
Ku pandangi sepasang sepatu baru yang tengah ku pakai saat ini. Sepatu dengan harga setara dengan uang sakuku selama 3 minggu. Awalnya aku tak berniat memakai sepatu itu, namun pagi tadi saat hendak berangkat ke sekolah, sepatu lamaku jebol di bagian sol nya, terpaksa aku pun memakai sepatu baru pemberian Vino karena aku tak memiliki sepatu lain untuk di pakai.
"Cie Sepatu baru,..." Ucap Vino yang entah bagaimana bisa berada di sini padahal tempat ini sangat jarang d kunjungi siswa karna letaknya yang berada di belakang gedung sekolah.
"Sepatu Lo nih,... Mau gue balikin sekarang?" Ucapku yang kemudian mencoba membuka sepatu yang kini sedang bertengger di kakiku.
Sebenarnya Aku merasa tidak nyaman memakai sepatu ini, apalagi ini adalah pemberian Vino, yang Notabene adalah musuh bebuyutan ku.
"Lo pake aja,.. Gue ga terima barang second!" Ucap Vino yang kini sudah berdiri tepat di hadapanku.
Aku tak menjawab ucapan Vino yang sedikit menyentil hatiku. Aku justru harus bersyukur setidaknya aku masih bisa berangkat sekolah hari ini berkat sepatu yang Vino beri semalam. karena kondisi ekonomi keluarga ku yang memang sedang tidak baik-baik saja membuat kami harus ekstra hemat dalam menggunakan uang.
"Lo bisa pake sepatu itu tanpa harus merasa ga nyaman sama gue" Ucap Vino yang kini duduk tepat di sampingku.
__ADS_1
"Tumben Lo baik". Selorohku sambil menoleh kearah Vino.
"Lo tuh ya kalo ngomong,.....". Vino berkata sembari menyentil dahiku.
"Ish.. Sakit tau!" lirihku sambil mengusap dahi yang sempat VIno sentil tadi.
"Gitu doank sakit!" Cibir Vino.
"Cie,... Sepatu baru" Ucap Anis saat melihatku masuk kedalam kelas. Rupanya Anis baru menyadari sepatu yang ku kenakan ini.
"Cie yang baru tau,.." selorohku yang kemudian duduk di sampingnya.
"Oia,..tadi Rayyan nyariin lo tuh". Ucap Anis yang tak ku gubris.
__ADS_1
******
Jam pelajaran tambahan di kelasku berakhir ketika waktu sudah beranjak sore. Langit tampak mendung dan bisa di pastikan akan turun hujan sebentar lagi.
"Gue antar pulang ya Al! Kayanya mau turun hujan nih" Ajak Anis. Kami berdua tengah berjalan beriringan keluar dari toilet menyusuri koridor yang terlihat sepi dari siswa karna kelas kami memang pulang paling terakhir. Di tambah lagi Aku harus mengantar Anis ke toilet terlebih dahulu jadilah mungkin hanya tinggal kami berdua siswa yang masih berada di sekolah ini.
"GUe pulang naik Angkot aja deh" Tolak ku. Aku sengaja menolak niat baik Anis, karena tidak ingin merepotkan Anis. Jarak rumah ku dan Anis cukup jauh, jika ia mengantarku pulang bisa-bisa ia akan kehujanan di jalan.
"Yakin ga mau gue anterin sekalian?"
"Kalo Lo anterin gue pulang, yang ada Lo yang kehujanan,.. Udah sono pulang duluan" Ucapku sambil mendorong lembut punggung Anis kearah parkiran.
Dengan berdecak keras Anis pun berjalan menuju motor miliknya, sementara Aku terus berjalan menuju gerbang depan untuk kemudian menuju halte terdekat untuk menunggu Angkutan umum yang lewat.
__ADS_1