LOVE STORY PAPARAZZI

LOVE STORY PAPARAZZI
Kepemilikan Saham


__ADS_3

Seorang pria paruh baya terlihat sumringah melihat kedatangan Abi bersama asistennya.


"Abi, keponakan om yang paling ganteng. Apa kabarmu Nak?" Pria itu berdiri menyambut kedatangan Abi. Ia bahkan memeluk Abi, tapi Abi tidak membalas pelukannya itu.


"Tumben om Dedi main kesini, ada apa?" Tanya Abi dengan wajah datarnya. Dedi merupakan adik kandung dari mendiang ayah Abi.


"Tentu saja mengunjungi ponakan om. Gimana kabar Ibumu?"


"Alhamdulillah baik. Om kesini bukan hanya sekedar mengunjungi dan menanyakan kabar kami kan? Terus terang saja om, ada apa?" Tanya Abi to the points. Ia paling tahu sifat dari adik almarhum ayahnya itu


"Ah kamu ini bisa aja, memang nggak boleh ya om datang kesini" ucapnya dengan santainya.


"Baiklah kalau memang tidak ada yang penting, om bisa ngobrol dengan asistenku. Saya tinggal dulu om, saya masih ada rapat di luar" ucap Abi, bersiap berdiri untuk meninggalkan ruangan.


"Tunggu dulu Abi!!" Ucapnya sambil menahan tangan Abi yang sudah posisi berdiri dan ingin meninggalkan ruangan.


"Maaf om saya sibuk, saya tidak punya waktu untuk berbasa-basi" ujar Abi dengan suara tegasnya.


"Oke, om akan langsung ke inti tujuan om" ucap Pria paruh baya itu, terlihat pasrah. Padahal ia ingin berbasa-basi terlebih dahulu, agar bisa mengambil hati keponakannya sebelum ia menyampaikan tujuannya.


"Om ingin kau menjual saham milikmu dan juga ibumu padaku!" Ucap pria itu penuh percaya diri.


"Om serius?!" Abi sedikit terkejut.


Berdasarkan informasi yang Abi dapatkan, kondisi keuangan perusahaan mendiang Ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Lalu darimana om nya itu mendapatkan dana untuk membeli saham miliknya dan ibunya yang jumlahnya lumayan besar.


"Tentu, om ingin menjadi pemegang saham mayoritas sehingga tidak akan ada satu orangpun yang bisa menyingkirkan om dari jabatan om sebagai CEO."

__ADS_1


"Ambisi om ternyata cukup besar juga" Sindir Abi sembari tersenyum.


"Berapa penawaran yang berani om berikan untukku dan mama?" Ucap Abi lagi, ia melipat kedua tangannya di dada dan menyenderkan tubuhnya di sofa. Ia terlihat santai dengan wajah datarnya.


"Ini" Paman menyodorkan sebuah surat berharga.


"Deposito berjangka?! Apa maksudnya ini om?" Tanya Abi pura-pura tidak mengerti.


"Ini tabungan om, tukar sahammu dengan deposito milik om ini," ucap om Dedi penuh percaya diri.


"Hahaha..., Om bercanda kan" tawa Abi dengan nada sedikit mengejek, ia memperhatikan nilai nominal Deposito berjangka pada lembaran kertas itu.


"Om serius Abi."


"Aku bisa mendapatkan tiga kali lipat dari ini, jika aku melempar sahamku ke pasar saham. Apa om ingin membodohiku?" Tanya Abi, ia terus memperhatikan dengan seksama gestur tubuh dan ucapan dari pria dihadapannya.


"Kamu sudah sangat kaya dengan memiliki beberapa perusahaan besar yang cukup menjanjikan. Jadi biarkan perusahaan keluarga kita ini, menjadi milik om sepenuhnya. Nilai profit perusahaan ini bahkan tidak ada 30% dari salah satu perusahaan besar milikmu" ucap pria itu mencoba merayu Abi.


"Katakan saja, kau ingin berapa untuk nilai saham milikmu dan Ibumu?" Tantang pria itu dengan nada yang terdengar arogan.


"Sepertinya om tidak mengerti inti yang saya bicarakan tadi. Tapi tak masalah!" Sekarang kita tak usah dulu membicarakan nilai saham milikku dan ibuku."


"Bagaimana kalau kita fokus ke bagi hasil keuntungan perusahaan, karena sepertinya om selalu lupa di bagian ini. Selama 5 tahun ini, om tidak pernah membagi keuntungan perusahaan dengan kami. Bahkan om tidak pernah mengajakku dan ibu untuk rapat umum pemegang saham" jelas Abi lagi, membuat wajah Om Dedi terlihat pucat pasi.


"A-apa maksudmu Abi. Ibumu tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Kalian juga bukan orang yang kekurangan kan. Keuntungan segitu, pasti hal yang kecil bagimu, anggap saja kau bersedekah untuk om mu ini," mencoba membela diri, om Dedi berharap Abi tidak mempermasalahkan hal itu.


"Karena aku memandang om sebagai orang tuaku aku menyerah atas perusahaan Papa dan membiarkan om mengelolanya. Aku dan mama bahkan tidak pernah mempermasalahkan om yang tidak pernah membagi keuntungan perusahaan kepada kami seperakpun."

__ADS_1


"Tapi aku tidak rela jika kepemimpinan om sampai menghancurkan perusahaan Papa" tegas Abi lagi.


"Jangan fitnah kamu Abi!! Siapa yang ingin menghancurkan perusahaan itu, kau pasti menuduhku begini karena kau ingin menyingkirkan aku bukan" tidak terima dengan perkataan Abi, om Dedi berbicara dengan nada marah.


"Apa om bisa menjelaskan dokumen ini! om sudah melakukan penggelapan dana perusahaan. Bahkan om berani mengganti bahan proyek yang tidak sesuai standar perjanjian kerja, hingga menyebabkan kerugian besar pada perusahaan. Dan belum lagi ini, proyek mangkrak karena dananya keburu habis om buat berjudi dan main perempuan sehingga perusahaan harus membayar denda berkali lipat. Apa om bisa menjelaskan ini semua?"


Abi terlihat marah, ia melempar lembaran demi lembaran dokumen di hadapan omnya itu. Ia beberkan semua kesalahan pria itu, agar ia tahu hal fatal apa yang telah ia perbuat selama ini.


"I-itu adalah kesalahan om di masa lalu Abi, om janji akan memperbaiki semua asal kamu kasih semua saham milikmu dan Ibumu. Om janji akan membesarkan perusahaan Ayahmu. Kau jangan khawatir, oke" mencoba menenangkan keponakannya yang sudah marah besar. Ia berharap janji yang ia berikan bisa menyentuh perasaan Abi.


"Aku ingin om kembalikan dana yang sudah om ambil dari perusahaan, dan saya juga akan mengumpulkan pemegang saham untuk Rapat umum pemegang saham. Om tau itu artinya apakan?" Ujar Abi, ia ingin melengserkan jabatan CEO pamannya yang sudah di anggap tidak kompeten lagi, melalui rapat umum pemegang saham.


"Abi, tolong jangan seperti ini. Om janji, om akan memperbaiki semua. Kita adalah keluarga, mari kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja dan jangan libatkan pemegang saham lainnya, oke" ucap om Dedi memohon. Tapi Abi menghiraukannya.


"Isal, tolong kau tutup pintu ruanganku nanti, dan persilahkan tamunya untuk pergi. Aku mau pergi rapat sekarang juga" ucap Abi sembari pergi meninggalkan ruangannya, mengabaikan Om Dedi yang memohon padanya.


"Baru juga sukses sebentar sudah sombong, sepertinya kau harus diberi pelajaran agar kau tau rasanya memohon tapi tak ada satu orangpun yang akan membantumu" gumam pria itu.


"Sebaiknya anda jangan mencoba berbuat macam-macam pada Bos saya. Saya tidak keberatan jika harus menghilangkan lidah anda, agar anda tidak berbicara sembarangan lagi" ucap Isal dengan serius. Ia mengambil sebotol desinfektan dengan ukuran jumbo dan menyempurnakannya di depan om Dedi.


"Hai hentikan! Apa yang kau lakukan?!" Teriak om Dedi.


"Ruangan ini bau sampah, jadi saya harus mensterilkannya agar bos saya tidak terserang penyakit" ujar Isal sambil terus menyemprot desinfektan disekitaran Dedi.


"Dasar gila, bos sama anak buahnya sama-sama gila" om Dedi keluar dengan perasaan kesal, sementara Isal tertawa senang bisa berhasil mengusir orang itu.


Dedi keluar dari gedung perkantoran itu, sesampainya di mobil ia menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Ia sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Ikuti dia dan cari kesempatan untuk bisa membunuhnya" perintah Dedi untuk seseorang yang ada di sebrang telpon sana.


TBC.


__ADS_2