakasih sudah membaca karya saya.🙏😘
__ADS_1