LOVE STORY PAPARAZZI

LOVE STORY PAPARAZZI
Strategi Penakluk.


__ADS_3

Merasa telah melakukan kebodohan, Alisha menghantukkan pelan kepalanya didalam lift. Untung saja hanya ia sendiri yang berada di ruangan itu.


"Ya Tuhan, benjol deh kepala gue" Alisha mengusap keningnya.


Kira-kira dia udah liat wajahku dengan jelas belum ya, dia ngenalin gue nggak, ya? Aaaaahhhh...... bodo amat!!" teriak Alisha frustasi. Ia keluar dari lift lalu menuju ke kamarnya.


Sampai di dalam kamar ia meletakkan kopernya di sembarang tempat, ia merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Ah...., akhirnya bisa istirahat juga" ucap Alisha lega, benar-benar hari yang melelahkan buatnya.


Alisha menatap langit-langit kamarnya, mengeluarkan handphone dari tas selempang yang masih menggantung ditubuhnya.


Membaca semua informasi umum tentang Abimanyu yang dikirimkan oleh Gea.


"Hah, dia benar-benar pria yang hebat. Masih muda sudah bisa mendirikan perusahaan sendiri, tidak mengandalkan kekayaan dan ketenaran orang tuanya."


"Sekarang kita lihat hubungan percintaannya" kembali membaca dengan serius.


"Pria sekeren dan sekaya dia belum pernah pacaran sama sekali, serius nih! Apa Gea nggak salah nih!! tunggu -tunggu...." kembali melanjutkan bacaannya.


"Wah! ternyata dia dekat dengan artis Vania Larissa. Tapi apa ini keterangannya, hanya sahabat masa kecil. Apa pria ini sebegitu membosankannya, hingga tidak memiliki kekasih satupun" Alisha terus membaca sembari berkomentar tak jelas. Untung saja ia hanya sendiri di ruangan itu. Jika tidak, orang-orang akan menganggapnya aneh.


"Baiklah sekarang kita susun strategi menaklukkan Sang Raja Dunia Bisnis" ucap Alisha sok keren.


Alisha berjalan ke sebuah kursi, ia mengeluarkan buku catatan dan juga bolpoin dan menaruhnya diatas meja.


Alisha mulai menulis dan memberi judul tulisannya,10 langkah strategi Mendekati Sang Raja Bisnis. Ia mulai menulis poin-poin yang menurutnya penting.



Melamar ke perusahaan milik Abimanyu.



"Tunggu-tunggu, bagaimana jika gue ditempatkan di posisi yang super sibuk dan jauh dari dia. Terus gimana bisa gue menggali informasi tentangnya, yang ada gue sibuk ngurusi kerjaan gue" ucap Alisha berspekulasi.


Ia terlihat bimbang dan akhirnya memilih mencoret poin ke satu.



Mencari tahu tempat pergaulan Abimanyu, membuatnya jatuh cinta, jadi pacarnya dan bisa menyelidiki dia dengan sepuasnya.


__ADS_1


"Tapi...., bagaimana cara deketinnya kalau dia taunya kerja, kerja dan kerja. Sekelas Vania Larissa aja ke tolak apa lagi gue, remahan rengginang" Alisha terlihat putus asa.


Sebenarnya Alisha adalah wanita yang cukup cantik, walaupun ia bertubuh mungil. Ia memiliki hidung kecil yang mancung, mata besar dengan bulu mata lentik, dagu lancip, bibir kecil dan berkulit putih bersih. Sayang ia tak pernah sekalipun berdandan, pakaian dan tampilannya sederhana sekalipun dia adalah anak seorang pengusaha.


Tuk!! ia menjatuhkan kepalanya diatas buku, lalu memiringkan wajahnya.


"Semangat Alisha, semangat...." dengan nada suara parau dan lemah ia mencoba menyemangati dirinya sendiri.


"Aaaahhhhhhhhh..." Berteriak kesal, ia menegakkan kembali kepalanya dan mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Baik, kita lanjutkan kembali" ucapnya kembali bersemangat, Lisa masih berbicara dengan dirinya sendiri.



Bekerja sebagai Asisten rumah tangga.



"Hiks, gue nggak bisa masak, nggak bisa menyetrika baju, kagak pernah bersih-bersih. Lalu apa yang harus gue lakuin, ya Tuhan....!!!!" berteriak frustasi, menengadahkan tangannya keatas.


Untung saja kamar hotel tempat Alisha menginap, termasuk ruang kedap suara. Jika tidak, orang pasti akan mengira kalau ia gila.


Alisha selama ini memang tinggal di rumah sederhana, tapi ibunda Alisha selalu mengirim pembantu ke rumahnya untuk bersih-bersih dan memasak.


"Kasihan amat sih lu Lis, orang kaya tampang pembantu. Dah lah..., ngelamar jadi pembantu aja. Paling gampang, kagak ribet, siapa tau bisa jadi kayak di film-film, di taksir ama anak majikan, terus kita bikin tuh cerita dengan judul Pembantuku Idolaku" Alisha mulai menghayal yang bukan-bukan.


Alisha terus mengoceh tak jelas, ia memang memiliki kebiasaan berbicara sendiri sejak kecil. Ia bahkan tak segan memaki dirinya sendiri, ketika ia merasa frustasi.


"Ah dah lah, jadi pembantu aja. Ngapain gue repot-repot nulis 1 sampai 10, kalau buntut-buntutnya jadi pembantu juga" Lisha meletakkan pulpennya, ia melangkah kembali ke tempat tidur dengan langkah lunglai.


Baru berjalan berapa langkah, terdengar perutnya berbunyi. Mengabaikan rasa laparnya, ia melanjutkan berjalan menuju ke tempat tidur.


Ia memilih untuk kembali tidur sebentar dan menahan rasa laparnya. Untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya ia membutuhkan istirahat yang cukup. Ia menyetel alarm di handphone nya agar ia terbangun satu jam lagi.


****


Sementara itu di hotel yang sama dan ruang berbeda, terlihat Pria yang berhasil membuat galau Alisha tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Abimanyu termasuk pria yang gila kerja, ia terlalu ambisius dalam bekerja dan selalu berhasil mengejar target bisnisnya.


Sikapnya inilah yang membuatnya belum pernah memiliki pacar sekalipun, padahal usianya sudah memasuki kepala tiga, atau sebut saja 30 tahun.


Tidak ada satupun wanita cantik yang bisa menarik perhatiannya. Ia lebih tertarik dengan tumpukan berkas pekerjaan, dibandingkan mencari pasangan. Bahkan Ibunya memberi julukan es batu padanya.

__ADS_1


"Tuan, sudah waktunya makan" asistennya Isal mengingatkan.


"Hemmm" sahut Abimanyu.


"Apa mau saya pesankan sekarang Tuan" mencoba menawarkan makanan dan berharap Bosnya segera makan. Isal tidak mau di semprot oleh Nyonya besar karena Bosnya, makan tidak tepat waktu.


"Kau pergilah makan dulu, aku akan menyusul nanti" tolak Abi.


"Tapi Tuan, Ibu bilang...."


"Sudah pergi sana, dan kembalilah kemari besok pagi."


Belum juga menyelesaikan kata-katanya, Isal sudah di usir oleh bosnya. Ia memang paling anti di ganggu, saat sedang fokus dengan pekerjaannya.


Separuh dari berkas pekerjaannya telah ia selesaikan, perutnya mulai terasa perih menuntut untuk di beri makan.


Abimanyu memutuskan untuk mengisi perut di restoran hotel yang letaknya di lantai 1.


Melihat menu berat yang begitu banyak, membuat perutnya tiba-tiba merasa kenyang. Akhirnya ia pergi ke menu hot dessert, dan memilih banana flambe untuk mengganjal perutnya.


Makan dengan cepat, agar bisa segera kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Tak mau membuang waktu lama, Abi langsung memilih cabut dari restoran itu.


Brakkk!! praaaaannnnggg....!! Sebuah nampan jatuh, piring dan mangkuk yang ada distas nampan itu pecah berhamburan, isi menu yang ada di dalamnya tumpah berserakan. Bahkan kuah sup yang sebelumnya ada di dalam mangkuk tumpah, dalam mengenai sebagian celana dan sepatu Abi.


Pada saat Abi keluar dari meja makan, tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita. Wanita itu sedang membawa nampan makan dengan menu komplit, dari menu berat, dessert sampai minuman.


Entah selapar apa wanita itu, bertubuh kecil! tetapi memerlukan asupan gizi yang banyak..


"Kau...." Tunjuk Lisa ke arah Abi, ia ingin berteriak dan memaki-maki, tapi wajah di depannya membuatnya syok dan terdiam.


"Kau lagi!!" teriak Abimanyu ketika memperhatikan siapa sosok wanita yang telah menabraknya.


"Maaf!" Alisha memalingkan wajahnya dan berusaha mengambil langkah seribu untuk melarikan diri.


"Tunggu!" Ucap Abi, ia berhasil menarik kerah baju bagian belakang milik Alisha.


TBC.


Catatan: Abimanyu Prasetyo, bisa di panggil Abi atau Abimanyu.


Alisha Surya, bisa di panggil Alisha atau Lisa.

__ADS_1


__ADS_2