
[Kota Ame]
Perjalana Leon dan Elis bersama pasukannya, akhirnya sampai di kota Ame. Semua penduduk disana menyambut mereka dengan sangat meriah.
Semua penduduk berbaris dipingir-pingir jalan, sambil memegang bendera kerajaan untuk menyambut pahlawan ibu kota yang berperang melawan Kerajaan Honzu.
Berita kemenangan itu sudah tersebar di seluruh pelosok kerajaan. Mereka adalah pahlawan perang saat ini, prestasi yang mereka raih adalah prestasi yang sangat besar.
Prestasi yang luar biasa ini membuat seluruh rakyat kerajaan majaren sangat bangga. Selama 300 tahun lebih, kerajaan Majaren selalu di anggap lemah di bidang militernya.
"Waah, mereka menyambut kita Elis." Kata Leon dengan tersenyum.
"Tentu saja Leon, ini adalah prestasi yang luar biasa." Kata Elis.
Sesampainya di kantor pusat wali kota. Para pahlawan itu di sambut oleh Wali kota bernama Deril yang sudah berdiri didepan gedung yang megah dan besar
"Hahaha, Selamat datang Tuan Putri." Kata Deril kepada Elis.
"Tuan Deril. Terimakasih atas sambutannya." Kata Elis.
"Silahkan masuk Tuan Purti. Tapi sesuai dengan aturan kerajaan. Mereka semua harus di periksa terlebih dahulu identitasnya." Kata Deril.
Semua prajurit Majaren memiliki tato yang tak terlihat di tangan kirinya, tato itu sebagai bentuk identitas dan sumpah seorang prajurit.
"Aa, itu. baiklah Tuan Deril." Kata Elis sambil berfikir.
Satu persatu prajurit di periksa, seseorang yang tidak memiliki identitas prajurit di anggap penyusup.
"Apa yang terjadi disini. Kenapa mereka memeriksa tangan prajurit satu persatu." Kata Leon dalam hati.
"Sekarang giliranmu prajurit. Ulurkan tanganmu." Kata penjaga kota kepada Leon.
"Ah, baiklah." Kata Leon sambil mengulurkan tanganya.
Saat alat Sihir itu ditempelkan ke tangan Leon, alat itu tiba-tiba rusak dan tangan Leon mengeluarkan aura kegelapan.
"Ini, dia tidak memiliki identitas prajurit." Kata penjaga itu.
"Aku tidak memiliki identitas di dunia ini Tuan." Kata Leon dengan jujur.
"Penyusup, ada penyusup disini." Kata penjaga itu sambil menghindari Leon ke belekang.
Sontak prajurit penjaga kota Ame menodongkan tombak ke arah Leon. Dan Leon mengangkat kedua tangannya.
"Apa yang sudah terjadi.?" Kata Leon kebingungan.
Dan semua prajurit Elis pun menodongkan Pedang ke arah penjaga-penjaga itu.
"Turunkan tombak kalian, kalian tidak tau siapa pahlawan disini yang sebenarnya". Kata salah satu prajuritnya Elis.
Namun, aturan tetap harus di jalankan di kota ini. Tidak boleh ada yang melanggar, dan tidak boleh ada yang menolak.
Elis pun berteriak, "Berhenti. Turunkan pedang kalian."
"Tapi komandan." Saut prajuritnya.
"Turunkan pedang kelian. Ini perintah." Kata Elis dengan serius.
"Ah, baiklah komandan." Kata prajurit itu sambil menurunkan pedangnya dan diikuti oleh prajurit lainnya.
"Tuan Deril dia adalah prajuritku bernama Leon, dia adalah pasukan Khusus yang bekerja sebagai intel di dalam pasukan. Sudah sewajarnya dia tidak memiliki identitas sebagai prajurit." Kata Elis yang menjelaskan.
__ADS_1
Namun Wali kota disana sangat patuh dengan aturan. "Aku tidak tau kebenaran yang sebenarnya, apa Tuan Putri bisa menjelaskan asal usulnya, keluarganya, dan bahkan batas kekuatanya.?" Tanya Deril kepada Elis.
"Ah, ituu." Kata Elis yang kebingungan.
Lalu, Elis hanya terdiam seribu bahasa, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Kalau Leon adalah orang yang ia temukan di atas laut. Dan dia berasal dari dunia lain.
Dan tidak mungkin juga, Elis mengatakan kalau yang mengalahkan pasukan Honzu adalah Leon seorang diri. Itu bisa mencoreng nama baik pasukannya, bahkan semua prajurit di seluruh kerajaan.
Jika Elis tidak bisa menjelaskan dengan logika yang masuk akal, justru dia sendirilah yang di anggap penghianat, karena mencoba melindungi penyusup.
Elis pun berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Deril itu. Ia pun terdiam sambil memejamkan mata. Semua orang yang ada disana sedang menunggu jawaban dari Elis.
"Ini sangat gawat, bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua." Kata Elis dalam hati.
...
"Sepertinya aku tidak diterima di kota ini." Kata Leon dalam hati sambil melihat situasi disana.
"Ini pilihan yang sangat sulit, bagaimana ini. Aku tidak bisa berfikir." Kata Elis dalam hati dengan panik.
"Eliis." Kata Leon yang melihat Elis sangat panik.
"Dia pasti memikirkannya dengan keras. Hem, sebaiknya aku tidak membebaninya lagi." Kata Leon dalam hati.
Dalam hitungan detik, Leon pun meloncat ke atas langit. Dan bilang kepada Elis. "Aku tau kau sedang binggung Elis, mungkin lebih baik aku pergi dari sini."
Leon pun menghilang dari udara, dan elis pun sangat terkejut melihat Leon pergi begitu saja. "Tunggu, Leooon." Teriak Elis.
Deril pun berteriak, " Dia penyusup, cepat cari orang itu", pasukan penjaga pun langsung bergerak mencarinya.
"Bisa kau jelaskan setelah ini Tuan Putri.?" Kata Deril sambil berjalan masuk ke gedung wali kota.
Semua pasukan Elis pun mendekat kepadanya. "Komandan, leon. kenapa kau membiarkannya pergi.". Kata prajuritnya disana.
....
[Bukit Cison]
Pasukan Rio sudah sampai di tempat Camp pasukan Nizo. Namun mereka tidak ditemukan satu orang pun disana. Bahkan tenda-tenda pasukan Elis sudah tidak ada. Rio pun melanjutkan perjalanannya menuju pelabuhan Ame.
Pada waktu bersamaan. Di pelabuhan Ame, Pasukan David sudah sampai disana. Ia memandangi laut yang penuh dengan bangkai kapal perang milik kerajaan Honzu.
Iya pun turun dari kudanya. Dan memperhatikan sekelilingnya. Banyak sekali bekas pertempuran hebat disana.
Bahkan, ia melihat para penduduk bebas beraktifitas. Anak-anak yang bermain di atas bangkai kapal, dan para nelayan yang sedang mencari ikan.
Davit pun terkejut. "Apa yang sudah terjadi disini.?".
Ia memerintahkan ajudannya untuk mencari tau apa yang sudah terjadi di pelabuhan Ame.
Edo pun mencari Salah satu penduduk yang ada di sana.
Dan pasukan yang lain, membangun beberapa tenda untuk peristirahatan sementara.
Selang beberapa jam. Pasukan Rio pun datang dan langsung menghadap kepada sang jendral di tenda Komando.
"Jendral kami tidak menemukan satu orang pun di Camp pasukan komandan Elis. Bahkan tenda-tenda mereka pun sudah tidak ada." Kata Rio melaporkan.
"Kemana perginya pasukan itu, dan apa yang sudah terjadi disini.?" Kata David sangat kebinggungan.
Lalu, Edo pun datang menghadap Sang Jendral. "Lapor Jendral, beberapa penduduk disini mengatakan, kalau pelabuhan Ame menjadi medan pertempuran 2 minggu yang lalu."
__ADS_1
Edo pun melaporkan secara detail apa yang sudah terjadi. Tercatat beberapa point. 2 minggu yang lalu terjadi pertempuran hanya dalam waktu sehari saja. Dan pasukan Jendral Seril di pukul mundur.
Padahal menurut sudut pandang David. Tidak mungkin pasukan Nizo bisa memenangkan pertempuran itu. Bahkan hanya terjadi dalam sehari saja.
"Apa yang telah terjadi sebenarnya. Dimana pasukan Elis sekarang, dan bagaimana kabar Elis." Pertanyaan-penrtanyaan yang muncul dari kepala David.
....
[Kota Ame]
5 hari pun berlalu.
Elis diundang untuk mengikuti persidangan di gedung wali kota karena kasus melindungi penyusup bernama Leon.
"Apa ini akan baik-baik saja Elis.?" Tanya Silvi.
"Ini sudah 5 hari sejak Leon pergi dari sini Silvi. Prajurit penjaga masih belum menemukannya." Jawab Elis.
"Apa ada yang bisa kubantu.?" Tanya Silvi.
"Tidak perlu Silvi, biar aku sendiri bersama dengan yang lainnya untuk menyelesaikan kasus ini." Kata Elis.
"Baiklah, aku akan menunggu di luar sini." Kata Silvi yang khawatir.
"Em." Suara Elis sambil berjalan masuk ke gedung wali kota.
Elis akan berhadapan dengan Deril dipersidangan, jika Deril memenangkan persidangan itu, status komandan yang di jabat Elis akan di cabut. Karena tidak mungkin Deril bisa memenjarakan seorang Putri Raja.
....
[Di dalam hutan]
Terlihat Leon sedang mengigil karena derasnya hujan. Ia sedang mencari tempat berteduh. Pakaian yang di kenakannya sudah sangat lusuh. Wajahnya juga muram karena belum makan selama 2 hari. Dan matanya yang bengkak karena kurang tidur.
"Ada apa dengan hutan ini. Aaaaaah, aku sudah tersesat disini." Kata Leon dengan kesal.
Sudah 5 hari lamanya Leon tersesat di dalam hutan, dan dia tidak tau harus kemana ia berjalan. Ia mencoba mencari makanan, namun buah-buahan disana sangat sedikit, bahkan hewan-hewan menghindari hutan itu.
"Aku yakin, aku berteleportasi ke jalanan pelabuhan Ame. kenapa aku disini.!" Kata Leon sambil mengigil.
"DIMANA AKU SEKARAAAAAAAAAAANG." Teriak Leon sampai burung-burung terbang ketakutan.
....
[Di tempat lain. Castle Taman Surga]
Terlihat bayangan sepasang mata, sedang menoleh keluar jendela dari atas Castle. Seseorang yang ada di dalam Castle itu mendengar teriakan Leon yang tidak jauh dari tempatnya.
Dan Leon, terus berjalan mengikuti jalan setapak dan entah kemana tujuannya. Sampai ia menemukan sebuah Gerbang yang sangat besar.
"Haa. Kenapa disini ada gerbang Castle.?" Kata Leon terkejut.
Gerbang itu seperti sudah di tinggalkan ratusan tahun. Tumbuhan di sekitarnya sudah memenuhi gerbang itu.
"Bahkan aku tidak melihat pagar disekitarnya. Gerbang ini benar-benar sudah menjadi tumbuhan." Kata Leon
Dan dia melihat dari luar gerbang, terdapat taman yang sangat luas berisi tanaman bunga berwarna-warni.
Dan di belakang taman itu, terlihat Castle yang megah dan sangat besar. Sepertinya tidak ada yang hidup disana.
Lalu, Leon pun melihat papan kayu yang terpasang di atas gerbang, dan papan kayu itu tertulis Taman Surga.
__ADS_1
***