
Vania menatap dengan garang, dua orang di hadapannya. Terlihat Abi duduk di kursi kerjanya dan Lisa jongkok dengan posisi wajah ada di pangkuan Abi.
"Wanita ****** beraninya kau menggoda priaku" berlari kearah Lisa, lalu menarik rambut Lisa dengan keras.
"Ah Tuan, tolooonnnggg" teriak Lisa kesakitan sembari memegangi rambutnya.
"Tuan tollloooonnng" Lisa terus berteriak sembari memegangi rambut palsunya sekuat mungkin. Ia hanya bisa berharap rambutnya itu tidak akan terlepas, hingga membuatnya ketahuan.
"Vania hentikan!!" Menarik tangan Vania dan menjauhkannya dari Lisa.
Lisa segera memperbaiki wig nya mumpung kedua orang itu tidak memperhatikannya.
"Lepaskan Abiiii!!! Aku akan memberi pelajaran pada ****** itu."
"Hentikan Vania, hentikan!!!" Teriak Abi. Vania yang merasa kecewa berat, menghiraukan perkataan Abi. Ia terus memaki Vania.
"Dasar kau pembantu ****** beraninya kau merayu priaku!!" Memaki Lisa dengan keras. Ia ingin kembali mendekati Lisa namun di halangi kembali oleh Abi.
"Anda salah paham nona, saya hanya berusaha membersihkan air yang tumpah dicelana tuan akibat keteledoran saya" Lisa mencoba menjelaskan.
"Diam kau ******!! Abiii lepaskan aku ingin menghancurkan wajah ****** ini" seperti kerasukan setan, Vania masih tidak terima.
"Hentikan Vania!! Hentikan!! Lihatlah dirimu sendiri! pakaian apa yang kau kenakan ini. Dan apa maksudmu dengan berpakaian begini dan masuk ke ruang kerjaku. Apa kau ingin melanggar peringatan ku!"
Vania terkejut dengan bentakan Abi, Lisa pun menatap Vania, ia bahkan tidak menyadari jika Vania tampil seksi dan cantik. Pikirannya yang takut akan wig nya yang bakalan lepas, menutupi pandangannya.
"Waooow, anda cantik dan seksi Nona" Lisa terkagum dengan body indah, kulit mulus dan penampilan cantik Vania.
"Diam kau!! Aku belum selesai denganmu ya! Dengan mata melotot, Vania menunjuk kearah Lisa dan memberi peringatan padanya.
"Apa kau tidak ingin memberi penjelasan padaku Vania?!" Abi terlihat emosi. Lisa memperhatikan Abi, berharap pria itu akan terpesona dengan bidadari setengah telanjang di hadapannya.
__ADS_1
Lisa ingin mendapatkan berita vantastis, bahkan kamera berbentuk pulpen kecil di saku celananya selalu ia bawa kemana-mana, agar ia bisa mengabadikan momen-momen yang luar biasa menurutnya.
"A-aku...," Menatap tubuhnya sendiri dengan bingung tak tau ingin berkata apa. Kata rayuan yang sebelumnya telah ia susun rapi di kepalanya tiba-tiba sirna karena kemarahannya.
"Kau jelaskan dulu padaku, kenapa wanita ini ada disini, dan apa yang kalian lakukan?" Berusaha mengalihkan pertanyaan Abi, sekaligus ingin mendapatkan jawaban. Vania kembali bertanya pada Abi.
"Ini salah paham nona, kami..."
"Diam kau, aku tidak bertanya padamu!!" Membentak Lisa hingga Lisa tersentak dan menghentikan ucapannya.
"Jelaskan Abi, kau bahkan tidak pernah mengijinkanku untuk berada di ruangan ini. Tapi wanita ini, kau membiarkannya berada di ruangan ini bahkan kalian...., Kalian..." Vania tak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Lisa kau keluarlah lebih dulu!" Perintah Abi.
"Baik Tuan" Ucap Lisa melangkah pergi.
"Tutup kembali pintunya" perintah Abi lagi untuk Lisa.
"Kenapa tidak kedengaran sih" gumam Alisha masih menempelkan kupingnya.
Tak lama hanya sekitaran tujuh menit tiba-tiba pintu terbuka, dan Vania berlari keluar dalam keadaan menangis.
Lisa yang masih dalam kondisi menempelkan kupingnya di pintu jadi tersentak maju ketika pintu itu terbuka.
"Eh, eh-eh.." ucap Lisa sembari menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjatuh.
"Apa yang kau lakukan padanya Tuan? Kenapa dia menangis?" Jiwa kepo alisha membuatnya tak tahan untuk mendapatkan jawaban.
"Apa maksudmu? Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan di depan pintu. Apa menguping pembicaraan orang adalah hobimu?!!" Tanya Abi balik membuat Lisa malu.
"Kembalilah ke kamarmu. Satu lagi, jauhi Vania dan jangan sekali-kali kau memancing kemarahan Vania" ucap Abi memperingatkan Lisa.
__ADS_1
"Baik Tuan" ucap Lisa, suaranya terdengar tak bersemangat. Berita heboh yang ia harapkan tak terjadi.
Di kamarnya Lisa teringat kembali kejadian yang terjadi padanya dan Abi.
Flash back on.
Lisa sudah selesai merapikan dan mendata dokumen di mejanya. Ketika ia ingin berpamitan, Abi memintanya untuk membuatkan secangkir kopi pahit. Lisa melaksanakan perintah Abi, ia membuatkan kopi sesuai permintaan bosnya.
Abi yang terlalu berkonsentrasi bekerja tidak menyadari kalau Lisa telah kembali dengan secangkir kopi. Ketika Lisa ingin menaruh kopi, bersamaan dengan Abi yang ingin menaruh dokumennya. Alhasil tangan mereka bertabrakan.
"Aaaahhhhh panaaasss!!" Abi memundurkan kursinya, kursi kerja Abi memiliki roda disetiap kakinya. Kopi yang dibawa Lisa menyumpahi celana Abi dan juga lantai.
"Maaf tuan, maaf" Lisa mengambil tisu yang ada di meja, ia jongkok di depan Abi dan membersihkan tumpahan yang mengenai bagian depan kursi dan juga celana Abi. Untungnya kopi yang tertumpah di celana Abi tidak begitu banyak, kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengan masa depannya itu.
"Aaaaahhh, apa yang kau sentuh itu!" Teriak Abi lagi, Lisa yang ingin membersihkan tumpahan dicelana Abi tak sengaja menyentuh bagian sensitif Abi. Kepanikan membuatnya tak berpikir dengan jernih.
"Aaahhhh, maaf tuan, maaf...." Lisa panik berusaha untuk bangun dan menjauh. Gerakannya yang terburu-buru membuatnya terpeleset dan bagian wajahnya terjatuh di pangkuan Abi.
Saat itulah Vania membuka pintunya dan terjadi kesalahpahaman.
Flash back off
"Ya Tuhan, kebodohan apalagi ini. Kenapa setiap bersamanya selalu terjadi hal yang memalukan," gumam Alisha merutuki kebodohannya sendiri.
Lisa mengambil kamera kecil disakunya dan beberapa lagi di tasnya, ia menaruh semua kamera mini itu di hadapannya. Kamera dengan berbagai bentuk, ada yang berbentuk pulpen, kotak mini, kacamata bahkan jepit rambut.
Aku harus bisa menaruh kamera mini ini di beberapa lokasi penting dirumah ini, tanpa terlihat CCTV" gumam Lisa, ia menyadari ketika Bi Darmi mengajaknya berkeliling. Semua area dirumah ini di pasangi CCTV, hanya area pribadi seperti kamar tidur dan kamar mandi yang tidak ada CCTV nya.
"Baiklah kita pikirkan ini nanti, sebaiknya aku mengamati lebih dulu sebelum bertindak lebih jauh" gumam Lisa.
Lisa akhirnya memutuskan untuk tidak bertindak gegabah, ia akan mulai mengamati diam-diam dan mencari informasi dari asisten rumah tangga yang lain besok.
__ADS_1
TBC.