
Suasana di meja makan yang biasanya ramai dengan celotehan Aku dan Anin saat berebut lauk seketika berubah. Hari ini untuk pertama kalinya Aku dan Anin duduk manis tanpa sepatah katapun. Begitu juga Ayah dan Ibu yang terlihat canggung, sementara penyebab keheningan sarapan kami terlihat sangat menikmati lezatnya makanan buatan Ibu.
"Terima kasih untuk sarapannya." Ucap Rayyan setelah selesai menghabiskan sepiring nasi beserta lauknya.
Ibu hanya tersenyum melihat piring Rayyan yang tampak bersih. Tak ada sedikitpun nasi dan lauk yang tertinggal. Rayyan benar-benar menghabiskan semua makanan di piringnya.
"Lo laper apa doyan?" Celetukku spontan.
"Alya,.. !" Ucap Ayah, yang sepertinya sedang memperingatkan ku dalam berucap.
"Maaf Nak Rayyan,... Alya memang suka asal bicara" Ucap Ayah dengan sopan.
Setelah selesai sarapan. Rayyan mengajakku pergi ke luar untuk berjalan-jalan. Awalnya Aku menolak, Namun si licik Rayyan malah langsung meminta izin pada Ayah. Dan anehnya Ayah langsung memberi izin tanpa banyak pertanyaan. membuatku semakin merasa Aneh dengan sikap tidak biasa Ayah pada Rayyan.
"Mau kemana?" Tanyaku ketika mobil yang Rayyan kendarai mulai melaju di jalan.
__ADS_1
"Pantai." JAwab Rayyan singkat.
"Mau ngapain?" Tanyaku yang masih belum puas mendengar jawaban RAyyan yang terkesan singkat.
"Karena kemarin kamu sudah pergi ke Gunung, maka hari ini Aku ajak kamu pergi ke Pantai" Ucap Rayyan dengan nada ketus, membuatku sampai mengerutkan dahi. bertanya-tanya dengan sikap Rayyan yang berbeda dengan saat berada di rumah tadi.
Sebenarnya Aku ingin bertanya lebih jauh tentang ucapan Rayyan yang menyinggung tentang pergi ke gunung. Namun sebaiknya ku urungkan karena sepertinya malah akan membuat suasana semakin tak nyaman.
Selama perjalanan menuju Pantai, kami berdua saling terdiam tentunya sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Terlebih aku yang sebenarnya merasa kesal. Hari mingguku yang spesial menjadi berantakan karena kehadiran pemuda di sebelahku ini.
Berdiri menikmati pemandangan gulungan kecil ombak air laut yang menerpa kaki di tambah semilir angin laut membuatku seolah merasa damai. Meski Aku dan Rayyan masih saling terdiam, namun setidaknya suasana seperti ini sudah cukup membuatku sedikit terhibur.
"Mulai hari ini, detik ini juga,.. Kamu jadi milik Aku." Ucap Rayyan tiba-tiba.
mendengar ucapan tak masuk akal Rayyan membuatku memalingkan wajah untuk menatap kearah Rayyan yang ternyata Rayyan juga tengah menatap ke arahku.
__ADS_1
"Maksud Lo apa?" Tanyaku menatap tajam kearahnya meminta penjelasan dari ucapan tak masuk akalnya barusan.
"Seperti yang kamu dengar barusan. Mulai dari sekarang Kamu milik Aku dan Aku milik kamu." Ucap Rayyan sambil menatap wajahku. Sungguh wajahnya terlihat sangat serius ketika mengatakan hal tersebut. Membuat ku seketika merinding dan merasa takut.
"Lo ga lagi mabok angin laut kan sampe ngomong ngaco kaya gitu?" Tanyaku memastikan jika Rayyan masih dalam keadaan sadar saat mengatakan hal itu.
"Aku serius Alya,..!" Jawab Rayyan.
tatapan mata dan nada bicaranya menunjukkan keseriusan ucapannya barusan.
"kalo gitu,.. Gue ga mau,.. Gue ya milik gue. Kenapa jadi milik Lo!" Jawabku dengan tak kalah serius.
"Kamu tau,..! Aku ga pernah mau denger penolakan. Suka atau ngga. Kamu tetep jadi milik Aku." Ucapnya tegas. Dan belum sempat aku menyanggah semua Ucapannya. Tiba-tiba saja.
CUP
__ADS_1
Sebuah benda kenyal menyentuh bibirku. membuat bola mataku melotot seketika.