
Vino terus mendekat ke arahku membuatku semakin takut. hanya ada kami berdua disini. Sangat mungkin jika vIno ingin melakukan sesuatu yang tidak baik padaku disini apalagi Vino dan aku memang memiliki hubungan yang kurang baik sebelumnya.
"Kenapa......? Lo kelihatan ketakutan banget?" Tanya Vino ketika akhirnya kami saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.
"Gue,..gue ga takut!" Jawabku berusaha setenang mungkin menghadapi Vino.
"Denger,.. Gue cuma bilang satu kali. Jadi dengerin gue baik-baik." Ucap VIno
Aku hanya terdiam, sungguh aku tak bisa berfikir apapun sekarang. Jarak kami yang begitu dekat membuatku merasa sangat tidak nyaman.
"Jauhi Rayyan!" Ucap VIno dengan berbisik di telingaku.
VIno sedikit membuat jarak setelah ia membisikkan kalimat aneh tersebut.
Aku bahkan tidak mengerti kenapa VIno memintaku untuk menjauhi Rayyan? Apalagi Aku dan Rayyan tidak sedekat itu. kami hanya berteman, bahkan Rayyan mungkin tidak pernah menganggap ku sebagai teman.
"Gue ga ngerti apa maksud Lo!" Ucapku yang sedikit lega karena posisi kami yang cukup berjarak sekarang.
__ADS_1
"Lo ga perlu tau.... LO cukup ikutin omongan gue tadi!" Ucapnya.
"Gue ga bakal turutin omongan Lo yang ga beralasan itu." Ucapku seolah menantangnya. Aku memang masih diliputi rasa takut. Tapi aku juga tidak bisa diam saja dan mengikuti Ucapan Anehnya itu tanpa ada alasan yang jelas dari Vino.
Alih-alih menjawab, Vino justru hanya tersenyum sambil menatapku.
****
Akhirnya Aku bisa benar-benar lega dan tenang karena Vino mengantarkan ku pulang ke rumah dengan selamat, dan apa yang tadi aku pikirkan tentang Vino tidaklah terbukti. Meskipun begitu aku masih merasa Aneh dengan ucapan VIno yang memintaku menjauhi Rayyan.
"Alya,..." Panggil Ayah ketika kami berempat selesai menikmati makan malam bersama.
"Iya Yah,." Jawabku.
"Alya kenal dengan Nak Rayyan?" Tanya Ayah dengan menatap serius ke arahku.
"Apa Rayyan yang Ayah maksud itu Rayyan Narendra Putra?" Tanyaku untuk memastikan. Karena aku hanya mengenal satu Rayyan. Dan orang itu adalah teman satu kelasku sekarang.
__ADS_1
"Sepertinya memang benar." Ucap Ayah yang kemudian tampak berpikir keras.
"Rayyan itu teman sekelas Alya." Ucapku kemudian.
"Nak Rayyan Pemuda tampan yang tempo hari kesini nengok Kakak." Ucap Ibu yang membuat Ayah terlihat terkejut ketika mendengarnya.
"Nak Rayyan datang kemari?" Tanya Ayah dengan wajah yang benar-benar tampak tak percaya.
Aku dan Ibu mengangguk bersamaan mengiYakan Pertanyaan Ayah.
Aku kembali ke kamar setelah sedikit mengobrol bersama Ibu yang menanyakan alasan keterlambatan ku pulang hari ini. Sementara Ayah kulihat hanya terdiam dan terlihat tengah memikirkan sesuatu yang serius.
Baru saja hendak memejamkan mata, sebuah dering ponsel milikku berbunyi. Dengan malas aku pun mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja belajar.
"Rayyan.....? Mau apalagi dia?" Gumamku.
Sungguh aku tak ingin lagi berkaitan dengannya, bukan karena mendengarkan ucapan Vino tadi siang , Tapi karena aku yang memang malas berkaitan lagi dengannya. Lagipula untuk apalagi Rayyan menghubungiku. Kami tidak lagi bekerja sama dalam satu tim. Lagipula bukankah dia terlalu sibuk untuk sekedar menghubungiku.
__ADS_1