
[Pantai Ame]
Leon tiba-tiba menghilang, dan tiba-tiba berada tepat di depan Rin.
Rin pun kaget. "Apaaa.?" dan Leon langsung memukul wajah Rin dengan sangat keras, tangan Leon yang diselimuti aura kegelapan, menyebabkan tekanan jiwa pada Rin. Bahkan Rin sampai tidak bisa bergerak.
Serangan itu sangat cepat sekali, Rin tidak bisa menangkisnya dan ia terpental kebelakang dengan kecepatan tinggi sampai menabrak lambung kapal.
"Ini bukan kekuatan Sihir biasa" Kata Rin dalam hati yang sedang sekarat. Dan Ia pun langsung tak sadarkan diri.
"Tidak mungkin, Rin." Kata Karma dengan tercengang.
Semua pasukan yang melihatnya benar-benar sangat terkejut. Padahal, kekuatan Rin yang sekarang sudah cukup kuat. Tapi dengan mudahnya di kalahkan oleh Leon dalam sekali pukulan.
Leon pun berteriak kepada pasukan Elis yang masih bertahan disana.
"Mundurlah sejauh mungkin dari tempat ini, dan bawalah semua teman kalian yang tergelatak disana. Tidak akan ada prajurit Honzu yang bisa menyentuh kalian. Bahkan Raja mereka sekalipun". Kata Leon kepada semua pasukan Elis yang ada di garis belakang.
Semua prajurit yang tersisa langsung bergerak dan mengangkat satu-persatu tubuh prajurit dengan kekuatan Sihir, termasuk Elis dan Silvi. Semuanya diterbangkan ke tempat yang aman.
"Aku akan menghadapinya sekarang." Kata Karma yang langsung turun dari kapalnya.
"Hati-hati Karma, sepertinya dia bukan orang biasa, kita harus mengepung dia bersama dengan semua pasukan." Kata Seju sambil melompat turun dari kapal.
"Aku sudah tidak tahan Seju. SERAAAAAAAANG." Teriak Karma kepada seluruh pasukannya.
"HOOOOOAAA." Suara puluhan ribu prajurit Honzu yang mengepung Leon.
....
"Heem. padahal aku hanya ingin membalas budi. Maafkan aku, mungkin aku akan melumpuhkan kalian semua." Kata Leon yang sedang bersiap-siap menyerang.
Mereka semua pun bertarung melawan Leon seorang diri.
....
[Di tengah laut. Kapal Perang Jendral]
Jendral Seril yang masih berada di tengah laut, merasakan aura yang sangat kuat dari pantai Ame. Ia pun berlari keluar dari ruangannya, dan menuju ke depan kapal.
"Ini Gawat. Aura ini sangat kuat." Kata Seril sambil meremas pagar kapal.
"Cepat, gerakkan kapal, kita pergi ke pantai sekarang." Kata Seril yang memerintahkan bawahannya.
"Ha. Laksanakan Jendral." Kata salah satu prajuritnya. Mereka pun pergi kepantai Ame.
__ADS_1
Saat masih dalam perjalanan, Seril melihat kapal-kapal milik pasukannya sudah hancur semua, ada kapal yang tebelah, ada juga yang terbakar.
50 Kapal perang yang di kerahkan Seril ke pelabuhan Ame hancur berkeping-keping. Lalu pasukannya juga terkapar di Pelabuhan dan di tepi Pantai.
"Apa yang sudah terjadi disini.?" Kata Seril dalam hati dengan sangat terkejut.
Pemandangan yang tidak biasa sedang di saksikan oleh sang jendral bersama pasukannya.
Saat setelah mereka sampai di didekat pantai, Seril langsung turun dari kapal bersama ajudannya, dan ia melihat puluhan ribu pasukannya tergeletak disepanjang pantai sampai pelabuhan.
Semua prajurit yang ada di atas kapal sangat tercengang melihatnya, ada yang menangis kehilangan keluarganya disana. Ada yang sampai terkagum-kagum, ada pula prajurit yang pinsan dan muntah-muntah.
Ekspresi mereka semua berbeda-beda saat melihat pantai dipenuhi tubuh orang yang sudah tergeletak begitu banyak.
Ajudan Seril bernama Ito memberikan perintah kepada pasukannya untuk mengevakuasi mayat-mayat yang tergeletak itu.
Suasana disana begitu hening dengan pemandangan puluhan ribu mayat. Darah yang berceceran dimana-mana. Mayat yang terombang-ambing di pingir pantai merubah warna laut menjadi merah gelap.
Beberapa pasukan yang ikut dalam pertempuran itu, ada yang masih hidup, ada yang pinsan, ada juga yang mengerang-gerang kesakitan. Dan ada pula yang meminta tolong dengan suara yang sangat lemah.
Bau udara disana sangat menyengat, seperti terkontaminasi antara bau darah dan asap kebakaran.
Jendral Seril terus berjalan dari bibir pantai ke arah pelabuhan. Terlihat Komandan karma dan seju yang sudah tergeletak.
"Aku tidak percaya ini, siapa yang melakukannya.?" Kata Seril dengan tercengang.
Dan di tepi pantai, Ito melihat Rin yang terombang-ambing oleh air laut. "Rin.? tidak mungkin." Kata Ito dengan tercengang.
Perasaan bingung bercampur sedih. Ito pun memanggil sang jendral, Lalu Seril pun berjalan dengan sempoyongan menuju tubuh Rin.
"Tidak. Rin. Bahkan kau juga dikalahkan." Kata Seril dengan sedih.
"Kita periksa kepelabuhan sekarang." Kata Seril sambil berdiri dan meletakkan tubuh Rin di bibir pantai.
Seril terus berjalan ke arah pelabuhan sampai ia pun tiba disana. Seril melihat seseorang yang sedang duduk sendirian sambil memegang sebuah pedang. Dan mereka berdua pun menghampiri orang itu.
"Siapa kamu.?" Tanya Ito pada orang itu.
"Namaku Leon, aku sedang menunggu pemimpin pasukan Honzu. Kau kah pemimpin pasukan ini.?" tanya Leon.
"Siapa dia.? Seekor tikus yang aku lihat dari teropong." Kata Seril dalam hati dengan tercengang.
"Apa semua ini adalah ulahmu.?" Teriak Ito dengan sangat marah sambil mengeluarkan aura merah dari tubuhnya.
"Ternyata benar, kalian lah yang membawa orang-orang ini untuk mati." Kata Leon. Lalu ia pun menghilang dari tempat duduknya, dan tiba-tiba berada didepan Ito.
__ADS_1
"Orang ini sangat kuat" kata Seril dalam hati dengan terkejut.
Ito pun mengeluarkan pedangnya "Bajingan kau." Kata Ito sambil mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat yang di selimuti aura merah miliknya.
Tapi, Leon dengan sangat mudah menghentikan serangan itu dengan kedua jarinya saja.
"Apaa.?" Kata Ito tekejut.
"Aku sudah sedikit kelelahan." Kata Leon sambil membenturkan kepala Ito dengan kepalanya sendiri, Lalu Ito pun langsung tak sadarkan diri ditempat.
Seril pun terkejut dan mulai bicara kepada Leon. "Hei Nak, sudah cukup sampai disini.?"
Leon pun menoleh dan memandang Seril dengan tatapan tajam dan penuh ancaman.
"Bisakah kau melepaskan kami, bahkan kau sudah membunuh pasukanku disana, dan aku sudah tidak punya gairah untuk bertarung". Kata Seril kepada Leon dengan panik. Ia tidak menyangka, kalau Leon benar-benar sangat kuat. Ini di luar perkiraannya, bahkan saat ini Seril mencoba menghindari pertempuran dengan Leon.
Namun Leon semakin emosi dengan perkataan itu "Apa yang kau katakan.?" Kata Leon dengan kesal, lalu ia pun menyerang Seril dengan tangan kosong.
BUOOK. Wajah Seril dipukul dengan sangat keras, bahkan tulang hidungnya patah dan berdarah sampai ia pun terpental ke udara.
"Kekuatan ini, bahkan aku sendiri tidak bisa menghindarinya." Kata Seril yang sudah tidak berdaya melawan orang seperti Leon. Kekuatannya melebihi batas kemampuan manusia pada umumnya.
"Mungkinkah dia sang Paradicone. Seseorang yang memiliki kekuatan tak terbatas. Aku sudah melakukan kesalahan". Kata Seril dalam hati yang sedang menunggu kematiannya.
Leon pun mengeluarkan pedangnya dan langsung meloncat keudara sambil memukul perut Seril dengan ujung pedangnya. BOKK.
"Uhook." Suara Seril kesakitan, ia pun terpental jatuh ke tanah.
BREDOOM. Suara keras dari jatuhnya jendral ke tanah, sampai membuat semua pasukan disana terdiam seribu bahasa. Tidak ada seorang pun yang berani kesana, apalagi ikut campur dalam pertarungan itu. Mereka hanya mematung melihat Jendralnya di hajar habis-habisan.
"Haaa." Seril pun tercengang melihat Leon yang berdiri didepannya. Dan Leon menatap tajam dengan aura kegelapan yang keluar dari matanya.
"Aku tidak membunuh pasukanmu, aku hanya melumpuhkan mereka. Mayat-mayat yang kau lihat itu, adalah hasil kerja keras pasukan Majaren yang sedang terancam oleh kalian. Aku melakukan semua ini hanya karena aku membalas budi." Kata Leon kepada sang jendral.
"Pergilah dari sini, dan bawa semua pasukanmu yang tergeletak disana. Aku akan membiarkan kalian pergi." Kata leon.
"Aa, aa. Baiklah." Kata Seril dengan ketakutan, ia pun langsung berdiri dan langsung berlari menghampiri Ito yang pinsan.
Seril pun mengangkat tubuh ito. Dan berteriak kepada semua pasukannya yang tersisa, untuk mengevakuasi semua pasukan yang masih hidup maupun yang sudah mati ke dalam kapal.
"Heem." Suara Leon sambil berjalan pergi dari sana. Lalu Seril melihatnya dari belakang dengan tatapan yang takut.
"Terimakasih sang Paradicone" Kata Seril kepada Leon.
Leon pun berhenti seketika. "Siapa Paradicone? aku bukan seorang Paradicone." Kata Leon dengan santai.
__ADS_1
Seril pun terkejut, sampai ia terbatuk dan memuntahkan darah.
***