
Lisa mendekati Nyonya Rita, ia meraih satu tangan wanita itu dan menggenggamnya.
"Siapa Kamu?" Tanya Nyonya Rita lagi.
"Saya Lisa Bu."
"Lisa! Bagaimana mungkin" sedikit bingung dan tak percaya mendengar pengakuan Lisa.
"Nanti saya jelaskan Bu. Ada hal.penting yang harus saya sampaikan pada Ibu" ucap Lisa. Ia terdiam dan menarik nafasnya sebentar sebelum ia mengatakan kebenarannya.
'Bu, tolong yang kuat ya! Abi mengalami kecelakaan, sekarang saya membutuhkan tanda tangan Ibu untuk operasi tuan Abi. Tuan kecelakaan Bu" ucap Lisa membuat Nyonya Rita terkejut.
"Tidaaaakkk kamu berbohongkan! Abi, tidak-tidak mungkin, Abi pasti baik-baik saja" Nyonya Rita merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Lisa. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa anaknya baik-baik saja.
"Bu, tolong tandatangannya. Abi membutuhkan perawatan segera" ucap Lisa dengan lembut. Badan Nyonya Rita terasa lemas tak bertulang, ia jatuh dan hampir pingsan.
"Bu, tolong kuatkan dirimu Ibu dan Ini" lagi-lagi Lisa menyodorkan lembaran kertas itu.
Dengan tangan gemetar, Mama Rita menandatangani surat itu di bantu Lisa yang menahan tubuh wanita itu agar tak terjatuh. Selesai tanda tangan Lisa memanggil perawat dan menyerahkan surat yang sudah di tandatangani mama Rita.
"Aku ingin bertemu putraku! tolong bawa aku menemuinya" mohon nyonya Rita pada Lisa.
"Maaf Bu, Tuan Abi tidak bisa ditemui. Ia sedang ada diruangan operasi untuk tindakan lebih lanjut. Ibu tenang ya, insyaallah semua baik-baik aja. Dokter juga bilang kemungkinan sembuh buat Tuan Abi sangat besar" hibur Lisa, ia tahu Nyonya ini pasti sangat kacau. apalagi Abi merupakan putra satu-satunya.
"Hiks hiks..., apa yang sebenarnya terjadi pada putraku? Kenapa bisa jadi begini? Aku hanya memintanya membawa Lisa kembali, tapi kenapa dia bisa mengalami kecelakaan," Tanya Nyonya Rita sembari menangis,. Lisa sedikit terkejut mendengar namanya di sebut.
Sebenarnya ia tahu dari manajer hotel kalau Abi mencarinya dan Lisa juga yang meminta sang manajer untuk merahasiakan keberadaannya. Manajer hotel awalnya terkejut dengan penampilan Lisa yang menyamar, tapi Lisa menunjukkannya pada sang manajer dan memintanya merahasiakannya.
"Abi mengalami tabrak lari di hotel Surya, pelakunya kabur. Kami sudah menghubungi polisi untuk mengejar pelaku" jelas Lisa.
"Orang jahat mana yang tega melakukan ini pada putraku?"
"Apa Tuan Abi memiliki musuh Bu?" Tanya Lisa, ia juga sama penasarannya.
__ADS_1
"Ibu tidak tau Nak" wanita itu menggeleng lemah.
"Lisa!" Tiba-tiba terdengar suara Bintang manggil Lisa.
"Sudah selesai Kak?" Tanya Lisa pada Bintang.
"Sudah, nih" bintang menunjukkan lengan hingga sikunya yang diperban. Nyonya Rita memperhatikan Bintang dan Lisa bergantian. Ia cukup terkejut ketika pria itu memanggil wanita yang sed Lisa.
"Oh ya Kak, perkenalkan ini Ibu Rita. Ibu kandung dari Tuan Abi. Dan ini Bintang Bu, kakak saya" ucap Lisa memperkenalkan.
"Jadi kamu benar-benar Lisa yang kerja di rumah Ibu,"Ucap Nyonya Rita masih tak percaya.
"Iya, Bu" jawab Lisa lirih.
"Kerja di rumah Ibu?! Apa maksudnya itu Lisa?" Tanya Bintang ikut terkejut.
"Lisa akan jelaskan nanti ya kak, jangan sekarang" ujar Lisa lagi.
"Ibu juga, kamu harus menjelaskan sama Ibu kenapa kamu menyamar bekerja di rumah Ibu dan apa hubunganmu sebenarnya dengan Bi Darmi?" ucap Nyonya Rita meminta penjelasan. Lisa mengangguk lesu.
Setelah tiga jam berlalu akhirnya operasi itu selasai juga, dokter keluar dari ruangan. Nyonya Rita, Lisa dan Bintang mengerubungi sang dokter untuk meminta penjelasan.
"Alhamdulillah operasi berhasil, kita tunggu kesadaran pasien untuk melihat perkembangan selanjutnya" jelas Dokter.
"Kapan kira-kira anak saya sadar Dok? Tanya mama Rita.
"Insyaallah sekitar 6 jam lagi pasien akan segera sadar" jawab Dokter.
"Apa sekarang saya sudah bisa melihat anak saya Pak?" Tanya Nyonya Rita.
"Tunggu sebentar lagi ya Bu, setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat inap, baru Ibu bisa melihatnya nanti" ucap sang dokter. Setelah tidak ada lagi pertanyaan dari pihak keluarga akhirnya dokter mohon undur diri.
Setelah menunggu sekitar satu jam akhirnya, Abi dipindahkan ke ruang rawat inap. Nyonya Rita, Lisa dan Bintang ikut masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
Mama Rita kembali menangis melihat kondisi sang Putra, Abi yang biasanya terlihat gagah dan kuat berbanding terbalik dengan kondisinya hari ini.
Tubuh terbujur dengan balutan perban di kepala, lengan dan gips di kakinya. Belum lagi selang infus dan selang bantu oksigen yang melekat pada tubuh Abi. Hati ibu mana yang tidak terluka melihat kondisi putranya seperti itu.
"Hiks hiks..., Bagaimana ini bisa terjadi Lisa? Bagaimana dia bisa sampai seperti ini?" Tanya mama Rita sembari menangis.
"Insyaallah Tuan Abi akan segera sembuh dan sehat seperti semula. Ibu yang kuat ya, kita doakan kesembuhan Abi bersama" ucap Lisa mencoba menenangkan Mama Rita.
"Siapa orang yang tega menabrak putraku? Siapa?" Tanya mama Rita, ia menatap Bintang dan Lisa bergantian.
"Saya memang tidak tahu siapa yang menabrak putra Ibu. Tapi saya bisa pastikan kecelakaan ini disengaja Bu, sepertinya ada yang mengincar nyawa anak ibu atau mungkin nyawaku. Saya bisa selamat karena Abi mendorongku menjauh, mobil itu tadinya mengarah ke kami berdua" ujar Bintang menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Mama Rita.
"Ayah Abi meninggal juga karena kecelakaan, ia kecelakaan tunggal karena mengalami rem blong. Selama ini Abi percaya jika kecelakaan Ayahnya bukan kecelakaan biasa, tapi kami tidak menemukan bukti kejahatan pihak lain. Abi dan Ibu, akhirnya hanya bisa membiarkan kasus ini berlalu begitu saja, karena kami tidak memiliki bukti yang cukup" jelas Mama Rita dengan berlinang air mata.
"Ibu tenang saja, saya akan meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Saya akan pastikan pihak yang menabrak Abi akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Saya janji tidak akan membuat pelakunya lolos dengan mudah" sahut Bintang meyakinkan mama Rita.
"Lisa sekarang bisa kau ceritakan, mengapa kamu bisa mengenal Abi? Bahkan kau berani bekerja di rumah mereka tanpa ijin dariku?" Bintang beralih bertanya pada Lisa.
Ia sedikit gemas dengan kelakuan adiknya yang sulit diatur itu. Bagaimana bisa ia menolak bekerja sebagai direktur kantoran dan malah memilih menjadi seorang pembantu rumah tangga.
Lisa menatap Mama Rita dan Bintang, ia sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan kakaknya itu. Ia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, apalagi ada mama Rita disana. Wanita itu pasti akan kecewa berat padanya. Lisa memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Sebenarnya...," Lisa terdiam sejenak, dan terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Lisa!!" Terdengar suara Bintang memanggilnya. Sepertinya kakaknya itu menginginkan jawaban segera.
"Jawablah Lisa, Ibu juga ingin mendengar jawabanmu" ucap mama Rita dengan lembut.
"Aku...., aku mencintai Abi!" Jawab Lisa akhirnya.
"Apa?!!" Teriak Mama Lisa dan Bintang bersamaan.
TBC.
__ADS_1