LOVE STORY PAPARAZZI

LOVE STORY PAPARAZZI
Mengintip.


__ADS_3

"Apa yang harus kulakukan?! Apa yang harus kulakukan?!" Lisa terlihat kebingungan tapi ia terus berlari.


Lisa berlari menuju ke dapur, ia mengambil sapu lalu berpura-pura seolah-olah ia sedang menyapu.


"Ehemm" terdengar suara Abi berdehem dari belakang Lisa.


"Eh Tuan, ada yang bisa saya bantu Tuan" ucap Alisha berpura-pura tenang, padahal bulir-bulir keringat menetes dipinggiran pelipisnya.


"Tidak ada! kaulanjutkan saja pekerjaanmu" Abi mengambil minuman di kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelas. Secara terang-terangan ia terus memperhatikan Lisa, membuat gadis itu menjadi semakin salah tingkah.


"Apa ada yang aneh dengan wajahku Tuan?" Tanya Lisa.


"Tidak, aku hanya ingin bertanya, kenapa kau tadi mengintip kami?"


"Ti-tidak Tuan, saya tidak mengintip, saya tadi sedang membersihkan belakang lemari karena terlihat kotor" Lisa mencoba beralasan, dan kembali menyapu. Entah apa yang ia sapu, padahal lantai terlihat bersih dan berkilau.


"Mau berapa jam lagi kau sapu lantai itu? Apa harus menunggu sapumu itu rontok atau patah, baru kau berhenti menyapu" sindir Abi.


"Eh, anu Tuan...., daripada bengong nggak ada pekerjaan" ucap Lisa beralasan.


"Oh, jadi kau kekurangan pekerjaan?"


"Bu-bukan begitu Tuan, cuma lagi bosen aja, hehehe..." Lisa terlihat gugup, ia menutupi kegugupannya dengan tertawa kecil. Itu membuatnya semakin terlihat aneh Dimata Abi.


"Ikut denganku" perintah Abi, ia berdiri dari duduknya dan meminta Lisa mengikutinya.


"Kemana Tuan?" Tanya Lisa tak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Ikut saja!!" Perintah Abi seolah ia tak ingin dibantah.


Abi dan Lisa keluar dari dapur melewati ruangan tengah, dimana Ibu dan Vania bercengkrama.


"Abi, mama mau pamit pulang dulu" panggil mama Rita ketika melihat putranya melewatinya. Abi berbalik dan menghampiri mama nya.


"Mama nggak nginep aja?" Tawar Abi.


"Nggak ah, mama mau pulang aja. Oh ya! Vania mau nginep sini katanya. Besok pagi Vania mau ada syuting lokasinya nggak jauh darisini, jangan lupa antar Vania sekalian besok pagi" perintah mama pada Abi.

__ADS_1


"Iya Ma, nanti Abi antar Vania ke tempat syutingnya. Mama tidak perlu khawatir" ujar Abi. Ia tidak ingin berdebat dengan ibunya, jadi ia mengiyakan saja permintaan ibu kesayangannya itu.


"Dan untukmu Vania, kau ingat baik-baik letak kamarmu. Jangan sampai kau nyasar masuk kedalam kamarku lagi" Abi memperingatkan Vania yang hobi masuk ke kamar Abi diam-diam dan menggodanya.


"Apaan sih Bi, itu kan aku cuma pingin pinjam selimutmu aja. Soalnya selimut di kamarku bau apek"


"Jangan lupa kalau sudah sampai rumah, telpon Abi ya Ma" Abi mencium tangan dan pipi Ibunya.


Vania mengantar mama Rita sampai depan mobilnya sementara Abi mengajak Lisa keruang kerjaannya.


Lisa mengedarkan pandangannya di ruangan itu. Menatap jejeran lemari yang ada di ruangan itu. Mulai dari lemari buku hingga lemari yang berisi dokumen. Ada juga lemari yang berisi piala dan penghargaan yang cukup menyita perhatiannya.


Masih mengamati ruangan itu, pandangan Lisa beralih ke meja kerja yang terlihat berantakan karena banyaknya berkas tak tersusun rapi.


"Kau bisa membacakan?" Tanya Abi datar, tapi di telinga Lisa pertanyaan itu seolah mengejeknya.


"Ya bisalah Tuan, jelek-jelek gini saya juga anak sekolahan" ucap Lisa membanggakan dirinya.


"Lulusan mana?"


"Magis...." Lisa yang tersadar menghentikan ucapannya. Baru saja ia ingin mengatakan Magister ilmu komunikasi, untung ia segera tersadar.


"Anu, SMK tuan" jawab Lisa akhirnya.


"Kau lihat dokumen ini!" Abi menunjuk dokumen yang terletak di sebelah kiri meja. Sebuah tumpukan dokumen yang terlihat tak rapi dan sempat menyita perhatiannya tadi.


"Ya," Lisa menganggukkan kepalanya.


"Susun semua berkas ini berdasarkan kelompok klarifikasi nya. Untuk Dokumen yang lama taruh di urutan paling belakang. Dokumen yang deadline tiga hari mendatang taruh di box file atas meja. Buat list dokumen-dokumen penting dan catat dimana kamu menaruhnya" perintah Abi panjang lebar.


"Bawa semua dokumen ini ke meja sebelah sana, agar kau mudah melakukannya," Abi menunjuk sebuah meja, yang tepat berada di seberang meja kerjanya.


Lisa segera melaksanakan perintah Abi, ia membawa tumpukan dokumen itu dan segera menyeleksinya dan memilahnya berdasarkan kategorinya.


Tadinya Abi berpikir Lisa akan kebingungan dan banyak bertanya padanya. Tak disangka wanita itu terlihat serius dalam pekerjaannya tanpa banyak tanya.


Abi duduk di meja kerjanya, membaca arsip yang belum ia tanda tangani. Sesekali ia melirik Alisha yang terlihat serius dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Kau terlihat ahli dalam memilah dokumen bahkan tanpa bertanya padaku sekalipun" ucap Abi, membuat Lisa yang tadinya fokus menghentikan pekerjaannya. Ia kembali memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan.


"Saya dulu sekolah jurusan administrasi Tuan, dan sempat praktek kerja di Bali desa. Jadi saya sudah terbiasa merapikan dokumen" ucap Lisa beralasan. Sebuah alasan yang terdengar cukup masuk akal, dan tidak membuat Abi curiga.


Oh ya, satu Minggu yang lalu. Aku bertemu dengan seorang gadis yang tatapan matanya terlihat sama persis denganmu, bahkan suara kalian juga terdengar mirip" ucap Abi, dan kembali membuat Lisa terkejut.


"Oh ya Tuan!" Ucap Lisa pura-pura terkejut.


"Ya, tapi ia memiliki hidung yang mancung dan mungil. Tidak seperti hidungmu yang seperti Jambu mente" ucap Abi mengejeknya, tapi itu membuat Lisa tersenyum lega. Tak masalah Abi mengejeknya hidung jambu mente asal identitasnya terselamatkan.


Kali ini Lisa harus berterima kasih pada Gea, karena telah mengajarinya teknik make up untuk menyamarkan wajahnya. Lisa kembali menggeluti pekerjaannya.


Abi yang belum puas dengan rasa penasarannya, sebentar-sebentar melirik Lisa. Ia merasa ada yang aneh dan salah dari Lisa, mungkin ini adalah insting seorang pebisnis yang bisa merasakan hal yang tak beres di sekitarnya.


Sementara itu Vania telah kembali ke kamar tamu dengan membawa tas belanjaan berisi baju. Tas itu baru saja ia ambil dari mobilnya.


"Malam ini aku akan membuatmu menjadi milikku" ucap Vania, menatap dirinya di cermin.


Mengambil sebuah lingerie seksi bewarna hitam, ia terlihat sangat cantik ketika mengenakan itu. Kulitnya yang putih bersih terlihat dominan di balik lingerie hitam transparan.


Setelah berdandan cantik dengan sedikit makeup ia melangkah secara diam-diam menuju ke kamar Abi.


Membuka pintu dengan penuh rasa percaya diri, di barengi dengan senyum merekah di wajahnya.


"Kemana orangnya?" Terlihat terkejut dan sedikit kecewa. Vania memeriksa setiap sudut ruang itu, hingga ke kamar mandi. Berpikir jika Abi bersembunyi darinya ia bahkan mencari sampai dibawah kolong.


"Abi...., Abiiiii" teriaknya berulang-ulang


Tak mendapati keberadaan Abi, ia akhirnya memutuskan pergi ke ruang kerja Abi. Ruang terlarang bagi Vania. Abi selalu mengusirnya jika Vania datang ke ruangan itu. Ruang kerja Abi adalah ruang privaci yang tidak sembarang orang boleh masuk kesana.


Sampai di depan ruang kerja, Vania menghentikan langkahnya.


"Apa ia akan mengusirku lagi. Ah tidak-tidak ia pasti akan terpesona padaku" gumamnya penuh percaya diri.


Vania membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, ia yakin Abi pasti akan terkejut dan terpesona oleh penampilannya.


"Apa yang kalian lakukan?!!!

__ADS_1


Vania berteriak dengan keras mendapati pemandangan yang menurutnya tak pantas di depannya.


TBC.


__ADS_2