
[Dibelakang Bukit Cison]
Ditempat Camp pasukan kerajaan Majaren. Terlihat semua prajurit sedang berlarian mengangkat pasukan yang terluka secara bergantian.
Beberapa pasukan yang lain sedang membangun tenda cadangan untuk menampung prajurit yang terluka.
Mayat-mayat pasukan Majaren yang telah gugur sudah ditata dengan rapi, dan tubuh mereka di selimuti dengan kain berwarna putih.
"Kalian, hiks, kalian semua sudah berjuang sampai mati untuk mempertahankan wilayah pelabuhan. hikss." kata salah satu prajurit yang sedang mengali tanah.
"Sudahlah, ini sudah menjadi pekerjaan kita. selesaikan pengalian ini, dan kita harus mengubur mereka dengan layak." Kata salah satu prajurit lainnya.
"Hiks, mereka semua adalah temanku saat kita masih belajar di akademi." Kata Prajurit itu dengan menangis.
"Aku tau itu, mereka mati sebagai pejuang demi melindungi kerajaannya." Kata Prajurit lainnya.
Di tenda komando. Terlihat Elis dan Silvi di rawat disana oleh para healer. Luka mereka berdua sangat parah, bahkan para Healer kualahan untuk mengobatinya. Tapi untungnya mereka masih bisa di selamatkan.
"Luka ini sangat serius. Sampai kapan luka iki sembuh.?" Kata salah satu healer perempuan yang sedang menyembuhkan luka Elis.
"Aku sudah tidak kuat lagi, Sihirku hampir habis." Kata healer lainnya.
"Lalu bagaimana ini.? Hiks, aku juga sudah tidak kuat lagi." Kata salah satu healer perempuan lainnya.
...
Dipintu masuk Camp militer pasukan Majaren.
Leon berjalan masuk ketempat Camp itu. Para pasukan disana tidak ada yang menyambutnya. Dan Leon melihat kesibukan para prajurit yang sedang mondar-mandir merawat prajurit yang terluka.
Lalu, tiba-tiba ada healer perempuan yang menghampirinya.
"Tuan, kau sudah datang, apa kau baik-baik saja.? Apa perlu kami periksa dulu". Kata salah satu healer disana.
"Aku baik-baik saja, Lebih baik obati prajurit yang terluka disana." Kata leon.
"Hei orang asing, kau sangat hebat bisa menahan pasukan Honzu seorang diri. Apa kau kabur kemari.?" tanya prajurit lainnya.
"Ah. Aku sudah mengusir mereka dari sana, dan Jendral mereka membawa pasukannya mundur." Kata Leon.
"Heee.? Bagaimana caramu mengusir mereka.?" Tanya prajurit itu penasaran.
"Eeh, itu. aku sedikit menghajar mereka semua. hehehe." Jawab Leon.
Sontak semua prajurit yang mendengarnya terkejut. Apaaaaaaa.??". Kira-kira begitu kata-kata yang keluar dari mulut semua orang disana.
"Apa itu benar.? tidak bisa dipercaya." Kata prajurit itu dengan terkejut.
"Ahahaha. Dimana tempat komandan sekarang.?" Tanya Leon.
"Aah, komandan sedang terbaring di tenda komando sebelah sana." Jawab prajurit itu sambil menunjuk jarinya.
"Baiklah, aku akan kesana sebentar." Kata Leon sambil berjalan kearah tenda komando.
Lalu, Semua prajurit pun mulai bergosip tentang Leon, mereka mengira Leon adalah salah satu Paradicone yang terkenal sangat kuat itu. Namun Leon tetap bersikap cuek dengan gosip-gosip itu.
"Aku yakin, dia pasti Paradicone." Kata salah satu prajurit.
"Jika memang benar dia Paradicone, kenapa dia membantu kita.?" Tanya Prajurit lainnya.
__ADS_1
"Aah, ituu. aku sendiri tidak tau. Mungkin dia hanya orang biasa yang kebetulan kuat." Kata Parajurit lainnya.
.....
Ditenda komando.
Leon pun masuk kedalam tenda komando. Iya melihat luka Elis sangat serius. Wajah yang cantik berubah menjadi memar dan berdarah. Bahkan seluruh tubuhnya tergores dan lecet.
Silvi pun sama, memar yang ada di perutnya membuat organ dalamnya bermasalah. Para Healer disana sudah bekerja sangat keras untuk menyembuhkan luka Elis dan Silvi. Tapi, mereka tidak bisa menyembuhkannya.
"Siapa kau.? jangan menganggu kami disini." Kata salah satu healer disana.
"Ah, hehe. maaf Nona. Saya orang yang diselamatkan dipantai." Kata Leon.
"Ada urusan apa kau kesini.?" Tanya healer itu.
"Ah, Aku hanya ingin melihat kondisi mereka saja. Kalian sudah berusaha sangat keras. Bisakah kalian menyerahkan sisanya padaku.?" Kata Leon kepada para healer disana.
"Emm,? apa yang akan kau lakukan.?" Tanya healer dengan ragu.
"Aku akan membantu menyembuhkan luka mereka. Bisakah kau mempercaiyaiku.?" Tanya Leon.
"Apa kau bisa mengunakan Sihir healer.?" Tanya helaer disana.
"Iya, aku bisa mengunakannya sedikit. Tunggulah sebentar." Kata Leon sambil menghampiri Elis.
Lalu, tangan Leon bersinar cukup terang, dan ia mengarahkannya ke tubuh Elis, lalu cahaya cukup terang keluar dari tubuh Elis.
Disana Leon sedang meregenerasi tubuh Elis yang terluka. Bedanya dengan para Healer disana adalah Mereka hanya menutup luka dan membantu sistem regenerasi dari pemilik tubuh yang terluka.
Tapi Leon, ia mampu meregenerasi luka-luka itu sampai dalam keadaan semula, bahkan bekas luka Elis sampai hilang dalam beberapa detik saja. Kilatan cahaya dari tenda komando bersinar cukup terang, membuat semua prajurit yang ada di luar bertanya-tanya "Apa itu.?".
"Ini tidak bisa dipercaya, bagaimana dia bisa melakukannya seperti itu.?" Tanya healer dalam hati yang ada disana dengan sangat terkejut.
"Bagaimana kau bisa melakukannya.? ini pertama kalianya aku melihat Sihir seperti itu." Tanya healer disana.
"Aku meregenerasi lukanya, hanya itu saja." Kata Leon.
"Heeee. hanya itu.?" Kata healer yang lain dengan terkejut.
"Biarkan mereka tidur, mereka butuh istirahat beberapa saat". Kata leon kepada para healer disana, Lalu ia pun keluar tenda dan menghampiri para prajurit yang terluka.
"Para healer disini hampir kehabisan energi, kenapa mereka sampai pinsan disana.?" kata Leon dalam hati.
Lalu, Satu persatu para prajurit yang teluka di sembuhkan oleh Leon. Mereka yang melihatnya sangat kagum dengannya. Dan Leon sangat senang bisa menolong mereka.
...
Malam pun tiba. Elis yang terbaring di tempat tidur, mulai membuka matanya. Dan iya mendengarkan suara nyanyian yang sangat keras dari luar tenda.
"Dimana aku sekarang.?" Kata Elis sambil duduk. Lalu ia melihat kobaran api dari dalam tenda.
"kenapa ada api besar di luar sana, apa yang sedang terjadi.?" kata Elis yang bangun dari tempat tidurnya dan keluar dari tenda sambil melihat sekelilingnya.
Terlihat, api ungun yang cukup besar dan semua pasukan berpesta merayakan kemenangan mereka, Lalu Leon sedang duduk melihat salah satu prajurit bernyanyi sambil meminum arak.
Silvi yang sudah berada di tempat itu, mendekat kepada Elis. "Kau sudah bangun Elis. Mereka sedang merayakan kemenangan". Kata Silvi kepada Elis.
"Apa pertempuran di pelabuhan sudah selesai.? Lalu siapa yang mengalahkan mereka.?" Tanya Elis.
__ADS_1
"Lihatlah disana, dia yang mengalahkan pasukan Honzu seorang diri. 3 Komandan terkapar, dan sang Jendral mengaku kalah di depannya" Kata Silvi sambil menunjuk ke arah Leon.
"Apaa. ini tidak mungkin Silvi. Apa itu benar.?" Kata Elis yang terkejut.
"Hem. Lalu kenapa semua pasukan kita ada disini.? dan kenapa mereka semua merayakan kemenangan.?" Jawab Silvi dengan tersenyum.
"Haa." Suara Elis tiba-tiba terkejut.
"Jangan-jangan dugaanku benar Silvi. Kekuatan Leon memang berbeda dari kebanyakan orang yang ada. Aura kegelapan yang di tunjukan padaku waktu itu benar-benar sangat kuat. Apa mungkin dia adalah salah satu anggota Paradicone?." Kata Elis dengan panik.
Silvi pun langsung terkejut, sampai air minum yang di bawanya jatuh ketanah. Dan tanpa pikir panjang, Elis pun langsung bersujud kepada Leon.
"Hormat kami Sang Paradicone". Kata Elis dengan kencang sambil bersujud.
Semua orang yang ada di sana pun sangat terkejut, musik yang di nyanyikan oleh semua orang langsung berhenti seketika.
"Glegg (menelan ludah). Ternyata benar, Dia adalah sang Paradicone." kata salah satu prajurit disana dengan tercengang sambil melihat ke arah Leon.
Semua pasukan yang ada disana langsung bersujud dan menundukkan kepala mereka kepada Leon.
"HORMAT KAMI SANG PARADICONE." Kata semua prajurit disana dengan kompak, bahkan tubuh mereka sampai gemetar ketakutan.
"Eeeeeh.?" Suara Leon kebingungan melihat sikap mereka semua yang tiba-tiba bersujud padanya.
"Ma, ma, Maafkan kami tidak menyadarinya lebih awal kalau Anda adalah seorang Paradicone." Kata Elis dengan sangat ketakutan.
"oe Oe, Elisabeth, Kenapa kamu merusak kesenangan semua orang.?" Tanya Leon kepada Elis dengan mabuk.
"Sudah aku katakan, aku tidak tau apapun tentang dunia ini. Apa lagi Paradicone, aku tidak tau apa-apa tentang itu, dan aku bukan salah satu dari mereka". Kata Leon dengan santai.
"Haa.?" Suara Elis terkejut.
"HEEEEEEEE." Suara semua orang disana dengan sangat terkejut.
"Yang benar saja. Apa itu benar.?" Kata Elis mulai tenang.
"Ah, itu benar Nona Elis. kalian tidak perlu bersujud padaku, aku bukan Paradicone." Kata Leon yang mabuk.
"Kau, kau, KAU SUDAH MEMBUATKU KETAKUTAAAN." Teriak Elis sambil menghampiri Leon.
"Eeeh.?" Suara Leon yang pasrah.
BUOOK. Suara pukulan Elis kepada Leon. "Aaah." Suara Leon yang terjatuh ketanah.
"Hahaha, aku hampir terkena serangan jantung." Kata salah salah prajurit disana.
"Aku bahkan mau pinsan disini. hahaha. untung saja dia bukan Paradicone." Kata salah satu prajurit lainnya.
"Haaaah. (menghela nafas). Aku lega sekarang. Dia benar-benar mengejutkanku." Kata Silvi yang terbaring di tanah.
.....
"Huh, huh. Kau tidak tau Leon, bahkan seluruh tubuhku sudah gemetar ketakutan." Kata Elis dengan kesal.
"Ada apa dengan kalian semua. Mari kita lanjutkan pestanya lagi." Kata Leon sambil bangun.
"Ah, baiklah." Kata salah satu prajurit disana dengan tersenyum.
"Hahahaha. aku akan bernyanyi lagi." Kata salah satu perajurit lainnya.
__ADS_1
"Hem." Suara Elis tersenyum.
Pesta pun di mulai lagi, suara kegembiraan dari Pasukan Elis disana menyelimuti gelapnya malam.