
"Le-lepaskan saya Tuan." Alisha terlihat gugup, ia memalingkan wajahnya agar Abimanyu tidak dapat melihat wajahnya. Ia bahkan mencoba untuk kembali melarikan diri.
Abimanyu yang tak mau buruannya kabur mencegah Alisha, dengan beralih memegang tangan Alisha erat.
"Aaaaaaa.....," Teriak Abimanyu tiba-tiba. Alisha yang panik tak berpikir panjang, ia menggigit tangan Abimanyu dan berlari sekencang mungkin untuk kembali ke kamarnya.
"Apa dia itu bintang kesialanku!!" Ucap Abi kesal. Ia tak habis pikir, setiap bertemu wanita itu dia pasti selalu sial.
Menghapus bekas gigitan menggunakan tisu basah yang ia ambil dari saku celananya, terlihat wajah Abi yang masih kesal. Tak ingin memperpanjang masalah ini, akhirnya Abimanyu memilih kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Sementara itu Alisha yang berada di kamarnya berteriak frustasi. Ini adalah kebodohannya yang kedua kalinya. Lalu bagaimana caranya dia bisa mendekati pria itu jika belum apa-apa dia sudah dua kali memiliki konflik dengannya.
Mondar-mandir di dalam kamarnya, Alisha terus memukuli pelan kepalanya.
"Kebodohan apalagi yang telah kulakukan, ya Tuhan...." Alisha terus mengoceh dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia kemudian mengambil telpon genggamnya dan menghubungi pimpinannya.
"Selamat malam Bu Cinta yang paling cantik, paling imut, baik hati dan tidak sombong" dengan suara centilnya Alisha merayu pimpinannya melalui sambungan telepon.
"Nggak mempan gombalanmu Sa! Sudah to the points aja, kesalahan apa lagi yang sudah kau buat" terdengar suara tegas Bu Cinta yang membuat nyali Alisha menciut.
"Ih Ibu, sok tau deh. Alisha kan cuma mau nyapa Ibu aja" Alisha masih belum berani mengatakan kebenarannya.
"Ya sudah kalau gitu, ibu terima sapaannya dan Ibu akhiri panggilannya sampai disini. Ibu sibuk, nggak punya waktu ngeladenin candaanmu."
"Tunggu-tunggu Bu, jangan di tutup!!" Suara Alisha terdengar panik.
"Ibuuuuuu, hukumannya di ganti aja ya, Bu. Jangan nyelidiki Pak Abimanyu, yang lain aja ya Bu. Nyelidiki Bos pemilik Empang atau bajak laut juga nggak apa Bu, asal jangan Pak Abimanyu. Entar kalau habis gajian, Alisha traktir deh Bu. Kita makan bakso bola dunia, lumayan Bu bakso nya enak bener, berasa keliling dunia kita" rengek Alisha mencoba untuk bernegosiasi.
"Nggak usah repot-repot traktir Sa, kebetulan Nyokap Lu telpon nyuruh balik. Katanya hidup diluar negeri enak lho Sa, mau nyoba kagak!" Jawab Bu Cinta dengan nada suara ceria tapi menahan kesal.
Ia tahu betul kebiasaan Alisha ketika di beri tugas dan melakukan kesalahan, ia pasti akan merayu bosnya dan berakhir dengan rengekan.
"Kagak perlu Bu, disini enak kok. Tugasnya juga nggak berat, cari info seputar kehidupan Pak Abimanyu kan. Tenang Bu, beres, gampang itu mah" ucap Lisa songong.
Mendengar kata luar negeri seperti momok yang menakutkan buat Alisha. Daripada dikirim kesana, jauh dari keluarga, teman, belum lagi ngurusi bisnis yang sama sekali bukan bidangnya membuat ia memilih menyelesaikan tugas yang diberikan Bosnya saja.
"Bagus, Ibu tunggu kabarnya. Ingat jangan membuat skandal atau masalah disana" ucap Bu Cinta mengingatkan, ia lalu mengakhiri obrolannya.
***************
Tak terasa waktu sudah berjalan seminggu. Seorang gadis cantik terlihat sedang melakukan make over pada wajahnya. Ia benar-benar merubah penampilannya sehingga terlihat berbeda.
__ADS_1
Mengenakan rambut palsu dengan model kepang dua, kacamata tebal, mengubah bentuk alis, hidung dan garis wajah, benar-benar mengubah penampilannya menjadi orang yang berbeda. Ia menggunakan kekuatan makeup untuk mengubah tampilannya terlihat berbeda.
"Sepertinya sudah cukup" gumam Alisha, ia membiarkan bentuk mata dan bibirnya seperti aslinya. Terlalu banyak merubah tentu akan memakan banyak waktu. Apalagi jika ia harus melakukannya setiap hari.
"Tolong ya Bu, kalau bisa hari ini saya sudah bisa kerja disana" Rayu Alisha sambil menyodorkan sejumlah uang.
"Tenang aja neng, hari ini insyaallah bisa. Tapi inget ya neng, jangan panggil Ibu, panggil bibi aja. Nanti neng, bibi kenalkan sebagai ponakan bibi biar langsung diterima," ujar Bi Darmi, sebenarnya wanita paruh baya itu sedikit ragu dengan tindakannya.
"Iya Bi, terimakasih" Alisha menggenggam salah satu tangan Bi Darmi, nada suara Alisha terdengar lega. Akhirnya ia bisa memasuki rumah targetnya setelah selama lima hari mendekati wanita paruh baya itu.
"Ini juga bibi terpaksa bohong Neng, Bibi harus pulang kampung. Anak bibi masuk rumah sakit, bibi butuh uang banyak dan juga butuh pengganti sementara, supaya Nyonya bos nggak keberatan bibi tinggal."
Alisha dan Bi Darmi memasuki sebuah rumah yang mewah, tujuan mereka adalah ruangan tengah. Ruang yang biasa dipakai Nyonya besar untuk bersantai ketika mengunjungi rumah anaknya.
"Siapa dia Bi" tanya seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah memasuki 55 tahun.
"Dia ponakan saya Bu, namanya Lisa" jelas Bibi pada Nyonya besar atau kita sebut saja Mama Rita.
"Jadi dia yang akan menggantikan tugasmu disini?"
"I-iya Bu" jawab Bi Darmi terlihat gugup, sebenarnya ia ragu dengan keputusannya, tapi ia terpaksa karena anaknya yang sakit dikampung membutuhkan kehadirannya.
"Lisa, mudah-mudahan kamu betah ya kerja disini" ujar nyonya besar ramah.
"Jangan panggil nyonya, panggil ibu saja seperti yang lainnya."
"Baik Bu" ucap Lisa sembari tersenyum, ternyata ia memiliki majikan yang ramah.
Nyonya Besar itu tersenyum melihat penampilan polos Lisa, dia benar-benar terlihat seperti gadis desa yang lugu. Lisa membalas senyuman wanita itu sembari menganggukkan kepalanya.
"Karena dia keponakanmu, jadi saya tidak akan banyak bicara. Kau bisa ajak ponakanmu itu langsung ke kamarnya" perintah Nyonya.
"Ayo" ajak bibi pada Lisa sedikit berbisik.
"Saya permisi dulu Bu" Lisa berpamitan.
"Tunggu Bi" Bi Darmi menghentikan langkahnya tiba-tiba karena Nyonya memanggilnya.
"Tuan mudamu, apa dia belum pulang sampai saat ini?"
"Belum Bu, Tuan satu Minggu ini terus tinggal di hotel. Lusa katanya baru kembali setelah pekerjaan beliau selesai. Saya juga sudah mendapatkan ijin dari Tuan muda untuk balik kampung" jelas Bi Darmi.
__ADS_1
"Oh ya, ini bayaranmu untuk bulan ini" Nyonya Rita merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop, ia lalu menyodorkannya pada Bibi Darmi.
"Tidak perlu Bu, bayaran saya untuk bulan ini sudah ditransfer oleh Tuan muda" tolak Bi Darmi dengan lembut.
"Sudah ambil saja, ini buat tambahan biaya rumah sakit anakmu, bukannya anakmu sedang di rawat di rumah sakit saat ini" kembali menyodorkan amplopnya pada Bi Darmi. Melihat respon Bi Darmi yang lambat, Nyonya Rita menaruh amplop itu di genggaman Bi Darmi.
"Terimakasih Bu," ucapnya senang, terpancar rona bahagia dari wajah bibi. Setidaknya tambahan dari nyonya nya ini bisa menjadi tambahan untuk biaya operasi anaknya.
"Jika kau kekurangan uang untuk biaya anakmu, jangan ragu untuk berbicara padaku Bi" ujar sang Nyonya dengan lembut.
"Tidak Bu, insyaallah sudah cukup. Lagipula utang saya sama Nyonya juga belum bisa saya lunasi" tiba-tiba suaranya menjadi lirih.
Bibi Darmi menundukkan kepalanya merasa malu. Baru saja sebulan yang lalu ia berhutang karena merenovasi rumahnya dikampung yang hampir roboh, bagaimana mungkin ia berani berhutang lagi, bahkan hutangnya belum ia cicil sekalipun.
"Jangan kau pikirkan uang itu, aku memberikan gratis padamu, bukan hutang. Jadi kau tak perlu membayarnya" ucap sang Nyonya.
"Benarkah Bu, Ya Allah Terimakasih Bu" ia menghampiri Nyonya Rita, menunduk dan mencium tangan wanita itu.
"Ya Allah bi, Jangan seperti ini. Bibi lebih tua dari saya, bibi sudah saya anggap bagian dari keluarga ini. Jadi tolong jangan seperti ini" Nyonya Rita menegakkan kembali bahu bibi, ia menolak Bi Darmi yang ingin mencium tangannya.
Lisa hanya bisa memandang haru pemandangan di depannya, ternyata Nyonya nya adalah sosok wanita yang baik hati. Tidak gila hormat seperti wanita kaya yang angkuh.
Setelah mengantarkan Lisa ke kamarnya, bibi mengajak Lisa keliling rumah, ia menjelaskan setiap detail pekerjaan yang harus dilakukan Lisa.
"Jadi Bi, kalau malam hari yang tidur disini hanya saya dan penjaga kebun saja?" Tanya Lisa sedikit terkejut."
"Iya, yang lain memiliki keluarga dan rumah tidak jauh darisini, jadi mereka memilih pulang ke rumah sebelum magrib tiba atau setelah tugas mereka selesai semua. Karena kamu pengganti bibi, jadi kamu harus tinggal disini. Siapa tau tuan tiba-tiba pulang malam dan ingin masakan rumah, atau memerlukan sesuatu. Ia membutuhkan satu pelayan yang tinggal, untuk melayaninya" jelas Bibi lagi panjang lebar.
"Iya bi, saya mengerti" sahut Lisa dengan suara lirih. Ia sebenarnya juga sedikit ragu dengan semua ini, mengingat ia yang sama sekali tidak bisa bersih-bersih ataupun memasak.
"Assalamualaikum Mama" tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari ruangan tengah. Nyonya Rita yang sedang membaca berita dari iPhone miliknya cukup terkejut, ia bahkan sampai menjatuhkan iPhone miliknya.
Ya Allah Abi!!" Ucap mama Rita terkejut, sembari memukul pundak putranya itu. Abi menghampiri mama nya, mencium tangan dan pipi wanita itu.
"Sepertinya Tuan muda sudah pulang, ayo aku perkenalkan kau padanya" ucap bibi sembari menarik tangan Lisa.
"Hah..." Lisa terkejut dan sempat terpaku. Ia tak menyangka secepat ini ia menjumpai pria itu. Bukannya Bibi bilang ia pulangnya Lusa, pikir Lisa.
"Katanya kangen, masa gitu aja kaget" terdengar suara Abi yang terdengar ramah di telinga Lisa. Berbeda saat ia pertama kali berjumpa pria itu, yang selalu saja membentaknya. Abi saat ini sedang berbicara dengan mamanya.
"Selamat siang Den, perkenalkan ini keponakan BIbi, namanya Lisa. Ia yang akan menggantikan tugas bibi untuk sementara" ucap Bi Darmi memperkenalkan Lisa.
__ADS_1
Kau tidak mengenaliku, tidak mengenaliku, Batin Lisa terus merapalkan kalimatnya dalam hati. Ia menggenggam telapak tangannya yang terasa dingin, berdiri tegak dan tersenyum menatap Abi, untuk menutupi kegugupannya.
TBC.