Love Story In SMA

Love Story In SMA
BAB 9


__ADS_3

Sejak sore hari, Aku sudah mulai sibuk di Stand milik Tante Dewi. Stand milik Tante Dewi berukuran cukup luas, Stand ini tidak hanya menjual berbagai jenis pakaian remaja laki-laki maupun perempuan, tapi juga menjual berbagai jenis dan Merk sepatu dan sandal dari Brand Lokal yang harganya cukup terjangkau bahkan tergolong ramah di kantong. Karna itu Stand Milik Tante Dewi ini banyak di kunjungi pengunjung, entah itu sekedar melihat-lihat maupun membeli koleksi dari stand ini.


Malam semakin larut,. Pengunjung pun mulai surut, Aku bisa sedikit rileks karna sejak sore Aku dan karyawan lain tak sempat beristirahat karna banyaknya pengunjung yang datang.


"Selamat Malam Mbak,.. ". Sapa seseorang yang pagi tadi sempat membuatku jengkel.


Vino Mahardika,. Si pembuat onar,.. Tengah berdiri di hadapanku dengan memasang wajah ramah yang sungguh berbeda dari biasanya.


Aku terheran-heran menatap wajah Vino


" Bagaimana Vino bisa kesini,. ? Dari mana VIno tahu tentang stand ini,.? Apa dia belum puas membuatku kesal pagi tadi..?" berbagai pertanyaan dan pemikiran negatif tentangnya mulai bermunculan di kepalaku.


"Mba,.. Kok malah melamun,.." ucap Vino sambil terkekeh.


"oh,.. Iya Kak,. Silahkan,.. Ada yang bisa saya bantu,..?". Ucapku dengan ramah.


Aku harus bisa menempatkan posisiku saat ini. Vino adalah seorang pengunjung yang harus aku Layani dengan baik. Aku harus bisa bersikap profesional saat ini.


VIno berjalan perlahan mengamati berbagai jenis pakaian dan Hoodie yang terpajang rapih , sesekali ia bertanya tentang warna dan ukuran serta harga padaku. Dan selalu aku jawab dengan ramah. Aku benar-benar menempatkan Vino sebagai pengunjung stand. Bukan sebagai musuh bebuyutan di sekolah. Meski dalam hati Aku bertanya-tanya tujuan Vino kesini. Bukankah ia selalu mengenakan pakaian maupun aksesoris dari brand terkenal.

__ADS_1


"Sepatu ini,.. Sepertinya bagus". Ucapnya ketika berhenti diarea rak berbagai jenis sepatu.


"Berapa ukuran sepatu Lo,..?". Tanya Vino sambil menghadap ke arahku.


"Gue,.. ".


"Iya elo lah siapa lagi..." jawabnya dengan nada yang mulai berbeda dengan sebelumnya. Kurasa VIno sudah kembali ke setelan Aslinya. Menyebalkan.


"Kepo,.." jawabku pelan namun aku yakin Vino masih bisa mendengarnya.


"Gue tanya baik-baik juga,.... Serius nih,." jawabnya.


" 37,.." Jawabku singkat. Aku terpaksa menjawab pertanyaannya,karna sejak tadi karyawan Tante Dewi yang lain terus memandang ke arahku dan VIno. Aku jadi merasa tidak enak untuk berdebat dengan Vino disini.


"Hmmmmm,... Ok kalo gitu gue mau sepatu model ini ukuran 37. Dan sepatu model ini ukuran 42". Ucapnya sambil tangannya menunjuk kearah 2 buah pasang sepatu sekolah berwarna hitam.


" Oia,.. kemas masing-masing sepatu di bOx dan kantong terpisah ". imbuhnya. Aku hanya mengangguk kemudian mengambil apa yang vIno pesan tadi.


Vino tengah membayar kedua pasang sepatu tadi di kasir saat aku tengah mengemas 2 barang yang ia pesan tadi. kedua pasang sepatu tersebut aku kemas di box dan kantong yang berbeda, sesuai dengan yang Vino pesankan sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan ini untuk pacarnya,.." Gumamku sambil terus mengemas rapi kedua pasang sepatu itu.


setelah selesai mengemas kedua pasang sepatu di box dan kantong yang berbeda aku pun segera menyerahkan keduanya pada Vino.


"Ini sepatunya,.." ucapku sambil menyodorkan 2 kantong plastik berisi sepatu yang ia pesan tadi.


"Yang mana yang ukuran 42,..?" tanyanya sambil mengamati kedua kantong plastik yang masih ada di tanganku.


"Yang ini,... " jawabku sambil sedikit mengacungkan sebuah kantong plastik di tangan kananku. beruntung Aku ingat kantong mana yang berisi sepatu berukuran 42.


"oK,.' ucapnya kemudian mengambil kantong plastik dari tangan kananku. Sementara kantong plastik di tangan kiriku tidak ia sentuh.


"Ini satu lagi,." ucapku mengingatkan sambil menyodorkan kantong plastik yang masih berada di tangan kiriku.


"Yang itu buat Lo,.." Ucapnya sambil tersenyum.


"TApi,.."


"Udah gue bayar kok,.. Tenang aja. Oia,... jangan lupa besok lo pake sepatunya". Ucap Vino yang kemudian berlalu pergi sebelum aku mengatakan kalimat penolakan.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini....?". Gumamku yang masih belum mengerti dengan sikap Vino kali ini.


__ADS_2