
Hari demi hari berlalu hingga tiba saat masa kembali ke sekolah. Lidia mulai mengemas pakean nya, tidak terlalu banyak yang dia miliki, sehingga hanya membawa satu kardus kecil yang berisi semua perlengkapan dia tinggal di kota mulai besok.
Malam ini adalah malam paling sedih buat ayah dan bunda karena dalam sejarah hidupnya tidak pernah sekalipun berpisah jauh dari putri semata wayang nya.
"Bunda boleh bantu kemas kak ?" Duduk di tepian kasur milik Lidia sambil menyaksikan anak nya yang menyiapkan semua keperluan .
"Bantu doa saja nda, supaya... anak bunda yang cantik ini jadi anak pandai dan juga baik hati." Berdiri memeluk bunda setelah tadi duduk lesehan di samping tempat tidur nya.
Ayah yang baru akan masuk menyaksikan anak dan istri nya berpelukan air mata nya pun tak bisa dia sembunyikan lagi, hingga bunda menyadari kedatangan ayah.
"Ayah kemarilah.." Mengendorkan pelukan hingga membuat anak nya berbalik melihat ayah.
"Ayah.." Saling memeluk hingga bunda terharu dan air mata yang sudah berkaca - kaca sejak tadi akhirnya pecah saat menyaksikan betapa besar kasih sayang Lidia kepada ayah dan bunda nya, ayah dan lidia lalu menarik bunda untuk berpelukan bersama.
"Ingat ayah dan bunda jangan saling sindir kalau mau berantem ambil bantal dan guling kan bisa perang - perangan ha ha ha." Saat kedua orang tua nya benar - benar serius mendengar pesan dari putri nya ternyata Lidia justru meledek nya, hingga kedua nya kompak menggelitiki sampai tertawa bahagia bersama.
***
Melli meminta mama membantu nya memilih pakean yang hendak di bawa nya ke kota, sudah ada 2 koper dan satu tas perlengkapan make up dari catok rambut sampai berbagai lulur milik nya. Jauh berbeda dengan Lidia yang hanya membawa satu kardus semua perlengkapan nya.
Saat membuka lemari aksesoris Melli melihat hape nya yang lama tersimpan di sana hingga pikiran nya tertuju pada Lidia.
Um, dari pada hape ini aku simpan disini, lebih baik aku berikan pada si combro, biarpun jadul setidaknya bisa vidio call, dari pada hape yang butut itu ha ha.
__ADS_1
Menatap lemari dengan tersenyum membuat mama keheranan menyaksikan tingkah anak gadis nya.
"Adek.. kenapa tersenyum sama lemari? adek ngak lagi setres kan karena jauh dari mama ?" Mendekat lalu memeluk penuh haru.
"Mama apaan seh, ngaklah adek kan sudah besar." Berbalik ke arah mama. "Ma, kalau hape ini adek kasih Lidia boleh ngak ? kan adek susah mau hubungin nya kalau mesti telfon ke hape butut nya itu." Bibir nya sudah seperti bunga yang mulai bermekaran hingga membuat mama tersenyum gemas melihat nya.
"Itu lebih baik dari pada adek simpan di lemari, tapi apa Lidia sanggup membeli kuota ?" Terbayang kondisi ekonomi Lidia saat datang berkunjung kerumah.
"Mama dunk yang beli, sekalian beli punya adek !" Menatap mama penuh harapan. "Mama mau adek ngabisin pulsa buat nelfonin si combro, kan kalau kita whatsapp'an lebih hemat ma.." Menjelaskan dan merayu mama agar tercapai kemauan nya.
"Baiklahh..apa seh yang enggak buat anak mama yang paling cantik dan paling cerewet he he." Menarik nafas lalu mengiyakan permintaan buah hati nya.
Saat mama mengusap pucuk kepala sang princess papa datang mengunjungi putri tersayang nya.
"Mau apa lagi anak papa , hape baru. jam tangan baru ?" Memanjakan anak nya apa yang di ingin kan Melli papa tidak pernah menolak nya, bahkan sering menawarkan apa yang dia inginkan.
"Jika adek tidak keberatan boleh saja, tapi ingat harus ikhlas jika memberi." Mengingatkan anak nya nya untuk selalu ikhlas jika berbagi.
"Siap papa sayang." Berdiri tegap lalu memberi hormat papa.
Saat mereka saling bercanda mbok nah datang mengetuk pintu kamar Melli.
"Makan malam sudah siap non." Memberi tahu jika sudah menyiapkan makan malam saat Melli keluar melihat siapa yang mengetuk kamar nya.
__ADS_1
"Baik mbok, ini papa dan mama juga di sini, makasi ya mbok." Mengatakan jika orang tua nya juga ada dalam kamar nya, karena biasa nya mbok juga akan pergi memanggil mereka jadi Melli memberitahu keberadaan mereka di kamarnya.
Melli masuk lalu memberi tahu kedua orang tua nya jika sudah disiapkan makan malam.
"Pa, ma.. makan yuk, si mbok sudah menyiapkan nya, adek juga sudah lapar neh." Menarik papa dan mama untuk turun makan.
Saat melihat kamar kakak nya terbuka Melli menghampiri dan memanggil kak Reza untuk mengajak nya makan malam bersama.
"Kak Reza makan yuk.." Melihat sang kakak yang masih seru banget main ps.
"Ok, bentar lagi." Menjawab tanpa melihat wajag sang adik.
"Papa dan mama sudah turun lebih dulu tuh, ayolah kak." Ikut duduk di samping kakak menyaksikan permainan nya yang nampak seru hingga tanpa sadar dia ikut teriak - teriak hingga Reza menyelesaikan permainnya yang memang sudah akan berakhir.
"Baiklah ayo kita turun, let's go." Berdiri dan menarik satu tangan adik nya lalu bersama menurunin tangga menuju meja makan.
"Yahh kok papa sama mama sudah siap seh ?" Melihat piring mama dan papa yang sudah nampak tinggal sesuap nasi saja Melli merasa kecewa. "Ayo tambah lagi biar makan sama - sama." Duduk di hadapan kakak nya lalu meminta papa dan mama menambahkan makan malam mereka untuk makan bersama.
"Kakak dan adek seh lama banget, tadi bilang lapar tapi ngak turun - turun." Mama menggertu tapi tetap menambah sayur sedikit ke piring papa dan milik nya karena tidak ingin anak nya kecewa.
"He.. abis kakak main game nya seru banget, adek jadi ikut nonton." Tersenyum dan terkekeh menertawakan diri nya sendiri dan Reza pun tersenyum melihat tingkah adeknya yang manja itu.
***
__ADS_1
Suara ayam jago saling bersaut - sautan menyapa sang mentari pagi, membangunkan para penduduk desa tak terkecuali Lidia dan orang tua nya. Bunda dan ayah pagi ini meliburkan diri tidak pergi ke kebun untuk menoreh getah karena pagi ini Lidia akan berangkan menimba ilmu ke kota.
"Nda biar kakak saja yang masak, bunda tidur lagi saja, ini masih subuh." Meminta bunda untuk kembali tidur.