Lidia

Lidia
Lawak


__ADS_3

Sesungguh nya Melli memang sudah meminta mama nya untuk membelikan semua perlengkapan sekolah Lidia, karena mereka sudah saling mengerti satu sama lain , saling bercerita tentang keluarga masing - masing, meskipun Melli memiliki lebih dari segalanya, Lidia tak pernah sedikipun mempunyai rasa iri atau malu akan keluarga nya yang hidup sangat sederhana.


Tante Siska sengaja tidak membelikan nya langsung karena takut akan menyinggung perasaan mereka.


"Bunda, apa bunda tidak keberatan jika kakak sekolah di kota, tapi nanti siapa yang akan membantu bunda?." Lidia mengungkapkan kegelisahan hati nya saat nanti meninggalkan bunda.


"Sayang, bunda sangat senang kakak bisa sekolah di tempat yang terbaik, bunda sangat berterimakasih pada mama Melli karena sudah mau menolong kamu nak, maaf bunda dan ayah tidak bisa memberi yang terbaik , bunda harap kakak benar - benar belajar dengan tekun, supaya apa yang di berikan oleh mama Melli menjadi berguna." Merasa sangat kecewa , sedih tidak mampu memberikan yang terbaik untuk putri nya.


Melli dan mama nya ikut terharu bahkan meneteskan air mata, di saat inilah membuat mereka merasa sangat bersyukur atas rezeki yang Tuhan berikan namun janganlah lupa untuk bersedekah supaya rezeki menjadi lebih berarti di hadapan Tuhan.


Saat Lidia dan mama sudah saling melepaskan pelukan nya , ia melihat Melli terisak - isak .


"Woii Mell, ngapain kamu nangis hahahha dasar baper." Lidia melemparkan satu kue kukus di hadapan nya, dan Melli dengan sigap menangkapnya.


"Dasar combro, makanan di lempar - lempar , dosa tau." Merepet namun kue kukus itu lenyap dalam mulut nya.


"Nahh.. dari pada nangis ga jelas makan tuh kue bunda, enakkan..? haha .." Tidak ingin larut dalam kesedihan Lidia mulai mengeluarkan sisi diri nya yang lawak.


"Ga jelas gimana, jelas - jelas terharu liahat kamu memeluk bunda, a...nanti bagaimana Melli jauh dari mama papa, ingat kamu harus selalu di dekatku kalau saja mati lampu di kontrakan kita."


Melli jadi membayangkan dirinya jika nanti sudah jauh dari orang tua nya , biasa saat mati lampu ia selalu menjerit ketakutan, lalu siapa yang akan menolong nya dan memeluknya.

__ADS_1


" Jiahaha haha... penakut rupanya princess kita ini." Meledek sahabat nya sambil mengedip - ngedipkan kedua matanya.


"Sudah sayang, jangan iseng begitu, iya ingat nanti jika sudah disana jadilah teman yang baik , bantulah Melli seperti kakak membantu ayah dan bunda." Berpesan agar putri nya tetap menjadi anak yang baik.


"Iya Lidia, tante percayakan Melli padamu, bantulah Melli menjadi anak yang mandiri juga anak yang rajin, Lidia tahu kan bagaimana malas dan manja nya dia." Melirik anak bungsu kesayangan nya yang sangat manja.


"Siap tante, nanti Lidia akan selalu menjadi teman yang baik, dan mencubit anak manja yang malas hahha.." Lidia merasa puas meledek sahabat nya yang memang anak mama itu bahkan sejak pertama berteman Lidia yang selalu mengalah padanya. Untuk itu Melli sangat nyaman bersahabat dengan nya, bahkan Kakak laki - laki nya saja sering beradu mulut menghadapi sikap manja adik satu - satu nya ini.


Siang itu Melli dan mama nya pamit pulang, minggu depan mereka akan datang lagi untuk berangkat ke kota bersama. Saat hendak keluar dari rumah Lidia, ayah baru pulang dari membantu bunda menghantar kue kukus ke warung - warung .


"Wah.. ada tamu rupanya." Bersikap ramah dan tersenyum .


"Ini Melli dan mama yah, teman sekolah kakak yang sering di ceritakan itu." Bunda mengenalkan tamu nya pada suami nya. Melli dan mama nya berjabat tangan dan memperkenalkan diri, namun mereka hanya berbincang sebentar lalu pamit pulang.


"Kakak, maafkan ayah dan bunda yang tidak bisa memberi apa yang kakak inginkan." Menundukan wajah , merasa gagal memberi kebahagian buat putri nya.


"Ayah, bunda, semua yang kakak terima dari kakak lahir , sampai saat ini adalah kebahagian, dan ini lebih dari segala nya, perhatian ayah dan bunda itu yang kakak ingin kan."


Mencium pipi ayah dan bunda.


"Sudah jangan nangis , drama banget seh ayah, seperti nya kalau jadi artis ayah laku keras deh, main nya keren, air mata nya deras wak..hahah hahah.." Mencubit kedua pipi ayah nya gemas.

__ADS_1


"Jelas saja, kan ayah ganteng , bunda saja sampai tergila - gila pada ayah he he he." Tidak ingin kalah dari putri nya ayah ganti menyerang bunda.


"Tapi ayah cinta kan , umm.. awas ya nanti bunda nggak masakin baru tahu ya..!." Merajuk menghempaskan wajah cantik nya dan mengancam ayah.


"Ciee.. mentang - mentang sudah pandai masak bunda lupa nie... sama juru masak nya sendiri, haha haha.." Lidia tertawa riang saat berhasil mematahkan acaman bunda pada ayah, yaa.. memang bunda bisa memasak karena ayah yang selalu giat membantu nya belajar di dapur.


Mereka memang keluarga yang kekurangan materi namun mereka tidak pernah kekurangan kebahagian. Ayah dan bunda selalu mencurahkan perhatian dan kasih sayang nya, membiasakan untuk saling bercanda membuat mereka seakan melupakan kesedihan saat kekurangan materi.


"Kakak mau angkat jemuran dulu ya , ayah dan bunda jangan cakar - cakaran ya, arghh... hahaa." Meninggalkan orangtua nya sambil menirukan gaya kucing mencakar dengan kedua tangan nya.


"Haha haha..." Ayah dan bunda kompak di buat tertawa melihat kekonyolan putri nya.


Seperti biasa mereka istirahat tidur siang karena sore hari mereka kembali kebun untuk menggumpulkan hasil getah yang sudah di toreh tadi pagi , hingga menjelang magrib mereka baru kembali kerumah. Begitulah setiap hari nya yang mereka kerjakan, jika cuaca turun hujan sepanjang hari maka mereka tidak bisa bekerja karena tidak akan menghasilkan getah yang banyak. Jika itu terjadi maka berkurang juga upah yang akan di hasilkan setiap minggu nya.


Mereka juga tidak mengenal uang bonus seperti pekerja kantoran, yang mereka hasilkan itulah yang akan dia terima, juga tidak ada uang THR seperti orang kantoran dapatkan.


***


"Hoam... perjalanan ini membuat Melli ngantuk ma, kasian ya ma Lidia pergi sekolah hanya di antar naik motor, padahal jauh banget rumah nya."


Melli merasa iba pada teman nya saat tahu betapa jauh nya perjalanan yang harus di tempuh menuju sekolah nya, sedang dia yang hanya 15 menit dari rumah masih di antar papa atau kakak nya.

__ADS_1


"Iya, belum lagi kalau hari turun hujan atau panas terik, mama sangat bangga pada nya." Mama semakin yakin jika Lidia anak yang bisa menjadi teman yang membimbing Melli.


"Jadi mama nggak bangga sama Melli." Mengubah posisi duduk nya menghadap ke luar kaca jendela mobil.


__ADS_2