
"Huft" suara ******* nafas Abi. Hatinya terasa sakit mendengar tangisan pilu gadis itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, ia takut menghadapi Lisa saat ini.
Entah apa yang ditakutinya, keputusannya yang memecat Lisa atau suara pilu tangisan gadis itu. Abi benar-benar tak mengerti saat ini.
Abi memilih menggantungkan plastik pembungkus sate itu di pintu kamar Lisa, ia lalu memilih pergi dari sana menuju ke kamarnya sendiri.
Di dalam kamarnya, Abi rebahan di atas tempat tidurnya, ia menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan setiap perkataan dan tindakan yang telah ia lakukan pada Lisa.
"Sepertinya aku memang keterlaluan" gumam Abi, menyadari tindakannya yang menyakiti Lisa.
"Haruskah aku memberinya satu kesempatan lagi" gumamnya lagi. Abi tampak berpikir dan mempertimbangkan kembali keputusannya.
"Aku akan berbicara padanya besok pagi saja" Abi berusaha memejamkan matanya, tapi Sura tangisan Lisa menari-nari di telinganya. Sepertinya ia akan kesusahan tidur malam ini.
"Aaaaaaaaa" Terdengar suara teriakan frustasi dari kamar Abi.
Sementara itu di kamar Lisa, Lisa terlihat sedang mendengarkan voice note dari bosnya dan juga Ibunya. Ia mengaku menyerah pada bosnya untuk menyelidiki Abi. ia meminta tugas lain dari bosnya, tapi siapa sangka ternyata bosnya memecatnya karena permintaan dari Ibu Lisa.
Mengetahui hal itu Lisa menangis sejadi-jadinya, selama ini Ibunya lah yang mendukung dan membuatnya bisa bertahan bekerja di dunia jurnalistik. Tapi sekarang Ibunya tiba-tiba memintanya berhenti bekerja. Ibunya juga memintanya segera pulang ke rumah dan menuruti kemauan papanya.
Gosip dirinya dan Reza membuat ibunya mengambil tindakan itu. Ia tidak ingin putri satu-satunya terjerumus ke pergaulan yang salah. Ibunya tahu seberapa hitam dan putihnya dunia para artis.
"Ma, Lisa mohon, i-ijinin Lisa bekerja sa-ma Tante cinta ya. To-tolong bilang sama Tante Cinta ja-ngan pecat Lisa" Lisa menelpon ibunya dengan suara sesenggukan.
"Sore nanti sepulang kerja, Kak Bintang akan langsung terbang ke sana untuk menjemputmu. Turuti apa kata kak Bintang, dan jangan coba-coba kabur" Mama Lisa mengabaikan permohonan Lisa. Ia ingin anaknya segera kembali ke rumah. Kekhawatirannya mengeraskan keputusannya.
__ADS_1
Lisa tidak bisa berkata-kata lagi, ia tidak bisa membantah kata-kata ibunya. Ia tahu jika ibunya sudah seperti itu tidak ada satupun yang bisa mengubah keputusannya.
Dipagi hari Abi bangun dengan kantong mata yang menghitam. Suara deringan telpon mengganggu tidurnya.
"Hallo, ucap Abi" dengan suara parau khas bangun tidur, ia bahkan belum membuka matanya secara sempurna.
"Selamat Pagi Tuan, anda sudah di tunggu klien dari satu jam yang lalu tuan" ucap Isal sang asisten.
"Hah...." Abi terkejut, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.05 pagi. Semalam ia memang tidak bisa tidur hingga menjelang subuh, suara tangisan Lisa benar-benar menghantuinya.
Tanpa berpikir panjang Abi langsung bersiap. Ia mandi kilat, lalu segera turun ke bawah.
"Kenapa saya nggak dibangunkan?" Tanya Abi pada Bi Konem sang asisten rumah tangga. Ia berjumpa dengan wanita paruh baya itu ketika menuruni anak tangga.
"Saya sudah mengetuk pintu kamar Tuan berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Saya pikir tuan tidak mau di ganggu" jawab Bi Konem.
"Apa kamu tidak ingin menunggu nyonya besar dulu, siapa tau nyonya besar bisa mengubah keputusan Tuan" ujar Bi Konem. Ia membantu Lisa untuk bersiap-siap.
"Nggak usah Bi, saya malu ketemu Nyonya. Saya sudah berbohong dengan mengatakan saya bisa mengerjakan tugas Bi Darmi. Padahal memasak saja saya belum pernah. Saya juga sudah memohon berkali-kali sama Tuan, tapi jangankan menoleh, menjawab keinginan saya juga tidak" ucap Lisa lesu.
"Kamu kan bisa belajar, bibi nanti yang akan mengajarimu masak sampai bisa" bujuk Bi Konem. Ia tidak ingin Lisa berhenti bekerja, jika sampai Lisa berhenti, itu pasti juga akan menambah pekerjaannya. Belum lagi siapa yang akan melayani tuannya di malam hari. Apalagi mencari pembantu tidak mungkin sehari langsung dapat.
"Saya pamit dulu ya Bi. Lisa mohon maaf jika selama bekerja banyak menyulitkan bibi. Dan tolong sampaikan maaf Lisa buat Nyonya dan Tuan" ucap Lisa berpamitan. Bi Konem hanya bisa menatap Lisa lesu, bujukannya tak lagi bisa mengubah keputusan Lisa.
Lisa berjalan kaki keluar komplek, ia menyeret kopernya sembari menatap deretan rumah mewah yang berjajar di sepanjang kompleks. Ia menikmati perjanan terakhirnya di komplek mewah itu.
__ADS_1
"Baru juga kerja dua hari sudah di pecat, Lisa-lisa pintar amat Lu" gumam Lisa berbicara pada dirinya sendiri. Sampai di luar komplek Lisa menunggu taksi yang sudah ia pesan.
Di dalam taksi Lisa baru menyadari, jika beberapa kamera kecil yang ia taruh di rumah Abi, lupa belum ia ambil kembali.
"Bodo amat dah," gumam Lisa tidak ingin ambil pusing. Toh mereka tidak mungkin berjumpa lagi. Mengingat mereka tinggal di kota dan pulau yang berbeda.
Sepulang kerja disore hari, Abi dihadang oleh Ibunya di depan pintu masuk.
"Ada apa sih Ma! Abi capek ini" ucap Abi tak mengerti.
"Siapa yang menyuruhmu memecat Lisa?!!" Tanya Mama Rita dengan nada marahnya.
Astaghfirullah! aku melupakan gadis itu, batin Abi. Seharian ini di kantor ia merasa tak tenang, seperti ada yang ia telah lupakan. Ternyata benar, ia melupakan keinginannya yang ingin memberi kesempatan pada Lisa.
"Dia sama sekali tidak bisa melaksanakan tugasnya Ma, ia bahkan hampir membakar dapur kita" ucap Abi, mencoba membela diri.
"Sini ikut mama!" Mama Rita mengambil tangan Abi dan membawanya ke dapur.
"Kamu lihat ini!! Lisa sudah memperbaiki kesalahannya. Ia bahkan mengecet sendiri tembok yang terkena bekas Bakaran. Dan kamu lihat wajan ini, ia bahkan membelikan wajan yang baru menggantikan wajan yang terbakar. Kamu tahu berapa harga wajan ini?"
Abi menggelengkan kepalanya, ia cukup terkejut ternyata gadis ceroboh itu cukup bertanggung jawab juga.
"Harga satu wajan ini 3,5 jt rupiah, hampir setara dengan gaji mereka selama satu bulan. Lisa bekerja disini dengan harapan ia kan mendapatkan bayaran yang layak dari kita, bukan untuk mengganti perabot kita" jelas Mama Rita pada Abi.
"Semalam Abi kasih Lisa gaji sebulan penuh kok Ma. Lagian Abi mana tau kalau dia bakalan ganti wajan gosong mama dan juga ngebenerin cat tembok itu" ucap Abi.
__ADS_1
"Ini gaji yang kamu kasih buat Lisa. Dia cuma ngambil 300.000, sesuai haknya dia bekerja dua hari dirumah ini" Mama melemparkan amplop berisi uang kearah Abi. Kondisi amplop yang tak tertutup membuat uangnya berhamburan. Abi tak bisa berkata-kata, ia hanya bungkam mengahadapi kemarahan ibunya.
TBC.