
Jika awalnya Aku malas melihat pertandingan basket tersebut, kini justru aku bersemangat menonton pertandingan tersebut. Aku tak pernah menyangka jika Rayyan dan Vino bisa bermain kompak bersama tim mereka. Tim sekolah kami terus mendapat skor karena kekompakan tim dengan Rayyan sebagai kaptennya. Hingga akhirnya peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Tim sekolah kami unggul dan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan persahabatan ini. Riuh sorai Murid Sekolah kami menggema berbahagia atas kemenangan tim basket sekolah.
Di keriuhan yang terus menggema, ku lihat seorang gadis seusia ku yang memakai seragam berbeda dengan seragam sekolah yang ku kenakan berlari menghampiri Rayyan yang tengah berkumpul bersama anggota tim lainnya di pinggir lapangan. Gadis tersebut kemudian memberikan Rayyan sebotol air mineral. Tidak hanya itu, gadis itu juga bahkan mengelap keringat yang membasahi wajah Rayyan menggunakan sapu tangan yang ia bawa. Dan Rayyan tampak terlihat bahagia mendapat perlakuan seperti itu dari gadis tersebut. Melihat pemandangan yang terkesan romantis tersebut, entah mengapa justru sesuatu di sudut hatiku merasa tidak nyaman.
Aku memutuskan untuk segera pergi dari area lapangan karena semakin merasa tak nyaman melihat interaksi Rayyan dan gadis itu. Entah apa yang membuatku bisa merasa seperti itu.
Ku tinggalkan Anis yang sepertinya masih betah berada di sana, bahkan ia sampai tak menyadari jika aku sudah pergi meninggalkannya.
"Woy Lampir,....!" Panggil seseorang yang pastinya orang tersebut adalah Vino. Siapa lagi di sekolah ini yang selalu memanggilku dengan sebutan itu.
__ADS_1
Tak ingin memperdulikan panggilannya, Aku terus berjalan menjauhi area lapangan agar bisa terbebas dari tingkah absurd Vino.
"Lo budeg ya,.! Gue panggil malah ngeloyor kabur." Ucap Vino yang tiba-tiba berjalan tepat di sampingku.
"Sialan nih cowo kenapa malah ngikutin gue sih" gerutuku dalam hati. Aku lupa jika Vino memiliki kaki yang panjang, tentunya dengan mudah ia bisa cepat mengikuti ku.
"Apa lagi sih Vino?" Tanyaku yang akhirnya berhenti melangkah dan berdiri di hadapannya.
"Gue ga apa-apa." Ucapku ketus karena merasa tak suka dengan sikapnya tadi.
__ADS_1
"Sorry,.. harusnya gue ga terlambat buat nganter Lo pulang kemaren." Ucap VIno dengan raut wajah yang terlihat menyesal. Sungguh aneh, kenapa ia malah terlihat menyesal bukannya terlihat lelah karena baru saja tenaganya terkuras banyak tadi.
Ucapan Vino tadi justru menyadarkan ku jika seharusnya aku berterima kasih padanya, aku berhutang budi padanya karena ia telah berbaik hati mengantarku pulang di tengah derasnya hujan. Jika saat itu VIno tidak datang dan mengantarku pulang. Entah apa yang akan terjadi. Mungkin aku bisa semalam berada di halte itu dengan tubuh yang tentunya menggigil kedinginan. Aku benar-benar harus berterima kasih padanya. Dan Mungkin Vino sudah berubah menjadi lebih baik sekarang.
"Makasih karena Lo,.. Gue bisa pulang ke rumah dengan selamat." Ucapku pelan.
mendengar Ucapanku, Vino justru menyeringai Aneh.
"Tapi tumpangan gue kemaren ga gratis,....! Jadi Lo harus bayar ongkos numpang mobil gue kemaren. Sekarang juga!" Ucap Vino dengan seringai Anehnya.
__ADS_1
Mendengar Ucapan VIno, aku pun langsung merasa takut.
"Sepertinya Aku telah salah menilai Vino. Vino masih tetap seperti dulu. Si pembuat Onar yang menyebalkan!" gerutuku dalam hati.