Love Story In SMA

Love Story In SMA
BAB 14


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Aku kembali ke ruang tamu untuk menemui Rayyan yang tampak masih mengobrol bersama Ibu.


"Ada perlu apa?" Tanyaku yang kini tengah duduk di sebrang kursi kayu yang tengah Rayyan duduki.


"Anis bilang kamu sakit?" Tanyanya sambil terus menatapku.


di tatap dengan begitu intens membuatku merasa tak nyaman apalagi hanya ada kami berdua di ruangan ini karena sebelumnya Ibu pamit untuk membuat minum ke belakang.


"Cuma ga enak badan" Jawabku singkat.


sebenarnya Aku malas meladeni Rayyan saat ini, Namun karena Rayyan adalah tamu di rumahku tentunya Aku harus menghargai kedatangannya.


"Sudah ke dokter?" Tanyanya lagi.


"Gue cuma ga enak badan, jadi ga perlu ke Dokter" Jawabku malas.


untuk sejenak Rayyan tampak terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan.

__ADS_1


"Maaf,....." Ucapnya dengan tatapan yang berbeda.


"Maaf untuk Apa?" Tanyaku yang masih belum mengerti dengan ucapan Maaf RAyyan.


"Apa mungkin Rayyan meminta maaf untuk ucapan menyebalkannya kemarin?" kali ini aku hanya berkata dalam hati.


"Maaf karena membiarkanmu kehujanan kemarin". Ucapnya dengan nada sesal yang terdengar jelas. Namun ucapan itu justru membuatku bertanya-tanya kenapa justru Rayyan malah mengungkit hal yang tidak ada hubungannya dengannya.


"Gue kehujanan atau ngga. Ngga ada hubungannya sama Lo". Jawabku ketus.


"Lain kali kamu bisa langsung hubungi nomorku jika sedang butuh pertolongan" Ucapnya lagi.


"Rayyan,.. Gue bahkan ga save nomer Lo,.. Dan gue ga mau bantuan dari Lo" Jawabku yang mulai merasa kesal dengan semua ucapannya.


"Kalau begitu,.. Save nomerku dari sekarang!" tegasnya dan membuatku melongo.


Rayyan sudah pergi sejak 1jam yang lalu. Namun kepergiannya justru meninggalkan sebuah tanya besar di kepalaku. Tentang tujuannya datang dan maksud dari semua ucapan anehnya. Ibu bahkan bertanya padaku tentang Rayyan, Namun aku hanya menjawab jika RAyyan adalah ketua kelas yang memang ramah pada semua murid karena itu ia datang ke rumah untuk menjengukku.

__ADS_1


"Kakak,.. Ibu bilang kakak harus habiskan buahnya" Ucap Anin yang masuk kedalam kamarku sambil membawa sepiring penuh potongan buah yang Rayyan bawa tadi. Sebenarnya Rayyan tidak hanya datang membawa sikap anehnya, ia juga datang membawa sekantong obat-obatan, buah-buahan segar dan beberapa kotak kue.


"Taruh aja di meja belajar!" Jawabku yang masih asyik rebahan di atas kasur.


"Kakak tadi pacar Kak Alya yah,..?" Tanya Anin sambil cekikikan.


"Bukan Anin,.. Yang tadi itu cuma cowo aneh". Jawabku yang malah meladeni Anin.


tak ingin lebih jauh meladeni Anin yang pastinya akan lebih banyak bertanya, aku pun segera memintanya keluar dengan alasan ingin beristirahat.


Baru saja ingin kembali bersantai. Ponselku kembali berdering, sebuah nomor baru tanpa di lengkapi foto membuatku ragu untuk mengangkat panggilan itu. Namun meski aku mengabaikannya nomor tersebut, nomor tersebut terus saja menelepon hingga membuatku merasa terganggu dan akhirnya dengan malas aku pun mengangkat panggilan itu.


"Lampir,... Lo Sengaja ga mau angkat telpon gue!" Ucap suara dari seberang telepon. Jika sudah menyematkan kata "Lampir" tentunya sudah bisa di pastikan jika itu adalah VIno.


"Mau apa lo" Jawabku ketus.


"Anis bilang Lo sakit,..! Lo sakit beneran apa cuma alasan?" Tanya Vino yang langsung membuat mood ku memburuk.

__ADS_1


sepertinya Vino kembali menjadi "Si pembuat Onar" pemuda menyebalkan yang selalu saja membuatku kesal. sungguh berbeda dengan Vino yang kemarin tampak baik dan normal.


"Gue males berangkat karena males ketemu sama lo!" JAwabku yang kemudian menutup panggilan darinya dan langsung menonaktifkan ponselku agar VIno tak bisa menghubungiku lagi.


__ADS_2