
Di pagi hari Lisa terlihat kebingungan, ia bingung ingin masak apa, Lisa mondar-mandir di dapur. Ia sama sekali tidak tahu cara memasak, jangankan memasak, menghidupkan komporpun ia tak pernah.
Lisa disibukan oleh handphone miliknya, sebuah handphone bekas milik pembantu yang biasa dikirim ibunya ke rumahnya untuk bersih-bersih. Lisa membeli handphone itu dengan harga yang lumayan mahal, itu semua ia lakukan untuk memuluskan penyamarannya.
"Astaga! lemot banget sih, nih handphone!" Lisa menyetel sebuah aplikasi cara menghidupkan kompor gas, hingga memasak. Tapi karena handphone nya yang jadul membuat siaran yang ia tonton load berulang kali.
"Masak Nasi goreng aja kali ya, kelihatannya gak sulit." Gumam Lisa, ia menyiapkan semua bahan-bahan. Setelah itu, Ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil daging dan sayuran.
"Tidak perlu memasak untuk kami, Aku dan Vania akan sarapan diluar. Kau masak saja untuk sarapanmu sendiri." ucap Abi, yang ternyata sudah berpakaian rapi dan bersiap-siap. Vania menoleh ke jam dinding. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, tapi bosnya sudah bersiap untuk pergi.
"Baik Tuan" ucap Lisa. Ia merapikan kembali bahan-bahan yang sudah ia keluarkan. Aku selamat, batin Lisa girang.
"Kau sudah siap" Abi menoleh kearah Vania, gadis cantik itu turun dengan pakaian yang sudah rapi. Tapi sayang matanya terlihat sembab, mungkin ini efek dia nangis semalaman.
"Kemarilah" Abi menghampiri dan menggandeng tangan Vania. Ia mendudukkan Vania ke kursi yang ada di ruang makan keluarga. Vania sempat melirik Lisa kesal.
"Kalau matamu bengkak seperti ini, lalu bagaimana kau akan menjalani syuting?" Tanya Abi
"Semua ini salahmu!!" Sahut Vania kesal.
"Tunggulah disini, aku akan mengambil alat kompres untukmu" ucap Abi pada Vania.
Abi meninggalkan Vania dan Lisa di ruang makan.
"Hai ******, buatkan aku teh hangat!!" Perintah Vania pada Lisa dengan nada kasar.
"Nama saya Lisa, nona. Tolong panggil nama saya dengan baik" Lisa terlihat tak terima dengan panggilan itu. Ia bukanlah perempuan murahan atau perempuan yang mudah untuk ditindas.
"Sebaiknya jauhi Abi, jangan coba-coba untuk menarik perhatiannya. Kalau tidak, kamu akan tau apa yang bisa aku lakukan padamu" ancam Vania.
"Saya tidak pernah mencoba merayu Tuan, semalam itu adalah salah paham" jelas Lisa.
"Berhenti menjawab jika aku berbicara padamu!!" Teriak Vania. Ia mendekat pada Lisa dan menampar wajah Lisa dengan keras.
Plaaakk!! Satu tamparan mendarat di pipi kiri Lisa.
__ADS_1
"Kau...." Lisa ingin membalas tamparan itu, tapi ia menurunkan tangannya kembali. Ia harus menahan emosinya, karena ia masih memerlukan pekerjaan ini untuk menyelesaikan tugasnya.
"Ada apa Lisa?" Abi yang baru tiba mendengar suara Lisa.
"Non....."
"Tidak ada apa-apa Abi. Oh ya Lisa, tolong buatkan aku teh hangat sekarang" Vania memotong ucapan Lisa.
"Cepat pergi sana!" Usir Vania. Akhirnya Lisa mengalah, ia menuju ke dapur.
"Apa kau membuat masalah lagi dengannya?" Tanya Abi.
"Tidak, aku hanya memintanya membuatkanku teh hangat saja" Dalih Vania.
"Aku tau sifatmu Vania, kau selalu membully wanita yang dekat denganku. Tolong jangan kau lakukan itu pada Lisa, dia hanya pekerja disini tidak lebih dari itu.
"Semakin kau membelanya, semakin ingin aku menyakitinya."
"Sudah kubilang aku tidak tertarik dengan Lisa maupun denganmu, jadi tolong jangan kau ributkan lagi permasalahan ini." Ucap Abi sembari mengompres mata Vania yang bengkak.
"Kau jahat sekali, aku sudah menunggumu bertahun-tahun. Tidakkah kau ingin mencobanya sekali denganku" rayu Vania dengan nada suara yang manja.
"Tapi aku maunya kamu" jawab Vania lagi masih dengan nada manjanya sembari memeluk lengan Abi
"Terserah padamu, aku lelah berargumen denganmu" Abi melepaskan lengannya dari pelukan Vania.
"Yeah..., Mulai saat ini kau milikku" ucap Vania girang.
"Jangan mimpi!" Abi mentonyor jidat Vania, membuat Vania mengerucutkan bibirnya kesal.
"Dan aku akan mewujudkan mimpiku itu" ucap Vania dengan penuh percaya diri. Abi malas menanggapinya ia memilih diam saja.
"Bersiaplah, kita berangkat sekarang. Aku akan mengantarmu ke lokasi syuting setelah kita sarapan diluar" perintah Abi.
"Tapi Aku tidak ingin pergi syuting dengan mata sembab seperti ini" tolak Vania.
__ADS_1
"Hari ini kau bisa libur, tapi tetap kau harus ikut denganku. Aku tidak ingin kau membuat keributan dengan Lisa dirumahku" ujar Abi terdengar tegas
"Aku ingin cuti, ingin liburan, ingin bersenang-senang," ucap Vania terdengar manja.
"Kau bisa cuti seminggu, Isal akan mengurus semua yang kau perlukan nanti" ucap Abi, ia selalu memanjakan Vania dengan menuruti permintaan Vania. Kecuali satu hal, yaitu menjadikan Vania kekasihnya.
"Tidak, aku ingin cuti dua Minggu dan aku juga akan mengajak kedua temanku bersamaku. Dan kau harus menanggung semua biayanya" Vania tersenyum lebar, ia tahu Abi akan menuruti semua kemauannya.
"Kau gunakan kartu ini, tapi ingat kau harus kembali bekerja dua minggu setelahnya" Abi menyodorkan black card yang ia keluarkan dari dompetnya.
"Terimakasih" Vania menerimanya dengan senyuman sumringah.
*******
Tepat pukul delapan Abi sampai dikantornya, ia disambut dengan wajah panik asistennya.
"Selamat pagi Tuan," sapa Isal sang asisten.
"Ada apa?" Tanya Abi, ia tahu pasti ada satu hal yang tidak beres.
"Bisa kita berbicara di ruangan saya dulu tuan. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan" ucap Isal.
"Diruanganku saja" jawab Abi
"Paman anda menunggu diruangan anda Tuan, sepertinya Ada masalah dengan perusahaan mendiang ayah anda" jelas Isal.
"Baiklah, kita ke tempatmu." Abi dan asistennya memasuki sebuah lift. Mereka menuju ke ruang kerja Isal.
"Apa kau sudah menyelidiki apa yang aku minta?" Tanya Abi ketika sudah sampai di ruangan Isal. Mereka berdua duduk di sebuah sofa panjang yang ada di ruangan itu.
"Sudah Tuan, dan ini hasilnya" Isal menyerahkan dokumen itu pada bosnya.
"Kenapa bisa sampai separah ini" Abi terlihat geram, membaca setiap lembar dokumen itu.
"Sudah saatnya anda mengambil alih Tuan, jika tidak kehancuran perusahaan mendiang ayah anda hanya menunggu waktu saja" jelas Isal.
__ADS_1
"Kita temui Pamanku terlebih dahulu" Abi bangun dari duduknya menuju ke keruang kerjanya, diikuti oleh sang asisten.
TBC.