
Seperti biasanya,. Hari ini Aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki menyelusuri jalanan yang masih cukup sepi. ini baru pukul 6 kurang sepuluh menit, kegiatan di jalan raya belum terlalu ramai oleh lalu lalang kendaraan. Inilah yang membuatku menyukai berjalan kaki di pagi hari, selain untuk berolahraga, udaranya pun masih cukup segar untuk dinikmati.
Pukul 06.20 Aku sampai di sekolah, tampak sekolah masih terlihat sepi, hanya beberapa siswa yang sudah hadir di lingkungan sekolah mereka rupanya tengah bertugas piket kelas. Tak ingin membuang waktu Aku segera masuk kedalam kelas. Ternyata di kelas pun hanya baru beberapa siswa yang hadir.
"Pagi Lampir,..."
sapaan tak menyenangkan di lontarkan Si pembuat Onar yang kini tengah berdiri di hadapanku. Hanya meja yang membatasi kami.
tak ingin meladeni sapaannya, Aku pun berusaha menyibukkan diri dengan mulai mengeluarkan buku serta alat tulis dari dalam tas.
"Ya Elah sombong amat,.. Mentang-mentang kemarin dibonceng motor bagus". Ucap Si Pembuat Onar. Sepertinya ia mulai memprovokasi emosiku lewat ucapannya.
"Tahan,... Aku tak boleh terjebak ucapannya,.. Lagian nih Cowo Rese tau dari mana sih soal kemaren". Gumamku dalam hati.
"Dicuekin nih gue,.." Ucapnya lagi yang sambil menundukkan tubuhnya dan menopang wajahnya dengan kedua tangannya di atas mejaku. Tepat di hadapanku.
__ADS_1
"Berisik tau ga". Ucapku yang Akhirnya bersuara tanpa melihat kearahnya.
"Gue pikir Lo beda dari yang lain,. Ternyata gue salah. Lo sama aja". Bisik Vino tepat di telingaku. Mendengar ucapan Vino. Aku yang sejak tadi berusaha untuk tidak terprovokasi menjadi mulai hilang kesabaran.
"Maksud Lo apa HAH,....!".
Ucapku sambil menatap tajam kearah VIno. mata kami berdua saling bertemu, karna jarak wajah vino dan aku tak terlalu jauh. kedua pasang bola mata kami saling menatap tajam dan saling memancarkan kilat permusuhan.
"Hahaha,.." Vino tertawa cukup kencang dan memutus kilat permusuhan diantara kami.
Ia menegakkan kembali tubuhnya, namun masih tetap berdiri di depanku.
"Sial,... Aku kembali terprovokasi ucapannya,." gumamku pelan.
Tak ingin kembali terjebak, aku memtuskan untuk pergi keluar kelas, meninggalkan Vino Mahardika yang tentunya sedang tertawa puas karna berhasil mengerjai ku.
__ADS_1
"Sabar Alya,. Ini masih terlalu pagi untuk mengeluarkan Energi ekstra,." gumamku sambil terus berjalan. Aku benar-benar tak ingin meladeni sikap gilanya hari ini. Setidaknya dengan pergi seperti ini kewarasanku masih tetap terjaga.
"Alya,...." Panggil seseorang sembari berjalan cepat kearah ku. Aku pun berhenti berjalan saat Rayyan menghampiriku.
"Apa,..?". Tanyaku tanpa basa-basi.
"Ini,.." ucapnya sembari menyodorkan beberapa lembar kertas fotocopy.
"Baca dan pelajari lagi,. Ada sedikit perubahan dan ada beberapa hal yang juga Aku tambahkan di sana". Ucap Rayyan.
Aku pun meraih lembaran fotocopy yang Rayyan sodorkan.
"Mohon kerja samanya,... dan,... Oh ya,.. Sepertinya ada sesuatu di wajahmu". Ucap Rayyan dengan mencondongkan wajahnya kearah wajahku hingga jarak kami begitu dekat. Refleks aku segera menjauhkan tubuhku darinya dengan mundur ke belakang.
"Apa,....apa yang ada di muka gue,.". ucapku sambil menyentuh wajahku dengan kedua tanganku. Khawatir ada sesuatu di wajahku.
__ADS_1
"sehelai bulu mata,.. Sepertinya sudah hilang sekarang,...ok,.. Jangan lupa untuk pelajari semuanya,." ucapnya yang kemudian berlalu. Meninggalkanku yang masih berdiri kaku.
" AHHHHH,.... Apaan sih tadi itu,.." gumamku kesal bercampur malu.