
"Ini gajimu selama dua hari, jumlah uang ini adalah gajimu satu bulan. Saya rasa jumlah ini sudah layak untukmu, Kau bisa pergi besok pagi" Abi mengeluarkan semua uang dari dompetnya dan menaruhnya diatas meja.
"Tuan, tolong jangan seperti ini tolong jangan pecat saya. Tuan...!!" Rengek Lisa, ia masih berharap Abi mengubah keputusannya.
Mengabaikan permintaan Lisa, Abi segera meninggalkan rumahnya. Semakin lama ia dekat dengan Lisa, maka ia akan semakin tak tega untuk mengusir wanita itu pergi. Abi memutuskan mencari restoran terdekat untuk mengisi perutnya.
Selesai dengan makanannya, Abi berkeliling mencari udara segar. Ia memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan dekat dengan area pantai.
Abi masih duduk di depan stir kemudinya, ia merenung memikirkan tindakannya terhadap Lisa tadi.
"Apa aku terlalu kejam padanya" gumam Abi mengingat sikapnya pada Lisa.
"Tidak-tidak, walau bagaimanapun aku tidak bisa mentolerir kesalahannya. Lagipula semenjak dia bekerja denganku, aku banyak mendapat kesialan" mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah melakukan hal yang benar.
"Aku tidak boleh lemah, walau bagaimanapun keputusanku sudah tepat" gumam Abi. Ia Mengingat banyaknya kenangan buruk bersama Lisa, padahal Lisa baru dua hari bekerja dengannya, tapi sudah banyak masalah yang ia hadapi karenanya.
Setelah satu jam ia menikmati angin malam, akhirnya Abi memilih pulang. Melewati jalan perumahan ia tiba-tiba melihat seorang pedagang sate yang sudah terlihat tua. Pria itu duduk di belakang rombongannya menanti pembeli yang datang.
"Dia sudah makan belum, ya!" Gumam Abi, ia tiba-tiba teringat Lisa.
Abi memutuskan untuk menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobil dan mendekati pedagang itu, senyum merekah terpancar dari pria tua itu melihat Abi mendekatinya.
"Sate Den!" Tawar pria tua itu dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Kasih satu porsi aja Pak pakai lontong" ucap Abi.
"Baik den!" Dengan sigap pria tua itu membakar beberapa tusuk sate untuknya.
Abi memperhatikan isi rombong pria tua itu yang terlihat masih banyak, padahal hari sudah menjelang malam. Komplek perumahan yang biasa rame juga terlihat sepi tidak seperti biasanya.
"Dari jam berapa jualan Pak" tanya Abi berbasa-basi.
"Dari sore tadi den" jawab pria tua itu tersenyum.
"Masih banyak dagangannya Pak?" Tanya Abi lagi.
"Alhamdulillah Den, laku empat bungkus" jawab pria itu tersenyum tak ada nada mengeluh sedikitpun di setiap kata-katanya.
"Yang hebat itu kanjeng Gusti Allah den. Di usia bapak sekarang ini, bapak masih dikasih kesehatan, kekuatan dan dititipi rejeki untuk menghidupi keluarga bapak" ucap pria tua itu.
Lagi-lagi pria tua itu tersenyum sumringah, menampilkan dua giginya yang telah ompong dimakan usia. Pria tua penuh senyum dan selalu bersyukur di setiap kata-katanya.
Abi menatap iba sekaligus kagum dengan pria tua di depannya. Di usia rentanya yang harusnya santai menimang cucu, pria tua ini malah masih keliling komplek menjajakan dagangannya.
"Ini den" pria tua itu menyodorkan sebungkus sate yang telah ia masukkan kedalam tas plastik.
"Astaghfirullah, tunggu sebentar Pak" Abi terkejut ketika membuka dompet dan ternyata tak ada uang selembar pun. Ia lupa jika uang di dompetnya sudah ia berikan semua pada Lisa.
__ADS_1
"Kalau uangnya ketinggalan, di bayar besok juga nggak apa kok Den" ucap pria tua itu, ia melirik ke dompet Abi yang kosong terbuka.
"Ada kok Pak di mobil, tunggu sebentar ya" Untung saja Abi memiliki kebiasaan menaruh uang di dasbor mobilnya.
"Ini Pak" Abi menyerahkan lima lembar uang merah.
"Kebanyakan Den, 20.000 aja ini" tolak pria tua itu.
"Ini rejeki buat bapak jangan ditolak" Abi kembali menyodorkan uangnya.
"Alhamdulillah, Terimakasih banyak den" ucap pria itu semangat. Keriput diwajahnya terlihat semakin jelas di balik senyum tulusnya itu.
"Semoga Aden dilancarkan rejekinya, di beri kesehatan dan di kelilingi orang-orang baik" Doa tulus meluncur dari bibir pria tua itu.
"Aamiin" sahut Abi.
"Mari Pak, saya duluan" ucap Abi lagi berpamitan.
Sesampainya dirumah Abi membuka pintu rumahnya dengan kunci yang ia miliki. Rumah itu terlihat sepi dan tenang. Abi melirik ke dapur yang tidak lagi berantakan. Hanya saja sisa hangus terbakar pada bagian tembok dekat kompor masih terlihat dengan jelas.
Abi menuju kamar Lisa, ia ingin memberikan sebungkus sate itu untuk Lisa. Di depan pintu kamar Lisa, Abi tiba-tiba menghentikan tangannya yang ingin mengetuk pintu kamar itu. Ia samar-samar mendengar suara tangisan Lisa, gadis itu bahkan sampai sesenggukan menangis.
Apa keputusanku menyakitinya, batin Abi. Ia menempelkan telapak tangannya dan keningnya bersandar di pintu itu.
__ADS_1
TBC