
Kenapa senyum wanita ini terlihat konyol. Dan tatapan matanya itu...., Aku merasa tidak asing dengan tatapan matanya, batin Abimanyu dalam hati, ia tampak berpikir sembari memperhatikan Lisa dengan seksama.
Sementara Lisa dengan kegugupannya, memaksakan senyumannya sehingga terlihat aneh di mata Abi.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Abi.
"Tidak Tuan, saya baru datang dari kampung pagi tadi dan ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota ini" jawab Alisha. Ia menyembunyikan kegugupannya dengan menggenggam telapak tangannya erat.
Bahkan suaranya terdengar tidak asing, batin Abimanyu lagi. Ia merasa tidak asing dengan tatapan dan suara wanita dihadapannya sekarang.
"Siapa namamu?" Tanya Abi.
"Lisa Tuan' jawab Alisha tegas menutupi kegugupannya.
"Baiklah, kembali ke pekerjaanmu" perintah Abimanyu. Lisa bersama Bi Darmi kembali ke dapur.
"Kamu mengenalnya?" Tanya mama Rita pada anak semata wayangnya. ya Abi adalah anak tunggal. Ayahnya sudah meninggal dunia ketika ia masih SMP.
"Entahlah seperti pernah melihatnya" jawab Abi asal.
"Ingat jangan macam-macam, hanya kamu, dan dia yang tidur di rumah ini" mama Rita memperingatkan.
"Ada Pak Rifai juga kan Ma."
"Kamar Pak Rifai bukan di dalam rumah ini tapi di pondokan belakang rumah ini. Ingat, jangan menyentuh anaknorang sebelum kamu bisa menghalalkannya" lagi-lagi mama Rita memberikan ultimatum nya.
"Kalau mama khawatir mama pindah aja kesini. agian yang cantik bening aja Abi nggak noleh terus ngapain Abi harus macam-macam sama dia. Kerjaan Abi lebih penting daripada mereka semua."
"Mama nggak bisa ninggalin rumah kenangan mama sama Papa kamu" suara Mama Rita terdengar sedih.
"It's oke Ma, dan jangan sedih gitu nggak enak dilihat, entar keriput mama bertambah" canda Abi membuat Mama Rita tersenyum.
"Tapi kamu juga jangan kerja terus, luangkan juga waktumu buat berkencan. Umurmu sudah tidak muda lagi, mama pingin nimang cucu seperti sahabat mama yang lain. Mereka bahkan sudah memiliki cucu lebih dari satu, sedangkan mama satupun tak ada" ujar mama Rita merajuk.
"Oke mama, nanti Abi kasih mama menantu yang paling cantik dan cucu yang banyak" ucap Abi menenangkan hati Mamanya. Ia mengecup kening wanita itu, Ia paling tidak bisa melihat Ibunya sedih. ia selalu memperlakukan ibunya dengan sikap yang berbeda dari sifat dia yang tampak diluar sana.
Pekerjaan Lisa hari ini tidak banyak karena masih ada Bibi Darmi yang membantunya, dan ada lagi satu orang pembantu yang usianya sekitar tiga puluhan ia bertugas membersihkan rumah dan menyiapkan keperluan mandi Abi, sedangkan Bi Darmi ia bertugas untuk memasak.
Hari telah menjelang magrib, semua pembantu sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya ada Abi, Mama Rita dan Lisa di dalam rumah itu.
Tingtong, terdengar suara Bel pintu beberapa kali. Lisa segera membuka pintunya.
Seorang wanita cantik, berkulit putih, tinggi semampai terpampang dengan jelas di hadapannya. Sungguh maha karya sang pencipta yang luar biasa.
__ADS_1
"Siapa kamu?" Tanya si wanita itu terkejut, ia berkali-kali mengunjungi rumah ini tapi tak pernah melihat keberadaan Lisa. Ia menatap Lisa seperti seorang musuh.
"Saya pembantu baru Bu" jawab Lisa sedikit kikuk. Sebagai seorang jurnalis ia tentunya tahu siapa wanita yang sedang bertanya padanya saat ini. Vania Larissa, artis sekaligus model terkenal yang lagi naik daun.
"Jangan panggil Ibu, tapi panggil nona. Emangnya aku Ibumu apa?" Dengan nada sewot ia berbicara dengan Lisa. Lalu ia nyelonong masuk, menabrak lengan Lisa dengan kasar.
"Mami Rita...," Vania yang melihat keberadaan mama Rita dirumah itu segera menghampirinya, memeluk dan mencium pipi wanita itu. Abi dan Vania memiliki panggilan yang berbeda untuk mama Rita. Jika Abi memanggilnya mama maka Vania memanggilnya mami.
"Apa kabarmu Van?" Tanya mama Rita.
"Baik Mi" jawab Vania.
"Dimana Abi, Mi" menoleh ke segala arah mencari keberadaan Abi.
"Itu!" Mama menunjuk kearah tangga, terlihat Abi menuruni anakan tangga. Kamar Abi, ruang kerja dan kamar tamu terletak dilantai dua.
Lantai satu untuk kamar pembantu, ruang tamu, ruang keluarga, ruang ibadah dan dapur. Sedangkan lantai ketiga dari rumah itu adalah ruang olahraga, ruang bioskop, ruang studio musik dan sebuah aula besar yang bisa dimanfaatkan untuk apa saja.
"Abi sayang apa kabar?" Mencoba memeluk Abi, tapi Abi menolaknya dengan menjauh dari Vania.
"Lihat Mi! Abi selalu saja menolak sapaanku" Vania mengerucutkan bibirnya menatap mama Rita.
"Abiii..." Mama Rita memelototi putranya. Abi terlihat cuek membuat Mama nya menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun Abi! itu tuh sapaan yang sudah umum, jangan kuno deh" ujar Vania kesal.
"Ma lapar" Abi mengabaikan Vania, ia berbicara dengan ibunya.
Wajah Vania terlihat biasa saja dengan perlakuan Abi padanya. Ia sudah kebal, terhadap semua sikap Abi padanya. Yang terpenting bagi dia adalah, dekat dengan Abi maka segala pekerjaannya di dunia keartisan lancar jaya.
Abi adalah pemilik rumah produksi, perusahaan property dan berbagai perusahaan retail yang sedang berkembang pesat di berbagai kota di negaranya.
Saat ini mereka bertiga berada di meja makan, Lisa menyajikan makanan untuk mereka bertiga.
"Lisa! Kamu duduk disini saja. Kita makan bareng, biar rame" pinta Mama Rita.
"Terimakasih Bu, tapi saya makan dibelakang saja" tolak Lisa, sekilas Lisa melirik kearah Vania yang memberi tatapan tajam padanya. Tatapan itu seolah sebuah isyarat agar Alisha menjauh dari tempat itu.
"Baiklah, tapi jika kamu berubah pikiran. Kamu bisa makan di meja makan ini. Bi Darmi sudah seperti keluarga bagi kami, begitu juga kamu. Jadi jangan sungkan bilang sama Ibu jika ada sesuatu. Termasuk jika anak ibu ini menyusahkan mu" mama Rita menoleh pada Abi, Abi hanya diam saja mendengar ucapan Ibunya.
Mama Rita memang sosok Ibu yang baik, ia tidak pernah memandang rendah pembantunya atau siapa pun juga. Ia menganggap semua orang memiki kedudukan yang sama,
Vania tampak terlihat kesal karena mami Rita peduli pada pembantu baru itu. Tapi ia lega karena Lisa menolak permintaan mama Rita.
__ADS_1
"Bi Darmi kemana Mi? Terus pembantu yang baru itu orang mana Mi? Mami harus hati-hati deh milih pembantu sekarang, apalagi Abi cuma sendiri dirumah" ada kekhawatiran yang dirasakan Vania, seolah-olah kehadiran pembantu itu akan mengancam keberadaannya.
"Bi Darmi pulang kampung, dan yang tadi itu Lisa ponakan Bi Darmi, jadi nggak ada alasan mami buat khawatir. Insyaallah Lisa anak yang baik seperti halnya bi Darmi," ucap mama Rita yakin.
Selesai dengan makanannya, Abi ingin kembali ke ruang kerjanya. Kembali berkutat dengan kesibukannya.
"Abi, kemari!" Rita mencegah Abi yang ingin naik ke lantai dua.
"Kerjaan Abi masih banyak Ma" mencoba menolak permintaan ibunya.
"Lanjutkan pekerjaanmu ketika nanti mama pulang, mama nggak lama kok. Satu jam lagi mama juga bakal balik."
Abi mengikuti langkah ibunya, mereka bertiga bercengkrama diruang keluarga. Vania memilih duduk di dekat Abi sekalipun Abi mengabaikannya.
"Abi untuk rencana film terbaru aku,...."
"Mintalah apapun yang kau mau dengan Isal" Abi memotong pembicaraan Vania, ia paling tau apa keinginan Vania. Ia tidak pernah menolak keinginan Vania kecuali satu hal yaitu dekat dengannya.
"Muaahhh! Kamu memang yang terbaik" tiba-tiba mencium pipi Abi, membuat Abi cukup terkejut.
"Jaga perilakumu Van!" Nada suara Abi terdengar tinggi, tapi Vania Mengabaikannya.
"Itu adalah bentuk terimakasihku, lagian itu juga hal yang biasa Abi. Jaman dah modern jangan kuno deh!"
"Aku memang pria kuno, jadi jangan lakukan itu padaku" nada suara Abi terdengar keras dan sedikit sinis.
"Mami lihat ini, Abi membentakku lagi" melihat kearah mama Rita berharap mendapatkan sebuah pembelaan.
"Sudah, abaikan dia" tidak ingin terlibat jauh dengan perdebatan Abi dan Vania, mama Rita memilih menyudahinya.
Dari sudut rumah, tepatnya di belakang sebuah bufet, Lisa mengintip interaksi mereka bertiga.
Ternyata sikap dingin Abi terhadap wanita bukan isapan jempol belaka. Satu-satunya wanita yang beruntung dengan perlakuan spesial darinya adalah ibunya.
Merasa ada yang memperhatikan Abi mengalihkan pandangannya kesudut ruang, menatap sebuah kepala yang mengintip di pojokan dinding.
"Ya Tuhan, dia melihatku!" Gumam Lisa, ia terkejut karena tiba-tiba pandangan mereka bertemu, dengan langkah kaki seribu ia langsung ngacir dari tempat itu.
"Ngapain Lisa disitu" batin Abi. Vania dan mama Rita tidak begitu memperhatikan karena mereka sedang asyik dengan topik pembicaraan mereka.
Kelakukan Lisa sama persis dengan gadis konyol itu, kenapa aku tiba-tiba mengingat wanita pembawa sial itu, batin Abii, ia terlihat bingung dengan pikirannya sendiri.
Oh, iya! Tatapan mata gadis konyol itu, terlihat sama dengannya, ujar Abi dalam hati Tiba-tiba ia menyadari sesuatu, ia berdiri dari duduknya dan mencari keberadaan Lisa. Ia ingin memastikan kecurigaannya sendiri.
__ADS_1
TBC.